The Edge tentang Tur U2 Mendatang, 'The Joshua Tree'

Sang gitaris juga mengungkapkan status album mereka selanjutnya 'Songs of Experience' dan membahas lagu langka yang mungkin akan didengar penggemar di konser

Oleh
The Edge, gitaris U2. xrayspx

Sejak terbentuknya mereka tahun 1976, U2 telah dengan agresif menghindari segala pergerakan yang terkait dengan nostalgia. Namun tahun ini mereka akhirnya akan kembali melihat ke belakang dengan membawa mahakarya mereka tahun 1987, The Joshua Tree, dalam tur mereka ke stadium di sekeliling Amerika dan Eropa untuk memperingati 30 tahunnya album tersebut.

Itu adalah sebuah kesempatan bagi mereka untuk kembali terhubung dengan penggemar setelah penerimaan yang cukup mengecewakan akan album Songs of Innocence mereka pada 2014, dan juga memberi mereka kesempatan untuk memulai perjalanan mereka sembari tetap memberikan sentuhan akhir pada album mereka selanjutnya, Songs of Experience. Hanya beberapa minggu sebelum konser mereka secara resmi diumumkan, gitaris U2, The Edge, menelepon Rolling Stone untuk berbicara tentang tur mereka, menghidupkan kembali lagu yang jarang mereka bawakan di panggung, album mereka selanjutnya, Donald Trump dan banyak lainnya.

Dapatkah Anda memberitahu saya bagaimana awalnya tur ini akan dilaksanakan?
Well, saat kami menyelesaikan tur terakhir kami – tur dalam ruangan The Innocence and Experience, kami langsung menyelesaikan album kedua dari set tersebut, Songs of Experience, yang telah banyak kami kerjakan setelah beberapa minggu memberikan sentuhan akhir yang memakan waktu hingga akhir tahun kemarin. Lalu [terjadilah] pemilihan presiden dan seketika dunia berubah. Kami langsung, "Sebentar – sepertinya kita harus kembali memikirkan album ini dan bagaimana ini akan terkait dengan apa yang sedang terjadi di dunia ini." Itu karena 80% dari rekaman tersebut ditulis sebelum 2016, tapi kebanyakan juga ada yang ditulis di awal 2016, dan sekarang, sepertinya kita semua setuju bahwa dunia ini telah menjadi tempat yang berbeda.

Apakah yang Anda maksud adalah Trump dan Brexit?
Pemilihan Trump. Hal itu seperti sebuah bandul yang tiba-tiba mengayun ke arah sebaliknya. Jadi, kami telah memikirkan tentang ulang tahun album The Joshua Tree, dan hal-hal lainnya mulai kami sadari, cukup aneh memang, segalanya seperti berputar dalam lingkaran, jika Anda menginginkannya. Rekaman tersebut ditulis pertengahan tahun "80-an saat era Reagan-Thatcher dan politik di Amerika. Saat itu, banyak sekali kerusuhan di mana-mana. Thatcher sedang dalam pergolakan untuk membungkam serangan para penambang; ada bermacam-macam keonaran di Amerika Tengah. Rasanya seperti kami kembali pada masa itu. Saya pikir tidak ada karya kami yang bahkan pergi sejauh itu. Rasanya, "Wow, lagu-lagu ini punya makna dan resonansi yang baru hari ini yang tidak mereka miliki tiga atau empat tahun yang lalu." Benar-benar seperti kebetulan bahwa kami harus menunda album tersebut semenit saja untuk benar-benar memikirkannya kembali sebelum kembali mengeluarkannya, hanya untuk memastikan bahwa itulah yang benar-benar ingin kami katakan.

Jadi kami berkata, "Baiklah, ayo lakukan dua-duanya. Kita dapat benar-benar merayakan album ini – yang memang terlahir kembali, dalam konteks ini – sekaligus kembali memikirkan lagu-lagu ini dan memastikan bahwa inilah yang memang ingin kami luncurkan." Jadi kedua itu bagaikan bertepatan dan kami memutuskan untuk melakukan beberapa konser. Dan kami tidak pernah memberi kesempatan bagi kami sendiri untuk merayakan masa lalu kami karena kami adalah band yang selalu melihat ke depan, namun ini adalah sebuah momen yang spesial, dan ini adalah album yang spesial juga. Jadi kami senang sekali karena ini adalah momen bagi kami untuk kembali berkumpul dan memikirkan album yang meskipun sudah tua namun tetap relevan tersebut.

Apakah Anda akan memainkan albumnya secara berurutan saat konser?
Saya percaya kami akan melakukannya, dan saya berkata demikian karena itulah asumsi yang ada sekarang. Konser kami mungkin tidak akan dimulai dengan Lagu Pertama, Sisi Pertama "Where the Streets Have No Name," karena kami rasa mungkin kami perlu membangun momennya, jadi kami masih mencoba menentukan urutannya, jadi ya, kami akan memainkan albumnya secara berurutan.

Para penggemar akan sangat senang. Banyak sekali lagu-lagu yang belum Anda mainkan selama beberapa dekade. Lalu ada lagu "Red Hill Mining Town," yang juga tidak pernah Anda mainkan.
Benar sekali. Ada beberapa hari di akhir sesi studio di mana saya mendengarkan lagu itu dan memainkan gitar saya, yang tidak pernah saya pikirkan selama beberapa tahun. Nada dalam lagu tersebut cukup "menampar" dengan apa yang tengah terjadi di Inggris. Memang tidak cukup menegangkan, namun ada aksi industri yang terjadi di seluruh Inggris untuk pertama kalinya selama beberapa generasi. Ini bukanlah suatu pengulangan dari Winter of Discontent (gelombang demonstrasi buruh besar-besaran di Inggris pada 1978-1979 - Red), namun cukup liar untuk melihat hal-hal tersebut kembali. Sepertinya politik telah terpolarisasi dalam banyak hal di negara-negara berkembang sampai batas yang menurut saya mengkhawatirkan. Saya yakin kebanyakan orang di sini juga merasa seperti itu. Ini adalah hari-hari yang sulit dan masa-masa yang kelam, dan kami tidak terlalu suka kembali ke sana.

Menurut Anda, mengapa itu adalah satu-satunya lagu dari album yang tidak pernah Anda mainkan langsung? Apakah memang sulit untuk dimainkan atau sulit untuk dinyanyikan [oleh Bono]?
Saya pikir lagu tersebut adalah salah satu lagu yang secara aransemen dan tempo tidak pernah menemukan tempatnya [di panggung]. Cukup lucu, terkadang lagu-lagu hebat ... Coba lihat konser live seperti sebuah ekosistem. Ada ruang-ruang yang harus Anda isi. Ada lagu-lagu bertempo cepat yang dramatis dan itu cukup penting. Kemudian ada juga lagu bertempo sedang dan tidak peduli seberapa hebatnya lagu-lagu tersebut, terkadang memang tidak ada tempatnya saat di atas panggung. Jadi menurut saya itu bukanlah apapun yang lebih kompleks daripada itu. Namun saat saya kembali mendengarkan lagu-lagu itu, saya merasa, "Wow, ini, saya benar-benar …"

Anda mungkin tidak tahu ini, namun beberapa hari setelah albumnya selesai, "Red Hill Mining Town" adalah pesaing berat untuk single pertama kami. Lalu kami membuat video untuk lagu itu dengan Neil Jordan dan kami benar-benar percaya diri akan hal itu. Setelah beberapa minggu berlalu dan kami seakan kembali mendapat objektivitas kami kembali, jumlah penonton mulai berubah menjadi "With or Without You," dan saya pikir kami benar.

Lalu ada "Exit" dan "Trip Through Your Wires," yang tidak Anda sentuh sejak tahun "80-an. Lalu ada juga "In God's Country," yang hanya pernah dimainkan akustik beberapa kali. Akan sangat menyenangkan jika dapat mendengarkan lagu-lagu itu kembali.
Yeah. Mereka sangat beragam. Itulah The Joshua Tree; album yang cukup luas, seperti CinemaScope. Pada saat itu, kami memikirkan album itu seperti dalam istilah film. Maksudnya, banyak foto yang ada di dalam albumnya, cakupannya sangat sinematik. Dari titik tersebut, kami mulai memikirkan lagu-lagu serta inspirasi dan referensi sastra. Kenyataannya, judul asli dari "Exit" adalah "Executioner's Song" karena kami banyak menggunakan sastra sebagai titik tolak kami pada lagu-lagu yang ada untuk dapat mengerjakan karya kami di arah yang berbeda.

Kami tentu saja telah jatuh cinta dengan Amerika, dalam artian bahwa sebagai sebuah band, punk rock lebih dari sekadar membentuk suatu bentuk musik unik yang tidak terinspirasi atau terpengaruh dengan musik Amerika. Jika Anda mendengarkan rekaman awal kami, Anda dapat mendengar banyak musik kontemporer Jerman. Banyak band Inggris yang juga mendengarkan musik yang sama. The Joshua Tree adalah album pertama yang membuat kami berkata, "OK, kita telah menghabiskan empat album yang bercerita tentang Eropa dan Irlandia, namun mari kita lihat akar kita sendiri yang tak dapat dihindari." Dan itu adalah Amerika.

Lalu kami mulai memperhatikan musik Amerika. Kami memperhatikan blues dan Jurnalisme Baru. Saya ingat membaca Flannery O'Connor, penulis dari Selatan, bersama Bono. Itu adalah usaha untuk memfokuskan perhatian kami ke Atlantik dan untuk mulai mengeksplor Amerika. Maksudnya, untuk seorang yang datang dari Irlandia, Amerika adalah sebuah lahan yang menjanjikan, sumber dari segala ide, aspirasi, dan generasi. Kami melihatnya seperti itu, namun kami juga melihat seperti apa Amerika sebenarnya. Saya membaca The Soledad Brothers. Saya membaca tentang The Black Panthers. Kami mengeksplor Amerika dari segala sudut. Dan kali ini, ada momen Reagan di mana, dalam beberapa hal, tujuan Amerika seakan terancam. Baik Amerika-nya Thomas Jefferson atau John F. Kennedy, mereka adalah para visioner yang membicarakan bagaimana Amerika bisa menjadi ideal. Kami telah bergulat dengan ide-ide besar itu dan sekarang inilah kami lagi. Itu gila.

Lagu apa yang akan ditampilkan dalam bagian yang bukan dari album The Joshua Tree saat konser?
Tentu saja setiap kali kami pergi untuk bermain di konser, kami berniat untuk membentuk sebuah garis terobos, sebuah cinematic core yang dapat kami pegang. Dan kami sangat dimanjakan dan beruntung bahwa ada banyak sekali yang dapat diambil dari canon. Memulai proses ini cukup awal, cukup sulit bagi saya untuk mengatakan apa saja yang akan kami lakukan. Namun saya akan mengatakan bahwa semua lagu lama yang ada akan kami pertimbangkan dan apa yang akhirnya akan kami mainkan akan menyatu dengan tema intinya. Anda tahulah, kami melakukan konser di Amerika dan kami juga melakukan konser di Eropa. Namun khususnya untuk konser Amerika, saya tidak ragu bahwa kebanyakan dari itu akan berfokus pada mitos Amerika yang kami tulis saat melakukan [rekaman] The Joshua Tree.

Apakah mungkin kalian akan memainkan B-Side dari album seperti lagu "Wave of Sorrow" atau "Luminous Times"?
Kami telah memainkan beberapa lagu dari B-Side dalam konser kami sebelum hari ini dan cukup sulit untuk sebuah lagu agar dapat masuk ke set konser. Itu karena yang terpenting bukanlah kualitas dari lagu tersebut, namun apa yang harus ditinggalkan untuk menyisakan ruang. Kami ambisius, dalam artian kami selalu ingin melayani para penggemar setia yang telah beberapa kali menyaksikan konser kami. Mereka ingin melihat sesuatu yang baru yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, sesuatu yang gelap dan unik. Kami tahu itu. Kami benar-benar mencoba membuatnya menjadi sebuah kemungkinan. Namun kami juga sadar bahwa mayoritas orang-orang tersebut hanya pernah menonton kami sekali, atau beberapa kali sebelumnya. Ada daftar panjang sekali mengenai lagu klasik yang ingin mereka dengar. Seseimbang itu.

Terkadang cukup menyenangkan untuk memainkan lagu lama yang memang jarang kami mainkan dan menginterpretasinya ulang, jadi tentu saja kami akan mempertimbangkannya. Namun saya pikir kami tidak akan benar-benar menekankan kepada lagu-lagu U2 yang "gelap" dan jarang didengar. Mungkin akan ada beberapa. Kami telah menyebutkan "Exit," "Trip Through Your Wires," "In God's Country" dan "Red Hill Mining Town." Itu sudah empat lagu. "Red Hill Mining Town" belum pernah dimainkan [secara live] sebelumnya dan tiga lainnya amat jarang didengar. Inilah yang Anda inginkan. Saya tidak tahu. Saya tidak akan mengesampingkan B-Side.

Menurut saya, dua lagu yang amat ingin didengar para penggemar adalah "Acrobat" dan "Drowning Man." Mereka juga belum pernah dimainkan secara live. Apakah ada kemungkinan mereka akan dimainkan?
Sangat menarik. Saya tidak tahu para penggemar tertarik dengan lagu "Drowning Man." Kalau "Acrobat," masih mungkin. Itu adalah lagu yang cukup dramatis dari Achtung Baby. Benar-benar menarik, akan saya catat. Kami selalu ingin mendengarkan masukan dari penggemar karena menurut pengalaman kami, penggemar musik jarang salah. Selalu ada sesuatu di balik perkataan mereka, jadi akan saya perhatikan. Saya tidak berkata bahwa kami akan melakukannya, namun kami dalam suatu situasi menyenangkan dimana yang kami punya adalah sebuah kanvas kosong.

Saya pikir para penggemar juga merindukan momen-momen di mana Anda-lah yang memimpin lagunya, seperti dalam "Numb" dan "Van Dieman's Land." Dulu selalu ada momen "The Edge" yang selalu Anda lakukan.
Yeah. Anda tahu, saya banyak menyanyi, namun selalu menjadi vokal latar. Namun Bono adalah seseorang yang selalu mendorong saya untuk menyanyi. Saya OK-OK saja menjadi vokalis, namun kami juga mempunyai penyanyi yang benar-benar hebat dalam band. Sepertinya belum bertemu kesempatan yang tepat saja di beberapa tur terakhir. Namun saya juga tidak akan menghilangkan kesempatan itu.

Saya lihat kalian akan bermain di festival Bonnaroo. Pasti akan menyenangkan. Itu adalah jenis festival yang cukup berbeda untuk kalian.
Yeah. Kami tidak bermain di festival selama beberapa tahun, namun kami telah bermain di banyak festival pada awalnya, dan saya selalu mengingatnya dengan senang karena beberapa hal. Ada sebuah perasaan dapat dilihat orang banyak di festival yang tetap membuat saya berdiri tegak, dalam artian positif. Ada juga kesempatan untuk bertemu teman-teman dan berada di belakang panggung dengan artis-artis dan band lain. Salah satu kerugian dari melakukan konser Anda sendiri adalah Anda cenderung sering tidak mempunyai kesempatan tersebut. Kami banyak membina persahabatan dengan Simple Minds, Eurythmics, dan banyak lainnya. Itulah bagian yang penting untuk saya, jadi saya benar-benar menunggu-nunggu itu.

Akan seperti apa panggung di konser-konser The Joshua Tree ini? Apakah akan seperti konser aslinya di tahun 1987?
Saya kira kami tidak ingin menjadi diperbudak, namun pada saat bersamaan kami ingin mengakui adanya ide estetik yang datang dengan rekaman tersebut. Saya pikir kami tidak akan memperbarui putaran tersebut, namun tentu saja kami akan memakai ide-ide estetik tersebut dan memperbaruinya. Ini tur The Joshua Tree 2017. Ini bukan tur The Joshua Tree 1986.

Tetap saja, saya yakin kata "nostalgia" akan banyak dilemparkan terkait dengan tur ini. Bagaimana perasaan Anda akan hal itu?
Well, seperti yang saya bilang, yang terpenting untuk kami adalah bahwa ini bukan sepenuhnya tentang nostalgia. Mungkin memang ada unsur nostalgia yang tidak dapat kami hindari, namun itu tidak didasari oleh keinginan untuk terus melihat kebelakang. Dengan album ini, tidak dapat dipungkiri lagi, kami seperti mengunjungi masa lalu dan kembali ada di sana. Segalanya kembali relevan lagi, dan kami sadar akan hal ini.

Apakah album rekaman selanjutnya adalah Songs of Experience atau sesuatu yang sama sekali berbeda?
Tidak, menurut saya tentu saja Songs of Experience. Saat saya berkata bahwa itu hampir selesai, tentu saja kami ingin mengambil kesempatan untuk memikirkan segalanya kembali, untuk meyakinkan bahwa itu benar-benar apa yang kami ingin keluarkan terkait deangan perubahan yang sedang terjadi di dunia ini. Mungkin akan ada perubahan dalam hal-hal kecil, namun tentu saja kami ingin mengambil kesempatan untuk mempertimbangkan segalanya kembali. Siapa tahu? Kami mungkin dapat menciptakan beberapa lagu baru karena itulah posisi kami sekarang. Kami telah memberi sedikit sekali ruang bagi kreativitas untuk bernafas.

Saat tur The Joshua Tree berakhir, apakah menurut Anda tur Innocence dan Experience akan sama bersemangatnya dengan tata panggung dan segalanya yang sama seperti tur sebelumnya?
Kami merasa tur ini belum selesai. Jadi sekarang, kami ingin menyelesaikan tur tersebut. Saya membayangkan itu akan mempunyai komponen produksi yang sama. Itulah asumsi yang ada pada saat ini, namun hal-hal dapat berubah dan tidak ada yang benar-benar pasti. Kami menyukai tur tersebut dan proyek itu belum selesai. Segalanya masih hidup dalam pikiran kreatif kami.

Apakah Anda mempunyai ide tentang pendistribusian album selanjutnya? Ada banyak sekali sorotan tentang distribusi album terakhir.
Saya dan Bono berencana untuk menyelinap ke rumah semua orang diam-diam dan menaruh sebuah CD kami di bawah bantal mereka. [tertawa]. Sayangnya, hal tersebut tidak mendapat banyak dukungan dari anggota yang lain. Namun tidak, lagi-lagi, cukup menarik bagaimana distribusi, promosi, dan pemasaran musik menjadi cukup kacau beberapa tahun ke belakang. Apa yang terlihat sebagai ide canggih dan inovatif enam bulan lalu tidak lagi menjadi terobosan baru. Saya juga sadar bahwa penjualan rekaman vinil telah meningkat. Cukup gila. Hal itu mengatakan bagaimana sebuah artefak, obyek dari sebuah rekaman vinil dapat menunjukkan perbedaannya kepada orang-orang versus unduhan digital, sebuah file. Pada akhirnya, orang-orang akan mempunyai ikatan emosional dengan sebuah rekaman yang hebat dan juga dengan artisnya.

Sebuah file digital itu… Begini, kemudahan memang menyenangkan. Jika boleh jujur, saya masih mempunyai koleksi vinil, namun saya selalu menggunakan file digital [untuk mendengarkan lagu] sekitar 90%. Namun saya tidak akan menyerahkan vinil saya. Ada sebuah kebutuhan akan dua-duanya, dan menurut saya hal itu cukup meyakinkan bahwa di tengah-tengah kenyamanan menjadi raja, masih ada ikatan emosional yang dimiliki orang-orang dengan karya-karya tersebut, dalam artian ini, album. Jadi siapa tahu? Kami masih mencoba untuk mencari tahu sebagaimana orang-orang lainnya.

Yang cukup menentramkan saya adalah bagaimana budaya musik dan musik itu sendiri masih ada di barisan depan. Orang-orang menikmatinya, berpesta pora di dalamnya, dan beralih padanya atas banyak hal. Saya tertarik untuk melihat apakah dalam tatanan dunia baru pasca-kebenaran ini, musik bagaikan terhubung kembali dengan para aktivis-protes seperti apa yang terjadi selama beberapa tahun dan seakan hilang belakangan ini. Menurut saya, aspek musik akan selalu menjadi bagian penting yang menarik saya padanya, dan alasan yang sama seperti orang-orang lain yang juga tertarik [akan hal itu]. Jadi saya merasa bahwa ini saatnya musik terlahir kembali dan saya amat bersemangat untuk melihat apa yang akan ditulis dan dirilis anak-anak di garasinya di seluruh Amerika Utara dan Eropa dalam beberapa tahun ke depan. Saya rasa ini saatnya untuk kembali kepada era tersebut.

OK, pertanyaan terakhir: Apakah menurut Anda akan ada tur ulang tahun Achtung Baby yang ke-30 pada tahun 2021?
[tertawa] Belum ada rencana akan hal itu, namun jangan pernah mengatakan tidak pernah. (fra/wnz)

Temukan lima hal yang tidak Anda ketahui tentang U2. Saksikan di sini.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Ambil Jalur Independen, Andra and the Backbone Rilis Single Baru
  2. Film 'Cek Toko Sebelah' Tembus 2 Juta Penonton
  3. Muse Mulai Kerjakan Album Terbaru
  4. Tonton Video Lirik Green Day Meledek Donald Trump, "Troubled Times"
  5. ‘Istirahatlah Kata-kata’ Tayang Mulai 19 Januari di Lima Belas Kota

Add a Comment