Movie Review: La La Land

Oleh
Ryan Gosling dan Emma Stone bersinar pada 'La La Land'. Gilbert Films

Perayaan Hollywood lama dari pengagum paling ekspresifnya

Damien Chazelle adalah seorang pemimpi. Dalam fantasinya, ia berimajinasi tentang dunia technicolor yang romantis bagi para pengejar mimpi. Los Angeles yang utopis dan bisa membuat patah hati siapa saja dikelilingi aksi musikal jazz yang mengagumkan. Dalam beberapa level, La La Land bahkan melampaui The Artist perihal mencintai Hollywood tua.

La La Land adalah taman ria yang besar. Visual yang menakjubkan, musik yang fantastis, warnanya yang memancarkan kerinduan. Chazelle memberikan penghormatan pada idolanya selayaknya fanboy paling bahagia. Cipratan karya para maestro musikal seperti Vincente Minnelli, Stanley Donen, sampai Jacques Demy jelas terpampang dalam skema yang dibuatnya. Menonton film ini dalam layar lebar dan tata suara menggelegar memberikan sensasi yang menyenangkan. Film ini adalah contoh kesempurnaan pengalaman sinema.

Bukan hanya di permukaan, idealismenya yang positif juga terasa datang dari tempat yang sudah lama tak didatangi. Pembicaraan tentang mimpi, ambisi buta terhadap kemurnian (Sebastian terhadap musik jazz), hingga keinginan untuk diakui (Mia dan karier aktingnya). Rasanya hal-hal semacam itu tak lagi bisa dilihat di sinema masa kini. Di dunia kompleks macam sekarang yang kita tinggali bisa saja hal tersebut dimaknai sebagai kebodohan. Namun film ini merayakannya.

Meskipun begitu, pendekatannya yang urban dan datang dari era berbeda membuat film ini makin bersinar. Pesta kolam dengan tema "80-an, deretan audisi menyedihkan yang harus dialami Mia, juga kemacetan di jalan tol Los Angeles. Rasanya film ini tak terlalu jauh dari kehidupan masa sekarang dan keterkaitan ini penting. Seakan-akan harapan itu eksis di tengah betapa membosankannya kenyataan.

Pemilihan pemeran juga merupakan kekuatan utama film ini. Emma Stone sebagai Mia yang meledak-ledak menonjol melalui ekspresi muka dan tariannya yang atraktif. Daya tarik Emma rasanya terlalu besar untuk dibiarkan. Bagian terbaik hadir saat paling candid seperti ketika ia mengejek Sebastian (Ryan Gosling) dengan menyuruh bandnya membawakan "I Ran" dari A Flock of Seagulls atau dansanya saat Sebastian bermain di band jazz.

Emma yang membawakan karakter ini dengan gempita harusnya bisa dapat porsi yang lebih besar. One-woman-show yang digagas olehnya harusnya bisa menunjukkan kedalaman karakternya, namun entah kenapa tak ditampilkan sama sekali oleh Chazelle. Padahal di situlah momen penting perjuangan Mia sebagai seseorang yang berusaha menancapkan dirinya di dunia yang berusaha ia raih.

Di sinilah La La Land menunjukkan masalahnya, taman ria yang menjanjikan pertunjukan besar bisa juga terasa tanpa jiwa. Di beberapa bagian film ini terasa seperti kumpulan formula yang sekadar menjalankan perintah. Konfliknya kering. Sebastian dan Mia terlihat terisolasi dari realita. Karakter mereka kadang terlalu sederhana. Orang-orang di sekeliling mereka hanyalah figuran yang tak berarti apa-apa. Sebastian dan saudara perempuannya, Mia dan teman-temannya (juga orang tuanya). Hubungan mereka kepada kenyataan yang terbatas ini menjatuhkan kedua karakter sebagai delusional.

Di luar kekurangan tersebut, film ini memenuhi tujuannya sebagai film romantis. Namun bukan romantis dalam artian pertemuan lelaki dengan perempuan. Lebih ke ide bahwa American Dream itu nyata dan luhur. Segala pengorbanan layak ditebus. Chazelle mengakhiri film dengan pesta visual yang indah, namun pesannya jelas: kesuksesan lebih manis daripada cinta yang tulus.

Editor's Pick

Add a Comment