10 Hal Tak Diketahui tentang Album Debut The Doors

Bagaimana bassist rahasia, kecanduan Jim Morrison, dan iklan Buick yang bersejarah berperan dalam album pertama mereka yang legendaris

Oleh
Sampul album debut The Doors. (Elektra)

Jika Anda ingin menciptakan sebuah debut rock yang sempurna, caranya bukan dengan memadukan Bavarian oompah dengan Chicago blues Willie Dixon, minuet Bach dengan tangga lagu John Coltrane, atau mitos abad ke-12 Celtic dengan tragedi Yunani Kuno yang diakhiri banyak kegelisahan eksistensial dan dosis tepat psychedelics. Namun bahkan dengan pengaruh semua hal di atas, album debut The Doors pada 1967 akan membuat band tersebut abadi, terima kasih kepada lagu-lagu mereka seperti "Break on Through (to the Other Side)," "The End" dan lagu paling terkenal mereka, "Light My Fire."

Langsung dari konser mereka sebagai house band di kelab legendaris di Sunset Strip, Whisky a Go Go – di mana mereka dipecat karena memainkan riff yang sakral pada cerita legenda Oedipus Rex selama lagu "The End" – penyair sekaligus vokalis Jim Morrison, keyboardis Ray Manzarek, gitaris Robby Krieger dan drummer John Densmore menghabiskan seminggu di Sunset Sound Recorders mendokumentasikan aksi yang melejitkan nama mereka di kancah musik Los Angeles dalam kurang dari setahun.

"Album pertama ini seperti aksi panggung langsung kami,", kata Manzarek dalam film dokumenter Classic Albums: The Doors. "Overdub yang ada sangat sedikit sekali. Pada dasarnya (album) ini adalah 'The Doors: Live from the Whisky a Go Go' ... hanya saja ini adalah versi rekaman studionya."

The Doors akan selalu dikenang untuk kejujuran, semangat, serta kegembiraan yang menghipnotis dari empat musisi yang berani. Untuk menghormati 50 tahun dirilisnya album tersebut, inilah 10 fakta yang jarang diketahui tentang konsep rekaman dan pertemuan mereka. (fra/wnz)

10) The Doors – tanpa Morrison – menyetujui lisensi "Light My Fire" untuk iklan mobil Buick. Ketika Morrison tahu akan hal ini, ia mengancam untuk menghancurkan sebuah mobil Buick di setiap konser Doors

Setelah tur Eropa mereka berakhir di Swedia pada 20 September 1968, Morrison memutuskan untuk tinggal di London dengan pacarnya Pamela Courson dan mengerjakan puisinya dipandu oleh penulis Michael McClure. Ini terlihat seperti sebuah rencana yang hebat, kecuali fakta bahwa teman-teman bandnya tidak tahu apa-apa akan hal itu. Hal ini mulai menjadi masalah ketika perwakilan dari Buick menghubungi The Doors, menawarkan mereka 75.000 dollar AS (sekitar Rp 1 miliar) untuk menggunakan lisensi "Light My Fire" dalam sebuah iklan dengan slogan yang mengesankan, "Come on Buick, light my fire!"

"Saya pikir itu adalah ide yang menarik," Manzarek kemudian memberitahu Patricia Butler dan Jerry Hopkins dalam buku mereka Angels Dance and Angels Die: The Tragic Romance of Pamela and Jim Morrison. "Mobil yang akan mereka gunakan dalam iklan tersebut adalah Opel, sebuah mobil ekologis dengan 4 silinder kecil dan dua tempat duduk yang bekerjasama dengan perusahaan Opel Jerman. Mobilnya bukan jenis Buick yang besar atau semacamnya." (Beberapa laporan mengklaim mobil yang dimaksud tidak terlalu ramah lingkungan, Gran Sports GS455.)

The Doors selalu berjanji untuk membagi keuntungan dan keputusan apapun bersama-sama, namun Morrison tidak dapat dihubungi dan Buick membutuhkan jawaban. "Jim meninggalkan kota tanpa sedikitpun rasa hormat pada kami untuk mengatakan bahwa ia akan pergi, untuk berapa lama, kapan ia akan pulang – dia hanya pergi begitu saja," ujar manajer The Doors, Bill Siddons, pada Butler dan Hopkins. "Lalu Buick datang, menawarkan kami banyak sekali uang dalam jumlah yang tidak dapat dipercaya, untuk melakukan sesuatu dengan lagu yang ditulis Robby, dan mereka semua hanya, 'Well, gee. Kami benar-benar ingin Jim juga ikut memutuskan hal ini, namun itu adalah uang yang sangat banyak dan hal itu bisa saja menjadi penting, jadi persetan dengan semuanya, ayo ambil saja tawarannya!" Pengacara Max Fink, yang memegang kekuatan hukum Morrison, menandatangani kesepakatan tersebut dengan ketiga anggota Doors yang lain.

Morrison sangat marah saat mendengar keputusan tersebut ketika pulang pada bulan November. "Jim mengatakan ia tidak dapat mempercayai kami lagi," kata Densmore pada Rolling Stone tahun 2013. "Kami telah setuju bahwa kami tidak akan menggunakan musik kami dalam iklan apapun, namun uang yang ditawarkan Buick sangat sulit untuk ditolak. Jim menuduh kami membuat kesepakatan dengan iblis dan bahwa ia akan menghancurkan sebuah Buick dengan palu di atas panggung jika kami membiarkan mereka [mengubah liriknya]."

Sebuah cerita yang masih diragukan kebenarannya mengatakan bahwa Morrison dengan marah membenturkan 16 Buicks yang diparkir di Sunset Strip, termasuk Porsche miliknya sendiri. Benar atau tidak, ia mengekspresikan rasa frustasinya kepada Siddons, Holzman dan yang lain di manajemen band, menuntut mereka untuk membatalkan kontraknya. "Mereka tidak dapat menariknya kembali karena mereka telah menyetujuinya," kata Siddons. Materi untuk radio, televisi dan media cetak sendiri sedang dalam proses, termasuk sebuah baliho iklan yang terlihat dari kantor The Doors.

Namun segalanya sia-sia. Pada akhirnya, Buick membatalkan konsep tersebut. Mereka mengklaim bahwa mereka hanya memutuskan untuk menggunakan cara kreatif yang berbeda, namun mungkin beberapa berita tentang sang Lizard King yang marah membuat mereka berubah pikiran. Apapun alasannya, insiden Buick ini merusak persaudaraan The Doors. "Itu adalah akhir dari mimpi mereka," kata Siddons. "Itu adalah akhir dari era hubungan Jim dengan anggota band lainnya; sejak saat itu segalanya hanya sebatas hubungan bisnis. Hari itu adalah hari dimana Jim Jim mengatakan, "Saya tidak memiliki mitra lagi; Saya memiliki rekan bisnis.'"

9) Kata "high" menyebabkan beberapa masalah bagi The Doors

Penampilan The Doors pada 17 September 1967 di The Ed Sullivan Show menimbulkan reputasi buruk bagi mereka yang berimbas pada larangan seumur hidup setelah Morrison tidak mematuhi peraturan standar stasiun televisi CBS dan memutuskan untuk menyanyikan lirik asli "Light My Fire" – "Girl we couldn't get much higher" – daripada versi yang disarankan: "Girl, we couldn't get much better." Para produser dan eksekutif jaringan marah, dan Sullivan, dengan muka datar, menolak untuk menjabat tangan Morrison setelah penampilan mereka, dan tanpa berlama-lama langsung menampilkan iklan Purina Dog Chow.

The Doors tampak tidak terganggu dengan insiden ini. "Mereka berkata, 'Kalian tidak akan pernah boleh bermain di sini lagi!'" kata Densmore dalam dokumenter Classic Albums. "Lalu kami berkata, 'Well, kami baru saja melakukannya. Kami hanya ingin melakukan itu sekali saja. Cheers!'"

Sebuah usaha awal dalam penyensoran agaknya lebih berhasil. "Break on Through (to the Other Side)," lagu pembuka awal The Doors, sudah jelas akan menjadi single pertama mereka. Namun Rothchild khawatir refrain "She get high" yang ada dalam lagu tersebut akan membatasi potensi lagu itu untuk berkembang. "Katanya, 'Kau tahu, kami tidak akan dapat memainkan ini, jadi sepertinya kami harus memotong bagian itu,'" kata Densmore pada Forbes tahun 2015. "Kami dengan enggan menyetujuinya." Lirik yang menyinggung tersebut telah diedit menjadi "She get!", diikuti dengan ratapan parau Morrison.

Meskipun tidak ada artinya, lirik dadakan tersebut telah menjadi bagian familier dari lagu tersebut. Ketika Botnick mengembalikan kata "high" yang hilang sebagai bagian dari versi remaster The Doors pada 1999, beberapa penggemar rock benar-benar marah.

8) Jim Morrison salah mengklaim bahwa orangtuanya telah meninggal dalam biografi album mereka

Lirik "Father, I want to kill you," yang terkenal dari lagu "The End" memang terinspirasi dari Oedipus, namun juga mempunyai makna mendalam bagi Morrison. Hubungan rumit dengan orangtuanya yang otoriter menimbulkan masalah internal yang menandai masa dewasanya, menginspirasi musik terbaik dan juga kegilaannya.

Pada sebuah kesempatan langka, Morrison menggambarkan masa kecilnya sebagai sebuah "luka terbuka" – menyakitkan dan lebih baik ditutupi saja. Ayahnya, George Stephen Morrison, berpangkat tinggi dalam dinas Angkatan Laut. Dia yang memberikan Morrison nama tengah "Douglas", dinamakan setelah Jenderal Douglas MacArthur, dengan harapan anaknya dapat mengikuti jejaknya. Sejauh ini, ia benar-benar sangat kecewa.

Keluarganya sering berpindah-pindah, dan ayah Morrison sering tidak ada di rumah karena tugas dinas militer. Ketika ia ada di rumah, ia sering tidak sabaran dengan ketidakpatuhan anak-anaknya. Meskipun adik Morrison, Andy, memberitahu penulis Jerry Hopkins bahwa ia, Jim dan saudarinya Anne jarang mendapat hukuman fisik, ia mengatakan mereka secara rutin mendapat hukuman militer "hardikan," yang mana pelakunya akan dimarahi sampai mereka menangis diam-diam.

Setelah akhirnya dipromosikan menjadi Laksamana Muda, ayah Morrison benar-benar berubah menjadi seorang militer tulen. Pada 1941, ia menjadi saksi pengeboman Pearl Harbor. Dua dekade kemudian, dengan kapal induk USS Bon Homme Richard, ia memerintah armada Angkatan Laut saat insiden Teluk Tonkin, sebuah kecelakaan militer yang berujung pada meningkatnya perang di Vietnam. Ia bukanlah muka asing di Tanjung Canaveral, Pentagon dan Naval Golf Course.

Setelah ia menyadari keinginan anaknya untuk menjadi vokalis rock, Morrison tua menulis surat pada Jim, mendesaknya untuk "menyerah akan ide untuk menyanyi atau segalanya yang berhubungan dengan grup musik karena menurutnya ia tidak mempunyai cukup bakat di bidang tersebut." Morrison secara efektif memutuskan semua kontak dengan ayahnya sejak saat itu dan mereka tidak pernah bertemu lagi. "Keengganannya untuk berkomunikasi dengan saya lagi bisa dimengerti," ujar Laksamana Morrison secara pribadi pada 1970.

Ketika Elektra mendekati The Doors untuk menulis biografi album debut mereka, Jim mengambil kesempatan itu untuk mengedit sejarahnya sendiri. Saat ditanya mengenai orangtua dan saudaranya, dia hanya menulis, "Sudah meninggal." Selama beberapa waktu, bahkan teman-teman terdekatnya percaya bahwa ia adalah yatim piatu.

Pisahnya Morrison dari keluarganya benar-benar total; mereka bahkan tidak sadar Jim menjadi anggota sebuah band. Adiknya, Andy, tahu saat teman sekelasnya menunjukkan sampul album The Doors dan berkata bagaimana ia mirip dengan sang penyanyi. "Seorang teman membeli album itu untuk saya," katanya pada Hopkins. "Saya telah mendengarkan 'Light My Fire' selama berbulan-bulan dan tidak tahu sama sekali. Itulah bagaimana kami tahu. Kami tidak melihat atau mendengar tentang Jim selama dua tahun. Saya memainkan albumnya kepada orangtua saya hari saat saya mendapatkannya, sehari setelah teman saya memberitahu saya. Ayah tahu akan musik. Ia bisa bermain piano dan klarinet. Ia menyukai melodi yang kuat. Ia membenci gitar elektrik. Ia menyukai lagu-lagu lama. Ia tidak suka rock. Setelah ia mendengarkan album The Doors, ia tidak mengatakan apapun sama sekali."

Ibu Morrison, Clara, mencoba untuk mengontak Jim melalui Elektra Records, namun sang bintang rock baru tersebut kerap menghindari ibunya. Ia melarang untuk mengunjunginya di belakang panggung saat konser di Washington, D.C., namun memberikan kursi terdepan untuknya saat konser. Mereka yang berada di sana saat itu mengatakan, bagian yang terinspirasi dari Oedipus di lagu "The End" benar-benar mempunyai efek yang kuat malam itu.

Selama perjalanan band ini, Morrison berusaha untuk tetap berhubungan dengan Andy, yang baru berusia 19 tahun pada 1967. "Saya memberitahunya bahwa ibu benar-benar sedih saat ia menolak untuk bertemu. Ia memberitahu saya jika ia akan menelepon sekali, namun mereka mengharapkan ia menelepon setiap bulan atau lebih. Katanya, 'Terserah kau, mau mematahkan aturan tersebut atau lebih memilih untuk tetap bersama mereka – tidak ada jalan tengah. Terserah Anda mau berbicara terus atau tidak sama sekali.'" Morrison memilih untuk tidak berbicara sama sekali.

Laksamana Morrison menolak berbicara di depan umum tentang anaknya sampai akhir hidupnya. "Kami tetap mengingatnya dengan baik," katanya dalam film dokumenter Tom DiCillo, When You're Strange, direkam tepat sebelum kematiannya pada 2008. "Saya punya perasaan bahwa ia merasa lebih baik kami tidak usah dihubungkan dengan kariernya. Ia tahu saya tidak berpendapat musik rock adalah cita-cita terbaik untuknya. Mungkin ia mencoba melindungi kami. "

Densmore mengajukan alasan lain dalam memoarnya. "Secara pribadi, saya pikir kebalikan tersebut benar, bahwa Jim melakukan itu semua untuk menyatakan independensinya dan memutus "tali pusar" untuk selamanya."

7) Dalam rangka mempromosikan album, Elektra Records membeli baliho rock pertama dalam sejarah

Sesi rekaman The Doors telah selesai saat akhir musim panas tiba, namun Holzman memutuskan untuk menahan rilis album tersebut sampai Januari berikutnya untuk menghindari tabrakan rilis dengan album yang memang diperuntukkan untuk pasar Natal. Kekecewaan mereka atas penundaan ini diredakan oleh cara promosi cerdik Holzman: Sebuah baliho iklan besar di atas Sunset Strip. Biasanya baliho hanya digunakan untuk mempromosikan film, makanan, rokok, dan produk lainnya, jadi ini adalah pertama kalinya sebuah band rock ada dalam baliho.

"BREAK ON THROUGH WITH AN ELECTRIFYING NEW ALBUM," begitulah bunyi baliho tersebut, lengkap dengan jepretan Joel Brodsky yang menarik perhatian sebagai latar belakangnya. Terletak tepat di sebelah Chateau Marmont, hanya beberapa ratus meter dari kelab malam di mana The Doors unjuk gigi hanya setahun sebelumnya, lokasi strategis tersebut benar-benar menghabiskan biaya yang sangat besar, yakni 1.200 dollar AS (sekitar Rp16 juta) per bulannya. Usaha tersebut, menurut Holzman, merupakan "sebuah penghargaan yang datang dengan harga sangat besar." Dia percaya iklan tersebut akan menarik perhatian para DJ di Los Angeles saat mereka dalam perjalanan menuju kantor dan mereka menjadi ingin tahu. Benar saja, langkahnya tersebut melahirkan sebuah cara baru dalam mempromosikan artis. Baliho iklan rock ini selanjutnya menjadi sebuah tradisi pada Sunset Strip dan sekitarnya.

Menurut Densmore, pemborosan tersebut sempat menyebabkan band tersebut diolok-olok, namun dalam artian positif. "Penyiar radio Bill Erwin mewawancarai kami tentang baliho iklan baru tersebut, dan ia meledek kami akan hal itu," tulisnya dalam Riders on the Storm. "'Ini adalah cara yang cukup aneh untuk menggunakan papan iklan, guys. Maksudnya, Anda tidak dapat "mendengar" baliho iklan. Dan orang-orang bahkan belum tahu siapa The Doors pada saat itu.'"

6) The Doors memakai bassist rahasia di studio rekaman – musisi tamu legenda The Wrecking Crew dan anggota di masa depan Bread, Larry Knetchel

Alih-alih memakai seorang bassist, The Doors malah bergantung ke tangan kiri Ray Manzarek untuk memainkan frekuensi rendah dengan sebuah keyboard Fender Rhodes Piano Bass. Peran tersebut jatuh padanya di luar dugaan ketika awal mula band mereka menyatu. "Kami mengaudisi cukup banyak pemain bass," katanya dalam dokumenter Classic Albums. "Kami mengaudisi satu pemain bass dan kami terdengar seperti The Rolling Stones. Lalu kami mengaudisi pemain bass lain dan kami terdengar seperti The Animals." Tidak ingin dituding sebagai band peniru – atau, lebih buruk lagi, tradisional – The Doors memutuskan untuk tidak memakai bassist. "Memakai bass membuat kami terdengar seperti band rock & roll lainnya," tulis Densmore di memoarnya, Riders on the Storm. "Kami bertekad melakukan apa saja untuk terdengar berbeda."

Absennya seorang bassist menjadi elemen yang penting dari bagaimana mereka terdengar secara langsung, namun Rothchild merasa rekaman tersebut membutuhkan serangan bass yang lebih kuat daripada suara lemah yang biasanya dikeluarkan oleh Rhodes. Dia diam-diam merekrut Larry Knechtel, salah satu pemain tamu asal Los Angeles yang terkenal, The Wrecking Crew, untuk mempertebal suaranya. Knechtel telah tampil di banyak hits milik The Beach Boys, Elvis Presley dan The Byrds pada saat ia telah direkrut untuk melakukan overdub pada bass lines di enam dari sebelas lagu yang ada dalam rekaman tersebut, termasuk "Light My Fire" dan lagu "Soul Kitchen" yang angkuh.

Kerja Knechtel dalam The Doors tidak masuk dalam kredit pada saat itu, dan perlu bertahun-tahun sebelum kontribusinya yang cukup banyak akhirnya diketahui. Beberapa pihak mengkritik band itu karena rasanya seperti menutup-nutupi Knechtel dari cerita keseluruhan The Doors, namun Densmore menjelaskan keputusan ini dalam sebuah tulisan Facebook pada 2015. "Larry Knechtel tidak dimasukkan dalam kredit karena ia benar-benar menduplikat bass lines yang biasanya dimainkan oleh Ray. Dia tidak ikut rekaman kami dalam lagu-lagu yang ada, dia overdub semua itu nanti. Ini adalah masa-masa sebelum Moog synthesizer muncul, dan Rothchild merasa lines Ray butuh lebih banyak "kebisingan" dari petikan senar sebagai tambahan untuk keyboard."

Knechtel tidak bermain dalam sesi The Doors di masa mendatang, namun kabarnya ia merekam bass untuk lagu "Light My Fire" versi flamenco Jose Feliciano yang menjadi hit nomor tiga di Amerika pada 1968.

5) Setelah merekam "The End," Jim Morrison kembali ke studio dalam keadaan mengonsumsi LSD dan menyemprot peralatan band dengan pemadam api

"The End" adalah lagu The Doors yang banyak diapresiasi orang, sebuah penjelajahan panjang yang mengaburkan batas antara musik dan teater. Lagu tersebut sangat melelahkan untuk Morrison, yang menyampaikan sebuah puisi di tengah-tengah lagu yang terinspirasi dari tragedi Yunani, Oedipus Rex. Mempertunjukkan "The End" di depan penonton langsung sudah cukup menantang, namun untuk mengumpulkan tenaga di sebuah studio rekaman yang steril cukup menyita banyak usaha mereka, sang produser Paul Rothchild, dan penata rekaman Bruce Botnick.

"Lampu-lampu telah diredupkan dan lilin-lilin telah dinyalakan di sebelah Jim, yang membelakangi ruang kontrol," Rothchild mengingat-ingat di buku Stephen Davis, Jim Morrison: Life, Death, Legend. "Sumber penerangan yang lain datang dari lampu di panel VU. Studionya amat gelap." Untuk mengatur mood, Morrison ternyata juga mengonsumsi LSD.

Awalnya, halusinogen itu berefek positif pada penampilannya, namun pada saat playback tampak jelas bahwa Morrison, menurut perkiraan Krieger, "terlalu mabuk untuk melanjutkan sesi itu." Tiga dari anggota The Doors memutuskan untuk melanjutkan pekerjaan mereka hari selanjutnya, namun Morrison mempunyai ide berbeda.

"Dia menghancurkan studio setelah kami memainkan 'The End,'" Krieger memberitahu penulis Mick Houghton. "Jim benar-benar mabuk LSD, dan ketika kami menyelesaikan rekaman, dia tidak mau pulang. Yang lain memilih pulang, namun Jim diam-diam kembali ke studio dan marah ketika mengetahui tidak ada siapapun di sana, jadi ia menyemprot tempat itu dengan cairan pemadam api."

Botnick merinci kejadian ini lebih lanjut dalam Love Becomes a Funeral Pyre, biografi The Doors oleh Mick Wall. "[Jim telah] menyeberang ke Blessed Sacrament, sebuah gereja Katolik, dan mendapat pencerahan di sana. Dia kembali ke studio namun gerbangnya terkunci. Lalu dia memanjat pagar dan berhasil masuk, namun tidak dapat masuk ke ruang kontrol karena terkunci. Namun studionya dibuka dan lampu merahnya menyala." Lampu merah tanda studio sedang merekam tersebut diartikan sebagai api dalam otak psikedelik Morrison. "Dia pikir studio tersebut sedang terbakar, jadi dia mengambil pemadam api dan menggulingkan asbak yang berisi pasir dan mencoba memadamkan api."

Manzarek mengingat cerita tersebut sedikit berbeda. Dalam memoarnya, Light My Fire, dia mengklaim bahwa Morrison mulai mengomel tentang api saat diantar pulang oleh pacarnya, Pamela Courson. Dia sangat keras kepala sampai Courson pun merasa enggan untuk kembali ke studio, dan Morrison langsung meloncati pagar. "Dia mengambil pemadam api dan menyemprot seluruh tempat itu," kata Manzarek pada Houghton. "Untung saja bukan di ruang kontrol, hanya di area di mana band tersebut tadinya berada... ia 'meledakkan' tempatnya, man, untuk mendinginkan semuanya." Banyak peralatan band yang rusak, termasuk sebuah piano kuno besar.

Keesokan harinya, satu sepatu bot milik Morrison ditemukan di antara kerusakan itu. "Orang-orang studio tentu saja sangat panik," ujar Manzarek. "Lalu Paul [Rothchild] mengatakan, 'Uh, jangan khawatir, jangan khawatir, Elektra akan membayar untuk itu. Tidak perlu memanggil polisi.' Tanpa sedikitpun keraguan, dia tahu siapa yang melakukan itu, kau tahu? Kami semua tahu benar apa yang terjadi." Satu-satunya yang mengaku tidak tahu adalah Morrison sendiri. "Saya melakukan itu? Ayolah, yang benar saja?" Densmore mengingatnya berkata begitu saat sarapan esok harinya.

Pimpinan Elektra, Jac Holzman, dengan segera mengeluarkan cek dalam jumlah sangat besar kepada pemilik studio, Tutti Camarata. "Saya cepat-cepat bergegas dan berkata, 'Saya setuju, segalanya di luar kendali. Saya akan membayar semua kerusakannya," katanya pada Mojo. Insiden itu memang sudah selesai, namun Krieger merasa, itulah titik balik di jiwa Morrison. "Saya pikir Jim [merasa], 'Well, jika saya berhasil lolos dari itu, saya juga bisa lolos dari apapun."

4) Dua lagu pertama yang mereka rekam hanya disimpan saja, namun versi alternatif muncul di album The Doors selanjutnya

"Moonlight Drive", sebuah lagu klasik milik the Doors ini, penuh dengan nuansa blues, nocturnal dan sarat akan romantisisme yang "dikutuk". Kombinasi mempesona tersebut memberikan percikan yang berujung kepada karya band tersebut pada Juli 1965, ketika Morrison dan Manzarek, mantan teman sekelas di sekolah film UCLA, berpapasan di Pantai Venice.

Kedua sahabat tersebut sudah lama tidak berjumpa setelah kelulusan pada musim semi, jadi bisa ditebak mereka mengalami reuni yang hangat. "Kata saya, 'Well, apa yang sedang Anda kerjakan sekarang?'" Manzarek memberitahu Fresh Air NPR pada 1998. "Dan dia berkata, 'Well, saya sedang menikmati hidup di atap rumah Dennis Jacobs sambil mengonsumsi sedikit LSD dan menulis lagu.'" Setelah beberapa usaha yang cukup meyakinkan, ia berhasil membujuk Morrison yang pemalu untuk menyanyikan satu lagunya saja.

"Dia duduk di pantai, memasukkan tangannya ke dalam pasir, dan pasir-pasir tersebut mulai mengalir keluar dari anak sungai kecil-kecil yang ia buat. Dia menutup matanya dan mulai menyanyi dengan suara Chet Baker, yang serupa bisikan yang akan menghantui Anda. Dia mulai menyanyikan 'Moonlight Drive,' dan ketika saya mendengar bait pertamanya – 'Let's swim to the moon, let's climb through the tide, penetrate the evening that the city sleeps to hide' – saya berpikir 'Oh, menyeramkan namun keren, man.'" Pada saat itu, mereka memutuskan untuk memulai sebuah band rock.

Lagu tersebut ditampilkan sebagai lagu utama di panggung-panggung awal Doors, dan bahkan juga diikutsertakan ke dalam sebuah demo yang direkam September itu juga di Trans World Pacific Studios. Krieger masih belum bergabung dengan band – dan saudara laki-laki Manzarek, Jim dan Rick, memegang gitar dan harmonika. Ketika keempat Doors akhirnya lengkap, sembari bermain di garasi seorang teman di belakang terminal bus Santa Monica, "Moonlight Drive" merupakan lagu pertama yang mereka mainkan.

"Saya langsung tahu bahwa kami telah menemukan 'lagu itu,' sesuatu yang tidak dapat dijelaskan melebihi apapun yang diarahkan oleh Kerouac," Manzarek memberitahu Gibson.com pada 2011. "Kami saling memandang satu sama lain dan berkata, 'Man, apa yang baru saja kita lakukan? Oh, my. Apakah kami diperbolehkan melakukan hal tersebut di planet ini' Dan itulah saatnya. 'Moonlight Drive.' Pada titik itu semuanya tahu. Kami semua hanya menganggukkan kepala karena itulah saatnya – kelahiran dari The Doors. "

Ketika mereka berkumpul di Studio Sunset Sound untuk merekam The Doors pada Agustus 1966, "Moonlight Drive" terlihat seperti titik awal yang tepat. "Ketika kami merekam album pertama kami, lagu pertama yang kami rekam adalah 'Moonlight Drive,'" kata Krieger kepada People pada 2016. Namun karena terhambat oleh tata studio yang asing, mereka tidak dapat kembali mengulang keajaiban latihan pertama. "Segalanya terasa terlalu misterius dan amat gelap. Jadi kami merekam ulang untuk album kedua [Strange Days, 1967] dan membuatnya agak lebih liar." Versi aslinya yang dijuluki Krieger sebagai "rekaman pertama yang kami selesaikan sebagai The Doors," sebatas disimpan saja, hilang ditelan waktu, sebelum muncul kembali dalam sebuah box set pada 1997.

Lagu kedua yang mereka kerjakan saat itu, "Indian Summer," juga kurang berhasil di pasaran. "Bukan karena kami pikir lagu tersebut tidak cukup bagus untuk ditaruh di album pertama, namun kami harus memilih dan memutuskan," kata Krieger. "Banyak lagu bagus yang tidak masuk ke album." Versi rekam ulang dari lagu ini akan dimasukkan di Morrison Hotel (1970).

3) "Break on Through (to the Other Side)" berutang besar kepada lagu Paul Butterfield Blues Band dan lagu Ray Charles "What'd I Say"

"Jika bukan karena Butterfield berubah haluan ke (gitar) listrik, saya mungkin tidak akan menyentuh musik rock & roll," aku Robby Krieger dalam situs web-nya. Gitaris The Doors ini menghabiskan masa remajanya berusaha meniru para maestro flamenco seperti Mario Escudero, Carlos Montoya, dan Sabicas sebelum beralih kepada blues. Dari situlah kemudian ia menemukan musik Chicago yang masih bersih dari editan milik Paul Butterfield Blues Band, didukung dengan suara "membakar" gitar ganda Mike Bloomfield dan Elvin Bishop. Karya mereka mempunyai pengaruh yang cukup besar bagi gayanya bermain, terutama dalam lagu "Break on Through (to the Other Side)."

Ketika The Doors mulai menggubah komposisi Morrison, Krieger menyadari adanya sebuah melodi yang familier dari gitarnya. "Saya mendapat ide untuk riff tersebut dari lagu Paul Butterfield, 'Shake Your Money-Maker,' yang merupakan salah satu lagu favorit saya," katanya kepada Classic Albums. "Kami hanya mengubah iramanya." Versi Butterfield dari lagu ini – pertama kali direkam oleh Elmore James pada 1961 – adalah sebuah lagu di luar debut The Doors mereka tahun 1965, diproduksi oleh kolaborator the Doors di masa mendatang, Paul Rothchild.

Dalam film dokumenter yang sama, Manzarek juga mendemonstrasikan bagaimana ia mengambil melodi keyboard bass dari lagu Ray Charles, "What'd I Say," sebagai salah satu elemen dari organ solonya. "Kami mencuri dari siapapun!"

2) Sebelum merekam album debut, The Doors pernah menggarap musik pendukung film Perusahaan Motor Ford

Awal musim semi 1966, The Doors didepak dari kontrak awal mereka dengan Columbia Records dengan sebuah peringatan kecil dan tanpa hasil apa-apa sama sekali. Kurang direpresentasikan dan kesulitan secara finansial, mereka akhirnya bermain di sebuah acara biasa di Parthenon Pictures, menyediakan musik dadakan untuk sebuah film pelatihan pelayanan pelanggan Ford Motor Company berjudul Love Thy Customer.

The Doors masuk ke dalam sebuah screening room yang sempit di Los Angeles' Rampart Studios, di mana mereka menonton musik berdurasi 25 menit tersebut di sebuah layar kecil. Mereka kebanyakan menciptakan soundtracknya di tempat tersebut, live-jamming sembari potongan demi potongan adegan muncul. Bagian-bagian itu yang kemudian akan menjadi serpihan lagu "I Looked at You," "Build Me a Woman," dan "The Soft Parade" dapat didengar di hasil akhirnya. Meskipun mereka hanya memainkan bagian instrumentalnya, Morrison dikatakan juga ikut berkontribusi dalam perkusi dan efek suara tambahan lainnya. Kerja keras mereka tersebut dihargai 200 dollar AS (sekitar Rp 2,6 juta).

Setelah sempat dikira hilang selama bertahun-tahun, Love Thy Customer kembali ditemukan di ruang penyimpanan film UCLA pada 2002 dan dirilis di edisi langka DVD R-Evolution the Doors pada tahun 2014. Namun, kaset original soundtracknya sendiri masih belum dapat ditemukan.

1) "Light My Fire" adalah lagu pertama yang pernah ditulis Robby Krieger

Gitaris The Doors ini mungkin mempunyai keberuntungan pemula yang amat besar di sejarah musik rock. Selalu diketahui tidak pernah berhasil menyelesaikan satu lagu pun, saat masih berusia 20 tahun ia berhasil menciptakan lagu "Light My Fire," hit nomor satu yang kemudian membangkitkan gelora sensual Summer of Love saat itu.

"Itu adalah lagu pertama yang saya tulis, karena bahkan hingga saat itu Jim-lah yang selalu menulis lagu-lagunya," katanya pada Reverb pada 2016. "Lalu kami sadar bahwa kami tidak banyak punya lagu sendiri, dan Jim berkata, "Bagaimana kalau Anda saja yang menulis lagu? Mengapa semuanya harus saya yang kerjakan!?" yang kemudian saya jawab 'Baik, lagu seperti apa yang harus saya tulis?" Dia berkata lagi, 'Tulislah sesuatu yang umum dan akan bertahan selamanya, tidak hanya untuk hari ini saja." Kemudian saya memutuskan untuk menulis entah tentang bumi, udara, api, atau air. Mengutip "Play With Fire" sebagai salah satu lagu The Rolling Stones favoritnya, ia mulai berapi-api.

Krieger mengerjakan lagu tersebut selama beberapa hari, sembari bertekad untuk membayangkan sesuatu yang lebih dari standar rock progresif. "Sampai saat itu, The Doors sedang mengerjakan lagu dengan tiga kunci yang cukup sederhana, seperti 'I Looked at You' atau 'End of the Night,'" katanya pada Clash Music. "Saya ingin menulis sesuatu yang lebih menantang. Saya memutuskan untuk menaruh semua kunci yang saya tahu di lagu ini – dan saya benar-benar melakukannya! Ada sekitar 14 kunci berbeda di lagu tersebut." Untuk melodinya, ia mengambil referensi dari lagu "Hey Joe," sebuah hit dari band Los Angeles, The Leaves.

Dengan bait dan reff yang telah ia punya, ia mengajukan lagunya tersebut ke rekan bandnya yang lain. Lagu itu mempunyai sentuhan folk-rock pada awalnya, membuat beberapa rekan bandnya menertawakan lagu itu dan membandingkannya dengan lagu Sonny dan Cher. Namun Morrison melihat potensi lagu tersebut dan menawarkan untuk berkontribusi menambahkan beberapa lirik. "Jim memberikan bait kedua tentang pembakaran jenazah," ungkap Krieger via Classic Albums. "Saya berkata, 'Jim, mengapa segala sesuatunya harus selalu tentang kematian? Mengapa Anda selalu melakukan hal tersebut? ' Dan dia berkata, 'Tidak, man, ini akan menjadi sesuatu yang hebat. Anda perlu mempunyai bagian tentang cinta dan kematian dari lagu tersebut.' Dan dia benar."

Manzarek menambahkan bagian pembuka yang berputar-putar seperti Bach dan melodi bass (dipinjam dari "Blueberry Hill" milik Fats Domino) sedangkan Densmore menambahkan ritme musik Latin. Dirilis pada tahun berikutnya, lagu ini kemudian dikenal menjadi milik bersama The Doors.

Saksikan video perayaan ulang tahun ke-50 The Doors di Los Angeles, AS belum lama ini.



Related

Most Viewed

  1. Grass Rock, Steven Jam, SATCF Siap Ramaikan RadioShow di Kota Malang
  2. 24 Kota Merayakan Record Store Day 2017 di Indonesia
  3. Alvin Eka Putra: Bermusik dengan Sikap Mental Positif
  4. Kelompok Penerbang Roket dan Mooner Dijadwalkan Tampil di Australia
  5. Unit Post-Punk Pendatang Baru Ibu Kota, Pelteras, Rilis Dua Lagu dalam Format Kaset

Editor's Pick

Add a Comment