Bermalam di Secuil Sejarah Peradaban Singapura

Mengarahkan fokus kepada warisan dan budaya lokal, The Warehouse Hotel hadir dengan pesona yang tak pernah ada di Singapura sebelumnya

Oleh
The Warehouse Hotel berdiri di tepi sungai bersejarah Singapura. Dok. The Warehouse Hotel

Dengan segala pembangunan yang konstan terlaksana serta julukan tidak resmi "Kota Denda", sulit untuk mempercayai bahwa Singapura pernah menjadi sarang perkumpulan rahasia, aktivitas bawah tanah, hingga penyulingan minuman keras pada awal abad ke-20. Maklum, lokasi sungainya yang menjadi bagian dari jalur perdagangan Selat Malaka membuat banyak orang, terutama pedagang, berkeputusan hinggap di sana untuk waktu tak ditentukan.

Judi dan prostitusi menguasai Sungai Singapura ketika itu. Lebih lanjut lagi, lima puluh persen penghasilan kawasan tersebut berasal dari jual beli opium. Pada saat bersamaan, di tempat yang lebih terang, berjalan pula perdagangan kaya ragam bahan baku yang datang dari Semenanjung Malaya, Tiongkok, India, dan lainnya.

Tepat di jantung semua kesibukan tersebut, pebisnis Lim Ho Puah membangun gudang—dengan atap runcing dan jendela tertutup—untuk usaha perkapalannya. Mungkin tak pernah terbayangkan oleh Lim sendiri bahwa satu abad kemudian gudang yang terletak di Robertson Quay ini disulap menjadi hotel butik dengan pesona tersendiri (sebelumnya, pada 1986, gudang ini beralih fungsi menjadi diskotik beken yang bertahan sampai sepuluh tahun). Namanya seolah mengenang tujuan utama bangunan ini didirikan: The Warehouse Hotel.

Keputusan untuk merestorasi gudang bersejarah ini datang dari The I Associated Company yang kemudian mempercayai The Lo & Behold Group untuk mengoperasikannya. Ada tiga puluh kamar yang termuat di dalam The Warehouse Hotel; semuanya memiliki wi-fi gratis yang kilat, speaker Bang & Olufsen dengan koneksi Bluetooth, kasur ekstra lembut, fasilitas mandi ramah lingkungan, minibar yang terisi penuh, dan akses ke kolam renang di atap hotel.

Kamar tipe River View Room di The Warehouse Hotel (Dok. The Warehouse Hotel)

The Warehouse Hotel mengarahkan fokus kepada warisan dan budaya lokal. Kamar-kamarnya dijanjikan terancang dengan ketelitian secara historis, sementara restorannya menyajikan hidangan lokal klasik dengan sentuhan baru. Po, nama restoran di hotel ini, berkenan menjembatani warisan kuliner Singapura dengan kenangan kolektif masyarakatnya akan masakan rumahan.

Bahkan The Warehouse Hotel juga mendukung kreator-kreator baru Singapura lewat upaya kolaboratif yang mencerminkan warisan dan budaya lokal. Mereka adalah Matter Prints, Gabriel Tan Studio, A. Muse Projects, serta Ashley & Co. Dunia musik pun dirambah terbukti dari kemitraan hotel dengan Laneway Singapura yang tahun ini terselenggara di The Meadow, Gardens by the Bay pada 21 Januari dan memuat lima artis lokal; terbanyak dalam sejarah pelaksanaan festival.

Menurut pihak The Warehouse Hotel, ide memberi dukungan terhadap individu-individu kreatif generasi baru Singapura terinspirasi dari orang-orang yang pertama kali membangun gudang satu abad lalu dan juga kewirausahaan mereka. Ada penghormatan di sana, tapi yang lebih penting lagi ini menjadi bukti lebih lanjut akan sikap pengurus hotel yang begitu menghargai asal usul negaranya.

Editor's Pick

Add a Comment