Movie Review: Nyai

Oleh
'Nyai' direkam dengan metode satu take. SET

Garin Nugroho sekali lagi membawa kejutan ke rentetan karyanya

"Nyai jangan menutup diri," saran Kyai Mas Ud selagi duduk anteng di tikar. "Zaman sudah berubah."

Setelah itu sang kyai berdoa merdu untuk suami Nyai yang sedang sakit dan payah di kursi roda, Mr Willem dari negeri Belanda. Sebelum itu, batu dan kotoran dilempar ke halaman rumah sang Nyai, diiringi teriakan "Kafir!" yang jatuh ke sepasang telinga yang lelah mendengar. Dari dua adegan tersebut, Nyai berdiri dan duduk dengan postur tegak, barangkali puas diri akan kefasihan perilaku Eropa yang diperagakan oleh tubuh seorang perempuan Jawa.

Ini terjadi di 20 menit pertama film terbaru Garin Nugroho berjudul Nyai—dibuat berbarengan dengan film bisu Setan Jawa. Jika Anda familier dengan karya-karya Garin—humanisme, ambisi, dan ketajaman matanya melihat sejarah Indonesia—Nyai tidak akan membingungkan. Film ini juga bisa membawa kejutan baru yang memuaskan.

Layar hanya mempertunjukkan sebuah pekarangan rumah khas Jawa (pulau di negara yang dulu dikenal sebagai Dutch East Indies di tahun 1927) dengan tiga buah pintu, perabotan sederhana, dan orang-orang yang berlalu lalang: Nyai, kedua pembantunya, Mr Willem, seorang pengacara, buruh-buruh yang meradang, penari-penari Serimpi, dan dua orang pengacara lain.

Kamera hanya bergerak ke atas, bawah, kiri, kanan; terkadang juga mendekat ke wajah sang Nyai dan ke ruangan di belakang salah satu pintu. Memakan waktu dua hari, Nyai direkam dalam satu take selama lebih dari 90 menit—Anda juga bisa menebak bahwa barangkali tidak ada ruang bagi kesalahan selama syuting, tidak ada kesempatan kedua untuk mengulang.

Bayangkan sejenak kalau, dari segi cerita saja, Nyai adalah film yang buruk. Kerumitan yang saya deskripsikan bisa saja membuat Anda terlupa akannya—terbuai, bahkan. Dari segi cerita pun Nyai adalah sebuah pencapaian yang memukau. Tidak mewah kok, anggaran juga saya bayangkan tidak besar.

Eksperimen bukanlah sesuatu yang asing bagi Garin Nugroho. Dengan karier yang sudah mencapai dua dekade, CV beliau dipenuhi oleh film-film dokumenter (Puisi Tak Terkuburkan), fiksi (Aach … Aku Jatuh Cinta, Cinta Dalam Sepotong Roti, Aku Ingin Menciummu Sekali Saja), atau bahkan pengaburan keduanya (Daun di Atas Bantal, Opera Jawa). Puluhan karakter telah menghidupi film-filmnya dengan kepribadian yang bercela. Emosi pasang surut. Sejarah yang bisa saja berulang.

Nyai mengambil masa pra-kemerdekaan sebagai latar belakang—sewaktu Sarekat Islam atau kesenjangan antara Belanda dan kaum bumiputera terlihat secara tidak eloknya. Kesenjangan tersebut ditonjolkan dengan buruh-buruh tebu dan kopi yang mogok, tidak tahan karena harus membayar pajak untuk bekerja di ladangnya sendiri. Belum lagi hukum Belanda yang dominan. Nyai juga menyelundupkan komentar akan modernisasi yang dipaksakan kepada Indonesia pada zaman itu (Apa-apa dipaket menjadi kemasan-kemasan kecil, termasuk teh.)

Sang Nyai berdiri di tengah kesenjangan tersebut. Mengadaptasi beberapa sumber seperti Nyai Dasima atau karakter Nyai Ontosoroh dari tetralogi Buru oleh Pramoedya Ananta Toer, pribadi Nyai digambar dengan detail yang memuaskan; borok dan kebaikan mendapat porsi yang sama di Nyai. Sang Nyai terkesan kuat dan tegar, melayani buruh-buruh tersebut dan suami yang jelalatan. Di tengah film, Nyai memberikan monolog mengenai hidupnya sebagai Asih, gundik yang dijual oleh ayahnya supaya ia bisa naik pangkat; kafir, pelacur, istri seorang Belanda, perempuan Jawa. Atau dengan kata lain, sebagai seorang nyai.

Ada banyak makna yang terkandung di dalam kata itu, "nyai". Sang Nyai, walau masih menyimpan dendam terhadap keadaan, menyadari kalau pun ia adalah barang dagangan ia akan menjadi barang dagangan yang mahal. Itulah yang membuat dirinya familier dengan kebudayaan Eropa. Susah bagi saya untuk menyimpulkan ada di sisi siapa Nyai berpihak.

Anda juga akan mengerti kompleksitas karakter sang Nyai bila diberi dua pilihan untuk mengetahui cerita Nyai: Lewat naskah atau menonton langsung. Kalau menonton langsung, maka biarkan Annisa Hertami, pemeran sang Nyai, menunjukannya kompleksitas tersebut.

Ada keseimbangan yang sangat memuaskan antara tuntutan hidupnya untuk menjadi seorang Eropa dan Jawa (terlihat di percakapan-percakapan hangat dengan salah satu pembantunya)--Annisa berperan baik menunjukkan keseimbangan tersebut.

Saat Garin melakukan sesi tanya jawab di Singapore International Film Festival, saya bertanya kepada beliau apakah Nyai merupakan lanjutan lepas dari film-film sejarahnya seperti Guru Bangsa: Tjokroaminoto atau Soegija. Ia menjawab kalau apa yang ia ingin buat dengan film-film sejarah ini adalah membuat peta. Lanjutan yang ada di Nyai bisa jadi terjadi di waktu yang sama dengan Guru Bangsa: Tjokroaminoto.

Tapi alasan kenapa saya menyukai Nyai adalah karena ketika selesai menonton saya ingin mempreteli sumber-sumber referensi Nyai—mejelajahi peta yang direka oleh Garin Nugroho. Ditambah dengan sinematografi dan pembuatan film yang berani dan bernas, Nyai adalah salah satu film Garin yang minimalis tapi tidak kalah ambisius dengan film-filmnya yang lain.

Selain nilai-nilai sejarah Indonesia (yang terlupa maupun yang teringat), Nyai juga tidak pelit imajinasi. Bagi banyak orang, "imajinasi" yang saya maksud bisa juga berarti "ketidakwajaran": Lagu-lagu yang secara spontan dinyanyikan dengan sangat merdunya oleh Cahwatie, kunjungan dadakan dari seorang penulis/teman pena di tengah film, kemunculan penari hiperaktif (Heru Purwanto) yang, selain dengan tubuh lengkap, tidak tampak sebagai manusia.

Cerita pun masih berjalan halus, tidak dibuat murahan oleh kekhasan sang sutradara. Inilah alasan lain mengapa Nyai adalah film yang amat baik: Tidak ada motivasi lain untuk menyelesaikannya selain untuk pemenuhan eksperimen dan pemetaan peta tersebut.

Di akhir film, setelah Nyai selesai membaca surat dari putrinya yang karena ketentuan hukum harus dikirim ke Belanda dan setelah seluruh barang di rumahnya diambil secara paksa, ia berjalan masuk ke kamar tidurnya, di belakang pintu di tengah. Ia mengambil sebuah pistol dan membawakan tarian Serimpi. Apa yang terjadi setelah itu, seperti banyak hal dari Nyai, bisa ditentukan sendiri oleh penonton. Lalu ia kembali ke pekarangan tersebut, duduk, bingung mau berbuat apa lagi.

Editor's Pick

Add a Comment