Gede Robi (Navicula)

Menyelami kiprahnya sebagai musisi, aktivis, petani, ayah pendatang baru, juga komentarnya tentang dagelan politik tanah air belakangan ini

Oleh
Gede Robi Supriyanto. Dennis Tumiwa

Gede Robi Supriyanto adalah persona yang berapi-api. Tidak perlu mengenalnya untuk mengetahui hal ini. Anda cukup menyaksikan dan menikmati sepak terjangnya di atas panggung Navicula, band rock alternatif asal Bali yang sudah menjadi bagian di dalam hidup Robi selama dua puluh tahun. Ia bersama tiga kerabatnya yaitu Dankie (gitar), Made (bas), dan Gembull (drums), memang gigih dalam menyuarakan pesan-pesan perubahan lewat musik Navicula. Baik itu yang mereka sertakan ke dalam lirik, ataupun yang berbentuk seruan di atas panggung saat lagu tak dimainkan.

Seperti tidak cukup menyisipkan pentingnya isu lingkungan ataupun sosio-politik ke dalam delapan album dan di atas panggung Navicula, Robi pun melakukannya sendiri demi membawa perubahan yang serupa. Ia adalah permaculture designer bersertifikat yang artinya ia memiliki kapabilitas untuk memberi pendidikan cara bertani organik. Diakui Robi, jiwanya sebagai seorang petani memang didapatkan dari kedua orang tuanya hingga leluhurnya. "Ini sebenarnya teknologi yang sudah dimiliki oleh bangsa Indonesia karena kita memang bangsa agraris dan bangsa nelayan," jelas Robi mengacu kepada asal muasal permaculture designer.

Pada Desember 2016 lalu, konsistensi Robi yang selalu mengemas isu lingkungan dan sosio-politik ke dalam jalur seni dan budaya, membuahkan hasil yang setimpal. Dirinya mewakili Indonesia sebagai salah satu dari 21 Young Leaders versi Asia Society. Ini membuat Robi terbang ke Korea Selatan untuk bertemu dengan pemuda-pemudi inspiratif hebat lainnya dari seluruh dunia, demi bertukar pikiran dan membangun jejaring positif yang lebih besar di sana. Api yang sudah menyala di dalam jiwa Robi telah tersulut menjadi lebih membara.

Semua pencapaian yang Robi dapatkan hingga detik ini didasari oleh semangat untuk perubahan di masa depan yang selalu ia pegang dengan setia. Kebaikan dan keberhasilan yang ia peroleh di dalam hidupnya dianggap sebuah kegagalan jika orang-orang di sekitarnya justru tidak mendapatkan nasib yang sama. Dan Robi merasa menjadi orang yang sangat beruntung untuk bisa memperjuangkan semuanya.

Bisa diceritakan bagaimana Anda dapat terpilih mewakili Indonesia di forum Asia 21 Young Leaders?

Awalnya [dikirim] dari e-mail saja, sekitar tiga bulan yang lalu, "Anda terpilih menjadi kandidat. Namun kami perlu ada interview," dikirimlah beberapa pertanyaan yang lumayan panjang. Lalu mereka bilang, "Anda terpilih karena Asia 21 Young Leaders sebelumnya merekomendasikan nama Anda." Habis itu mereka mengikuti track-nya aku, mengikuti bagaimana peranku di bidang yang aku lakukan. Dan yang paling banyak itu adalah mereka menyimak seberapa besar tenaga dan waktuku yang didedikasikan kepada layanan publik. Setelah melalui proses-proses seleksi, baru mereka kontak aku untuk interview lagi melalui video live seperti Skype dan semacamnya.

Siapa yang merekomendasikan nama Anda kepada Asia Society?

Namanya Ewa Wojkowska dari Polandia. Dia aktif terlibat di dalam satu organisasi yang bernama Kopernik. Kopernik ini banyak terlibat di distribusi barang-barang teknologi sederhana tapi murah dan tepat guna. Terutama sasaran mereka itu di daerah-daerah terpencil. Kalau di Indonesia itu seperti di Nusa Tenggara Timur. Sebenarnya jaringan mereka itu di seluruh dunia, dan Ewa Wojkowska ini punya proyek untuk Indonesia. Proyeknya banyak, di Bali juga ada. Misalnya mendistribusikan senter namun tidak perlu menggunakan baterai. Hanya tinggal dijemur siangnya saja, malamnya bisa dipakai untuk belajar atau sebagai lampu di ruangan keluarga. Itu portable dan harganya terjangkau sehingga masyarakat dengan ekonomi lemah mampu membelinya. Ada alat penggiling padi. Ada juga alat penyaring air, jadi masyarakat tidak perlu merebus air lagi. Penyaring ini bisa dipakai untuk mengambil air dari sungai jadi tidak perlu dimasak [lagi]. Aku sendiri memakai produk-produk mereka di rumah agar tidak tergantung dengan air kemasan.

Jadi atas rekomendasi dia aku terpilih. Mereka [Asia Society] menentukan semua dari yang terpilih kalau tidak salah ada sekitar 32 orang dari negara-negara Asia hingga Amerika. Dan kami pun melakukan pertemuan di Korea Selatan. Pertemuannya sendiri seperti seminar seriusnya itu dari tanggal 8-10 Desember. Tapi sebelum dan sesudahnya itu kami ada acara ice breaking dengan delegasi dari negara-negara lain. Akhirnya ada farewell party. Biasalah gaya Korea, ada minum-minum [tertawa].

Apa saja yang Anda dan pemuda-pemudi hebat lainnya lakukan di forum itu?

Karena sebenarnya seminar ini memiliki tujuan dengan tema "building resilience future", membangun masa depan dunia menjadi lebih tahan, lebih mandiri, lebih kuat, dan lebih stabil. Tiap-tiap delegasi berkumpul di situ tujuannya kurang lebih membangun network. Membangun bagaimana kami punya satu jaringan yang sumber daya tiap-tiap orangnya bisa terdistribusi. Karena di situ kan terdapat berbagai macam latar belakang. Ada yang Ph.D dalam bidang bio nanotechnology, ada pengacara yang ahli mengenai hukum tentang hak asasi masyarakat, ada orang yang di dunia medis; dia menemukan bagaimana membawa penelitian untuk obat-obatan yang lebih murah bagi masyarakat Asia. Ada CEO dari sebuah perusahaan yang punya prospek bagus saat ini di Amerika, yang didukung pemerintah juga untuk mengembangkan teknologi panel surya atau cara memanen sinar matahari. Ada banyak sekali latar belakangnya di sana dan aku kebetulan latar belakangnya adalah seni dan budaya.

Karena latar belakang aku sendiri adalah seorang musisi dan seorang petani. Ini sebenarnya sudah mereka sepakati. Mereka sepakat peranan seni dan budaya untuk mengembangkan masyarakat atau perubahan ke arah yang lebih baik sama kuatnya dengan peranan teknologi, peranan implementasi hukum, dan perbaikan di politik. Jadi yang aku presentasikan adalah pandangan-pandanganku, prinsip-prinsip mengapa aku tertarik memberikan pelayanan publik di bidang ini. Kalau musik aku tidak perlu menjelaskan lebih banyak karena bagiku satu-satunya cara mengkomunikasikannya adalah dengan perform [tertawa]. Waktu itu aku membawakan lagu [lirik bahasa] Indonesia, "Metamorfosa Kata". Kata-kata itu kan dari ide atau dalam sebuah diskusi adalah gagasan. Tapi tantangan terbesarnya adalah mengimplementasikannya ke dalam sebuah aksi.

Sama seperti di dalam ruang meeting di mana kita berbagi semua ide dan gagasan lalu saat pulang ke rumah masing-masing, tantangannya adalah mengimplementasikannya dari apa yang kita dapat di ruangan tersebut ke dalam bidang kita sendiri. Maka aku memilih membawakan lagu itu dan aku terangkan juga arti di balik liriknya. Satunya lagi aku membawakan lagu folk Amerika lama, kalau tidak salah penyanyi aslinya adalah Kate Wolf, lagu klasik banget judulnya "Give Yourself to Love". Jadi intinya mengapa kita semua melakukan gathering ini karena cinta. Cinta pada apa yang kita lakukan, cinta kepada sesama manusia, cinta kepada planet ini, dan cinta kepada masa depan. Karena apa yang kita lakukan ini mungkin hanya bermanfaat kepada masa mendatang. Jadi "Give Yourself to Love" adalah inti dari gathering ini.

Gede Robi Supriyanto saat tampil bersama Navicula. (Facebook/Navicula)

Selain para delegasi yang terpilih, siapa orang-orang yang turut hadir di acara tersebut?

Ada pembicara-pembicara lain yang diundang. Misalnya pembicara dari kelas 21 Young Leaders dari tahun-tahun sebelumnya. Ada mantan perdana menteri Korea juga datang. Ada mayor jenderal dari militer Amerika yang tugas di perbatasan Korea Utara. Ya, menarik juga karena kami tentu ingin tahu situasi politik yang sedang terjadi. Lalu ada dokter dari Nepal yang sudah dianggap seperti "nabi" di dunia operasi katarak. Ada pula mantan strategy planner dari DBS Bank yang saat ini sedang membangun bisnis-bisnis ramah lingkungan. Selebihnya kami bikin banyak workshop, diskusi, building networking, belajar dari yang lain.

Apa yang Anda pelajari dari forum tersebut setelah bertemu dengan banyak pemuda-pemudi inspiratif?

Ternyata aku sendiri pun belajar bahwa leadership itu bukan hanya tentang kemampuan memimpin. Leadership itu adalah kemampuan untuk mendengar. Di situ aku banyak sekali mendengar masukan-masukan dari teman-teman. Dan di situ juga aku teringat kembali kepada diskusi-diskusiku ketika bekerja dengan organisasi-organisasi di rumah atau di lingkungan kerjaku. Ternyata banyak sekali masukan berharga sering didapatkan dari orang-orang yang kita ajak kerja sama. Seperti salah satu contohnya adalah strategi-strategi kolaborasi. Kalau zaman sekarang aku lihat sih banyak proyek-proyek yang menjadi sukses itu apabila mereka berkolaborasi. Misalnya seperti LSM [Lembaga Swadaya Masyarakat] yang zaman dulu selalu clash dengan pemerintah.

Di forum ini banyak orang-orang pemerintah yang hadir dan mereka mengakui bahwa kelemahan pemerintah itu karena pemerintahan eksklusif hanya untuk mereka. Entah karena agar anggarannya berputar di mereka saja atau kurang transparansi, atau misalnya memang tidak ada ide karena mereka ditempatkan oleh partai di bidang yang mereka tidak andal. Kesalahannya adalah apabila pemerintah tidak mau membuka masukan dari grassroots. Kurang peka terhadap apa yang dibutuhkan oleh masyarakat sekarang atau menjadi humble mengaku bahwa tidak bisa menjalankan tugasnya dengan baik, namun mengundang masyarakat sipil untuk memberi masukan dan terlibat di timnya. Sekarang ini adalah zamannya berkolaborasi. NGO, pemerintah, bahkan kontribusi terkecil pun bisa dilakukan dari level yang paling bawah, dari level buruh misalnya.

Lalu ada strategi-strategi yang membuat kita percaya diri. Misalnya kita hidup di lingkungan yang menganggap seni dan budaya itu adalah hobi, tidak terlalu penting, atau apabila menjadi sebuah karier akan menjadi karier yang tidak menjamin. Kebanyakan di beberapa daerah di Indonesia kan masih seperti itu. Syukurlah aku beruntung tinggal di Bali karena di satu kampung isinya bisa seniman semua [tertawa]. Tapi banyak tempat lain tidak seberuntung itu. Justru sebelum Nusantara atau Republik ini berdiri, pendidikan-pendidikan lewat seni dan budaya dari zaman dahulu itu adalah media budi pekerti Nusantara. Agama-agama di-share ke publik lewat wayang kulit, tarian-tarian, lukisan-lukisan. Jadi sebenarnya penyampaian pendidikan lewat jalur budi pekerti itu sudah menjadi identitas bangsa Indonesia. Tapi kalau sekarang kan bahkan banyak seni dan budaya itu dibilang haram [tertawa]. Sebelum aku berangkat ke forum itu, aku memang sudah percaya diri. Persetan orang lain bilang apa, bagiku seni dan budaya itu penting. Begitu terlibat di forum itu, didaulat dan orang lain mengakui. Forum itu mengiyakan bahwa seni dan budaya itu penting. Jadi itu seperti kita yang sebagai api, dengan ada masukan dari teman-teman yang sebagai minyak, membuat nyalanya menjadi lebih besar.

Sebagai salah satu Asia 21 Young Leaders, adakah kegiatan selanjutnya yang harus Anda lakukan?

Tetap ada. Karena sebenarnya organisasi ini adalah organisasi yang you can enter but you cannot leave [tertawa]. Seperti lagu "Hotel California" [Eagles, 1976]. Yang jelas di sini kami punya proyek masing-masing. Seperti aku punya proyek pendidikan. Aku juga punya proyek membantu mertua di klinik bersalin dengan metode water gentle birth bernama Bumi Sehat. Dan aku bertemu dengan dokter-dokter yang menarik seperti salah satunya dari Malaysia yang melakukan penelitian di Amerika, dia bilang, "Apa pun informasi yang berhubungan dengan obat-obatan atau metode-metode medis yang mungkin Anda ingin aku bagikan, kabari saja. Bila perlu aku terbang ke Bali." Jadi aku punya jaringan yang lebih besar.

Anda terpilih Asia 21 Young Leaders sebagai permaculture designer yang mengajarkan cara bertani organik. Bisa Anda jelaskan apa itu?

Permaculture itu sebenarnya adalah permanent agriculture, desain budaya pertanian yang prinsip pertamanya adalah peduli kepada manusia; maksudnya selalu ingin membuat manusia itu lebih makmur dan lebih cukup kehidupannya. Prinsip kedua adalah peduli kepada alam karena desain ini tidak merusak alam, namun justru memuliakan alam dan menjadikan alam itu lebih baik. Prinsip yang ketiga adalah peduli kepada masa depan, jadi ini adalah sebuah desain pertanian yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Ternyata ini bukan hanya membahas tentang desain cara berkebun saja. Ini juga membangun sebuah koperasi dari pemasaran hasil kebun. Bagaimana memilih appropriate teknologi alat-alat murah, sederhana, dan ramah lingkungan seperti yang Kopernik tadi. Membuat alat penggiling padi yang murah, pendingin yang bahan-bahannya dari alam sekitar. Bahkan bisa dipakai untuk kebijakan skala negara.

Salah satu negara yang menerapkan permaculture ke dalam kedaulatan pangan negaranya adalah Kuba. Delapan puluh persen pangan yang ada di dalam kota dihasilkan oleh kotanya sendiri. Coba bayangkan jarak antara makanan kita dengan sumber pembuatannya itu sangat dekat. Apa yang terjadi? Satu, makanannya lebih segar. Dua, harganya jauh lebih murah karena kalau kita melakukan impor sesuatu dari China misalnya, kita harus menghitung ongkos diam di gudang, menghitung ongkos jarak menggunakan kapal. Dan pasti itu semua akan dimasukkan ke dalam harga, kan? Harus masuk ke swalayan, di situ kamu harus gaji pegawai swalayannya. Itu pasti [memakan waktu] berbulan-bulan jadi makanannya sudah tidak segar. Harus ada obat-obatan agar makanan itu tetap sama bentuknya. Jadi bayangkan saja [jika menerapkan permaculture], kualitas lebih segar, harga lebih murah, dan secara kemandirian juga walaupun diembargo oleh negara luar mereka tetap bisa makan. Sebenarnya asas kemandirian itu kan ada di asas pembangunan kita. Asas manfaat, asas kemandirian, dan asas berkelanjutan.

Siapa yang Anda ajarkan? Apakah masyarakat umum juga bisa mendapat kesempatan ini?

Sebenarnya sih awalnya dulu tahun 2006, aku banyak bekerja sebagai freelance di beberapa LSM. Aku mendapat pekerjaan untuk menerjemahkan dan mengedit buku permaculture pertama di Indonesia. Mau tidak mau aku harus membaca itu semua dari A sampai Z. Saat aku baca ternyata ini informasi yang bagus sekali dan ini adalah apa yang kakek kita kerjakan 30 tahun yang lalu. Atau bahkan kakeknya kakek kita. Ini sebenarnya teknologi yang sudah dimiliki oleh bangsa Indonesia karena kita memang bangsa agraris dan bangsa nelayan. Kasihan kalau informasi ini sampai putus. Bagaimana saya bisa mengajarkan ini ke sekolah-sekolah?

Ternyata permaculture ini punya sistem kurikulum di mana kita harus tamat dulu sertifikat permaculture secara resmi. Akhirnya aku mendaftar beasiswa dan proposal ke yayasan IDEP di Bali. Mereka mendatangkan guru-guru dari Australia. Aku mengikuti sertifikasi ini sampai tiga kali. Tapi setelah mendapat beasiswa ini aku banyak terlibat dengan petani-petani di Indonesia, diundang jadi pembicara di sekolah-sekolah, keliling sampai ke Thailand, Burma, Vietnam, dan mendapat beasiswa di New Dehli untuk melanjutkan agroekologi ini. Tapi tujuanku sebenarnya adalah sekolah di Indonesia setidaknya dua jam atau empat jam per minggu mendapat pelajaran ini. Karena ini adalah budaya kita.

Apalagi sekarang petani terancam profesinya karena anaknya petani tidak mau menjadi petani, identik dengan kemiskinan. Padahal sebenarnya kalau kita melihat di negara-negara lain seperti di Jepang, petani bangga sekali menjadi petani. Di Australia, orang bangga sekali menjadi petani dan bisa hidup layak. Waktu saya tur di California, teman-teman saya yang menggunakan desain permaculture permaculture besar di sana – itu bangga sekali punya pertanian dan makmur. Di Melbourne ada satu pasar permaculture namanya CERES Organic Market, orang-orang bisa hidup dari sana.

Anda sendiri melihat letak permasalahannya ada di mana?

Satu, perlindungan pemerintah terhadap petani tidak ada. Yang kedua, desain pendidikan kita tidak melibatkan atau memasukkan kebijakan budaya kita ini ke dalam kurikulum. Sekarang mana ada ekstrakurikuler berkebun di sekolah? Padahal sekolah berpotensi bikin kebun. Cara membuat kompos saja anak-anak zaman sekarang belum tentu tahu. Padahal 70% sampah di Bali itu adalah sampah organik. Cara mengelola sampah saja belum tentu tahu, padahal itu basic sekali. Itu dalam pertanian organik ada lho cara mengelola sampah. Cara membuat sistem desain dalam kota yang bebas sampah. Karena sampah itu kan tidak ada sebenarnya. Tuhan tidak pernah menciptakan sampah. Manusialah yang menciptakan sampah.

Jadi kalau manusia mengikuti cara kerja alam, cara kerja ber-Tuhan, seharusnya manusia tidak menciptakan sampah. Karena apa? Limbah dari satu departemen itu sebenarnya bisa menjadi kegunaan untuk departemen lain. Kebun kita di rumah, kita selalu bilang, "Oh, sampahnya banyak bertebaran," sedangkan di hutan ada sampah, tidak? Tidak. Karena daun-daun yang jatuh itu akan terurai dan menjadi bakteri atau pupuk bagi tanah di sekitarnya. Kandang ternak, tahinya itu akan menjadi sampah kalau kita tidak komposkan. Tapi di beberapa tempat lain itu akan menjadi biogas dan bahan bantuan untuk memasak. Kolam air ikan ketika dikuras airnya akan terbuang percuma kalau kita tidak memanfaatkannya sebagai pupuk cair di mana itu memiliki bahan yang paling banyak mengandung ganggang.

Sepertinya banyak yang bertanya kepada Anda, akan sampai kapan Anda memperjuangkan atau membela semua ini.

Kalau membela sudah pasti akan capek. Tapi kalau menjadikan ini gaya hidup, tidak capek. Karena secara natural ini memang hal yang suka untuk kita lakukan. Ini adalah gaya hidupku. Jadi tidak akan capek karena apa? Kalau kamu memang hobi memancing, ada tidak ada uang kamu akan menjadikan itu sebagai rekreasi. Kebetulan ini dunia yang aku suka. Aku suka musik, aku suka masak sehingga sering berkebun, dan keluargaku dari dulu itu memang keluarga petani. Dan aku mendapat warisan kebun sekarang. Jadi ya aku harus merawat itu, mau tidak mau dan syukurnya aku mau [tertawa].

Aku pikir karena secara principal, dalam setiap proyek yang aku sendiri lakukan, aku selalu menerapkan tiga hal. Yang pertama adalah idealisme, artinya kita melakukan apa yang kita suka. Kalau tidak suka, tinggalkan. Yang kedua adalah kreativitas. Jangan pernah melakukan hal yang sama berulang-ulang karena itu artinya tidak ada progress, jalan di tempat. Coba tantangan baru, kalau kamu bisa taklukkan berarti kamu ada kemajuan. Yang ketiga adalah enterpreneurship. Di sini harus ada logika bisnis. Harus ada uang yang berputar. Tapi ini masalah perspektif.

Jangan menjadikan uang sebagai tujuan. Uang itu bukan Tuhan. Kembalikan uang kepada fungsinya sebagai alat tukar. Jadi di sini uang itu sebagai alat untuk proyek-proyek yang kita suka. Kalau kita suka musik, uangnya untuk bikin album, beli alat-alat, bikin studio, membayar gaji manajemen. Jangan kita tidak melakukan apa-apa tapi terus mengumpulkan uang karena uang menjadi Tuhan kita. Menurutku itu tidak sesuai dengan principal yang aku pegang. Karena aku mau proyek yang aku kerjakan bertahan lama, juga bermanfaat bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya.

"Dalam setiap proyek yang aku lakukan, selalu menerapkan tiga hal. Idealisme, melakukan apa yang kita suka. Kreativitas, jangan pernah melakukan hal yang sama berulang-ulang, itu artinya tidak ada progress... Ketiga, enterpreneurship. Harus ada logika bisnis. Harus ada uang yang berputar..."

Sebenarnya seberapa efektif menyuarakan isu lingkungan/sosio-politik lewat musik?

Aku tidak pernah punya alat monitoring atau evaluasi untuk mengukur karena Navicula bukan LSM [tertawa]. Jadi kalau pakai ukurannya, aku tidak tahu. Tapi yang aku tahu adalah kami sudah melakukan ini sejak 20 tahun yang lalu. Di awal-awal sekitar tahun 1998, kami juga terus mencari-cari format. Dan kami menjadi tajam membahas isu ini ketika aku menjadi aktivis di kampus, itu sekitar sampai tahun 2000-an. Di situ mataku sudah mulai melek melihat dunia karena aku sudah menjadi relawan dan bikin LSM sendiri namanya Bali Ecotourism Care. Ketika itu aku mulai melihat bahwa ternyata penelitian atau informasi yang dimiliki LSM itu sangat penting. Dan aku juga suka musik, jadi kenapa tidak aku gabungkan saja?

Karena waktu itu aku masih melihat peluang, di generasiku belum ada yang menyuarakan isu lingkungan lewat musik. Aku pikir pada waktu itu, "Wah, ide yang bagus untuk membawa konsep ini ke Navicula!" Karena kami sudah mulai bikin lagu sendiri, album pertama kan di tahun 1998. Ini konsep yang bagus karena masih banyak yang belum gunakan. Memang pada waktu itu tidak populer, tapi aku yakin suatu saat nanti ini akan populer. Dan aku banyak dicerca, aku juga pernah masuk major label di Sony BMG Music di tahun 2004. Banyak yang memandang kami sebelah mata, "Ah, konsepmu terlalu berat, bro. Apa sih yang mau kamu omongin?" Sampai teman-teman di Bali tuh bilang, "Ya udah kamu main musik ya main musik saja. Urusan LSM dan lingkungan yang berat-berat biar orang lain yang kerjain." Tapi aku masih bersikukuh.

Indonesia baru menjadikan isu global warming sebagai isu favorit kalau tidak salah itu ketika tahun 2008 semenjak konferensi global warming diadakan di Nusa Dua, Bali. Setelah itu baru orang-orang ramai green ini green itu, lalu jadilah isu populer. Tapi aku senang walaupun orang-orang tiba-tiba menjadi latah. Karena apa? Aku produsen, anggaplah pendengarku itu kalau di bisnis adalah market, walaupun aku sudah bikin konsep kayak gitu tapi publik belum teredukasi, orang juga tidak akan menerima apa maksudku, kan? Nah, tapi dengan ini menjadi isu populer, aku senang. Karena sekarang audience paham apa yang aku sajikan. Sehingga itu menolongku untuk menyampaikan pesan.

Kalau aku lihat seberapa impact-nya, ya banyak band-band sekarang terutama yang muda-muda pun akhirnya menganggap isu lingkungan adalah isu yang keren. Terlepas mereka habis dengar kami atau memang isu itu menjadi isu yang populer, aku lihat semakin banyak orang yang menyuarakan isu ini. Itu yang aku rasakan dalam perubahan Navicula di mana sudah ada sebelum isu itu menjadi isu populer, sampai sesudahnya.

Berdiri sejak 2012, sudah sejauh mana gerakan ForBali sekarang?

Yang pasti semakin besar. Terutama dari komponen masyarakat adat yang bergabung sekarang sudah sampai tiga puluhan. Dulu di awal berdiri tidak ada masyarakat adat [tertawa]. Ini fenomena baru. Mungkin kalau di level politik atau di level pemerintahan tidak akan menyangka karena mereka selalu berpikir, "Gerakan ini pasti ada yang mendanai!" Karena dalam logika cara berorganisasi seperti ormas atau partai, kita semua sudah tahu cara kerjanya. Dalam mentalitas atau kebiasaan mereka itu kalau tidak ada dana ya tidak akan jalan. Butuh uang untuk menggerakkan orang. Itu mentalitas yang sudah tertanam dan menjadi kebiasaan, bukan?

Sehingga tiba-tiba ada organisasi seperti ForBali yang sangat membesar dengan organik, di mana orang-orang merasa sangat senang untuk terlibat di dalamnya. Itu kalau dalam perspektif orang-orang yang selalu mikir "ada uang baru jalan" pasti tidak masuk logika. Kalau aku lihat ForBali adalah salah satu contoh yang mendobrak bagaimana [pakem] suatu pergerakan itu. Benar-benar grassroots. Dan menjadi besar karena sukses membuat isu ini menjadi isu setiap orang. Sense of belonging. Jadi kalau kamu orang Bali yang peduli, kamu ikut gerakan ini. Kita orang Bali yang peduli, kita orang Bali yang baik untuk masa depan.

Sekarang ini Komnas HAM sudah membantu ForBali untuk mendesak stop kriminalisasi aktivis ForBali. Kan kalau kita lihat banyak aktivis ForBali yang "dipanggil" atau dulu sempat saat hari raya itu ada yang ditangkap. Ada juga tekanan-tekanan waktu acara didatangi, "Kamu tidak boleh mengadakan acara dengan isu ini." Ada juga saat di pesta kesenian Bali, seseorang pakai baju ForBali saat masuk malah dipukulin. Itu kan melanggar hak orang. Suka-suka dong mau pakai baju apa. Sekarang Komnas HAM sudah masuk karena sudah keterlaluan juga.

Seberapa optimis Anda terhadap gerakan ini?

Aku selalu percaya dengan hal-hal yang baik. Alasannya karena hal-hal yang baik ini datang dari hati nurani. Pergerakan apa pun itu kalau dia dilandasi oleh hati nurani aku pikir itu akan dibuktikan oleh sejarah. Lihat saja film-film dokumenter sekarang yang menguak tentang kesalahan-kesalahan yang telah dibuat di masa lalu. Ada tiga etika di sini. Yang pertama adalah benar-salah; itu berdasarkan dari norma. Yang kedua adalah baik-jahat; itu dari hati nurani. Yang ketiga adalah tepat-tidak tepat; itu berdasarkan dari situasi, waktu, dan kondisi. Kalau normatif kan bisa dimanipulasi. Buktinya dulu Teluk Benoa itu adalah zona konservasi, bukan? Tapi kok tiba-tiba bisa diubah menjadi zona budidaya? Itu berarti hukum bisa direkayasa. Kalau situasi tepat-tidak tepat misalnya seperti pemerintah sekarang itu diwarisi apa yang sudah dibuat oleh pemerintahan sebelumnya. Jadi apa yang tepat-tidak tepat itu sangat tergantung pada tempat, waktu, dan keadaan. Makanya satu-satunya yang aku percaya adalah baik atau jahat karena itu tolok ukurnya adalah hati nurani. Gerakan seperti ForBali adalah masalah hati nurani, dan jika baik dia akan long lasting.

Lalu bagaimana kabar Akarumput sekarang?

Akarumput sekarang medianya tidak jalan karena kami kekurangan tim. Tapi kami masih handle pekerjaan-pekerjaan sebagai media konsultan. Kami masih bisa bikin buku, kami bikin majalah, masih aktif di situ. Kemarin sempat sebagai distributor film Jalanan. Belakangan seperti klinik Bumi Sehat yang baru, cara funding lewat situsnya kami yang urus. Manajemen Navicula juga Akarumput yang pegang [tertawa].

Tahun kemarin Anda resmi menjadi seorang ayah. Apa rasanya?

Yang pertama jelas tanggung jawab bertambah [tertawa]. Yang kedua kami harus melibatkan satu orang ini ke dalam perencanaan-perencanaan masa depan. Entah itu mendesain rumah atau membuat akunting keluarga, selalu melibatkan orang ini.

Dia punya nama yang unik, ya.

Nama lengkapnya I Wayan Izabel Nada Rimba. Izabel itu dari istriku, namanya sudah dia hold sejak dulu dia masih balita, "Kalau aku nanti punya anak aku mau namanya Izabel". Sedangkan Nada Rimba itu dari aku. Karena aku sering ke hutan-hutan dan aku suka sekali suara dari hutan. Jadi aku merasa hutan itu seperti biodiversity, kanekaragaman hayati, sumber dari segala sumber. Plasma Nutfah. Air yang bersih keluar dari mata air hutan. Udara yang bersih keluar dari hutan. Obat-obatan, makanan, bibit-bibit, benih-benih asli keluar dari hutan. Cuaca temperatur yang bagus keluar dari hutan. Musik pun bisa keluar dari keanekaragaman di dalam hutan. Bahkan iman dan takwaku keluar dari hutan [tertawa].

Robi Navicula itu ayah yang seperti apa?

Waduh, ayah yang seperti apa? Aku sebenarnya orang yang suka bercanda. Aku pikir semua orang akan keluar cute-nya ketika sudah punya anak [tertawa]. Ya, beruntung aku adalah anak yang dibesarkan dari keluarga dengan cinta kasih dari ibu dan ayah. Aku merasakan sekali hubungan baik itu dari ayah dan ibuku yang membentuk pola pikir dan perspektifku. Sehingga aku dan istriku sepakat untuk selalu menjaga cinta ini agar anak kami terpengaruh cinta kami.

Robi, Nada Rimba, Lakota. (instagram.com/robinavicula)

Apakah Anda dekat dengan ayah Anda sendiri?

Iya, aku dekat dengan ayah juga dengan ibu. Sampai sekarang. Tinggal di tempat yang cukup berdekatan. Ibuku punya warung vegetarian di Ubud, jadi kalau aku lapar tinggal telepon atau datang ke situ [tertawa]. Sampai sekarang kadang-kadang kalau bapak aku lagi santai, dia yang mengatarkan aku ke airport. Kadang-kadang kami punya waktu bersama di kebun, menghabiskan malam berduaan saja di sana. Beruntungnya tinggal di lingkungan keluarga ya memang seperti itu. Beda dengan budaya Barat yang misalnya individual atau lepas dari orang tua. Sebenarnya itu bagus secara kemandirian, tapi satu kebudayaan Timur yang aku suka yaitu selalu erat dengan keluarga. Apalagi di Bali di mana anak-anak dan orang tua masih berkumpul di satu [kampung] halaman.

Ternyata itu sehat bagi anak-anak juga bagi manula loh. Karena manula itu selalu merasa kesepian, merasa terabaikan, merasa tidak berguna lagi. Dan kasihan kalau mereka harus berakhir di panti jompo atau semacamnya. Aku membayangkan kalau aku tua nanti seperti itu, aku akan kesepian sekali. Tapi kalau para orang tua di Bali karena masih tinggal sama anak-anaknya, kadang-kadang main judi di pos kamling bersama pemuda-pemuda [tertawa], bantu bikin layangan, mereka jadi masih bermanfaat di dalam komunitas. Aku pikir itu sehat sekali untuk mereka karena masih merasa berguna dan diterima. Begitu juga untuk anak kecil. Bayangkan saja jika aku dan istriku tinggal di apartemen dalam kota hanya berdua saja. Kalau kami berdua kerja harus bayar orang untuk mengurus anak, itu akan ada jarak di antara kami. Tapi di keluargaku karena kami masih dekat dengan orang tua dan semacamnya, anak kami masih dijaga oleh orang-orang yang peduli. Jadi aku sedikit merasa beruntung berada di dalam keluarga Bali [tertawa].

Orang bilang menjadi aktivis biasanya banyak musuhnya. Apakah ini membuat Anda harus mengubah sikap karena sekarang Anda tidak harus menjaga lingkungan saja, tapi harus menjaga anak dan keluarga juga?

Tentu saja tidak. Aku harus menjaga lingkungan karena anakku akan tinggal di sini nantinya. Prinsipku itu hanya satu, peduli akan manusia. Bukan hanya untuk anakku saja. Anakku hanya akan sehat apabila orang di sekitarnya juga sehat. Berbicara tentang kesehatan, ini adalah salah satu desain permaculture. Desain ini tidak pernah bertujuan apa yang terbaik untuk diri kita atau keluarga kita sendiri. Tidak bisa. Desain permaculture itu satu keluarga. Petani ini akan menjadi sehat apabila petani-petani lain di sekitarnya juga sehat. Produsen akan menjadi sehat apabila konsumennya juga sehat. Konsumen akan menjadi sehat apabila produsennya menciptakan produk-produk yang sehat.

Jadi yang diciptakan itu adalah sebuah komunitas yang sehat. Kita tidak akan menjadi makmur ketika kita mempunyai Mercedez Benz atau punya mobil mewah lainnya, namun saat keluar dari pagar rumah kita ketemu orang-orang yang bahkan makan saja susah. Itu adalah sebuah ketidaksuksesan. Itu sangat bertolak belakang dengan principal dari permaculture sendiri. Jadi untuk menjadikan anakku sehat aku harus menjadikan anak-anak lain dan keluarganya sehat. Justru aku menjadi semakin peduli lingkungan. Mirip dengan film Interstellar [tertawa]. Akhirnya pengorbanan pun harus dibuat. Peduli terhadap sesama manusia, peduli kepada lingkungan, dan peduli dengan masa depan.

Berbicara tentang musuh, seperti yang tadi aku bilang. Kalau normatif, benar-salah, justru itu banyak musuhnya. Karena terlalu banyak rekayasa di dalamnya. Yang aku lakukan kan hati nurani. Aku rasa semua orang punya sisi yang baik di dalam hatinya yang akan menghubungkan kita semua.

"Kita tidak akan menjadi makmur ketika mempunyai Mercedez Benz atau punya mobil mewah lainnya, namun saat keluar dari pagar rumah kita ketemu orang-orang yang bahkan makan saja susah. Itu adalah sebuah ketidaksuksesan..."

Anda merupakan menantu dari Robin Lim yang di tahun 2016 menjadi salah satu calon CNN Super Hero. Bisa diceritakan lebih lanjut perihal ini?

Iya, dulu dia kan mendapatkan CNN Hero di 2011. Ternyata CNN punya permainan baru, up the level jadi super hero [tertawa]. Tapi untuk yang kali ini dia tidak dapat. Dia nominasi lima besar. Urutan yang pertama mendapat hadiah uang dengan nominal besar, dia adalah Pushpa Basnet dari Nepal.

Kalau yang 2011 dulu, ibu dapat uang sebagai CNN Hero. Perspektifnya dia tentang uang itu beda. Ya, itu tadi sebagai alat tukar. Jadi semua uang yang dikasih ke dia itu bebas mau diapakan saja. Mungkin kalau zaman sekarang orang akan menjadikan itu kepentingan pribadi. Kalau dia, "Aku mendapat uang ini untuk membangun klinik yang lebih besar". Dia memang passion-nya ke dunia klinik.

Memang seberapa besar nominal hadiahnya?

Aku lupa. Sekitar dua sampai tiga miliar. Tapi kliniknya yang sekarang jauh lebih besar dari angka itu [tertawa]. Jadi dia dapat hadiahnya sekian, tapi bikin proyeknya sekian. Akhirnya kami bikin funding, dapat bantuan dari teman-teman. Aku dan dia sempat tur di beberapa tempat di Italia. Jadi dia bicara, aku konser. Selama satu minggu kami melakukan penggalangan dana di sana. Kami sempat main di satu festival, yang punya festival sampai tergerak, "Oke, 100% keuntungan festival akan aku kasih". Akhirnya kami punya laboratorium sendiri dari kegiatan itu.

Tahun 2016 Navicula menginjak usia 20 tahun. Saat Anda memulainya, apakah Anda terbayang akan berjalan sampai sejauh ini?

Aku terbayang aku memang suka musik [tertawa]. Tapi ya menurutku band ini adalah keberuntungan. Anugerah. Aku bekerja dan main musik bersama teman-teman kecilku. Teman-teman yang sama-sama mencintai musik. Kami juga tinggalnya masih di Bali. Tidak pernah terbayang akan bertahan lama sebagai band. Jalani saja. Cuma itu tadi, aku hanya terbayang aku akan main musik terus. Ya, Navicula bisa dibilang adalah salah satu bayiku [tertawa]. Dari kecil aku memang terobsesi punya band rock. Ternyata bertahan sampai aku tua dan masih aku banggakan. Aku pikir jarang ada yang menghargai atau merasa berada di posisi seberuntung ini.

Ada yang memiliki band tapi tidak bahagia. Ada yang menganggap band itu sebagai beban. Kalau aku sih merasa sedikit beruntung karena masih punya rasa naif, "Yeah! Kita keren, kita anak band," dan selalu setiap ada panggung bersama Navicula kita yang, "Yeah!" Aku beruntung punya rasa itu. Soalnya kalau kita sudah kehilangan rasa itu, bakal jadi Kurt Cobain [tertawa].

Apa yang kalian lakukan/rayakan di usia 20 tahun ini?

Kemarin kami banyak sekali rencana. Bikin ini, bikin itu. Tapi ternyata kami di tahun 2016 sangat sibuk [tertawa]. Jadi merayakannya kayak, "Yeay kita sudah 20 tahun. What"s next?"

Berarti dalam waktu dekat ada proyek baru dari Navicula?

Kami memang ada beberapa proyek yang tertunda. Kami ingin membuat tur ke luar negeri lagi. Ada juga single-single baru yang siap dirilis 2017. Belakangan kami memang sedang sibuk menjadi ayah. Biarkan anak-anaknya tumbuh bulu sedikit [tertawa].

Di situs resmi Navicula Anda menulis tips bertahan 20 tahun adalah "jangan bubar". Apakah memang sesederhana yang terdengar?

Semua band itu seperti organisasi atau seperti rumah tangga. Pasti banyak kepala, banyak keinginan. Sehingga menimbulkan banyak masalah. Apa pun yang kamu buat jika lebih dari satu kepala pasti ada masalah kok. Masalah ya masalah, tapi masalah bubar ini adalah keputusan paling terakhir. Jika ada masalah, bahas solusinya. Jika tidak ketemu solusinya, jangan dijadikan itu sebuah masalah dan sebagai band, jangan bubar. Kalau ada yang tidak suka, lebih baik keluar saja. Kamu nyaman, tidak? Kalau tidak ya keluar saja. Kami akan mencari penggantimu. Dan Navicula tetap Navicula.

Navicula: Gembull, Dankie, Made, Robi. (Facebook/Navicula)

Apa kesulitan terbesar menjadi band yang selalu mengangkat isu sosial politik dan lingkungan?

Kesulitan? Kalau bahan tidak akan kekurangan bahan. Inspirasi ada terus [tertawa]. Kesulitan terbesarnya adalah bagaimana mengemas isu ini supaya tidak membosankan. Karena isu ini adalah isu yang terlalu berat. Kebanyakan orang membuat musik itu bikin orang terhibur. Nah bagaimana mengemas isu ini dengan sisi hiburan itu tadi, tapi dia tetap bergizi. Kebanyakan mereka yang mainstream itu kan membuat "permen", selalu yang manis-manis agar semua orang suka. Tapi aku tidak terlalu tertarik cara membuat "permen". Aku ingin membuat sebuah makanan yang enak, "permen" yang bergizi. Soalnya kadang-kadang kalau isunya terlalu berat, dia akan menjadi "jamu" yang terlalu pahit dan kebanyakan orang tidak suka. Nah sekarang bagaimana aku membuat "jamu" yang enak. Menggabungkan ramuan ini kesulitannya.

Anda memandang kancah musik grunge di Indonesia seperti apa? Apakah Anda mengikuti band-band grunge muda Indonesia?

Masih ada orang-orang yang suka grunge. Menurutku sih sampai kapan pun bakal masih ada. Sebenarnya kalau sekarang kita sudah tidak membicarakan aliran lagi, ya. Semua sudah crossover. Cuma karena aku mengalami grunge, aku tahu, "Wah, ini roots-nya grunge banget". Kayak aku liat band-band seperti Besok Bubar, raw-nya dapat sekali begitu juga dengan attitude-nya. Ada juga yang sludge dan doom-nya masih enak, kalau di Bali kayak si Rollfast yang banyak eksplorasi.

Bagaimana dengan musik di Bali sendiri?

Sebenarnya perkembangannya sama dengan kota-kota lain di Indonesia. Hanya saja di Bali keunggulannya masih banyak venue. Kalau kamu rajin main di klub-klub, kamu tidak usah mengambil pekerjaan lain kamu masih bisa hidup. Kadang-kadang aku juga kalau dalam satu minggu tidak ada acara, aku tinggal telepon pemiliki klub untuk main solo akustik.

Belakangan terjadi konflik politik yang mengatasnamakan agama. Sebagai umat agama minoritas (Hindu) di negara ini, Anda memandangnya seperti apa?

Karena KTP harus menuntut menulis agama, dan aku orang Bali di mana keluargaku orang Hindu, jadi aku tulis Hindu [tertawa]. Tapi sebenarnya aku percaya ada kekuatan yang lebih besar. Aku sangat menghargai semesta. Kita hanya bagian kecil dari sebuah sistem yang sangat besar. Aku percaya itu tapi aku merayakan semuanya [tertawa].

Aku dari dulu tidak terlalu suka kalau agama itu dikait-kaitkan dengan politik. Orang-orang yang menggunakan agama untuk kepentingan politiknya hanya berhasil jika digunakan kepada masyarakat yang masih menganggap agama itu adalah isu yang sensitif. [Masyarakat] Indonesia ini memang mayoritas menganggap agama adalah isu yang sensitif, makanya gampang diubek-ubek dengan hal-hal kayak gini.

Menurutku agama itu adalah urusan individual. Urusan kejiwaan kamu dengan penciptamu kalau kamu percaya itu. Tapi kalau ini menjadi isu sensitif kan gampang dimanipulasi orang. Apalagi kalau kita lihat sebagai konsep kenegaraan Indonesia, founding father kita sudah tahu kok negara ini kuat dengan keanekaragaman. Bhinneka Tunggal Ika. Persatuan dalam keberagaman. Sadar bahwa Indonesia ini beragam. Jangan sampai isu SARA dibawa-bawa. Lucunya ada kelompok yang menggugat isu SARA dengan menggunakan isu SARA [tertawa]. Sangat tidak masuk di logikaku. Ya, sebagai warga negara yang menyimak, aku melihat proses-proses pengadilannya, bagiku bagaikan dagelan konyol saja.

"Sebenarnya aku percaya ada kekuatan yang lebih besar. Aku sangat menghargai semesta. Kita hanya bagian kecil dari sebuah sistem yang sangat besar. Aku percaya itu tapi aku merayakan semuanya [tertawa]."

Menurut Anda apa yang harus dipahami masyarakat dari kasus ini?

Aku pikir semakin cerdas masyarakat, akan semakin tidak mungkin dimanipulasi orang dengan hal-hal seperti ini. Kalau tingkat pendidikan ataupun tingkat ekonomi menjadi lebih berkembang, biasanya orang menjadi lebih jarang sensitif terhadap masalah-masalah yang sebenarnya tidak perlu dijadikan masalah. Itu bisa kita lihat dari level masyarakatnya kita juga, kan? Misalnya mayarakat dari level middle class, dia lebih terpelajar, lebih bisa me-manage skala prioritas, biasanya kan tidak akan terpengaruh dengan hal-hal kayak gini. Itu secara natural.

Isu-isu seperti ini bisa membuat kita sebagai masyarakat Indonesia dapat menilai ada di mana skala berpikir mayoritas masyarakat Indonesia. Aku sebagai orang Indonesia yang kebetulan sering berinteraksi dengan dunia internasional, jika aku melihat dengan kaca mata global, sebenarnya hal seperti ini tidak bagus menjadi pencitraan Indonesia di mata internasional. Karena apa? Karena masyarakat internasional melihat kita seperti menjadi negara yang primitif sekali [tertawa]. Indonesia itu keren. Di Indonesia itu masih banyak orang-orang yang peduli tentang keberlangsungan dunia untuk menjadi lebih baik, tentang kebersamaan, tentang isu-isu yang lebih besar.

Indonesia itu kaya akan keragamannya, ini adalah kebanggaan dari Indonesia. Kegiatan-kegiatan isu agama yang sensitif ini adalah kegiatan-kegiatan yang dapat menodai citra bagus dari Indonesia. Aku pikir sudah saatnya pemerintah sekarang menganggap citra Indonesia di mata dunia adalah hal yang urgent. Karena apa? Karena posisi tawar suatu negara itu sangat dipengaruhi oleh national branding. Bagaimana negara luar melihat Indonesia? Itu kan bargaining power.

Bagaimana investor mau masuk? Bagaimana posisi kita di forum-forum internasional? Apakah kita dari tahun '70-an masih mau dianggap tinggal landas terus? Apa tidak pernah bosan menjadi negara dunia ketiga? Sementara negara-negara lain sudah pesat perkembangannya dalam kualitas hidup. Sudah saatnya pemerintah Indonesia menganggap ini adalah hal yang penting. Selama ini kan [para pelaku] politik pencitraannya ke dalam dan membodohi masyarakat. Kenapa kita tidak bersatu, bersama-sama membuat pencitraan ke luar? Stop membodohi masyarakat, sudah saatnya kita menjadi bangsa yang lebih besar.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Afgan Dipaksa Turun Panggung di Prambanan Jazz Festival 2017
  2. Bos Prambanan Jazz Menjelaskan Insiden yang Menimpa Afgan
  3. Sixpence None the Richer, Dewa19, KLa Project, Stinky Siap Ramaikan The 90's Festival 2017
  4. Saksikan Trailer Film ‘Pengabdi Setan’ Garapan Ulang Joko Anwar
  5. Aktor ‘X-Men’ dan ‘Jurassic Park’ Menjadi Anggota Queen di Film Biografi

Add a Comment