Blog: Perjalanan Panjang Untuk Kesetaraan

Yang wajar dan sehari-hari belum tentu benar, dan sering belum kita sadari

Oleh
Konser musik sudah beberapa kali jadi tempat kejadian perkara pelecehan seksual. Bayu Adhitya

Kadang saya telanjur patah arang menghadapi keadaan bahwa dunia ini tidak ramah bagi perempuan. Dengan tidak mengabaikan perjuangan dan segala pencapaian yang dilakukan oleh para tokoh perempuan, saya sering merasa jalan untuk mencapai kesetaraan sangat panjang dan tenaga kadung habis sebelum kita sampai di tujuan.

Tapi sesuatu yang gawat dan terus terjadi harus ada ujungnya. Pelecehan seksual terjadi pada vokalis SLOST Janet pada akhir November lalu. Kejadiannya di sebuah konser punk rock, yang komunitasnya sering meneriakkan isu kesetaraan. Selain pelaku, orang-orang yang saat itu berada di sekitar kejadian bersikap sama mengerikannya: tertawa-tawa. Saat peristiwa ini diangkat di laman Facebook Kolektif Betina, korban kemudian disalahkan oleh kebanyakan orang. Ini bukan hal baru, dan mestinya saya tidak kaget. Membaca komentar-komentar di situ membuat saya lagi-lagi sadar jalan kita panjang dan sulit ditempuh. (Seperti ditulis di laman itu pula setelahnya, pelaku sudah meminta maaf kepada Janet.)

Ivan Makhsara, rekan saya di Rolling Stone Indonesia, melontarkan pertanyaan, "Kenapa ini tidak dibicarakan dengan lebih lantang oleh teman-teman di musik?" Kami mendapat kesan bahwa kurang ada rasa mendesak dalam menyikapi ini. Kalau pun dibahas sebentar setelahnya kita pindah ke topik lain dan semuanya berlalu. Sampai kita mendengar kasus pelecehan selanjutnya. Mungkin memang begitu cara kita menelan kejadian seperti pelecehan seksual, tapi mestinya tidak. Mestinya ada jalan untuk menyampaikan bahwa ini adalah kasus serius, yang penyebabnya bisa datang dari keseharian dan pola pikir kita.

Situasi keseharian membuat kebanyakan dari kita tak menganggap ada yang keliru di situ. Berbagai istilah yang cenderung merendahkan perempuan diterima sebagai kewajaran. Seberapa sering kita dengar sifat-sifat tertentu dituduh sebagai milik perempuan saja?

"Mulutnya kayak perempuan" dalam konteks bergunjing sering saya dengar. Logika yang muncul adalah sebaik-baiknya perempuan menggunakan mulutnya ya untuk menggosip, sementara laki-laki memakai mulutnya hanya untuk hal-hal mulia. "Laki-laki kok cengeng/sensitif/lembut" adalah contoh lain. Dengan logika itu berarti sifat-sifat tersebut jelek, kurang terpuji dimiliki laki-laki sebagai makhluk yang senantiasa menahan air mata dan tak boleh merasa. Pantasnya memang milik perempuan, si makhluk kelas dua yang cengeng, demennya menggosip, diobjektifikasi pula.

Catcalling adalah salah satu bentuk pelecehan yang paling sering terjadi di hidup sehari-hari. Ini bisa merujuk pada siulan, komentar, dan gestur yang mengandung unsur seksual terhadap orang yang melintas. Pelaku merasa berhak untuk menilai dan mengomentari tubuh korban. Protes atau keberatan kebanyakan akan dibalas dengan "Cuma bercanda, kok serius banget", atau "Dipuji kok malah marah". Perlakuan yang katanya cuma bercanda ini bisa mengancam perempuan karena ruang privatnya diganggu. Juga bisa berlanjut pada kekerasan yang lebih gawat karena perempuan dilihat sebagai objek, bukan subjek yang dapat menyatakan izin.

Patriarki atau sistem yang menempatkan laki-laki di atas perempuan berkobar selama berabad-abad, membuat antara lain tubuh perempuan jadi sesuatu yang bukan miliknya lagi. Hak-hak atas tubuh dicabut dan segala sesuatu tentangnya diatur oleh orang lain, dari berpakaian sampai bersikap. Perempuan disamakan dengan mutiara di dalam cangkang ("Tutup rapat-rapat tubuhmu!") sampai rumah ("Kalau pintu terbuka, salah sendiri kecurian"). Seolah-olah perempuan adalah benda mati, yang tak punya pemikiran dan keinginannya sendiri. Bayangkan, sepanjang hidup diatur-atur dan tunduk pada norma yang keliru hanya karena tak bisa memilih lahir menjadi jenis kelamin apa. Rongrongan fisik dan emosional terhadap perempuan diterima sebagai kewajaran. Beberapa karena bentuknya tak selalu mengerikan, misalnya dalam bentuk guyonan. Guyonan yang datang dari berbagai penjuru dan dipelihara bertahun-tahun bisa membuat kita beranggapan inilah apa adanya. Tapi gelak tawa itu kemudian bisa menanamkan sesuatu yang keliru di pikiran.

Semuanya tak akan berubah kalau pikiran kita tidak berganti dan hati tak tergerak. Kita akan terus melihat berita perempuan dikangkangi, baik secara harfiah maupun kiasan. Apa yang terjadi sehari-hari bukan berarti kebenaran dan tidak harus selalu kita telan bulat-bulat. Kesetaraan adalah soal menghargai semua orang sebagai sesama manusia. Itu yang paling utama. Terlepas dari jenis kelamin, kelas, atau taraf kecerdasan, kemanusiaan yang paling dasar adalah memperlakukan sesama tanpa perbedaan. Posisi kita sebagai masyarakat akan ditentukan dari bagaimana kita menyikapi kejadian seperti ini: Mau memberlakukan sanksi yang keras kepada pelaku atau terus memaklumi saja?

Editor's Pick

Add a Comment