CD Review: Bin Idris - 'Bin Idris'

Oleh

Salah satu album paling bagus dari 2016

Seperti mengambil banyak dari ranah blues sampai gospel, Bin Idris alias Haikal Azizi (Sigmun) adalah gitar akustik dan vokal yang tebal, baik secara timbre maupun rasa yang tersimpan di dalamnya. Lirik dan kemampuan menyanyinya membuat rasa di lagu-lagunya bertambah berlipat-lipat. Kedalaman ini sekarang seperti jarang ditemukan di musik folk Indonesia, dan kehadiran Bin Idris jadi menyegarkan karenanya.

Kebanyakan isi album ini adalah soal bergelut dengan pikiran sendiri: mencoba mencari maksud dari hidup dan segala di dalamnya, juga setelahnya. Hidup dan mati adalah takdir yang tak bisa dielakkan. Di antara itu ada ruang tempat seribu pertanyaan hadir; tentang kekejaman manusia dan takdir, tentang mereka-reka peristiwa, atau tentang kerisauan mau diisi apa hidup ini. Di "Temaram" dan "Rebahan", rasa risau itu hadir seperti puisi. Dari segi bunyi, keresahan kentara saat suara Haikal yang lantang di baris pertama (lalu kadang terdengar seperti Chrisye yang kelam di bagian refrain) bergeser jadi samar-samar menjelang akhir "Temaram". Di kedua nomor ini pula rasa khawatir dibalas dengan sikap yang bijak tanpa pernah terdengar klise. "Dan duri yang menghujam tentu kan meninggalkan luka/Tapi bukan brarti kau taklah berdaya" bisa meninggalkan efek yang jauh lebih sengit dibanding segala salam super di luar sana.

Di "How Naïve" dan "Tulang dan Besi", mungkin karena ia bicara soal sesuatu yang di luar dirinya maka Haikal memaparkan tanpa memberi jawaban, dan ini terasa manusiawi. "Jalan Bebas Hambatan" terdengar menggelitik dari awal sampai habis. Liriknya cerdik dan berima, jitu menangkap pemandangan dan perasaan berkendara di atas jalan tol. "Laylat Al Qadr" berbentuk instrumental dengan aura mengawang-awang, gitar dimainkan pelan-pelan dan vokal tak seberapa jelas melayang di sepanjang lagu. Kalau Haikal mencoba menangkap keindahan sebuah malam yang agung dan memaparkannya kembali, ia berhasil dengan telak. Lagu ini juga bisa(-bisanya?) terdengar cocok masuk album Victorialand (1986) oleh Cocteau Twins.

Kadang iman kita seperti diuji saat mendengarkan album yang lagu-lagunya terasa tak jauh berbeda dari satu ke lainnya. Di Bin Idris tak ada sensasi itu. Walau tidak drastis, ada dinamika di alur lagu yang mengundang kita untuk terus mendengar. Ini berkat notasi lagu yang elok, ditambah tarikan suara legato Haikal yang lantang sekaligus sesekali gemetar, petikan-petikan pendek gitar yang gaungnya lama dan membekas, sampai harmonisasi vokal yang menggetarkan. Perang batin Bin Idris mungkin akan terus berlangsung, namun sungguh mujur kita sebagai pendengar jika hasilnya seindah ini.

Editor's Pick

Add a Comment