Senyawa

Berbincang panjang lebar dengan duo eksperimental tanah air berskala popularitas global, yang akhirnya dapat kesempatan menggelar konser tunggal di negeri sendiri.

Oleh
Senyawa Dennis Tumiwa

Akhirnya Senyawa melaksanakan konser tunggal di negeri sendiri. Setelah bertahun-tahun rajin melanglang buana, membuat orang-orang Barat berdecak kagum atas konsep musik mereka yang manunggal, Rully Shabara dan Wukir Suryadi berhasil mendapat ruang tampil di panggung Indonesia yang—mengutip kata Wukir—" proper, dengan akustik ruang memadai."

Meski demikian, konser bertajuk Tanah + Air ini masih harus dipromotori secara mandiri oleh The Volcanic Winds Project selaku inisiatif buatan Kristi Monfries yang juga bertindak sebagai manajer Senyawa. Dukungan datang dari G Production yang dipercaya mengurus teknis produksi. Ternyata fakta bahwa Senyawa sudah keliling dunia dan pernah berbagi panggung dengan Swans, Death Grips, Damo Suzuki, Keiji Haino, Melt Banana, hingga diundang tampil pada festival musik Eaux Claires yang dikuratori Justin Vernon dari Bon Iver dan Aaron Desner-nya The National tidak cukup untuk membuat promotor lokal menoleh ke arah mereka.

"Belum ada promotor lokal yang berani memanggungkan musik eksperimental seperti Senyawa. Gagasan konser di Indonesia malah datang dari Mbak Kristi yang ingin memperkenalkan Senyawa ke kampung halaman sendiri," kata Rully kepada Rolling Stone Indonesia saat ditemui di belakang panggung Gedung Kesenian Jakarta pada Rabu (21/12) petang lalu alias satu hari sebelum tanggal pentas. Padahal di negara lain, tepatnya Bucharest, Romania dan London, Inggris, Senyawa sudah lebih dulu menjalankan konser tunggal.

Rully melanjutkan, "Promotor lokal masih melihat jumlah fans, jumlah penonton yang akan datang, jumlah pendengar yang bisa diraih. Bukan berdasarkan apakah musik ini akan mendidik masyarakat? Apakah musik ini akan memicu munculnya sesuatu? Media pun begitu. Mereka hanya melihat ke mana yang bisa dituai. Mana yang sudah mekar, petik saja karena fans-nya sudah ada. Itu sistem mencari untung, bukan investasi."

Kalau ada promotor lokal yang hadir pada konser Tanah + Air, wajar bila mereka menyesal karena bukan menjadi pihak yang menyelenggarakannya. Energi Rully dan Wukir begitu luar biasa, memantul ke seluruh penjuru Gedung Kesenian Jakarta, di sepanjang konser yang terbagi menjadi dua sesi ini; dibuka terlebih dahulu oleh penampilan solo Patrick Hartono yang memadukan rentang bebunyian lebar—dari noise hingga percikan air—dengan visual terinspirasi aritmatika.

Pemandangan pertama yang tampak di panggung saat Senyawa tampil adalah sebuah kain putih yang dibentangkan serupa layar. Begitu lampu sorot ditembakkan dari arah sebaliknya, muncul siluet tubuh Rully dan Wukir. Konsep ini mengingatkan akan metode pementasan wayang kulit. "Bala" yang merupakan lagu pertama dalam album Menjadi rilisan Morphine Records asal Berlin, Jerman pada 2015 lalu, dimainkan sebagai suguhan pembuka.

Senyawa saat tampil di Gedung Kesenian Jakarta pada 22 Desember 2016 (foto: Ida Bagus Wibawa)

Bukanlah hal mudah untuk mendeskripsikan musik Senyawa, namun tidak sulit untuk bisa tenggelam di dalamnya. Terkadang sesuatu tercipta bukan untuk dijelaskan, namun dirasakan dan dinikmati. Tetapi apa yang membuat Senyawa begitu seru untuk ditonton dan didengar adalah dualitasnya.

Secara konsep, dualitas meyakini bahwa setiap hal diciptakan berkaitan; terang dan gelap, baik dan buruk, hidup dan mati, benar dan salah. Rully dan Wukir pun demikian, mereka sama-sama menyimpan dualitas yang membuat penonton atau pendengar terus menancapkan perhatian kepada Senyawa.

Rully lewat kerongkongannya dapat menggeram rendah layaknya singa lapar dan bisa pula melengking begitu tinggi bak pterodaktil. Wukir dengan alat musik ciptaannya yang dinamakan bambuwukir mampu mengeluarkan bunyi yang sangar tetapi juga bisa memberikan melodi yang bergemerincing. Saat dipertemukan, dualitas itu melebur menjadi suatu nyawa baru.

Di atas panggung, mereka seperti sedang berdialog menggunakan instrumen musik masing-masing. Wukir sebagai pengendali perbincangan, sementara Rully melontarkan pernyataan-pernyataan yang sesuai; kontekstual dan tidak berlebihan.

Maka tidak heran ketika konser usai, hadirin yang ada di Gedung Kesenian Jakarta langsung merespons apa yang baru saja mereka saksikan dengan penghormatan berupa tepuk tangan berdiri. Ini hasil kerja keras mereka sejak pertama terbentuk pada 2010 silam, sebuah proses bermusik yang mereka bicarakan secara panjang lebar kepada Rolling Stone Indonesia.

Kisah pertemuan pertama kalian begitu menarik; tetap seru walau sudah diceritakan berulang-ulang dan bahkan cocok dimasukkan ke dalam sebuah fiksi. Waktu itu kalian menyapa satu sama lain di atas panggung, melakukan improvisasi musik secara spontan atas rekomendasi dari Wok the Rock (Yes No Wave Music). Perasaan kalian sendiri ketika itu bagaimana? Apakah kejadian langsungnya memang seseru yang diceritakan orang-orang?
Rully (R):
Pada saat itu memang seru, tapi kalau dilihat lagi sekarang paling ya begitu saja. Tetapi itu adalah momen pertama kali aku menemukan suaraku. Ketemu dengan sound yang seperti itu (bambuwukir), belum pernah sebelumnya. Jadi rasanya segar banget. Dan aku merasa banyak sekali potensinya di sini. Makanya kami memutuskan untuk lanjut, untuk direkam. Jadi ya, aku merasa ini baru. Belum pernah suaraku ketemu tandem yang seperti ini.

Wukir (W): Kalau aku merasa ada yang menarik, karena hasilnya seperti sudah jadi. Ada dorongan untuk, "Wah, suara dia begitu. Kalau aku main begini, suara dia kayak apa ya?" Begitu sampai berketerusan dan coba hal-hal baru yang jarang ditemukan. Ada dorongan untuk cari bunyi-bunyi yang jarang, yang belum pernah aku temui secara skill dan segala macam. Penggambarannya begini: aku membuat pertanyaan dalam bunyi dan dia berusaha menjawabnya.

R: Iya, makanya bagi vokalis untuk ketemu sound yang diciptakan Wukir tuh seperti, "Wah, ini langka!" Sebagai seorang vokalis yang suka mengeksplor bunyi, dikasih yang begini, ya enak banget karena ada banyak ruang bagi aku untuk bisa merespons. Frekuensinya macam-macam dan itu mancing aku untuk bikin lawannya. Ibaratnya ketemu lawan yang sepantaran. Enak.

W: Seperti memunculkan daya rangsang. Aku rangsang begini, dia kayak begitu. Kalau aku begini, dia gimana ya?

Dan itu langsung terjadi saat pertama kali ketemu di atas panggung?
W:
Oh, itu setelahnya. Kalau waktu pertama berbagi panggung ya asyik saja, nggak ada beban. Baru setelahnya muncul dorongan untuk membuat rangsangan-rangsangan yang lain; yang dengan sendirinya si vokalis ini juga terangsang untuk mencari yang lain. Rangsangan-rangsangan ini terjadi secara terus-menerus, bergantian dari ragam bunyi, skill yang berbeda, dan lainnya; sampai pada satu titik aku kebingungan rangsangannya kayak apa lagi. Nah itu berarti aku ketemu dinding, semacam dinding keterbatasan dari proses pencarian bunyi itu. Sehingga muncul dorongan untuk mendobrak keterbatasan dinding itu. Itu pun terus-menerus juga.

Sejauh ini, seperti apa yang paling susah dalam mendobrak keterbatasan tersebut? Apa yang harus kalian lakukan?
R:
Main sampai bosan. Biasanya begitu. Misalnya kami sudah bosan bawakan lagu yang dulunya kami bawakan dengan begitu excited; setelah dilakukan bertahun-tahun kan jadi bosan. Itu berarti kami ketemu dinding. Kami harus bikin lagu ini jadi exciting lagi. Kami mainkan saja sampai bosan, pasti akan ketemu celahnya. Otomatis kami jadi hapal dan bisa menemukan celah untuk utak-atik lagunya biar seru. Dan itu tidak kami perbincangkan secara lisan. Kami berbincangnya dengan musik. Kami nggak pernah ngobrol, "Lagu ini dibeginikan, lagu itu dibegitukan." Main saja, nanti juga ketemu sendiri. Bagi orang yang mendengarkan Senyawa lewat album dan lumayan sering, dia akan sadar begitu lihat live, "Oh, lagunya sekarang jadi begini." Nah begitu, kami jadi ketemu celah agar lagu itu bisa naik level. Bukan naik sih, tapi maju. Lebih luas.

W: Muatan energinya.

R: Iya, muatan energinya lebih besar atau lebih luas. Sehingga mengapresiasinya pun jadi nggak sekadar aransemen bagus, tapi ada sesuatu yang lebih dari sekadar aransemen. Lebih kepada, "Wah, energi lagunya besar sekali ya." Karena kami sudah tahu celah aransemennya supaya lagu itu jadi lebih berisi, lebih "Ugh!"

Waktu pertama kali ketemu, kalian masing-masing sedang disibukkan oleh apa?
R:
Aku main sama Zoo. Wukir mungkin waktu itu sedang memperkenalkan bambuwukir ke nusantara ya?

W: Iya.

R: Dan menurutku dia berhasil memperkenalkan bahwa, "Ini lho instrumenku." Karena aku terpesona, "Wah, instrumennya. Aku harus menyanyi kalau begini!"

Kabarnya, empat hari setelah pertemuan pertama kalian langsung merampungkan enam lagu yang kemudian jadi album mini perdana. Seintens apa pertemuan-pertemuan kalian waktu itu sampai bisa kelar materi album mini perdana dalam waktu singkat walau baru kenal?
R:
Nggak setiap hari sih, hanya dua kali pertemuan.

W: Dua hari kali dua jam, jadi total empat jam. Setelah itu, langsung ke studio.

R: Tapi kami nggak pernah menganggap aransemen lagu itu jadi. Kami hanya tahu sebuah lagu punya bentuk yang kurang lebih seperti ini. Terserah mau dibawakan live atau direkam di studio. Nanti akan berkembang dengan sendirinya. Biarkan saja. Meskipun itu belum selesai dan direkam pun nggak masalah. Toh dia nanti akan terus berkembang. Begitu pun saat kami bikin lagu untuk EP. Makanya cepat sekali kan. Bagi kami, untuk apa dikulik-kulik terus? Yang penting bentuknya sudah ketemu. Ya uwis, bawa saja ke studio. Kami rekam dulu dan lihat hasilnya seperti apa.

Kalau didengar dari karya musik dan dilihat dari foto promosi Senyawa, kalian terlihat memiliki persona yang sangat serius. Apakah kalian juga seserius itu dalam kehidupan sehari-hari?
R:
Aku nggak sih [tertawa]. Kalau untuk urusan berkarya, aku serius. Kalau sebelum-sebelumnya mungkin aku lebih santai, tapi dengan Senyawa aku belajar banyak untuk lebih memperlakukan vokal dengan serius. Cara menerapkan input-ku di Senyawa lebih serius.

W: Kalau menyikapi saat bermusik, ya memang harus serius. Saat bermain, kita juga harus total. Kalau nggak total, ya energinya nggak sampai. Namanya orang berekspresi, kalau setengah-setengah ya penerimanya juga setengah-setengah. Artinya pada saat di panggung ya harus dikasih semuanya, biar penonton juga terasa. Interaksi pemain dengan penonton adalah hal yang penting. Sebenarnya kesuksesan pertunjukan itu penonton puas, yang main juga puas. Kalau nggak serius, nggak total, ya nggak mungkin terjadi interaksi yang bagus antara pemain dengan audiens. Harus totalitas.

R: Musik Senyawa mainnya memang di situ, bagaimana mengelola energi pemain dan audiens atau pendengar. Kami bukan musik pop. Kalau musik pop, dia bermainnya di bagaimana lagu itu bisa diakses oleh kuping. Kamu lagi nggak mood pun, kamu tetap bisa main lagu pop dan penonton tetap senang. Karena bentuk lagunya jelas, yang mau disampaikan selalu itu. Sedangkan musik Senyawa nggak begitu. Kami bermain di energi, bermain di bagaimana kami mengolah yang saat itu ada di panggung. Jadi sangat penting untuk menjaga totalitas. Kalau kami malas-malasan, penonton nggak mungkin dapat, nggak mungkin suka. Kami sadar kalau musik kami nggak begitu sedap didengar, kalau nggak dibawakan dengan serius dan totalitas akhirnya akan menjadi, "Uwopo yo?" [tertawa]

Saya melihat musik Senyawa sebagai sesuatu yang tunggal. Belum ada imitasinya dan mungkin tidak akan pernah ada. Bagaimana prosesnya kalian bisa sampai ke karakter musik yang seperti itu?
W:
Kalau menurutku, karakter itu terbentuk karena mungkin Rully dengan memori masa lalunya sudah berproses dengan prosesnya dia. Sementara aku juga sudah berproses dengan prosesku. Nah pada saat kami ketemu, aku memberikan memori-memori masa lalu aku secara total. Dan aku pikir Rully juga begitu.

R: Iya, benar.

W: Karena di situ, kalau nggak total kami nggak mungkin bisa klop. Sebisa mungkin di pentas-pentas yang sudah kami lalui, kami memberikan totalitas. Artinya memberikan jiwa raga, bukan hanya teknik. Harus full apapun kondisinya. Se-chaos apapun kami, kalau sudah waktunya main ya harus total. Karena pertaruhannya adalah kesuksesan pertunjukan yang ukurannya kalau penonton puas, kami juga puas.

Tadi disebutkan adanya memori dan proses dari masa lalu. Kalau bisa dijelaskan, seperti apa proses Rully Shabara dan Wukir Suryadi masing-masing? Saya pernah baca kalau Wukir pernah terlibat dalam pagelaran Kuda Lumping. Berarti itu juga memiliki pengaruh terhadap musik Senyawa?
W:
Manusia punya potensinya masing-masing. Lalu mungkin alam yang aku jalani pada saat itu mengajari aku juga, baik secara skill atau kehidupan, bahwasanya kalau latihan itu harus serius dan main musik harus total. Ini terolah terus-menerus, sehingga menjadi kristalisasi dari hal-hal kehidupan yang aku jalani. Akibatnya ada kesadaran kalau potensi itu harus diasah, harus dimunculkan.

R: Ibaratnya kalau aku ketemu Wukir tapi aku masih umur 20 tahun, akan berbeda. Karena aku belum menjalani proses 15 tahun sisanya. Ada 15 tahun setelah aku umur 20 tahun itu yang penting dalam pembentukan karakter vokalku, untuk bisa menandingi bunyi yang dihasilkan Wukir dan bambunya. Susah banget dijelaskan karena itu sub-conscious. Memori itu membentuk karakter kita. Kita kan memilah-milah juga mana yang nyaman dan nggak. Kemudian setelah aku ketemu Wukir, prosesnya lebih cepat lagi. Sebelum ada Senyawa, untuk mendapatkan satu teknik saja bisa nggak dapat-dapat karena energinya nggak ada yang memicu. Begitu ketemu Wukir, langsung ngebut. Aku banyak sekali belajar di Senyawa, memicu potensiku. Karena di dalam Senyawa kan hanya ada dua orang, dan musiknya nggak ada pattern baku untuk dipatuhi. Jadi aku punya segala ruang, segala waktu untuk mengeksplor gimana caranya. Jadi mau nggak mau, aku memaksa diriku untuk terus push sampai ke ekstremnya seperti apa.

Sebelum bertemu di Yogyakarta, kalian berasal dari kota yang berbeda. Rully dari Palu, Wukir dari Malang. Ketika kalian masih muda di kota masing-masing, masih dalam proses pencarian identitas, musik seperti apa yang kalian dengarkan?
R:
Kalau aku seperti remaja seusiaku pada umumnya. Dengar musik alternatif, metal, rock. Aku dengar banyak metal sih; dari heavy metal sampai hip metal, aku dengarkan semua. Dan itu membentuk karakterku sebagai anak muda yang dinamis pada waktu itu.

W: Rata-rata hampir sama sih. Aku dengar Kiss, Queen, Bon Jovi, Deep Purple, Leo Kristi, Sawung Jabo, Iwan Fals. Umum lah, Nirvana juga dengar.

R: Tapi begitu aku di Zoo, ada kebutuhan untuk bikin musik yang lebih sophisticated kan. Aku dituntut mendengarkan referensi yang lebih canggih. Akhirnya aku mencari ilmu. Itu berpengaruh juga, jadi begitu sampai di Senyawa aku sudah siap. Ada tahapnya.

Berarti Rully bisa dibilang mulai mendengar musik yang ada di ranah eksperimental karena Zoo?
R:
Iya, karena Zoo. Waktu itu ada kebutuhannya, aku nggak bisa membuat musik yang sekadar hardcore atau punk biasa.

Kalau Wukir, apa pemicunya sampai bisa ketemu dengan musik eksperimental?
W:
Aku senang main musik. Di Jakarta aku dulu pernah gabung dengan band namanya Pitara, terus aku bikin Blok M Akustik sama teman-teman, lalu ada Main Tenan yang isinya anak-anak Bulungan dengan alat musik tradisional tapi cara mainnya cara gitar. Aku juga bikin metal ballad namanya Syaitonirrojim. Setelah itu, aku bikin juga Komunitas Bunyi. Kemudian aku pindah ke Bali, di sana bikin band namanya Yeskill. Lalu sempat gabung juga dengan anak-anak Error Scream. Di luar itu, aku juga garap-garap musik untuk teater, cerpen. Itu terjadi secara bersamaan dan terus menerus, karena aku memang sudah hidup di lingkungan kesenian dari umur 14 tahun; dengan sendirinya jadi semacam pekerjaan. Aku juga jadi butuh untuk selalu berproses di wilayah itu, sambil menyelesaikan persoalan-persoalan tanggung jawab kehidupan.

Berarti Wukir berpindah terus ya? Malang, Jakarta, Bali, Yogyakarta?
W:
Iya, dulu aku tinggal di Jakarta sampai sebelas tahun.

Sekarang apakah kalian masih dengar musik yang tergolong populer?
W:
Masih.

R: Masih tapi kalau lagi ingin saja. Jujur, sekarang sudah jarang banget. Musik pop juga masih dengar tapi nggak mengikuti perkembangannya. Aku nggak tau apa saja yang sedang hit. Era Zoo mulai jalan, aku berhenti dengar musik metal, nggak dengar sama sekali. Aku malah cari referensi musik tradisional, vokal, dan segala macam dari seluruh penjuru dunia. Aku koleksi, aku dengar, aku cari tahu ini apa, ini gimana, dan selalu berusaha mempelajarinya sendiri. Misalnya aku suka dengan teknik tertentu, aku coba pelajari sendiri, otodidak, dan akhirnya pasti gagal. Wajar karena nggak ada yang mengajari. Tapi dengan kegagalan itu, aku jadi: "Oh, ini dia gayaku." Kegagalan itu justru membentuk karakterku. Jadi aku memang sengaja mencari gagal, tapi paling nggak dicoba dulu,"Oh kayaknya begini caranya." Lalu gagal, tapi kemudian malah ketemu gaya sendiri. Nggak bisa persis dengan aslinya karena kemampuanku memang nggak sampai situ. Jadi bisa dibilang kegagalan yang disambut.

Selain karena Zoo, apakah keinginan untuk menggali lebih banyak ragam musik juga muncul karena ada perasaan tidak mau seragam dengan yang lain?
R:
Nggak kepikiran sampai ke sana, cuma ingin memperkaya inspirasi saja. Tujuannya itu saja sih. Musik metal memang menarik sekali bagi aku saat muda, tapi kemudian seiring bertambahnya umur merasa kalau itu ada batasnya. Harus cari yang lain lagi, kira-kira apa ya? Aku memang ingin saja ke musik tradisional, bukan perkara nggak mau sama dengan yang lain. Aku cari, dengar, oh begini. Tapi seorganik mungkin caranya, karena nggak bisa tuh kalau sekadar dengar terus ambil, tempel, ambil, tempel. Nggak begitu kan. Kalau pun bisa, aku nggak mau juga kalau begitu.

Musik Senyawa bisa dibilang bukan tipe yang mudah dicerna banyak orang. Ketika proses pembentukan karakter musik Senyawa, apakah keputusan mengenai aspek aksesibilitas diambil secara sadar?
R:
Aku nggak mau bikin musik yang susah diakses. Jadi nggak ada keinginan sama sekali untuk buat musik yang eksklusif. Bagiku, musik Senyawa ini bisa diakses. Bagiku lho. Dan menurutku, ini seharusnya bisa. Kalau mereka nggak bisa menerimanya lewat album, tonton live-nya saja. Pasti bisa menikmatinya. Mungkin bukan menikmati secara musik, tapi menikmati keseruan menonton nyanyian yang begitu. Paling nggak, itu sudah jadi salah satu cara mereka untuk mengakses. Itu sudah cukup bagiku. Yang pasti, aku nggak berusaha bikin Senyawa untuk jadi sesuatu yang eksklusif. Gampang banget kalau mau bikin sesuatu yang aneh doang. Kalau ternyata mereka anggap susah diakses, ya itu menurut mereka. Menurutku nggak.

W: Buktinya, berdasarkan pengalaman, ternyata kami bisa main di scene apa saja. Jazz pernah, eksperimental pernah, klasik pernah.

R: Bahkan saat main di Amerika Serikat kemarin itu untuk festival musik pop (Eaux Claires Music Festival).

W: Mungkin pertanyaan kamu muncul karena kami jarang main secara proper di Indonesia. Mungkin secara sound nggak memadai. Mungkin lho ya.

R: Kalau menurutku bukan itu. Itu bisa saja jadi salah satu penyebab, tapi mungkin kata-katanya bukan "susah dicerna". Banyak orang yang suka bereksperimen dengan musik kemudian menghasilkan sesuatu yang cenderung terkesan susah dicerna. Padahal bukan karena susah dicerna, melainkan karena pendengarnya tidak menyiapkan diri untuk mencernanya. Misalnya aku mau mempelajari musik John Cage, aku harus siap dulu. Kalau siap, bisa dicerna. Kalau nggak siap, susah dicerna. Makanya penting bagi musikus tanah air untuk melakukan banyak eksperimen, karena itu bisa dibilang mendidik publik untuk mengapresiasi musik. Jadinya nggak dikasih sesuatu yang nggak perlu mikir langsung bisa. Kalau nggak perlu mikir langsung bisa jadinya bukan mendidik, tapi melayani kuping orang. Misalnya ada orang suka The Smiths, aku kasih saja lagu yang mirip-mirip The Smiths. Dia pasti gampang terimanya, karena sudah terbiasa dengan pola musik seperti itu. Jadi begitu dengar, dia bakal langsung suka karena memorinya sudah sering menerima beat seperti itu. Kalau mendidik, aku kasih bunyi-bunyi yang mungkin asing buat dia. Aku tanya, "Menurutku ini bisa dinikmati, kamu bisa nggak?" Mungkin itu bukan mendidik secara langsung, tapi paling tidak aku menyiapkan orang untuk lebih apresiatif. Itu sebabnya penikmat musik eksperimental jauh lebih sedikit dari musik populer, tapi isinya orang-orang terpilih. Itu membanggakan sebagai musikus. Aku lebih pilih jadi musikus seperti sekarang daripada musikus yang penggemarnya banyak; karena meskipun penikmatnya sedikit, tapi terpilih. Daripada penggemarnya banyak, tapi orang yang suka dengar musikku juga senang begitu dengar Wali. Jadi nggak ada bedanya dong?

"Aku nggak mau bikin musik yang susah diakses. Nggak ada keinginan sama sekali untuk buat musik yang eksklusif. Bagiku, musik Senyawa ini bisa diakses."

Rully menganggap kerongkongan sebagai instrumen musik. Sejauh pengamatan saya, tidak banyak penyanyi yang memakai pendekatan seperti itu. Mereka menyanyi saja, memposisikan diri di depan alat musik pengiring. Dari kapan Rully sadar bahwa vokal atau kerongkongan itu setara dengan gitar, drum, atau dalam kasus Senyawa, bambuwukir?
R:
Sejak aku semakin serius dengan vokal. Sebelumnya cuma ngeband sebagai vokalis. Dari Zoo sudah mulai sih, tapi aku belum banyak menggali karena fokus Zoo bukan di situ; melainkan di konsep, lirik, tema. Nggak banyak bermain di frekuensi bunyi. Begitu di Senyawa, bunyi merupakan konsentrasi utama. Aku dikasih banyak sekali ruang, tetapi sainganku bambuwukir. Nggak mungkin kalau sekadar menyanyi? Aku jadi tenggelam kalau begitu. Atau mau nggak mau, Wukir harus turun biar bisa seperti musik pop: vokal di depan, musik sebagai pengiring. Kalau musik pop kan seperti itu, agar liriknya terdengar jelas maka vokal harus di depan sebagai corong. Sedangkan kalau dipakai seperti instrumen musik, vokal nggak harus di depan. Kadang harus setara, kadang di belakang pun nggak apa-apa, yang penting kebutuhan komposisinya; butuh sound atau frekuensi yang seperti apa. Jadi begitu memahami vokal sebagai instrumen musik, mindset sebagai vokalis akan berubah total.

Sebagai personel yang bertanggung jawab di departemen lirik, Rully menggunakan gaya repetitif pada beberapa lagu. Tapi bila diperhatikan, bunyi vokal pada lagu-lagu itu malah semakin beragam. Apakah Rully menyadari bahwa kata-kata bisa menjadi limitasi dan keragaman bunyi vokal itu merupakan upaya untuk mendobrak limitasi tersebut?
R:
Iya, benar. Kenapa aku membuat liriknya kadang diucapkan nggak terlalu jelas? Karena kalau harus jelas, akhirnya beberapa teknik vokal akan tersembunyi karena nggak bisa keluar. Beberapa bunyi bisa gagal muncul karena artikulasi harus jelas. Itu aturan konvensional. Menurutku nggak harus seperti itu. Sebuah pesan nggak harus disampaikan dengan kata-kata, bahkan malah bisa membatasi kalau ada liriknya.

Berarti Rully lebih membangun suasana lagu dibanding melontarkan kata-kata yang eksak?
R:
Iya. Dan itu tadi, vokal sebagai instrumen musik. Komposisinya butuh apa? Kalau butuh kata-kata, pengucapannya diperjelas. Kalau butuh nuansa yang relaxing, vokalnya dibuat lebih merdu. Kalau butuh suasana gelap, vokalnya dibuat mencekam. Kalau butuh banyak penekanan, vokalnya dibuat tajam.

Menurut Rully, apakah mungkin suatu saat lirik Senyawa dinyanyikan oleh banyak orang semacam singalong? Karena menurut saya, lagu seperti "Pada Siang Hari" punya bagian akhir yang cocok untuk dijadikan seruan secara ramai-ramai.
R:
[tertawa] Nggak tahu ya.

Apakah kalian akan menerima kalau lagu Senyawa diperlakukan seperti itu, dinyanyikan banyak orang?
W:
Ya menerima saja.

R: Aku nggak suka banget kalau vokalis bilang, "Ayo semua, berdiri dong!" Atau, "Mana tepuk tangannya?" Kok dia nyuruh-nyuruh? Sering banget kan begitu. Vokalis macam apa itu? Kalau dia mau penonton berdiri ya bikin musik yang bisa bikin mereka berdiri tanpa perlu disuruh. Ada juga, "Ayo, kok pada diam saja?" Ya ciptakan musik yang bikin mereka bisa nggak diam dong, kenapa malah nyuruh-nyuruh? Aku nggak suka kalau performer mempunyai kuasa terhadap penonton. Kalau mau membuat penonton melakukan sesuatu, ya lakukanlah dengan musik. Itu kan sudah jadi tugas performer. Kalau mau membuat mereka tercengang, ya buat tercengang dengan musik. Kalau mau bikin mereka joget, ya kasih beat yang bisa buat mereka bergoyang tanpa perlu disuruh. Jangan nyuruh dong. Kadang Senyawa manggung di acara yang penontonnya duduk, di teater misalnya. Nggak masalah. Kadang di gig kecil, main di pub dengan penonton yang lebih liar. Nggak masalah juga. Kadang penontonnya cuma diam, ya nggak masalah juga. Itu berarti respons mereka terhadap musik kami pada saat itu. Itu sepenuhnya karena kami. Kalau mereka diam atau bosan, itu karena kami. Kalau mereka seru, ya karena kami juga. Kalau penonton diam dan performer nggak terima, itu aneh. Gimana sih? Ya bikin musiknya yang seru dong! [tertawa]

Rully juga punya workshop Raung Jagat yang mengumpulkan orang-orang untuk menjadi paduan suara berbasis improvisasi, tidak ada batasan suara yang boleh digunakan. Apakah Raung Jagat bisa dianggap sebagai usaha menyebarkan konsep bernyanyi Rully ke banyak orang?
R:
Bisa jadi. Karena waktu itu aku mikir apakah seru kalau gaya ini dilakukan ramai-ramai. Awalnya cuma begitu saja. Ya sudah, aku rancang biar bisa begitu. Tapi ternyata setelah dilakukan, ada sesuatu yang lebih dari sekadar itu. Ternyata, setelah beberapa kali aku melakukan Raung Jagat, ada yang lebih dari musik.

Misalnya?
R:
Sudah bukan urusan musik lagi, ternyata kegirangan saja. Di Raung Jagat, kegirangan itu lebih penting daripada musik. Sudah nggak peduli lagi hasil akhir musiknya bagus atau nggak. Seru saja teriak-teriak.

Tapi itu terlepas dari bagaimana Rully menyanyi di Senyawa? Apakah kegirangan itu juga berlaku untuk Senyawa?
R:
Terlepas, nggak berlaku untuk Senyawa. Kalau Senyawa kan yang menyanyi aku saja, dan aku punya passion tersendiri untuk menyampaikannya. Aku ingin menyampaikannya dengan cara tertentu. Sedangkan di Raung Jagat, aku nggak menyuruh mereka. Terserah mereka masing-masing mau mengeluarkan bunyi yang seperti apa.

Apa alat musik yang pertama kali dipelajari Wukir?
W:
Mungkin bukan apa alat musik yang aku pelajari, tapi musik apa yang aku buat. Dulu aku garap ilustrasi musik untuk teater, kalau nggak salah Setan dalam Bahaya. Waktu itu umurku 14 tahun, bangun suasana-suasana yang dibutuhkan sutradara. Dan dalam memenuhi itu, aku perlu bikin beberapa instrumen musik.

Berarti sudah bikin alat musik sejak pertama kali terlibat dalam pengerjaan teater?
W:
Kebutuhannya bukan buat alat musik, tapi tuntutan sutradara. Jadi sutradara butuh suasana yang seperti apa, lalu aku coba merealisasikannya dengan instrumen-instrumen musik yang kira-kira mewakili kebutuhan sutradara itu. Aku pernah bikin bebunyian seperti pasir berjatuhan tapi suasananya menanjak. Jadi pertama aku menjatuhkan beras, lalu jagung, pasir, hingga akhirnya batu-batu. Itu aku lakukan di belakang layar selama sekitar sepuluh menit.

Tapi Wukir bisa main alat musik konvensional?
W:
Piano nggak bisa, kalau gitar bisa. Aku bisa main gitar hampir bersamaan dengan penggarapan teater itu tadi.

Sekarang sudah ada berapa alat musik yang Wukir bikin?
W:
Wah, aku nggak hitung.

Yang sering dipakai?
W:
Kalau sekarang yang bambuwukir itu, lalu solet atau spatula. Mungkin 10 tahun terakhir ini aku baru menyadari bahwasanya cara berekspresiku adalah dengan membuat instrumen musik.

Apa pemicu munculnya pemikiran itu?
W:
Oh macam-macam, ada banyak sekali. Bisa dari lingkungan sekitar, bisa dari persoalan-persoalan kehidupan, atau bisa dari hal-hal yang menggelisahkan aku. Intinya, kondisi sekitarlah.

Dari wawancara-wawancara yang sudah Senyawa lakukan, terasa bahwa kalian cukup keras dengan orang-orang yang mengaitkan Senyawa dengan musik tradisional dan world music. Namun menurut kalian, seberapa penting akar Indonesia terhadap musik Senyawa?
R:
Penting sekali tapi nggak perlu diperlihatkan, karena kami sudah orang Indonesia. Aku ini orang Indonesia, nggak perlu ditunjukkan sudah kelihatan. Aku ngomong saja orang-orang sudah tahu kalau aku dari Indonesia. Sama saja dengan di musik. Aku nggak perlu pasang gamelan di musikku, atau pakai apa pun yang sangat tradisional. Karena sudah ketahuan kalau aku orang Indonesia. Tinggal bagaimana caranya aku bikin jadi lebih modern malah. Aku pikir begitu. Tapi aku mendengar musik tradisional sebagai referensi untuk menguatkan aku selaku orang Indonesia. Aku harus tahu cara kerjanya bagaimana. Pendekatan menyanyi orang Sulawesi seperti apa sih, cengkoknya gimana, hasil akhirnya kayak apa. Karena begitu diterapkan, itu cuma memperkuat diriku sebagai orang Indonesia tapi aku tidak kemudian merasa nasionalis. Penerapan seperti itu sudah banyak sekali dilakukan oleh musikus-musikus dunia; yang main musik jazz misalnya, terus ditambahkan bunyi gamelan.

Jadi pajangan atau tempelan saja.
R:
Nah iya, itu terlalu mudah untuk dilakukan, kalau hanya seperti itu.

Saya pernah baca sebuah wawancara di mana Senyawa bilang kalau gamelan itu musik orang kaya yang terlalu sempurna dan membosankan.
R:
[tertawa] Bukan membosankan. Cuma semua orang, kalau kami sedang di negara lain, tahu Indonesia ya gamelan. Intinya semua orang sudah tahu gamelan itu seperti apa, bunyinya, scale-nya pun orang-orang sudah hapal. Diakui pula secara internasional kalau bunyi gamelan itu sangat sempurna secara akustik. Musikus kalau dengar gamelan tuh sudah pasti suka. Untuk apa lagi kita eksplor itu? Orang sudah tahu, orang sudah mengerti itu dari Jawa, dari Indonesia. Orang yang bereksperimen dengan itu juga sudah banyak. Jadi ya sudah cukup, sudah tercapai popularitas dan kesuksesannya.

Apa mungkin penilaian tersebut dipengaruhi oleh ketertarikan dan kedekatan Rully dengan musik underground yang lebih mentah? Jadi gamelan terasa terlalu sempurna buat Rully.
R:
Bisa jadi. Atau juga karena merasa nggak butuh atau nggak tertarik saja untuk eksplor itu. Kalau aku sih sesederhana itu. Nggak tertarik saja.

W: Malah ada kesenian dan musik-musik tradisi yang tidak masuk radar tetapi secara beat sudah metal. Secara beat yang lebih cepat dari Sepultura pun ada. Jadi fokusnya jangan hanya di gamelan. Banyak sebenarnya. Memang yang adiluhung kan gamelan, tapi kalau mau digali lagi banyak. Yang secara rhythm sudah kayak hip hop atau elektronik juga ada.

R: Kecapi Makassar itu sangat math-rock, hitung-hitungan. Kenapa nggak dilihat?

W: Kuntulan kurang elektronik apa cepatnya? Malah bisa dibilang lebih ke trance. Nah kalau ngomong trance, sudah banyak sekali yang begitu. Jadi banyak wilayah di musik tradisi yang belum tergali, padahal ada banyak banget. Aku juga sebetulnya ingin menggali wilayah kesenian yang seperti itu, tapi saat ini konsentrasiku masih di Senyawa. Masih banyak musik tradisi yang belum terpetakan, jadi jangan hanya fokus di gamelan.

Apakah ada upaya untuk menggiring pendengar Senyawa ke arah musik-musik tradisi yang tidak tertangkap radar itu lewat musik kalian?
W:
Kalau di Senyawa, kami membuat musik tanpa ada kesadaran untuk menggiring orang. Kesadarannya adalah bagaimana mengolah hal-hal yang ada di dalam diri. Ini aku bisa teriak sampai semelengking apa sih? Atau aku bisa main notnya sampai setinggi apa sih? Kalau pakai teknik kayak begini, kecepatannya segini, kira-kira nuansanya kayak apa ya? Rasanya kayak apa?

R: Kalau aku balik ke excitement. Apa yang membuatku excited? Aku excited-nya ya dengan musik yang begini. Jadi nggak kepikiran orang akan suka atau tidak. Total buat aku. Misalnya aku sukanya yang raw kayak begini, ya uwis itu yang aku tekankan. Dan itu selalu berubah lho. Mungkin beberapa tahun lagi aku bosan dengan itu dan ingin main yang slow.

W: Jadi menurutku, Senyawa tuh lebih kepada kejujuran berkespresi. Kejujuran mengeluarkan bunyi. Kalau kami merasa asyik ketika main, ya sudah kami teruskan itu. Itu lebih ke pengolahan diri.

"Di Senyawa, kami membuat musik dengan kesadaran untuk mengolah hal-hal yang ada di dalam diri."

Banyak penulis internasional yang menyebut Senyawa sebagai "musik masa depan". Menurut kalian, apa yang menyebabkan respons itu?
R:
Karena mereka belum begitu banyak meluangkan waktu di Indonesia. Iya kan? Indonesia itu kaya sekali. Mereka hanya mendengarkan musik-musik yang dijejali oleh akademisi Barat dan cabang-cabangnya, yang telah digali berkali-kali. Padahal di Asia Tenggara, apalagi Indonesia yang merupakan negara paling kaya secara musik di kawasan ini, musiknya sangat beragam. Dan ketika ada musik dari Indonesia dengan segala macam inspirasi dari negeri sendiri di kancah avant-garde mancanegara misalnya, ya tentu akan terkejut. Wong selama ini musik avant-garde menggalinya bukan dari sini. Hanya kami yang mengambil inspirasi dari tempat ini. Pastinya orang bule merasa segar saat dengar musik Senyawa. Makanya kami sering main di luar negeri. Respons mereka, "Fuck! Apa ini?!" Bayangkan saja main musik tipe begini di depan orang bule, pasti kaget. Mungkin bagi orang Indonesia biasa, Jathilan ya begini juga.

W: Selain yang dibilang Rully, mungkin juga karena kami berusaha tampil, membuat musik sejujur-jujurnya, seenak-enaknya. Sampai-sampai karakter musik bisa muncul dengan sendirinya tanpa dikasih tahu, "Kir, kamu mainnya begini!" Nggak pernah sama sekali. Biasanya kami, "Asyik nggak kalau begini? Asyik ya. Coba kalau jadi begini gimana." Jadi sejujur-jujurnya, seenak-enaknya, sesuai apa yang kami mau.

Tidak ada arahan ya?
W:
Nggak ada. Kami hanya mencari-cari bagaimana caranya sampai ketemu teknik atau hal-hal yang asyik.

R: Kemudian balik lagi ke yang Wukir bilang tadi; perihal memori. Masing-masing kami sudah punya bekal itu, masing-masing tahu batasan. Aku tahu kemampuan bernyanyiku segini, jadi untuk sekarang aku terapkan ini. Kalau mau didorong lebih jauh, kami paksa secara pelan-pelan. Jadi pemahaman terhadap potensi dan keterbatasan kita itu sangat penting untuk bisa jujur. Kalau kita nggak tahu batasan, jadinya nggak jujur karena kita bisa seenaknya. Bukan dirimu yang ditampilkan. Kalau melebihi batas, bukan dirimu. Kalau mau melebihi batas, kenali dulu batasmu sampai mana, pelan-pelan bawa dirimu sampai ke sana. Kalau sekarang aku mau menyanyi seperti Pavarotti, bisa aja, tapi jadinya nggak jujur karena aku nggak sampai ke sana. Kalau mau ke sana, pelan-pelan.

W: Jadi lebih ke penggalian bagaimana memunculkan karakter itu. Ketika semakin berproses, karakter itu seperti bola salju, semakin besar. Ada pengolahan yang terjadi di dalam diri. Coba sana, coba sini, naik, turun, ke atas, ke bawah, begitu gambarannya. Dan dasarnya adalah upaya kita untuk berekspresi semaksimal mungkin.

R: Itu juga yang bikin Senyawa selalu seru. Kalau band lain biasanya fokus di lagu, aransemen, dan genre. Akhirnya berkembangnya lama atau bahkan nggak berkembang sama sekali, karena mereka merasa sudah ketemu pattern-nya, polanya. Sedangkan di Senyawa yang dipikirkan bukan itu. Kami justru selalu mencari agar potensi kami bisa berkembang lagi. Jadi nggak peduli lagunya bagaimana, fokusnya bukan di lagu. Bukan membuat lagu itu enak didengar, tapi membuat lagu itu jadi benar-benar hidup dan terus berevolusi seiring dengan perkembangan kami secara pribadi; pematangan diri kami, secara musikal dan pemahaman terhadap musik. Akhirnya kami nggak mungkin memperlakukan sebuah lagu dengan cara yang sama tiga tahun lalu. Karena pemahaman kami sekarang kan sudah bertambah nih, jadi nggak bisa sama. Tiga tahun yang akan datang pun akan berubah lagi, karena ada perkembangan yang menerus.

Menilai dari lagu-lagu kalian, Senyawa seperti memiliki dua sisi. Kalian bisa main keras, tapi bisa juga menjadi lembut. Vokal Rully dan instrumen musik yang dibuat Wukir pun demikian. Apakah kalian memang mengincar dinamika yang seperti itu?
R:
Bukan diincar sih. Pada dasarnya kami memang begitu, ekstrem.

W: Nggak mengincar, tapi mengikuti mau ke mana. Pada saat pembuatan lagu, kami selalu mencoba hal-hal yang belum pernah kami coba sebelumnya, mencari kemungkinan-kemungkinan yang mungkin. Yang mungkin bisa jadi tabungan untuk berekspresi.

R: Ekstrem itu menggugah. Misalnya kamu dengar musik merdu, enak. Tapi bayangkan kamu mendengarkan musik merdu yang sama setelah mendengar musik yang chaos. Kenikmatannya jadi mengganda. Secara teknis sih begitu, kalau mau dibedah kenapa kami suka seperti itu. Kami ingin merasa lebih seru saat membawakannya. Kami ingin merasa lebih excited saat memainkan atau membuatnya.

Senyawa pernah mendeklarasikan sebagai unit yang tidak mau terjebak di musik saja. Kalian juga sempat mengungkapkan rencana keterlibatan dalam sebuah proyek teater. Seberapa penting bagi kalian untuk mendapat kolaborator yang berasal dari disiplin seni di luar musik?
R:
Sekarang kami sudah mulai ke sana. Kami sedang menggarap kolaborasi dengan dua koreografer tari kontemporer yang namanya cukup terkemuka di Australia, yaitu Gideon Obarzanek dan Lucy Guerin. Mereka juga mengajak penari-penari dari Dancenorth. Itu penting bagi kami karena bisa menjadi sumber inspirasi. Siapa tahu kami bisa menemukan teknik atau cara proses baru yang benar-benar asing buat kami? Karena disiplin seninya benar-benar lain.

W: Kesadaran akan pengayaan diri. Ketika kami semakin kaya, maka ekspresinya akan semakin full. Balik lagi ke peningkatan kemampuan-kemampuan, pengolahan diri. Makanya kami ingin coba hal-hal yang kayak begitu karena ada kesadaran bahwa kami bisa ketemu hal-hal yang lain, yang kami sendiri belum tahu kami mampu atau nggak. Nah, itu malah tantangan.

R: Dan kami sering sekali berkolaborasi dengan musikus dari berbagai jenis musik, kami selalu coba. Gimana sih kalau sama saxophone? Gimana kalau sama drummer metal? Gimana kalau sama noise? Kami coba semua. Tapi kami harus tahu juga mereka orangnya kayak apa. Kalau nggak begitu dalam, kami malas karena kami nggak dapat begitu banyak. Kalau dengan kelompok tari ini, mereka diakui sebagai yang terbaik di Australia. Jadi kelihatannya kami bakal belajar banyak dan ternyata sejauh ini benar.

Kapan dipentaskan?
R:
Premiere-nya di Asia TOPA, Melbourne pada Februari dan kemudian lanjut ke WOMADelaide sebulan kemudian.

Kalian pertama kali main di luar negeri lima tahun lalu pada gelaran Melbourne Jazz 2011. Kalau melihat perjalanan Senyawa sampai sekarang, apa saja perubahan yang telah kalian rasakan berkaitan dengan pengalaman tampil di luar Indonesia?
R:
Secara kemampuan bermusik, jelas banyak berubah. Karena kami banyak melihat pemusik yang lebih baik dari kami, yang berbeda jenisnya. Itu kan memacu juga. Kalau secara pribadi, dulu bisa ke luar negeri saja sudah senang. Kalau sekarang, aku fokus melihat manusia, melihat perilaku, melihat kebudayaan. Sekarang aku senang banget bisa melihat itu. Berubah kan itu, ibaratnya sekarang aku ndeso-nya kurang. Bisa lebih fokus ke hal-hal penting. Bagi aku, yang lebih penting itu adalah sejarah tempatnya seperti apa, kebiasaan orangnya seperti apa. Ternyata cara agar bisa lebih memahami sebuah kota adalah bukan dengan mendatangi tempat-tempat yang seru untuk foto-foto. Awalnya sih aku begitu juga, tapi semakin ke sini perlahan berubah. Aku tapaki jalanannya untuk merasakan atmosfer kotanya seperti apa, orang-orangnya seperti apa, cara berbincangnya bagaimana. Menarik.

Menurut kalian, seberapa penting untuk bisa main di luar negeri? Semakin ke sini, seiring dengan bertambahnya undangan-undangan tampil di sana, apakah sudah berasa jadi rutinitas atau masih istimewa?
R:
Kalau negaranya baru ya istimewa. Datang ke tempat baru selalu istimewa. Tapi karena kami melakukannya rutin, pada akhirnya jadi hal yang biasa juga. Tapi kalau soal seberapa penting bisa main di luar negeri, kami lebih memperhatikan seperti apa sih festivalnya, apa dampak yang akan terjadi bila kami main di situ. Kalau kami main di tempat yang sudah pernah, dengan jumlah audiens yang kira-kira sama, maka dampaknya nggak akan begitu besar; lebih baik nggak usah. Jadi kami lebih memikirkan dampak yang didapat kalau main di suatu negara, bagi kami dan bagi orang-orang di sana.

Banyak orang Indonesia yang merasa bangga bila Senyawa main di luar negeri, apalagi kalau skala acaranya besar. Kalian sendiri apakah merasa mewakili Indonesia tiap main di luar negeri?
R:
Nggak juga ya.

W: Kami mewakili musik kami.

R: [tertawa] Tapi otomatis orang-orang akan tahu kalau kami dari Indonesia. Jadi nggak perlu terlalu harus dibilang kalau kami mewakili Indonesia. Mereka akan tahu kami dari Indonesia dan sering banget bertanya, "Musik tradisional Indonesia seperti ini ya?" Kami jawab, "Oh, nggak. Ini musik Senyawa, bukan musik tradisional." Aku sih selalu excited kalau kami bisa main di festival yang konsepnya berbeda, atau venue yang unik, menarik. Selalu lebih seru.

"Kami nggak pernah merasa mewakili Indonesia. Kami mewakili musik Senyawa."

Senyawa sudah pernah berkolaborasi, bahkan mungkin mereka sudah jadi penggemar, dengan musikus-musikus eksperimental macam Damo Suzuki, Keiji Haino, sampai Kazuhisa Uchihashi. Namun seberapa penting ketertarikan musikus populer macam Justin Vernon bagi kalian?
R:
Jujur saja, aku nggak tahu Bon Iver itu seperti apa sebelumnya. Mbak Kristi malah yang tahu. Karena bukan musik kayak begitu yang aku dengar. Jadi aku nggak tahu seberapa penting orang itu. Begitu sampai sana, aku heran ternyata dia begitu dielu-elukan. Dan orangnya juga biasa banget, santai. Jadi kami nggak canggung.

W: Kalau aku melihat dia orang pop tapi wawasannya terbuka. Musiknya begitu tapi dia bisa menampilkan Senyawa di festivalnya. Itu berarti dia terbuka, membuka peluang-peluang yang seperti itu. Nggak ngartis pula, minum juga sama bareng. Naik bus bareng. Dia jadi bukti buat aku kalau ternyata orang yang punya penggemar sebanyak itu masih bisa tetap santai. Itu malah jadi wacana buat aku.

R: Iya, benar. Jadi kami melihat seperti apa ketenaran itu berdampak ke orang. Melihat Justin, aku jadi berpikir kalau aku tenar aku mau menyikapinya seperti dia. Beda dengan Zach Hill (Death Grips), aku nggak mau jadi orang tenar seperti dia. Jadi ada pelajaran buat kami sendiri. Kalau aku menjadi besar, aku mau tetap mempromosikan band-band baru yang menurutku menarik. Jadi Justin memberikan kami inspirasi, itu pentingnya.

Apa yang membuat konser Senyawa bisa dianggap sukses?
R:
Ada dampaknya, bagi kami dan bagi penonton. Bagi kami, pertama, sukses karena energi bisa tersalur dengan benar. Kedua, konser itu diperbincangkan sehingga kami diundang balik lagi. Kami sering banget ke suatu negara; datang, main, terus nggak puas, misalnya Paris. Ada yang ganjal, merasa harus balik lagi ke sana. Sampai beberapa kali main di sana, akhirnya baru sreg. Sampai sekarang kami masih belum puas main di Cina, karena waktu itu tampilnya di festival musik jazz. Kami belum masuk ke dalam scene yang benar, jadi masih belum tahu scene-nya kayak apa. Kami harus balik lagi sana, tapi belum pernah datang lagi. Itu artinya kami belum sukses karena mereka nggak undang lagi. Kalau hanya tur keluar negeri saja sih hitungannya belum sukses, kalau berhasil balik lagi baru sukses.

Apa saja aspek yang bikin ganjal?
R:
Macam-macam. Sound-nya, acaranya, tempatnya, atau audiensnya nggak tepat.

Kalian memiliki aksi panggung yang eksplosif. Ketika sedang rekaman, apakah kalian berusaha menangkap aura eksplosif Senyawa di atas panggung atau dibiarkan berbeda saja karena mediumnya memang berlainan?
W:
Aku mau sih kalau hasil rekamannya bisa berenergi seperti saat kami tampil di atas panggung.

R: Tapi sulit, karena di panggung ada elemen-elemen lain yang mendukung kami bisa mengeluarkan energi seperti itu. Penonton, sound system, atmosfer, nuansa, wewangiannya. Semua itu kan berpengaruh terhadap energi yang diciptakan. Kalau di studio kan terkungkung, lain. Jadi ya anggap saja itu dua hal yang berbeda.

Tapi kalian suka kegiatan rekaman?
W:
Suka, karena kami memang suka main musik.

R: Kami perlu direkam. Itu merupakan upaya merekam jejak. Kalau misalnya kami nggak rekaman selama lima tahun, itu berarti ada lima tahun yang terlewat padahal ada proses yang terjadi selama lima tahun itu. Proses tersebut sebaiknya direkam karena nantinya perkembangan Senyawa bisa terlihat. Pendokumentasian lah. Tapi memang aku pribadi lebih suka manggung.

Ada kabar yang mengatakan kalau Senyawa menolak tawaran bergabung dengan label rekaman Sub Pop.
R:
Iya, karena kami merasa belum saatnya. Kami belum butuh dirilis label rekaman yang konsepnya seperti Sub Pop, label rekaman yang sebesar itu. Dampaknya akan macam-macam. Sekarang masih bisa merilis sendiri. Kalau kami bisa rilis sendiri, kenapa harus dengan Sub Pop? Ya belum saatnya saja.

Bukan takut merasa sellout kalau tanda tangan kontrak dengan Sub Pop?
R:
Nggak juga. Tapi kami masih menjaga hubungan baik dengan mereka. Waktu kami main di Seattle kemarin, mereka datang menonton. Malah bosnya yang datang, mengantar kami jalan-jalan. Siapa tahu apa yang bakal terjadi lima tahun mendatang? Sekarang kami mau nge-root dulu. Dan menjadi wacana yang menarik kan akhirnya, ada band independen dunia ketiga menolak label rekaman besar dari Amerika Serikat.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. JRX, Frau, Iksan Skuter Bakal Tampil di Acara Solidaritas Korban Penggusuran Kulon Progo
  2. Payung Teduh Memperkenalkan Single Terbaru, "Di Atas Meja"
  3. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  4. Pernyataan 37 Stasiun Radio Jakarta di Radio Day 2017
  5. Ramengvrl Lepas Single Terbaru, "GO! (I Can Be Your)"

Add a Comment