Movie Review: Hangout

Oleh
Titi Kamal, Raditya Dika dan Dinda Kanya Dewi dalam film 'Hangout'. Rapi Films

Memainkan pikiran dalam banyak lapisan

Untuk pertama kalinya dalam kariernya yang sukses, Raditya Dika mengajak penontonnya berpikir. Caranya dua, lewat plot thriller yang sebenarnya biasa saja namun efektif dan pembengkokkan karakter lewat peleburan realitas dan fiksi. Akhirnya datang juga sebuah era di mana ada film Raditya Dika yang pantas dipuji.

Di film terbarunya, Raditya –yang menjadi sutradara, penulis, sekaligus bintang utama– memainkan persepsi penonton dalam banyak lapisan. Mulai dari tuduhan kalau ia adalah seorang komedian yang membosankan dengan lawakan yang terus diulang-ulang, ke pandangan orang tentang para selebriti, sampai tentunya cerita pembunuhan yang membuat penonton menebak-nebak.

Dalam genre "terjebak di pulau terpencil lalu terbunuh satu per satu" ini, Raditya Dika menggabungkan ketegangan dan komedi dengan pas. Ia tahu kapan harus dan kapan tidak harus memberi guyonan. Ia cukup tahu diri juga untuk menertawakan diri sendiri, seperti di satu adegan ketika Surya Saputra yang memerankan dirinya sendiri dengan twist komedi, menirukan Raditya Dika dengan kocak, "Radit itu ya kalau akting begitu mulu. Gue jomblo, gue bego.".

Semua pemeran memainkan versi berlebihan dari diri mereka sendiri, kecuali Raditya Dika yang sepertinya adalah aktor dengan ekspresi paling terbatas di dunia. Sedikit mengingatkan Adam Sandler. Soleh Solihun yang juga tak punya bakat berakting tampil datar. Untungnya keduanya punya banyak line yang mengajak tertawa.

Para pemeran lain menghibur dengan karakter mereka yang tak terduga seperti Surya Saputra yang ultra-higienis atau Dinda Kanya Dewi yang menjadi kebalikannya. Prilly Latuconsina juga menyenangkan ditonton, walaupun kisahnya masih ditulis dengan gaya sinetron. Selain itu, momen terbaik juga datang ketika melihat para tokoh publik tersebut menertawakan satu sama lain, seperti ketika Soleh mengejek Gading Marten dengan "Roy Marten lebih terkenal dari elu" atau mengatakan pada Prilly kalau hubungannya dengan bintang remaja lainnya adalah "settingan" dan "palsu".

Di luar visi nyeleneh yang dituangkan Raditya Dika, jika ditelanjangi sebenarnya film ini masih juga mengandalkan candaan yang kurang berkelas. Entah itu seputar selangkangan atau seputar hal-hal yang menjijikkan. Tapi di beberapa bagian, hal tersebut seakan datang dari bagian tergelap kepalanya. Kekerasan dan kedewasaan guyonan yang dibuat sebenarnya pantas membuat film ini dapat rating R atau sedikitnya PG-13.

Memang penggabungan dua genre yang sepertinya berjauhan bukan sesuatu yang inventif, sudah ratusan film melakukannya. Candaan yang mengandalkan pengetahuan penonton akan selebriti dan dibengkokkan sehingga menghasilkan kelucuan pun tidak inovatif. Tapi karena Raditya Dika yang melakukannya, yang kadung membuat banyak film kurang menarik, maka segalanya menjadi segar.

Sebagai penyegaran dari monotonitas lawakan Raditya Dika seputar masalah menjadi jomblo dan kebodohannya ketika bertemu perempuan, film ini layak diberikan jempol. Karena film ini sukses, baik secara komersial maupun kualitas, rasanya bisa berharap Raditya memberikan kebaruan di film-film berikutnya. Sudah saatnya meninggalkan candaan percintaan yang menjemukan dan mengeksplorasi wilayah komedi lainnya.

Editor's Pick

Add a Comment