Risa Saraswati dan Santo Berbicara tentang Hidup di Industri Kreatif

Antara berkarier sebagai musisi atau pengusaha di kancah musik independen

Oleh
Dari kiri ke kanan: Will Trendkill, Santo (Merch Cons/Arm Stretch Records), Risa Saraswati (Sarasvati) Ivan Makhsara

Pada hari Minggu (18/12) lalu Bodypack menyelenggarakan obrolan tentang industri kreatif bersama penyanyi Risa Saraswati (Sarasvati) dan pengusaha merchandise serta indie label, Santo (Merch Cons/Arm Stretch Records) yang bertempat di Bodypack Prodigers Space, Dago 88, Bandung. Acara ini dihadiri lima puluh peserta yang kebanyakan adalah para penggemar Sarasvati.

Acara yang dipandu moderator Will Trendkill tersebut diisi dengan cerita perjalanan karier Risa Saraswati, mulai ketika bermain bersama Homogenic sampai dengan bersolo karier dengan menggunakan nama panggung Sarasvati serta kisah sukses Santo menjadi seorang pengusaha merchandise.

Suasana akrab terbangun melalui percakapan yang hangat antara Will dengan kedua narasumber. Dimulai dengan cerita Risa Saraswati yang mengaku sudah berniat untuk menjadi penyanyi sejak mulai duduk di bangku sekolah menengah pertama. Risa menjelaskan pula pertemuannya dengan Dina Dellyana, seorang teman sekolah yang kemudian menjadi rekan sebandnya. Ia juga memberi tahu tentang kehidupannya bersama Homogenic.

Namun Risa lebih bersemangat ketika menceritakan Sarasvati, sebuah proyek yang baginya cukup personal. "Di Homogenic, saya hanya bernyanyi. Ketika punya karier solo, saya bisa membuat lagu yang saya mau," katanya. Ia pun membahas, "Saya ingin menyanyikan pengalaman saya dengan Peter (hantu yang menjadi inspirasi lagu 'Story of Peter')."

Sejak pertama kali muncul bersolo karier pada 2010, Sarasvati telah tampil di venue tersohor Bandung seperti Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) hingga Dago Tea House. Berbagai album musik dan buku pun telah dibuatnya. Kisahnya yang inspiratif ini dijalankannya dengan nekat, memulai segalanya serba sendirian. Risa mengaku masih aktif bermusik dan merencanakan beberapa hal untuk dirilis tahun depan.

Sosok lain yang kisah hidupnya dikulik malam itu adalah Santo, sosok di balik merchandise banyak band besar seperti Deadsquad, Seringai, dan yang terbaru kolaborasi bersama Sarasvati. Selain itu, ia juga mempunyai label rekaman bernama Arm Stretch Records. Santo memulai perjuangannya pada 1999, sebuah era dimana kancah musik independen belum sekuat sekarang.

"Dulu saya senang mengkoleksi barang yang belum orang punya. Jadi saya mikirnya, saya beli dulu nanti ketika sudah mulai terkenal baru saya jual," celoteh Santo sambil berseloroh. Sebelum mulai berdagang musik, ia telah melihat potensi tinggi dari pecinta musik yang rela menghabiskan duit banyak demi barang-barang yang berhubungan dengan idolanya, entah itu CD atau juga kaos.

Setelah rajin menjual barang-barang impor, ia pun mulai berpikir untuk membuat label dan kemudian produk merchandise sendiri. Kegiatan ini membuat kuliahnya terkendala, namun positifnya ia tetap bisa hidup walaupun terpaksa keluar dari kampus. "Dasarnya saya ingin membantu band-band yang ada di scene, sambil juga mencari keuntungan. Kualitas tetap nomor satu," ujarnya.

Setelah hampir satu jam mengobrol, acara ditutup dengan penampilan spesial dari Risa membawakan tiga lagu terbaru. Masih dengan nuansa mistis, lagu-lagu ini mengeksplorasi tema horor. Salah satu berjudul "Sandekala" dan menyuguhkan cengkok vokal tradisional Sunda yang mampu membuat merinding para pendengarnya.

Belum larut malam, acara sudah selesai. Bagi peserta yang telah mendaftar dapat berfoto atau minta tanda tangan dengan Risa Saraswati. Bonusnya: Bodypack memberikan kaos hasil kolaborasi brand tersebut dengan Sarasvati.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Dunkirk
  2. 12 Lagu Esensial Linkin Park
  3. Tonton Video Musik Single Terbaru Yacko, "Hands Off"
  4. Iko Uwais Bertarung Bersama Tony Jaa dan Tiger Chen di Film Terbaru, 'Triple Threat'
  5. Linkin Park Batalkan Tur Setelah Kematian Chester Bennington

Add a Comment