Movie Review: Rogue One: A Star Wars Story

Oleh
Felicity Jones berperan sebagai Jyn Erso pada 'Rogue One: A Star Wars Story' Dok. Lucasfilm

Berperang menuju harapan baru

Ini tidak bisa dikategorikan sebagai film Star Wars biasa. Rogue One: A Star Wars Story memiliki konsep cerita yang diumumkan terlepas dari semua tujuh episode yang sudah dirilis; walau sebetulnya, film garapan Gareth Edwards ini mengambil ruang kisah menuju Episode IV: A New Hope (1977) selaku rilisan Star Wars yang pertama menyapa publik.

Apalagi seolah enggan mengikuti budaya membuka film yang dilakukan pendahulunya, Rogue One tidak diawali dengan teks yang merayap soal latar belakang cerita yang hendak dikonsumsi penonton. Dan berhubung kini Michael Giacchino yang bertanggung jawab atas scoring film, orkestrasi pembukanya pun sudah tak lagi memakai lagu tema asli gubahan John Williams.

Seperti pada Episode VII: The Force Awakens (2015), protagonis utama Rogue One merupakan seorang perempuan yang berjuang sebatang kara selama hampir seumur hidupnya. Namanya Jyn Erso yang diperankan Felicity Jones. Ia anak dari Galen Erso (Mads Mikkelsen), mantan ilmuwan resmi Galactic Empire yang dipaksa masuk kembali untuk merancang senjata pemusnah massal bernama Death Star.

Bila Anda sudah menonton Episode IV: A New Hope, Anda bakal tahu ke mana cerita Rogue One berjalan. Bila belum, apa saja yang Anda lakukan selama ini sampai melewatkan salah satu produk budaya populer paling mempesona dalam sejarah? Intinya, tanpa bermaksud membeberkan poin-poin penting dari film, Rogue One memiliki fokus terhadap misi nyaris mustahil berupa pencurian denah Death Star dari genggaman Galactic Empire. Bisa dibayangkan film ini memuat adegan peperangan yang begitu banyak.

Hanya saja perlu waktu bagi penonton untuk sampai ke tahap itu. Edwards memakai separuh pertama film mengenalkan karakter-karakter penting beserta kondisi sekitarnya; berupaya menumbuhkan simpati kita kepada mereka. Namun karakter-karakter penting tersebut—tidak termasuk Jyn yang memang mendapatkan porsi utama—memiliki latar kisah yang terlalu ramping. Mungkin ini disebabkan bahwa Rogue One merupakan film yang berdiri sendiri, jadi tidak cukup waktu untuk menceritakan lebih dari satu karakter secara terperinci.

Untungnya film ini memiliki karakter sampingan yang mencuri perhatian, bahkan bisa dibilang lebih melekat dibanding Jyn. Donnie Yen tampil menghibur sebagai Chirrut Imwe, seorang biksu tunanetra yang peka akan keberadaan The Force dan memiliki kualitas zen tinggi ala Dalai Lama. Sahabatnya yang bernama Baze Malbus, cenderung pragmatis dan mudah naik pitam, diperankan oleh Jiang Wen. Sifat yang kontradiktif di antara keduanya kerap menghasilkan adegan dan dialog yang mengesankan.

Ada pula Ben Mendelsohn yang, seperti dapat diprediksi sejak trailer perdana Rogue One dirilis, tampil luar biasa menjadi salah satu petinggi Galactic Empire bernama Orson Krennic. Ia bisa sangat berkuasa saat berbicara dengan serdadunya, dapat pula tampak ciut begitu dihadapkan dengan sang atasan. Semua dilakukan dengan kostum serba putih elegan, lengkap dengan jubah yang berkibar seiring dengan derap langkahnya.

Pujian juga layak diberikan kepada perancang karakter robot K-2SO. Bentuknya melayangkan pikiran kepada The Iron Giant atau robot dalam film Castle in the Sky (1986) arahan Hayao Miyazaki. K-2SO sering mengundang tawa berkat berbagai one-liner yang jenaka (pengisi suaranya adalah Alan Tudyk), tak jauh berbeda dari C-3PO pada film-film Star Wars lain namun terkadang dengan humor yang lebih usil. Dengan demikian Kaytoo—panggilan akrab robot ini—dapat membuat banyak orang jatuh hati, baik anak-anak maupun orang dewasa.

Namun Rogue One baru benar-benar memukau ketika sudah tiba pada babak peperangan. Baku tembak senjata laser, ledakan kecil juga besar, pemanfaatan robot, hingga pertempuran udara yang dahsyat nan sengit; bisa jadi film ini menyimpan adegan perang paling banyak dalam saga film Star Wars. Eksekusinya pun luar biasa, kekacauan demi kekacauan yang ditampilkan mampu membuat mulut menganga. Ditambah dengan penggunaan kamera genggam yang seolah membawa penonton ke tengah medan perang. Meski terbata-bata dalam pembangunan kisah, harus diakui bahwa Rogue One menggarisbawahi kata "perang" pada frasa perang bintang.

Editor's Pick

Add a Comment