Oasis: Supersonic

Oleh
Liam Gallagher dalam salah satu adegan di film dokumenter 'Supersonic.' Mint Pictures

Kursus kilat tentang kebangkitan dan kejayaan Oasis

Pertengahan dekade '90-an, di masa sebelum kegilaan digital, reality tv, dan acara penjaring talenta lainnya membanjiri budaya populer, sebuah band muncul dari kelas pekerja di Manchester dan diperdebatkan sebagai band paling berarti pada masanya. Band tersebut bernama Oasis. Dimotori oleh kakak-beradik Noel dan Liam Gallagher, Oasis menyapu dunia dan memproklamirkan dirinya sebagai band terbesar di Britania Raya, bahkan dunia. Momen-momen pendirian Oasis sampai pada klimaksnya di Knebworth yang merupakan perhelatan konser terbesar di Inggris pada saat itu, ditangkap dengan cermat oleh sutradara Mat Whitecross pada film dokumenter yang berjudul Supersonic. Film tersebut telah dirilis baru-baru ini dalam format digital.

Dengan akses tanpa batas terhadap arsip dokumenter Oasis, Whitecross dengan apik memadukan kumpulan klip penampilan Oasis, wawancara band tersebut, dan kolase foto yang dirangkai menjadi cerita dalam Supersonic. Hal itu kemudian digabungkan dengan narasi wawancara dari berbagai tokoh penting dalam sejarah Oasis seperti: sang ibu Peggy Gallagher, manajer Marcus Russell, produser dua album pertama mereka Owen Morris, dan Mark Coyle, teman sekaligus juga penata suara Oasis yang ada sejak hari pertama band itu berdiri.

Didasari pondasi seperti itu, Supersonic adalah dokumenter kredibel tentang bagaimana Oasis bisa menaklukkan dunia. Melihat film itu, penonton akan disuguhkan kenyataan bahkan untuk band sekelas Oasis semuanya tidak berfungsi dengan mudah seperti membalikkan tangan. Sebelum mereka secara beruntung mendapatkan kontrak rekaman dengan Creation, mereka diacuhkan karena tidak ada media musik yang meliput mereka. Rekaman album pertamanya adalah bencana dan sesinya harus diulang dengan mendatangkan Owen Morris untuk melakukan mixing. Kemudian diperlihatkan juga masa-masa turbulensi Oasis dalam ketidakakuran Noel dan Liam, belum lagi masalah pergantian personel seperti drummer Alan White yang menggantikan Tony McCarrol di album kedua, ataupun nervous breakdown yang dialami Guigsy sang bassist ketika mereka akan melakukan konser-konser terbesar mereka.

Satu hal yang mungkin disayangkan dari Supersonic adalah film ini tidak akan memberikan persepektif baru bagi penggemar garis keras Oasis. Semua detail di sana sudah pernah dilihat, didengar, atau dibaca sebelumnya, seperti misalnya dalam karya biografi Paolo Hewitt, Getting High: The Adventure of Oasis yang secara kebetulan juga membahas periode yang sama dari band tersebut. Cakupan waktu yang disuguhkan dokumenter ini juga patut menjadi sorotan, karena berhenti pada klimaksnya Oasis di Knebworth. Tidak ada perspektif lanjutan yang ditampilkan di masa setelah (What"s The Story) Morning Glory ataupun keinginan untuk menguak apa yang sesungguhnya terjadi ketika Oasis membubarkan dirinya dengan kepergian Noel di akhir Agustus 2009.

Dilihat dari sisi lain, Mat Whitecross, yang memiliki proyek selanjutnya bersama Coldplay, berhasil menampilkan esensi sesungguhnya dari Oasis. Dari untaian rekaman kegilaan para penggemar di Jepang, kegagalan Oasis merebut hati Amerika sampai dengan euforia penonton di Maine Road dan kemegahan raksasa Knebworth; semuanya ditampilkan dengan otentik di film itu dan membuktikan bahwa Oasis adalah band hebat terakhir pada era pra-Internet.

Film ini berfungsi sebagai kursus kilat bagi para penggemar baru Oasis untuk menangkap esensi tersebut. Sementara bagi mereka yang memuja band itu, ini adalah sebuah film yang akan mengembalikan sebuah rasa yang tidak dapat dideskripsikan, seperti yang diutarakan Noel di akhir filmnya "You couldn"t say that anybody that was ever in Oasis, me included, was the best in the world at anything. But when it all came together, we made people feel something that was indefinable."

Editor's Pick

Add a Comment