Movie Review: Headshot

Oleh
Iko Uwais berbaku hantam dengan Zack Lee. Dok. Screenplay Infinite Films

Kisah heroik mengungkap dan menyelesaikan masa lalu

Headshot, film laga terbaru garapan The Mo Brothers–Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel–menghadirkan Iko Uwais, Julie Estelle, Very Tri Yulisman, dan Zack Lee. Akibatnya sulit untuk tidak membandingkan film tersebut dengan film laga fenomenal The Raid 2: Berandal. Apa lagi tokoh Hammer Girl dan Baseball Bat Man yang diperankan Julie dan Very dalam film garapan Gareth Evans itu sangat ikonik dan lekat dengan keduanya.

Ditambah lagi tata musik Headshot digarap oleh Aria Prayogi dan Fajar Yuskemal, dua sosok yang juga terlibat di The Raid, sehingga alasan untuk membandingkan kedua film tersebut bertambah. Tetapi dengan adanya Chelsea Islan dan Sunny Pang, Headshot berhasil memiliki daya tarik tersendiri.

Headshot bercerita tentang lelaki yang menderita amnesia setelah mengalami luka tembak di kepala. Dokter muda Ailin (Chelsea Islan) membantu merawat lelaki yang diberinya nama Ishmael (Iko Uwais). Ingatan Ishmael perlahan pulih setelah kawanan mafia yang dipimpin Lee (Sunny Pang) mencoba membunuhnya dan akhirnya menculik Ailin.

Ishmael berupaya menyelamatkan Ailin sekaligus mengungkap masa lalunya yang terlupakan. Tetapi perjalanannya tidak mudah. Ishamel harus mengalahkan anak buah Lee–yang juga merupakan rekan kerjanya di masa lalu–dulu agar bisa memulai masa depan yang baru.

Jika The Raid 2: Berandal memiliki beberapa adegan yang ikonik dan menempel di ingatan, Headshot sayangnya tidak punya sebanyak itu. Tapi adegan pertarungan antara Ishmael dengan Tejo (David Hendrawan) dan Tano (Zack Lee) mungkin bisa dibilang adalah penyelamatnya. Perkelahian berlangsung sengit, seru, dan ada beberapa efek yang membuat penonton mengilu. Akting David di Headshot layak untuk diapresiasi. Atlet wushu ini berhasil memerankan tokoh antagonis yang keji, koreografi bertarung yang rumit, dan celetukan-celetukan sepele yang mengundang tawa.

Penampilan Chelsea di Headshot juga berkesan. Walau ini film laga pertama yang dibintanginya, ia berhasil menghadirkan tokoh Ailin dengan baik. Ailin tidak hanya menjadi sosok yang lemah, tidak berdaya, atau menjadi pusat drama di film ini, tetapi ia juga bisa tegar dan cepat dalam mengambil keputusan.

Begitu juga dengan Sunny Pang yang menghadirkan Lee sebagai bos mafia yang tidak glamor–ia menyukai mi goreng kaki lima–tetapi tetap menakutkan. Jika Anda penasaran dengan pertempuran Ishmael dengan Lee, pertarungan keduanya bisa diibaratkan seperti rally dalam permainan bulutangkis; berlangsung lama, intens, dan menegangkan. Anda mungkin beberapa detik lupa bernapas ketika menyaksikannya.

Walau memiliki beberapa dialog yang janggal dan plot yang bolong–salah satunya adalah cerita di balik pedang samurai yang patah–Headshot adalah film laga yang menghibur, menegangkan, dan seru. Sorotan utama layak diberikan kepada Iko Uwais dan timnya karena berhasil menaikkan standar film laga Indonesia menjadi tinggi dan berkelas.

Editor's Pick

Add a Comment