Headshot, Film Indonesia Paling Brutal Tahun Ini

Laga, amnesia, dan darah. Rolling Stone Indonesia menghadirkan hal-hal yang perlu Anda ketahui dari film nasional paling brutal tahun ini, 'Headshot'; langsung dari tiga pemerannya dan juga duo sutradara The Mo Brothers.

Sampul majalah Rolling Stone Indonesia edisi 140 Desember 2016. Bayu Adhitya

THE MO BROTHERS

Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel, juga dikenal dengan identitas kolektif The Mo Brothers, kembali bermitra menyutradarai sebuah film panjang. Hasilnya adalah karya laga perdana yang diberi judul Headshot. Namun apakah benar ini akan menjadi penyutradaraan kolaboratif terakhir mereka untuk waktu yang lama?

Mengacu kepada perkataan Julie Estelle, The Mo Brothers terdiri dari dua orang yang memiliki kepribadian sangat berbeda. Timo Tjahjanto lebih ekspresif, sementara Kimo Stamboel cenderung pendiam namun memperhatikan. Perbedaan itulah yang membuat mereka bisa bekerja sama, ada unsur saling melengkapi satu sama lain.

Timo menyetujui hal ini, "Gue seperti om-om yang menolak untuk grow up. Gue bilang om-om karena sekarang gue sudah 36 tahun, tapi gue merasa imajinasi gue semakin nggak bisa dikontrol. Musti gue muntahkan semua sebelum keburu mati. Jadi gue memang cocok kerja dengan orang seperti Kimo yang bisa dibilang antitesis gue. Kimo itu super legowo, smooth operator, dan biasanya bisa mengerti apa yang ada di kepala gue. Juga, salah satu keahlian terbesar dia kebetulan merupakan kelemahan gue: dia bisa mengurus bureaucratic bullshit with a cool head."

Sementara itu Kimo menyebut mitranya sebagai individu yang sangat out of the box. "Isi kepalanya seringkali mengejutkan gue, hal-hal yang nggak pernah terpikir oleh gue sebelumnya. Misalnya gue merasa kalau sebuah film perlu lebih gila lagi, lalu ternyata Timo sudah menyiapkan ide gila tersebut. Tapi nggak tahu juga, mungkin kadangkala gue jadi penyeimbang agar filmnya nggak terlalu gila," ungkap Kimo diikuti tawa.

Perbedaan pendapat seringkali muncul dan diselesaikan pada masa pra-produksi. Biasanya Timo menjadi pihak yang punya banyak keinginan, sementara Kimo mengingatkan soal batasan-batasan yang ada. Timo berkata: "Kimo memang lebih mengerti logika, terutama logika bujet."

Rumah Dara (2009), Killers (2014), kemudian Headshot (2016) selaku film panjang ketiga sekaligus terbaru The Mo Brothers menjadi contoh konkret gaya kerja sama mereka. Ada adegan-adegan ekstrem bersimbah darah, namun terdapat pula sensibilitas untuk menjaring penonton yang luas.

Timo dan Kimo pertama berjumpa pada 2002 ketika mereka masih berkuliah di Sydney, Australia. Ketika itu Kimo, sebagai mahasiswa fakultas bisnis karena tuntutan orang tua, sedang gatal untuk membuat film panjang. Untuk melancarkan keinginan, Kimo membutuhkan kamera beserta juru kameranya. Ia mengumumkan pencarian ini pada sebuah acara perkumpulan mahasiswa Indonesia, menginformasikan alamat surat elektronik yang bisa dituju bagi mereka yang tertarik ikut serta. Waktu membuktikan hanya ada satu orang yang mengirim surat, yaitu pemuda bernama Timo Tjahjanto yang ketika itu sedang bekerja lepas sebagai operator kamera.

Kolaborasi mereka waktu itu, Kimo sebagai sutradara dan Timo menjadi juru kamera, membuahkan karya horor berjudul Bunian. Film ini terbilang fenomenal pada masanya, apalagi untuk ukuran film independen buatan mahasiswa. Sebagai bukti, Bunian sempat menjalankan rangkaian pemutaran film keliling kampus Indonesia. Lalu setelah itu dirilis VCD serta DVD-nya oleh sebuah perusahaan video dalam negeri dan kemudian ditayangkan juga oleh Trans TV. "Kalau ditonton sekarang sih gue nggak menyarankan. Culun," ujar Kimo yang waktu itu masih menggunakan kredit nama Mochammad "Kimo" Stamboel.

Bila dihitung dari film pendek Dara, proyek yang dikerjakan untuk mencari nama dan juga dana penggarapan film panjang Rumah Dara, The Mo Brothers sudah ada di antara kita selama delapan tahun. Bagaimana rasanya menjadi bagian dari duo sutradara paling dikenal se-Indonesia setelah tiga film panjang? Kimo menjawab, "Gue nggak pernah merasa kalau The Mo Brothers itu sesuatu. We just want to make cool films. Yang pasti gue masih belajar. Pada setiap proyek, gue selalu mempelajari hal baru. Selalu ada crazier problems and challenges to be solved. Gue nggak pernah merasa punya cukup pengalaman dalam menggarap film."

Meski begitu, The Mo Brothers bisa terus melaju hingga sekarang karena keberanian mereka dalam mengambil risiko. Bahkan Kimo mengakui bahwa ide untuk film Headshot bisa ada karena situasi dan kondisi. "Ada produser dari Screenplay Infinite Films (kongsi antara Screenplay Productions dengan Infinite Frameworks Studios) yang mengajak kami bikin film tapi syutingnya harus di Batam. Genre-nya juga harus action," terang Kimo.

Fakta bahwa The Mo Brothers belum pernah menyutradarai film laga—bagi yang belum tahu, Rumah Dara merupakan film jagal dan Killers bisa disebut cerita seru psikologis—malah menjadi tantangan tersendiri. Mereka langsung memutar otak, sampai akhirnya Timo mendapat ide cerita soal pria amnesia misterius yang terdampar di sebuah pantai.

Timo mengenang, "Setelah bikin Killers yang bleak dan menganggur selama hampir tiga tahun, gue merasa ini waktu yang cocok untuk membuat cerita yang lebih uplifting dan feel good. Pasang mindset yang lebih hopeful, check-in ke hotel di Menteng, putar album Naif. Dua setengah minggu kemudian, naskah Headshot selesai."

Berhubung ini film laga, nama Iko Uwais selaku mega-bintang film laga dunia muncul sebagai pilihan pertama untuk memerankan karakter utama. "Dia mempunyai kharisma dan charm yang sebenarnya masuk untuk karakter anti-hero dengan attractive appeal untuk laki-laki maupun perempuan. Bonusnya: he literally kicks ass," jelas Timo.

Lebih lanjut lagi, ada nilai sentimental yang dikemukakan oleh Kimo mengenai pemilihan Iko: "Tanpa disadari, The Mo Brothers dengan Iko Uwais itu tumbuh besar bareng. Waktu itu Rumah Dara dan Merantau sama-sama diputar di Puchon International Fantastic Film Festival. Kami pertama kali kenalan di sana. Gue senang banget bisa menonton Merantau waktu itu. Gue sampai bilang ke Iko, "One day kita kerja bareng ya." Jadi sekarang ini right time, right place."

Dengan demikian, Headshot menjadi film Indonesia pertama Iko Uwais yang tidak disutradarai oleh Gareth Evans. Selain itu, Chelsea Islan juga membintangi film laga perdananya lewat judul ini. Namun ketika ditanya mengenai cara membuat para pemerannya nyaman beradaptasi, Timo sontak tertawa dan berkata: "Aktor jangan dimanja. Kalau mereka terlalu nyaman, something bad will happen. Keep them on the edge."

Selain berperan sebagai karakter utama, Iko juga diberi kepercayaan penuh untuk menjadi koreografer tarung bersama Uwais Team-nya. Mereka dibiarkan bebas berkreasi, bahkan Iko sampai terlibat memikirkan pengambilan gambar setiap adegan baku hantam. "Limitasi mereka hanya waktu; dua minggu untuk menyiapkan semua koreografi tarung dalam film ini. Melihat Iko dan Uwais Team bekerja saat pra-produksi, gue semakin kecantol dengan film action. Gue menyadari bahwa di balik kekacauan-kekacauan itu ada presisi yang sangat adiktif," ujar Timo.

IKO UWAIS

Sang bintang laga semakin menancapkan statusnya sebagai salah satu aktor penting di dunia internasional melalui peran terbarunya di Headshot. Iko Uwais bercerita tentang tantangannya menyeimbangkan drama dan mengarahkan laga.

Untuk membuat Headshot, film pertama Iko Uwais bersama Timo Tjahjanto dan Kimo Stamboel (Mo Brothers), beberapa kecelakaan sempat terjadi. Dari tertimpa oleh lawan main yang salah jatuh hingga kulit di atas alisnya robek maupun cedera lainnya ketika melakukan adegan laga bersama Veri Tri Yulisman, teman masa kecil yang juga atlet bela diri. Sunny Pang, aktor Singapura yang didaulat berperan antagonis, juga cedera karena kurang pemanasan sampai syuting harus berhenti. Rasanya kejadian macam ini biasa saja bagi Iko, yang telah berperan di banyak film laga.

Bedanya dengan film-film sebelumnya, kali ini Iko dituntut untuk menekan sisi dramatis. Ia berperan sebagai anggota geng kriminal yang mengalami lupa ingatan dan jatuh cinta kepada dokter muda yang merawatnya. Sebagai Ishmael, ia dituntut untuk meluaskan jangkauan aktingnya. Ia beradu akting bersama Chelsea Islan, aktris muda yang belakangan melambung namanya. "Chelsea orangnya baik, rendah diri, dan nggak sungkan untuk memberi tahu," ujarnya tentang pengalaman beradu drama. Hal ini ternyata merembet juga dalam pembuatan koreografinya, "Berantem di film ini cukup kompleks. Bukan hanya sekadar tangkis pukul, tapi ada ceritanya juga. Ada drama yang dikembangkan."

Memang jika dibandingkan dengan film-film sebelumnya, Headshot lebih spesial karena pembangunan cerita yang menarik. Aksi laga lebih seperti backdrop menambah tegang cerita tentang cinta, persahabatan, kasus trafficking anak, dan hubungan yang ganjil antara kepala mafia dengan anak buahnya. Alhasil film ini membawa Iko ke era baru saat ia melangkah naik tingkat sebagai aktor drama.

CHELSEA ISLAN

Menantang dirinya untuk menerobos batas dengan bermain di film laga, Chelsea Islan melebarkan sayapnya. Mengambil peran "damsel in distress", ia menceritakan pengalaman berharganya mengerjakan film Headshot.

"Aku senang banget pas adegan tembak-tembakan, itu seperti dream comes true," ujar Chelsea Islan sambil tertawa. Menengok lagi karier perempuan berdarah Indonesia-Amerika ini, mungkin tak ada yang menyangka kalau Chelsea punya mimpi untuk tampil dingin penuh darah. Deretan film komedi romantis dan drama seakan keburu menasbihkannya ke dalam kotak stereotip yang menjemukan. Kini dengan film Headshot, ia akan membuktikan jangkauan aktingnya yang luas.

Chelsea sedang bercerita tentang pengalamannya memegang senjata pertama kali. Di satu adegan, ia harus menembakkan AK-47. "Kami nggak ada latihan, langsung di tempat mencoba senjata itu. Pertama kali rasanya berat juga. Tapi memang diperlukan untuk adegan, Mas Timo dan Mas Kimo nggak mau aku sudah terbiasa pegang senjata."

Adegan yang dimaksud adalah salah satu adegan saat Ailin, karakter Chelsea, harus melarikan diri dari sergapan kriminal yang hendak membunuhnya. Dalam suasana yang menegangkan, pilihan utama adalah menembakkan senjata tersebut, sejenak melupakan moral. "Karakter Ailin kelihatannya simpel, padahal complicated," jelas Chelsea. "Karena dia ada perkembangannya, ada klimaksnya sebagai karakter. Dia cukup unik, dengan emosi yang naik turun. Dari orang baik yang biasa sampai tegang lalu sampai jadi brutal. Kita akan jadi seperti dia jika berada dalam keadaan seperti itu. Belajar survival dari film ini."

Di film Headshot, ia berperan sebagai Ailin, dokter muda yang menyelamatkan seorang pria tak dikenal yang ditemukan di pinggir pantai dengan kondisi hampir meninggal. Tak disangka kebaikannya ini membuatnya terjebak dalam pusaran balas dendam geng kriminal. Mau tak mau ia menjadi korban dari kesalahan yang tak dimengerti.

Ailin sebenarnya berfungsi sebagai pemantik drama dalam Headshot. Jadi porsi Chelsea beraksi laga tidak terlalu banyak. Namun justru ketika ia dihadapkan pada keadaan harus mempertahankan diri dengan senjata di situlah emosi meluap. Kadar antara drama dan laga diracik dengan pas.

Sejak mengambil perannya, Chelsea tahu kalau ia akan menjalani sebuah petualangan yang berbeda.

JULIE ESTELLE

Bermain pada film laga keduanya, Julie Estelle kembali dipercaya memerankan karakter antagonis. Paras cantiknya lagi-lagi menjadi kanvas bagi darah korban yang menyembur.

Bahwa Headshot bukan film laga pertama yang dibintangi Julie Estelle—sudah ada The Raid 2: Berandal—membuatnya bisa lebih fasih dalam mempersiapkan diri, baik itu secara fisik, mental, maupun teknik juga koreografi tarung. Padahal menurutnya film panjang ketiga The Mo Brothers ini memiliki persiapan yang cukup singkat untuk standar film laga.

"Dari latihan fisik, basic pukulan, tendangan, safety, sampai masuk koreografi, persiapannya cuma tiga minggu. Syutingnya lebih lama, empat puluh lima hari. Tapi untungnya ada beberapa basic yang memang sudah dipelajari dari persiapan The Raid 2 yang memakan waktu enam bulan. Jadi ketika berlatih untuk Headshot, muscle memory-nya masih ada. Lagipula ini proyek kedua gue bareng Iko (Uwais), dengan The Mo Brothers juga sudah lebih dulu ada Rumah Dara. Jadi komunikasi dan penyesuaiannya lebih mudah," terang Julie.

Meski begitu, rentang panjang dua tahun antara The Raid 2: Berandal dengan Headshot diakui Julie sempat membuat kemampuannya berkarat. Ada penyesuaian kembali yang harus ia lakukan. Julie mengenang, "Hari-hari pertama, badan terasa sakit seperti sudah lama nggak olahraga. Namun lama-lama muscle memory itu muncul. It"s like riding a bike."

Untuk Headshot, Julie Estelle berperan sebagai tokoh antagonis bernama Rika. Ia merupakan salah satu anak didik Lee yang paling terampil dalam membunuh. Bila karakter yang diperankan Julie pada The Raid 2: Berandal memiliki sepasang palu cakar, di sini Rika menggenggam sebilah pisau untuk dijadikan senjata.

Dalam mempersiapkan diri sebagai Hammer Girl, nama karakternya pada The Raid 2: Berandal, Julie memiliki kebiasaan baru terus membawa palu cakar dalam berkegiatan sehari-hari. Metode ini kembali ia pakai untuk melancarkan diri berperan jadi Rika.

"Ada putaran-putaran pisau yang harus dipelajari. Jadi pisau itu sengaja gue bawa pulang untuk latihan kapan pun di mana pun agar bisa luwes. Setiap hari di mobil selalu bawa pisau untuk latihan, di rumah sambil nonton juga latihan. Senjata itu kan perpanjangan dari badan kita, jadi harus terlihat nyaman. Keluwesan dan kenyamanan itu yang gue cari," jelas Julie.

Julie bisa turut serta meramaikan Headshot karena tawaran yang datang langsung dari Timo Tjahjanto dari The Mo Brothers. Penawaran Timo hadir pertama kali lewat telepon ketika Julie sedang melakukan pengambilan gambar untuk film Firegate setahun lalu. Ketika itu Timo tidak memberikan informasi terperinci mengenai Rika; hanya, mengutip dari cerita Julie, "Karakternya keren."

Untung bagi The Mo Brothers, Julie sangat menikmati pengalaman bekerja sama dengan mereka di Rumah Dara. Ditambah lagi, ia jatuh cinta pada proses penggarapan film laga. Tanpa perlu pikir panjang Julie menyatakan kesediaannya untuk bergabung dengan tim Headshot.

Kecintaan Julie dalam mengerjakan film laga bisa dilihat dari keputusannya untuk tidak memakai pemeran pengganti saat menjalankan adegan-adegan berbahaya.

Untuk kisah selengkapnya silakan baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 140 Desember 2016.

Editor's Pick

Add a Comment