Film Wiji Thukul Mulai Tayang di Bioskop Awal Tahun Depan

'Istirahatlah Kata-Kata' diputar perdana pada 19 Januari 2017

Oleh
Gunawan Maryanto sebagai Wiji Thukul. Limaenam Films

Film Istirahatlah Kata-Kata yang mengambil cerita penyair sekaligus aktivis Wiji Thukul dalam masa pelarian akhirnya mendapatkan jadwal tayang di Indonesia. Film ini akan mulai tayang pada 19 Januari 2017 di berbagai bioskop Indonesia. Sebelum diputar secara luas, film ini akan ditayangkan khusus di Jogja-NETPAC Asian Film Festival 2016.

Film arahan Yosep Anggi Noen ini juga telah hadir di berbagai festival dunia seperti Locarno, Vladivostok, Hamburg, Manila, Busan, dan terakhir Nantes. Di Indonesia, film ini menjadi pemenang kategori Film Panjang Non Bioskop Terbaik di ajang Apresiasi Film Indonesia 2016 dan nominasi Festival Film Indonesia 2016 untuk Sutradara Terbaik dan Penulis Skenario Asli Terbaik.

Istirahatlah Kata-Kata berkisah tentang Wiji Thukul, seorang penyair yang dikenal karena kelantangannya meneriakkan ketidakadilan di masa protes politik meningkat. Ketika kerusuhan Jakarta 1996, dia dan beberapa aktivis dituduh bertanggung jawab dan dikejar aparat keamanan. Dipaksa pergi, Wiji terbang ke Pontianak di mana dia bersembunyi selama delapan bulan, kadang bersama orang asing. Di sana dia mengganti identitasnya beberapa kali, tapi masih juga menulis puisi dan cerita pendek. Sedangkan di Solo, istrinya Sipon tinggal bersama dua anak mereka di bawah pengawasan ketat. Pada Mei 1998, Wiji Thukul dianggap hilang, sebulan sebelum Suharto digulingkan oleh rakyatnya sendiri.

Gunawan Maryanto didaulat menjadi Wiji Thukul. Sedangkan Marissa Anita bermain sebagai Sipon, istri Wiji Thukul. Istirahatlah Kata-Kata adalah produksi kolaborasi Yayasan Muara, KawanKawan Film, Partisipasi Indonesia, dan LimaEnam Films. Terlibat di dalamnya Melanie Subono, Eduwart Boang, Arswendy Nasution, dan Davy Yunan.

Dalam wawancara Rolling Stone bersama produser Yulia Evina Bhara beberapa waktu lalu, ia menjelaskan kalau film ini didedikasikan untuk generasi muda. "Generasi muda patut tahu, bahwa buku sejarah yang ada belumlah lengkap. Kita berkewajiban menuliskannya dan terus mengingatnya. Puisi-puisi Wiji Thukul adalah penanda jaman yang sangat nyata," jelasnya. "Film ini adalah tentang memanusiakan manusia. Harapannya film ini bisa bertemu dengan sebanyak-banyaknya penonton Indonesia," tutupnya penuh harap.

Editor's Pick

Add a Comment