Garin Nugroho

Sutradara senior yang dihormati ini berbicara tentang prosesnya memproduksi banyak film dalam setahun dan filosofi hidupnya

Oleh
Garin Nugroho. Rotterdam International Film Festival

Kiprah Garin Nugroho Riyanto dalam perfilman Indonesia rasanya sudah tidak diragukan lagi. Kepiawaiannya dalam mengolah cerita dalam medium film telah menghasilkan berbagai pengakuan baik nasional maupun internasional. Tiga dekade perjalanannya dalam dunia film Indonesia telah menghasilkan sumbangsih luar biasa. Pergerakannya bukan hanya meliputi pembuatan film, tapi juga edukasi dan pameran yang juga dampaknya bisa dirasakan oleh masyarakat.

Dalam wawancaranya bersama Rolling Stone Indonesia, Garin mengungkapkan banyak hal. Mulai dari aktivitasnya yang tak banyak diketahui orang sampai metodenya membuat film. Sosoknya ramah, ceplas ceplos tapi juga dengan kedalaman pemikiran. Seperti karya-karyanya, ia merupakan seseorang yang berpengetahuan luas. Produktivitasnya dalam berkarya juga dihasilkan oleh metodenya yang terperinci.

Proses wawancara ini dilakukan di awal tahun ketika Garin mengagetkan banyak orang dengan rencana pencalonannya sebagai walikota. Dimulai dari cerita tersebut, Rolling Stone Indonesia menyusuri jejak salah satu sutradara terbaik yang pernah dihasilkan oleh Indonesia.

Apa cerita di balik pencalonan Garin Nugroho sebagai Walikota Yogyakarta?

Saya selalu punya dua sisi, satu penciptaan, kedua pemberdayaan warga. Satu lewat kebudayaan, satu lagi lewat sosial politik. Sekolah saya juga dua, fakultas film dan tv, satu lagi fakultas hukum. Dan selalu periodisasi saya sampaikan semua, jadi misalkan periodisasi kritik film Kompas, itu tahun '86. Setelah itu masuk dokumenter dan iklan. Kemudian masuk film cerita. Paska '98, saya pernah diminta untuk memimpin 15 NGO media dan organisasi terkait, sebelum ada yang resmi dari KPU (Komisi Pemilihan Umum), untuk mentransformasi pemilihan yang otoriter menjadi demokratisasi yang adil dan damai. Mulai dari sosialisasi, konsultasi publik, diskusi, roadshow, pembuatan iklan "Inga Inga", penciptaan buku, lengkap sekali. Itu pengalaman saya berorganisasi. Orang banyak nggak tahu saya ikut mengawal undang-undang hak informasi, penyiaran sampai rahasia negara. Kemudian mengadakan diskusi ekstrimitas sampai menyoal ruang publik.

Orang tahunya selama ini saya mengerjakan film, karena bagi saya ketika bersama organisasi, saya melayani, cukup pelayanannya saja orang tahu.

Selain itu tentu saja Anda dikenal karena membuat film...

Dalam film, penghargaan saya dapatkan dari pemerintah Indonesia, Italia sampai Prancis.

Tahun ini, saya menyelesaikan periodisasi film. Periodisasi tahun 1910 awal politik Indonesia lewat Tjokroaminoto, lalu ada film Nyai, film yang secara estetika dibuat satu kali pengambilan gambar selama satu setengah jam, mewakili era 1923, awal liberalisasi di Indonesia. Lalu tahun "45 dibicarakan lewat film Soegija. Tahun "65 Puisi Tak Terkuburkan. "70-"80-"90 melalui Aach Aku Jatuh Cinta. "90 ke atas cukup banyak, dari mulai Daun Di Atas Bantal sampai Aku Ingin Menciummu Sekali Saja. Paska "98 ada Rindu Kami Padamu sampai Generasi Biroe. Yang terakhir mewakili tahun ini ada Mooncake, bicara soal kelas menengah, kemiskinan sosial, sampai penyakit Alzheimer.

Selain itu, tahun ini secara artistik saya mengerjakan Setan Jawa, film hitam putih dengan orkestra. Bersama film Nyai akan keliling dunia selama empat tahun. Setan Jawa September di Indonesia, kemudian di Australia, di Singapura.

Jadi tahun ini saya mengerjakan Aach Aku Jatuh Cinta, perilisan buku Krisis Paradoks Film Indonesia, Mooncake, Setan Jawa, dan Nyai. Saya sengaja menyelesaikan empat film sekaligus, jadi saya bisa istirahat sebentar. Selain itu, di bulan Mei juga saya mengerjakan instalasi untuk Art Jog.

Bagaimana Anda membagi waktu untuk melakukan semuanya?

Saya selalu mengerjakan seperti orang tradisional saja, seperti petani, kalau petani itu antara istirahat dan kerja itu nggak ada bedanya. Hidup itu siklus yang bergerak. Nyanyi doa sambil menganyam, lalu ke sawah sambil ambil ikan, semua itu seremoni yang menyenangkan. Saya orang yang hidup di alam modern tapi punya manajemen yang sangat arif tradisional. Ilmu saya itu ilmu nasi campur, saya nggak pernah memakai sistem pemakan Barat yang sangat komplet. Referensi apapun saya kumpulin, nantinya mau makan nasi dulu atau mau makan daging dulu terserah saya.

Lalu cara manajemen lain adalah manajemen bercocok tanam berputar, kayak orang-orang jaman dulu atau kayak orang Kalimantan gitu lho. Jadi nanem ini itu, sambil nunggu santai saja, nanti didatangin lagi dirawat lagi, nggak perlu banyak hal yang rumit, kita mencintai ya kita kerjakan.

Saya selalu melihat semuanya sebagai dunia seremoni. Seremoni itu mengajak semua orang berpartisipasi, kayak tradisi di Bali, ada yang bawa ayam, ada yang bawa bunga, ada yang mimpin doa, ada yang buat instalasi tempat duduk, ada yang nari. Kalau tujuannya bagus akan menghasilkan sesuatu yang bagus. Jadi antara nasi campur sama upacara tradisi jadi rumus manajemen saya. Kalau misalkan lagi upacara, tiba tiba cuaca kacau, nggak bisa jalan, ya tunda saja. Kalau mencalonkan walikota, tidak berhasil. Berarti Tuhan ngasih tempat yang lain. Lalu masalahnya di mana.

Ketika saya mencalonkan diri jadi walikota, saya pasti bikin kegiatan, tidak mau bikin kampanye. Saya mau bikin aktivitas yang melibatkan warga negara. Nggak jadi walikota juga sudah saya lakukan. Karena saya memang senang menanam sesuatu untuk masyarakat. Kalau Anda lihat saya tidak lagi ikut mengurus Jogja NETPAC Festival, karena sekarang murid-murid saya sudah bikin film, malah mereka jadi saingan saya.

Adakah urgensi tertentu di Yogya yang mendesak Anda mencalonkan diri? Apa yang sedang terjadi di sana?

Pertama, karena saya orang Yogya. Kedua, Yogya itu miniatur inspirasi ide-ide dan falsafah bangsa, miniatur dari toleransi. Di Yogya yang jadi humas bukan orang Yogya. Yang jadi rektor bukan orang Yogya, banyak bupati yang bukan orang Yogya. Sekarang mulai menurun nih, banyak masalah perizinan terjadi, intoleransi menimbun. Jadi mengelola Yogya adalah mengelola ke-Indonesia-an dalam bentuk yang mikro. Baik itu masalah toleransi, aspirasi, pendidikan dan kebudayaan, ruang publik, dan sebagainya.

Saya sebenarnya hanya membantu menumbuhkan bersama. Karena di Yogya sebenarnya sudah banyak ahli. Dulu Sultan HB IX selalu bilang kan, "Ayo, Soekarno kamu kesini saja. Yogya adalah tempat paling aman dan inspiratif bagi para penggagas bangsa." Jadi kalau negara ini dalam keadaan krisis, Soekarno datang lah karena aman. Dan kota ini berkewajiban memberikan sumbangan bagi orang-orang yang menginspirasi kebangsaan.

Apakah Anda punya filosofi tertentu dalam menjalani hidup?

Kalau kita punya tujuan baik, senangi saja. Saya kalau bikin film begitu loh. Tidak ada urusan harus sempurna, nggak kok. Orang yang menanam itu pasti mengalami tanamannya busuk kok. Tapi kalau kita ngalamin tanaman busuk, kita tahu toh, "oh, busuknya karena ini." Menanamlah, dan nanti akan diberi jalan. Kalau berjalan, berjalanlah. Kalau nanti buntu, kamu akan diberikan jalan yang lain. Yang penting berjalanlah.

Tahun ini Anda mengeluarkan film Aach… Aku Jatuh Cinta. Film romantis yang terkesan santai dan dikerjakan bersama studio besar. Apa cerita di baliknya?

Setiap pencipta harus selalu kritis. Saya selalu bertanya apa lagi sih yang ada pada diri saya dan bagaimana hubungan saya ke penonton. Setiap sepuluh tahun saya selalu berubah, tiba-tiba bikin film memakai video, di saat yang lain belum. Bikin film hitam putih dan bisu, di saat orang-orang tidak melakukannya. Nah pada usia 50 tahun ke atas, biasanya penonton mulai mengecil. Karena orang Indonesia di umur 50-an tidak begitu banyak menonton film. Oleh karena itu diperlukan mencari penonton baru. Sekecil apapun coba didapatkan. Bukan perkara jumlahnya. Tapi mereka mengenal kembali karya-karya Garin Nugroho. Untuk itu 2-3 film terakhir, saya menggunakan aktor aktris populer agar orang mulai menyebut kenal Garin. Mengenal Garin lewat Pevita, lewat Chiccho, lewat Reza. Apakah akan sebanyak itu yang kenal? Ya nggak. Dari 100 orang mungkin hanya 10 orang yang cinta film saya. Tapi saya punya penonton setia yang baru.

Bisa diceritakan proses pembuatannya? Apakah ada intervensi dari mereka?

Pak Raam (Punjabi, produser film Aach… Aku Jatuh Cinta) membiarkan saya menulis cerita. Ada diskusi, tapi wajar saja. Bikin film art juga harus ada diskusinya. Dia memberikan kebebasan, kalau kita ngobrol biasa saja, saling memberi masukan.

Sejak Soegija, Anda mulai terasa ingin memberikan komentar politik di masa kini tapi dengan menampilkan keadaan Indonesia di masa lampau...

Tidak sekadar karena saya ingin mengisi waktu (periodisasi) yang belum ada. Tapi juga karena retro sedang tren. Film-film dunia sedang retro kayak film The Man From the U.N.C.L.E. Ditambahkan juga karena ada komentar politik, gaya hidup, konsumerisme, cinta dan politik yang selalu berubah.

Tahun lalu film Tjokroaminoto dinominasikan untuk film terbaik, sedangkan Anda tidak mendapatkan sutradara terbaik, melalui Twitter Anda mengatakan "Mungkin sutradaranya sedang tidur"...

Sebenarnya penghargaan luar negeri sudah 2-3 kali ya saya dapatkan. Festival Film Indonesia (FFI) nggak pernah. Tapi dari dulu selalu banyak jawaban yang malas untuk diperdebatkan. Misalnya Cinta Dalam Sepotong Roti, menang semua kan kamera menang, editing menang, musik menang, film menang, Garin nggak menang. Alasannya, "Garin masih terlalu muda dan filmnya kan cuma 3 orang, sementara film yang lain kolosal." Ya sudah. Itu jawaban yang nggak ada urusannya dengan film. Nanti ada film lain lagi, "Garin kan udah senior, untuk apa lagi menang." Opera Jawa, film yang dapat empat bintang di semua koran di dunia, jawabannya, "Ini yang kerja kan seniman-seniman terkenal semua, mas Garin nggak kerja." Itu nggak bisa didebat, itu asal jawab semuanya. Lalu kemudian begitu Rindu Kami Padamu, menang lagi, tapi saya nggak dapat nominasi. Katanya karena setnya dibikin jadi artifisial, karena itu nggak menang. Justru saya pengen jadi pelopor, film yang setnya dibuat semua. Padahal indah sekali. Jadi seluruh jawabannya menurut saya olok-olok yang nggak perlu dijawab. Misalnya kayak film Aach.. Aku Jatuh Cinta, musik nggak menang, pemain nggak masuk nominasi, tidak masuk akal dibandingkan beberapa film yang lain. Tapi kan nggak ada unsur yang masuk. Saya paling mendukung FFI, tapi saya tahu betul jawaban juri-juri kita.

Ada apa di balik ini semua?

Saya tidak pernah tahu. Buat apa dipikirkan, bagi saya yang penting berkarya. Orang juga tahu kualitas film saya kok. Saya tahu Tjokroaminoto itu tingkat kesulitannya seperti apa. Lihat, film sejarah yang mampu ke luar negeri film siapa. Film saya. Bukan karena apa-apa, melainkan karena cara berceritanya membikin orang mengerti sejarah. Kebanyakan film sejarah dianggap karena membaca buku sejarah lalu seenaknya saya bercerita. Orang yang nggak baca sejarah bisa bingung. Kalau saya bilang "mungkin sutradaranya sedang tidur" ya karena saya sudah bingung untuk jawabnya dan tidak ada gunanya lagi. Tapi saya masih menghormati FFI. Waktu FFI pasca Soeharto, di Palembang, sedang ada gerakan film. Saya ketua juri, semua anak muda menyerang. Saya bilang, kalau ada kecurangan, bukan FFI-nya yang salah. Diserang sama teman-teman muda, mereka minta perubahan, semuanya ingin dihancurkan. Saya loh yang mempertahankan FFI.

Saya bilang yang salah orang-orangnya, FFI tidak pernah bersalah, FFI itu sejarah film yang harus dipertahankan. Saya nggak pernah menang sutradara bukan urusan saya. Akhirnya semua sekarang kan ikut FFI juga. Secara prinsip harus didukung karena itu peristiwa penting dalam sejarah film Indonesia. Kalau mau buat festival lebih bagus, ya buat saja di luar itu. Kayak saya misalnya, nggak ada festival internasional yang bagus. Saya bikin Jogja Asia NETPAC Festival.

Tapi saya memang sering tidur sekarang, menyutradarai Mooncake sama Bunga Citra Lestari, kalau adegannya biasa aja saya tidur karena sudah bosan (tertawa kecil).

Tiga dekade bukan waktu yang sebentar, di masa itu pasti Anda banyak melihat perubahan di film Indonesia. Pergolakan apa yang paling signifikan pernah Anda lihat?

Pertama, dari segi negatifnya cepat krisis. Misalnya booming film Habibie dan Ainun, dua setengah tahun udah habis, drop lagi. Itu artinya ada dasar-dasar struktur yang memang nggak lengkap, misalnya peraturan daerah yang memberikan perlindungan bagi filmmaker lokal, anak emas masih Hollywood dan sebagainya. Itu pasti ada yang salah disitu.

Kemudian kedua, terlalu cepat bangsa ini melompat-lompat oleh teknologi, sehingga sistem distribusi apa yang disebut proses mencipta mengalami percepatan perubahan yang sutradara harus memperhatikan itu.

Sutradara harus selalu membaca perubahan sepuluh tahun ke depan. Jadi misalkan gini, Bulan Tertusuk Ilalang, Cinta Sepotong Roti saya masih dubbing semua. Tapi setelah itu saya pakai direct sound, karena saya tahu akan direct sound semua. Kemudian Bulan Tertusuk Ilalang (2004) saya mulai editing digital, padahal semua orang masih analog. Saya pelopornya, dulu nggak bisa dilakukan itu semua. 2001, saya blow up 35 milimeter dari video yang sedikit amatir. Belum pernah ada dilakukan. Kemudian bikin set sendiri di dalam studio.

Kemudian nanti di Mooncake Anda melihat sebuah kampung banyak green screen dan melakukan apa yang disebut Special Effect Environment. Nantinya lama-lama studio 30% sisanya 70% effect. Kayak Hollywood tapi pakai cara yang murah, yang penting efektif. Lalu syuting satu jam, satu pengambilan gambar, bikin film menggunakan orkestra yang dimainkan langsung, lalu membikin karya-karya seni lainnya, film expanded –sesuatu yang sudah dikerjakan orang-orang di luar negeri.

Sutradara memang harus membaca berbagai aspek, masalah ekonominya, teknologinya, visinya, penemuan-penemuan baru, bahkan hubungannya dengan penonton. Setiap lima tahun, sepuluh tahun pasti ada perubahan besar. Apa yang disebut revolusi teknologinya, kecenderungan estetik filmnya, kecenderungan cara menikmati penonton, itu semua mengalami perubahan yang harus kita baca.

Saya selalu membaca ke depan, dengan cara itu kita jadi nol dan kecil terus, karena yang di depan selalu besar.

Seorang sutradara selalu harus berani kembali ke nol, ke tingkat yang sama dengan anak-anak itu. Ketika diajak Pak Raam, saya bisa minta duit banyak. Saya nggak mau. Anak-anak itu diborong berapa sih. Saya akan kerjakan lebih cepat dari itu. Orang harus melecut dirinya sendiri menjadi nol kembali.

Film terbaik saya Puisi Tak Terkuburkan yang masuk daftar sebagai 100 film Asia terbaik (dipilih oleh Busan Asia Film Festival ), dibikin enam hari. Sementara Nyai dibikin dua hari. Sampai detik ini saya tidak pernah terlambat, tidak pernah kelebihan.

Anda juga dikenal sebagai mentor bagi banyak sutradara. Apa yang Anda ajarkan?

Guru yang paling baik menerjunkan murid di medan pertempuran paling besar, kalau dia lolos, maka dia jadi pemimpin organisasi, pemimpin kreatif, dan bisa tumbuh dari krisis. Maka kalau kamu lihat Riri (Riza), Asep (Kusdinar), Ismail (Basbeth) dan lain-lain, tanya sama mereka apakah saya pernah menggurui. Tapi pada saat tertentu, saya akan memberitahu hal-hal kecil. Lalu, saya akan mempertemukan mereka langsung dengan klien atau sumber dana untuk penciptaan. Misalnya langsung ketemu sponsor atau kurator.

Seluruh kantor saya kalau ada orang syuting, nggak pernah saya periksa. Biarin jadi diri sendiri. Kalau ada saya jadi lebih tertib. Misalnya kayak anak saya (Kamila Andini), ketika dia syutingnya di Kendari, saya nggak ada urusan dengan hasilnya. Dalam hati saya, kalau kamu bisa lulus di tempat yang sulit sekali. Kamu berhasil. Dengan kru yang ada orang tuanya, kalau beda pendapat, berarti ujian untuk kamu. Diterjunkan di tempat yang paling sulit dengan kru paling sulit.

Bagaimana metode pembuatan film seorang Garin Nugroho?

Setiap orang punya bakatnya sendiri, ada yang bakatnya tertulis, ada yang bakatnya lisan. Yang salah adalah memprioritaskan ketentuan itu untuk semua orang. Ngajarin Hollywood, yang sangat skenario. Sutradara terkenal Asia tradisi lisan karena masyarakatnya tradisi lisan. Misalnya Hou Hsiao-Hsien atau Wong Kar Wai. Nelpon artis nggak diterangkan main apa kok. Sutradara Iran? Apa lagi. Karena kulturnya tradisi lisan.

Orang-orang yang biasanya tradisi lisan, kayak sutradara wayang tuh, kan cuma setengah jam nunjuk orang-orang, nih ceritanya begini. Berarti dia paham struktur skenario yang baik, paham cara bertutur, paham drama, paham sejarah, paham sastra. Dia tradisi lisan, tapi otaknya sudah paham bagaimana bercerita yang baik. Disebut improvisasi karena dia memakai tradisi lisan. Kalau Hollywood, bikin kafe, detail. Kalau di Indonesia sudah dibayangkan, tapi paling bisanya cuma 10 persen, pasti berubah kan. Saya memakai tradisi lisan, karena harus adaptasi dengan Indonesia yang tidak pernah selalu seratus persen terpenuhi fasilitasnya.

Bagaimana Anda menulis skenario film?

Cara yang paling bagus dan selalu saya lakukan adalah membentuk tim. Ahli nulis skenario, ahli masalahnya, ahli memberi ide, ada yang khusus mendalami sesuatu misalkan tentang Islam, lalu saya. Tim yang bagus seperti itu. Yang paling awal perlu dipahami idenya, film ini jenisnya kayak apa, karakternya kayak apa, lalu kita menulis. Tujuannya untuk apa, pencapaian. Bikin film nggak sekadar bikin film.

Nonton Tjokroaminoto kan? Kalau film Indonesia, cerita itu cuma di tempat-tempat formal, tidak pernah diterangkan visual tentang ke-Indonesiannya. Kalau bikin film itu ada sistem kebudayaan yang harus diangkat, tentunya di film Tjokroaminoto ya membahas kebudayaan di zaman Tjokro. Ada kehidupan sehari-hari, ada mata pencarian, ada bahasa tubuh, ada bahasa suara. Ini harus muncul empat-empatnya. Ini sistem kebudayaan loh. Misalkan menggambarkan mata pencarian dan profesi, ada mandor karet ya ada karetnya.

Bukan cuma itu, ruang hidupnya sejarah seni hiburan ada dalam film, penonton dikasih lihat ada Komedie Stamboel, keroncong, ada lagu Barat, ada lagu jazz. Lalu percetakan. Ruang publik ada kapal-kapal besar. Jangan cuma sawah, joglo. Dikira Kartini hidup seperti itu. Film sejarah kita selalu ruang formal, tapi sejarah di luar tokohnya nggak dibangun. Sejarah lagunya, sejarah hiburannya, sejarah kotanya nggak nampak. Sekarang mulai begitu, tapi sebelum itu coba kamu lihat. Film-film saya selalu ada tontonan, tokohnya nonton Komedie Stamboel, kayak di Amerika nonton orkestra, kan biasa. Di kita sebelumnya nggak pernah ada, adanya pidato politik, tengkar sana sini, pemimpinnya makan dawet aja nggak pernah.

Padahal sebetulnya sejarah formal tokoh hanya bisa hidup jika ruang formal tokoh dihidupkan. Sejarah ruang hidup sehari-hari dihidupkan.

Apakah seorang Garin Nugroho menanggapi kritikan yang diberikan oleh orang?

Kalau membaca iya. Ada kritikan yang bagus, ada yang nggak. Tapi itu hak masing-masing saja. Kalau kita kerja keras lalu dikritik seenaknya, kadang-kadang ada rasa sedih, itu manusiawi. Tapi kan film itu ketika sudah dilempar jadi obyektif, film jadi milik orang, bukan milik saya. Orang sekarang kritiknya nggak keras, saya dulu jaman Soeharto karena selalu berontak dibilang "Garin Nugroho harus sekolah lagi," "film paling jelek" padahal masuk Cannes, bisa hancur-hancuran baca kritiknya.

Tapi kalau saya begini, setiap kritik itu pasti saya jadikan motivasi. Kamu terkena masalah maka ciptakanlah sesuatu yang membangkitkan kamu. Simple. Kamu dipukul dua kali, kamu tunjukkan kalau pukulan itu nggak berarti buat kamu. Ya sudah mencipta lagi. Saya selalu nulis lagi. Cara saya seperti itu. Begitu dikritik langsung mikir, besok bikin apa lagi ya. Dan itu cara lari yang baik. Lari dari masalah itu bagusnya dengan produktivitas.

Kapan Anda akan berhenti?

Ya kalau mati lah. (tersenyum)

Ada hal lain yang mendorong terus untuk berkarya?

Nggak ada yang ambisius. Itu bagian dari perencanaan saja. Semuanya dijalani menyenangkan. Di setiap tempat saya bisa bekerja. (Kemudian dia menunjukkan tablet yang dipakainya untuk menyimpan ide-idenya, baik dalam bentuk catatan maupun visual). Setiap ide selalu saya tulis dan saya selalu belajar banyak hal setiap harinya.

Kelihatannya saya itu kayak improvisatoris padahal sebenarnya semua yang saya kerjakan sistematik.

Apa film Anda sendiri yang jadi favorit?

Daun Di Atas Bantal, Opera Jawa, Puisi Tak Terkuburkan dan paling terbaru Setan Jawa.

Masing-masing memberikan saya penemuan dan di film-film tersebut saya kerja keras luar biasa dan sulit untuk dicapai lagi.

Sutradara Indonesia yang menjadi panutan Anda?

Teguh Karya karena artistiknya, Sjuman Djaya karena sosialnya, Nya Abbas Akup karena komedi kemanusiaannya. Kalau dunia Akira Kurosawa teatrikalnya. Semua sutradara punya sesuatu yang bisa saya jadikan referensi.

Sutradara Indonesia generasi baru yang Anda suka?

Joko Anwar. Dia punya gaya yang personal. Artistiknya bagus. Begitu dia dapat cerita bagus, filmnya bagus. Lalu Mouly Surya, ada personalnya juga. Anak saya Kamila Andini.

Selain itu, Upi. Saya senang sama dia. Menurut saya, salah satu sutradara terkemuka perempuan itu Upi. Lihat karyanya, punya karakter sendiri, detailnya kuat, dengan tema yang berani lompat-lompat. Sutradara pasca reformasi perempuan yang bagus ya dia. Kelihatan kerja kerasnya. Anak ini sayangnya kurang beruntung. Ada karya yang tumbuh bagus publikasinya besar, sedangkan ada karya perempuan lain biasa aja tapi dibicarakan banyak orang. Film-filmnya kayak Belenggu, Realita Cinta dan Rock N Roll, dan Serigala Terakhir itu bagus.

Bagaimana masa depan film Indonesia menurut Anda?

Film Indonesia sama kayak film-film Asia ya, nggak stabil. Dari segi kualitas maupun kuantitas. Kalau dari stabilitas ekonomi nggak mungkin lah. Mau tuan rumah juga, nggak lah. Tapi dengan teknologi media sosial yang murah ini, maka alat penciptaannya, ruang prosesnya dan distribusinya itu dimiliki oleh orang-orang Asia. Naik turunnya bakal luar biasa. Orang Indonesia masih konsumtif dan ke depannya, meskipun ada kemudahan teknologi, produksi bakal tetap sedikit.

Editor's Pick

Add a Comment