Op-Ed: Kharisma Jati dan Pelajaran Fundamentalisme Terbalik

Polemik K. Jati dan Sheila Rooswitha berakhir dengan Jati meminta maaf akan karyanya. Tapi pengamatan apa yang bisa kita tarik dari sini?

Oleh
Pixabay

Begini skenarionya: Dengan tajuk "rela melakukan apapun demi anak," seorang ibu memperkosa anak balitanya sendiri, memaksanya ejakulasi di wajahnya, bermasturbasi di depannya, dan pada akhirnya berak di wajah sang balita, sementara penonton tertawa santai menyaksikannya.

Bukan, ini bukan film horor pinggiran dari luar negeri. Ini deskripsi sederhana dari komik karya orang Indonesia, Kharisma Jati, yang dikicaukannya secara publik lewat Twitter beberapa waktu lalu. Lebih parah lagi, komik ini mengangkat karakter ibu dan anak dari komikus lain, Sheila Rooswitha Putri.

Tadi pagi (2/11), Jati telah mengeluarkan permohonan maaf secara resmi lewat status Facebooknya, mengakui kebodohannya dalam membuat karya semacam itu. Namun, yang masih jadi uneg-uneg bagi saya, adalah betapa banyak orang yang membelanya, bahkan sebelum dia meminta maaf.

Heran, karena begini. Saya tidak ingin hidup dalam masyarakat di mana, saat terjadi pemerkosaan gadis di bawah umur, misalnya, masih ada saja yang membela pemerkosa dengan alasan ini dan itu. Saya ingin hidup di mana, jika ada orang yang membela pemerkosa, dia akan dianggap gila dan tidak akan diberikan tempat di masyarakat. Menurut saya, itulah tanda masyarakat yang sudah mapan dengan nilai-nilainya sendiri. Jika ada yang salah, ya sudahlah. Hukum sepantasnya, dan tak usah hiraukan para pembelanya.

Jati telah meminta maaf, dan ini merupakan sikap yang patut diapresiasi. Namun, polemik ini telah membuat saya sadar: Pemahaman kita akan gagasan protes dan berekspresi melalui karya seni merupakan sesuatu yang sangat minim, sehingga sampah beracun semacam komik Kharisma Jati terakhir itu pun kita anggap serius.

Mungkin ada yang berpikir bahwa karya Jati tidak memakan korban siapapun. Pemikiran ini tentunya runtuh seketika jika saja kita mau berpikir sedikit tentang perasaan Sheila, tapi okelah. Coba kita tarik lagi. Materi ofensif yang dipublikasikan secara luas tentunya dapat menyinggung perasaan banyak orang, dan beberapa orang mungkin akan trauma dibuatnya. Cukup banyak, sebetulnya, yang dirugikan. Jati sendiri telah mengakui hal ini.

Maka, hanya orang bodoh yang akan mengabsahkan tindakan ini sebagai bentuk "kebebasan berekspresi," karena siapapun yang memahami gagasan ini akan paham juga bahwa ada yang namanya tanggung jawab berekspresi. Jika komik semacam ini dibagikan untuk kalangan pribadi yang sama-sama sedikit tidak beres isi kepalanya, mungkin itu masih dapat diterima. Tapi ini disebarluaskan di forum publik.

Begini, lho. Saya bukan polisi moral. Saya tidak menuntut Jati atas alasan moralitas, dan saya bukan menulis ini karena menyimpan dendam kesumat padanya, karena toh dia telah meminta maaf kepada publik. Bahkan, saya menentang hampir segala bentuk penyensoran—semua orang yang pernah mengikuti jejak tulisan saya pasti tahu ini. Saya menentang fundamentalisme dalam segala bentuk dan namanya.

Namun, bagi saya, yang harus diakui adalah betapa sikap Jati kemarin mencerminkan sikap fundamentalis yang tak kalah dangkalnya dengan orang-orang yang dia coba kritisi. Saya rasa inilah yang harus dipahami terlebih dahulu, agar insiden semacam ini tidak terjadi lagi ke depannya.

Begini maksud saya. Dengan karya-karya seperti itu, pembaca seolah dipaksa percaya bahwa hanya ada dua kubu dalam berkarya: Mereka yang patuh pada segala batas dan moralitas, dan mereka yang mampu menembus batas. Ini berbahaya, terutama karena kita agaknya masih rancu memahami apa itu "batas."

Bagi saya, tindakan Jati kemarin merupakan contoh sempurna buah kedangkalan pemikiran mengenai konsep "batas". "Batas" yang dicoba ditabrak dalam komik-komiknya hanyalah batas palsu yang ditafsirkan secara terlalu harfiah. Melalui cara ini, Jati secara sukarela menjadikan dirinya sendiri seorang badut fundamentalis anti-batas.

Di sinilah kebanyakan kritik yang ditujukan pada Jati merupakan kritik yang salah kaprah—kritik yang jatuh pada perangkap penghormatan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, kritik yang memuji gagasan "batas wajar," dan sejenisnya. Bagi saya, jika kita menerima perdebatan dalam level ini, kita sudah kalah—tak ada ruang lagi untuk mempertanyakan dan menolak batas.

Bukan itu yang seharusnya dikritisi. Yang perlu dikritisi adalah apa yang kita anggap sebagai batas. Batas merupakan hasil dari relasi kuasa, sebuah ketimpangan sosial yang terkadang eksploitatif. Ketimpangan itulah yang seharusnya kita cermati.
Saya orang pertama yang akan menyetujui siapapun yang berkata bahwa nilai-nilai keluarga perlu dikritisi dan didekonstruksi. Seberapa besar nilai patriarkis berperan di sana? Seberapa besar keluarga mampu menghimpit dan menyiksa kebebasan anak untuk menentukan nasibnya sendiri? Bagaimana ideologi dan fundamentalisme yang SARA menyusup dalam nilai-nilai keluarga? Semua komikus yang baik paham bahwa itulah yang perlu ditembus dan dikritisi dalam karya.

Dosa terbesar Jati sebagai orang yang mengaku seniman adalah kebutaannya terhadap struktur dan relasi kuasa semacam ini dalam karyanya kemarin. Itu sebabanya dia tak mampu bergerak lebih dari menghasilkan sampah-sampah sensasionalis, di mana batas diartikan secara begitu dangkal dan harfiah.

Polemik ini, dan permintaan maaf Jati, saya rasa tidak seharusnya diartikan bahwa kita lantas dilarang mempertanyakan dan menembus batas. Batas perlu terus dipertanyakan untuk mengajak orang berpikir. Tapi jika kita salah mengidentifikasi apa itu batas, dan bagaimana cara menembusnya, kita hanya akan mengajak orang mengonsumsi kotoran.

Saya hanya berharap kita tidak jatuh dalam perangkap fundamentalis terbalik ini dan dengan sukarela menyantap kotoran dangkal yang dihadirkannya, menganggapnya sebagai karya yang serius. Atau, sebaliknya, menganggap semua karya yang mempertanyakan batas sebagai sesuatu yang jelas-jelas tidak senonoh.

Saya turut berduka cita terhadap trauma Sheila Rooswitha, dan siapapun yang kurang beruntung sampai sempat menyaksikan komik Jati ini. Mengenai sikap selanjutnya terhadap Kharisma Jati, baik dari Sheila Rooswitha, industri komik Indonesia, maupun khalayak umum, saya tidak akan berkomentar.

Yang jelas, saya rasa, polemik ini merupakan kesempatan baik untuk kembali bertanya. Mari kita berhenti menciptakan dan mengonsumsi karya-karya sampah, namun juga jangan lantas menjadi terlalu takut untuk mempertanyakan batas. Dunia tidaklah sehitam putih itu.

Mari kita menjadi lebih cerdas bersama-sama, dan mempertanyakan kembali apa yang kita sebut sebagai "batas".

Penulis adalah seorang penulis, esais, dan komikus, serta co-founder dari NaoBun Project, studio komik yang mengajak anak-anak berpikir kritis melalui cerita dan teka-teki.

Editor's Pick

Add a Comment