Live Review: Konser Monokrom Nerv.ous

Oleh
Nerv.ous dan Farid Stevy, vokalis FSTVLST. Ivan Makhsara

Suguhan indie rock kelam dari Yogyakarta.

Kuartet indie rock asal Yogyakarta, Nerv.ous, akhirnya mengeluarkan album yang dirayakan di Institute Francais Indonesia, Yogyakarta pada Senin (31/1) lalu. Cuaca mendung melanda Yogya dan terasa cocok dengan musik yang akan dimainkan Nerv.ous.

Ketika memasuki area konser, penonton dihadapkan pada ruangan gelap yang membangun nuansa isolatif. Panggung yang didekorasi dengan undakan yang mengingatkan pada pertunjukan teater ketimbang acara musik. Panggung juga disemarakkan dengan instalasi seperti boneka bayi yang digantung dan manekin kaki yang dipasang terbalik. Nerv.ous dan Yellow Management tampak cukup niat untuk memberikan pengalaman berbeda dalam menonton konser.

Entah karena auranya yang kelewat serius atau penonton yang datang terlalu kaku, tapi malam peluncuran album perdana Nerv.ous yang berjudul sama hanya kekurangan satu hal: gairah berlebih selayaknya menonton band rock dengan nada-nada dansa. Padahal lagu-lagunya cukup mengundang untuk menggoyangkan badan. Bila disederhanakan, Nerv.ous memainkan musik yang bisa dideskripsikan sebagai versi lebih dingin dan lebih depresif dari Monkey to Millionaire. Ada pengaruh band-band indie rock 2000-an (Interpol, The Strokes, Autolux dan semacamnya) dan noise rock era '90-an (Sonic Youth) di musiknya.

Konser dibuka oleh ONES, DJ yang bertugas memanaskan penonton. Saking tepat waktunya acara dimulai, penonton masih segelintir saja yang datang. Setelah setengah jam memutarkan lagu-lagu elektronik, ONES langsung digantikan oleh Nerv.ous yang sudah bersiap di panggung. Satu hal yang disukai dari konser ini adalah lancarnya transisi dari satu sesi ke sesi lainnya.

Nerv.ous memulai penampilan dengan lagu "Gelap" memakai baju yang serba hitam di sesi yang dinamai Black Session. Nomer instrumental ini dimainkan dengan baik. Tapi bagi yang belum terlalu mengenal Nerv.ous mungkin agak sedikit terkecoh karena pengaruh post rock-nya. Lagu ini juga kurang menggedor semangat. Mungkin memang Nerv.ous ingin terlihat serius bahkan dari awal lagu. Tak ada yang salah dengan itu.

Lagu-lagu berikutnya dari album Nerv.ous dimainkan. Penonton masih juga bergeming. Kadang saking diamnya penonton membuat ruangan IFI terasa seperti galeri seni. Setelah empat lagu lainnya, sesi ini selesai begitu saja. Penonton kemudian dipersilakan beristirahat selama dua puluh menit.

Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi penayangan video dokumenter yang dikerjakan Anggito Rahman. Di sini para personel Nerv.ous bercerita tentang kenapa mereka memutuskan merilis album setelah tujuh tahun vakum. Selain itu ada juga komentar dari tiga kolaborator yang ikut membantu pengerjaan album yaitu Farid Stevy, Kemal Yusuf, dan Anggito Rahman. Penonton mulai bertambah.

Tanpa banyak basa-basi sesi kedua pun dimulai. Judul sesi kali ini White Session dan bisa ditebak kalau pakaian yang dikenakan para personil berwarna putih kecuali satu gitaris yang memakai jaket abu abu. Di luar mulai hujan dan Nerv.ous memainkan lagu-lagu mereka yang lebih "terang". Kalau di sesi sebelumnya terasa ada jarak, di sesi ini setidaknya personel Nerv.ous bisa lebih cair. Misalnya drummer Argha Mahendra yang maju ke depan untuk memberikan pidato dan bahkan kemudian memberikan suvenir CD dan kaus kepada para kolaborator.

Bukan cuma membawakan lagu-lagu yang ada di album dengan sound yang sama persis dengan album, Nerv.ous juga mengajak Farid Stevy dari FSTVLST untuk ke atas panggung mengisi vokal di lagu "23 (One for a Brighter Future, Pt. 2)." Bukannya menyanyi Farid malah mengisi part dengan membacakan penawaran promo yang masuk ke SMS handphonenya.

Setelah membawakan "Lagu Angsa", Nerv.ous pun menutup repertoir malam itu. Meskipun agak kurang "panas" dan terlalu terkontrol, setidaknya mereka berhasil mempresentasikan karyanya sesuai ekspektasi. Bisa dibilang kiprah mereka layak dinantikan lanjutannya. Albumnya pun layak didengarkan dan dikoleksi.

Editor's Pick

Add a Comment