Live Review: Morrissey

Oleh
Keanggunan Morrissey terpancar di sepanjang konser Dok. kiosPLAY

Pria menawan ini kembali tampil di Jakarta untuk kali kedua

Seorang perempuan berjalan menuju pintu keluar area penampilan Morrissey di Jakarta sambil menggerutu. Konser baru saja selesai. Alas kakinya berbingkai lumpur akibat rerumputan Senayan Golf Driving Range yang terguyur hujan malam sebelumnya. Begitu melihat panitia, ia langsung bertanya sinis: "Duitnya bisa dikembalikan nggak? Akhirannya nggak enak begitu."

Morrissey membuat banyak orang kecewa karena mengakhiri aksi keduanya di ibu kota secara tanggung (penampilan perdananya di sini berlangsung empat tahun silam). Seusai membawakan "Meat is Murder" sebagai lagu ke-19, lengkap dengan visual berpotensi traumatis yang menunjukkan penjagalan hewan untuk dijadikan bahan makanan, Morrissey dan band turun panggung dengan rencana awal memulai naskah encore yang sebetulnya sudah diprediksi penonton.

Namun lima belas menit dan berkali-kali seruan "we want more!" kemudian, Morrissey tak kunjung menampakkan jambulnya yang ditiru banyak penonton pada malam itu. Hingga akhirnya malah kru yang muncul di atas panggung dan membereskan peralatan musik. Penonton kontan merasa dirugikan, apalagi lembar setlist membuktikan ada satu lagu yang seharusnya dibawakan untuk sesi encore: "What She Said" dari The Smiths, band lama Morrissey. Bisa dibayangkan suasana akhir konser yang jauh berbeda bila lagu penuh irama itu yang dimainkan daripada khutbah kelam dengan lirik, "The meat in your mouth/As you savour the flavor of murder".

Spekulasi bermunculan: ada yang mengira Morrissey kecewa atas kurang responsifnya penonton di kelas VIP, atau ia kesal melihat kepulan asap rokok dari penonton meski larangan sudah tersiar luas, serta tak sedikit juga yang pasrah dan menganggap kalau Morrissey hanya bersikap layaknya Morrissey. Namun sejauh ini alasan paling masuk akal adalah bahwa ia mendadak sakit dan tidak bisa melanjutkan konser. Apalagi ditambah jadwal tampil di Singapura diundur hingga dua hari karena Morrissey harus menginap lebih lama di Jakarta.

Terlepas dari drama tanpa pamit tersebut, pria berusia 57 tahun ini telah mempersembahkan 19 lagu dalam waktu sekitar satu setengah jam. Kontennya juga istimewa: 16 lagu orisinal dari kariernya sebagai penyanyi solo, dua lagu milik The Smiths (selain "Meat is Murder", ada juga "How Soon is Now" yang merupakan favorit penggemar), dan satu cover Ramones berjudul "Judy is a Punk". Vokal Morrissey masih luar biasa, seolah usia tak mampu menggerogoti pita suaranya. Tata suara konser begitu prima—dari tiga konser yang telah digelar kiosPLAY sejauh ini, semua menyemburkan suara maksimal. Sehingga untuk apa mengeluh berlebihan sampai menggertak minta uang kembali?

Seperti pentas Morrissey lain, sebelum konser dimulai para penonton lebih dulu disuguhi kompilasi video referensi-referensi budaya yang menjadi inspirasi keseniannya. Ada Alice Cooper, potongan film yang disutradarai Paul Morrissey dengan iringan lagu Lou Reed, Ike & Tina Turner, Sex Pistols, James Dean yang tengah berakting, hingga ditutup oleh New York Dolls yang dikenal sebagai band kegemaran Morrissey.

Ia kemudian naik ke atas panggung bersama band pengiringnya yang mengenakan seragam kaus ringer, celana denim, dan bretel. "My heart, my heart, my heart, Jakarta…," sapa Morrissey dengan penuh cinta, sebelum membawakan hit "Suedehead" sebagai nomor pembuka. Koor massal terjalin di antara penonton, berlanjut ke "Alma Matters" (Morrissey sempat memuji vokal kolektif penonton: "Very nice") dan "Everyday is Like Sunday" yang dimainkan berturut-turut.

Bukan Morrissey namanya bila tak menyisipkan sesuatu yang aktual dalam penampilan. Ia pernah memodifikasi potongan lirik "Bigmouth Strikes Again" menjadi: "Now I know how Joan of Arc felt/As the flame rose to her Roman nose/And her iPod started to melt." 'iPod' di situ merupakan perubahan dari 'walkman' agar relevan dengan zaman.

Untuk kali ini Morrissey mengangkat topik pemilihan presiden Amerika Serikat. "Do you like Donald Trump?," ia bertanya, dijawab dengan nada cemooh dari penonton. Ini ternyata menjadi aba-aba untuk lagu "World Peace is None of Your Business" yang mengandung lirik: "Each time you vote, you support the process."

Pada "Ganglord", visual menunjukkan kekerasan aparat di Amerika Serikat yang belakangan terus jadi sorotan global. Morrissey pun tidak setengah-setengah, ia seakan mengumpulkan gambar-gambar paling brutal yang pernah ada tentang subjek ini.

Visual yang menampilkan tokoh-tokoh favorit Morrissey berlanjut di sepanjang konser: ada Bruce Lee pada "How Soon is Now" dan sutradara Pier Paolo Pasolini ketika "You Have Killed Me" (lagu ini dibuka dengan lirik "Pasolini is me"). Bahkan bass drum ditempel dengan gambar aktris Renee Falconetti saat memerankan Joan of Arc pada film legendaris The Passion of Joan of Arc karya Carl Theodor Dreyer.

Namun dibanding membicarakan elemen-elemen yang membuat konser ini menarik, kelihatannya para penonton memilih berkonsentrasi terhadap ketiadaan encore yang sebetulnya merupakan hak artis. The world is full of crashing bores.

Editor's Pick

Add a Comment