Green Day: Semakin Bising, Banter, dan Gusar

Setelah jeda tak terduga selama empat tahun, trio punk ini kembali lagi

Oleh
Sampul majalah Rolling Stone Indonesia edisi 139 November 2016. Mark Seliger

Belum lama lalu, Billie Joe Armstrong punya beberapa peraturan ketat untuk Green Day. Ini sebelum ia mendorong bandnya untuk membuat tiga album sekaligus yang menyebabkan Armstrong harus masuk rehabilitasi. Juga sebelum pelantikan masuk Rock and Roll Hall of Fame. Peraturan nomor satu saat itu adalah setiap album dan setiap tur harus langsung disambung dengan yang berikutnya. Band yang mengambil waktu istirahat di antaranya tidak akan sama saat kembali bergabung, kata Armstrong. Ia membandingkan trio Green Day dengan sebuah mobil sport antik: "Harus selalu digunakan, kalau tidak begitu hanya akan teronggok dan berkarat." Mereka biasa berlatih enam kali dalam satu minggu, seperti band yang bersiap-siap melakukan konser pertama kalinya. "Konyol sekaligus luar biasa," kata Mike Dirnt. "Kami terus begitu selama 20 tahun."

Dalam kepala Armstrong, semuanya harus menuju sesuatu yang lebih hebat dan ambisius. American Idiot (2004) adalah salah satu album rock paling penting dalam abad ini. Trio bengal dari kelas pekerja ini (Armstrong, bersama Dirnt—teman kanak-kanaknya—dan Tré Cool) mulai bermain di konser-konser besar dan gemar memakai garis mata. Mereka bekerja lebih keras lagi untuk album lanjutannya, 21st Century Breakdown (2009), yang berisi lagu-lagu bertenaga sekaligus mulai masuk rasa bombastis dan mereka lebih serius dalam bersikap. Ini terlihat dalam lagu "American Eulogy" (Mass Hysteria/Modern World)". "Dunia seperti mau kiamat," kata Armstrong. "Hilang sedikit rasa bermain-main kami, bagian dari Green Day yang saya suka."

Pada tahun 2012, Armstrong yang dikenal memiliki sejarah panjang dengan minuman beralkohol kehilangan kendali. Bahkan saat ia dengan intens menulis dan merekam lagu-lagu untuk album ¡Uno! ¡Dos! ¡Tré!, ia mencampur pil dan alkohol sedemikian rupa sampai ia sendiri bilang ada perasaan saat bangun di pagi hari. Dan walau ia memiliki seorang istri dan dua anak remaja, cara berpikirnya begitu kabur sampai ia tidak merasa takut mati. "Saya sangat egois."

Kini Armstrong menjalani tahun keempatnya bersih dari alkohol dan narkoba. Ia juga mencoba menyingkirkan kecenderungan kariernya yang buruk. Green Day telah menyelesaikan album Revolution Radio, album pertama mereka dalam empat tahun dan keluar pada Oktober lalu. Empat tahun itu berarti waktu istirahat yang paling lama sejak mereka berdiri 28 tahun lalu. Perasaan bugar yang muncul setelah istirahat panjang membuat Armstrong merasa Green Day bukan mobil yang siap rontok setelah beberapa lama di bengkel. "Saya jadi belajar," kata Armstrong di lounge dalam studionya yang baru dibangun di Oakland. "Kita harus mencoba menjadi lebih baik lagi dan lagi. Kami menghentikan kebiasaan (terus tur dan membuat album) karena mendadak kami jadi orang lain… Bahan bakar saya habis. Kami butuh berhenti."

Untuk pertama kalinya dalam 15 tahun, Green Day memiliki album yang murni sebuah album: 12 lagu, tanpa gimmick. "Album ini adalah saya, Billie, dan Tré bermain bersama," kata Dirnt, "sama seperti kami berlatih untuk Kerplunk"—album kedua mereka, rilis pada 1992—"tanpa harus banyak berpikir tentang itu." Green Day menganggap langkah ini seperti kembali ke awal, versi mereka akan All That You Can"t Leave Behind (2000) milik U2. "Sempat muncul percakapan, "Hari ini kita berbuat apa ya?" " kata Armstrong. Dan jawabannya adalah: "Ayo jadi Green Day. Green Day keren!"

Saat ia manggung sambil mabuk berat di festival iHeartRadio pada 21 September 2012 (tak lama setelah ¡Uno! dirilis), Armstrong menghancurkan segalanya. Saat melihat tanda bahwa waktu mereka di atas panggung sudah habis, Armstrong ngamuk dan mengoceh panjang lebar di depan penonton. Mungkin kejadian itu bisa dianggap lucu kalau saja ia tidak kelewatan. "Fuck this shit!" bentaknya. "Saya sudah ada di sini sejak 19-fucking-88. Dan Anda tidak mau kasih saya satu menit lagi? Saya bukan Justin Bieber, you motherfuckers. Anda pasti bercanda." Ini dilanjutkan dengan gitar yang dibanting, dan atas rasa solidaritas, Dirnt juga membanting basnya.

Di luar kondisi Armstrong yang memprihatinkan, mereka setuju bahwa mungkin seharusnya mereka tidak terlibat dalam festival musik pop. Kata Armstrong, "Sekali punk selamanya punk." Ia mengenakan pakaian selayaknya rock dad: celana jins hitam, sepatu Converse hitam, kemeja hitam dan dasi motif polka-dot yang diikat longgar, juga cardigan warna cokelat yang tampak kurang serasi. Di janggutnya mulai tampak rambut berwarna putih, sementara rambut hitam dengan gel dan giginya di bagian depan yang dulu terluka membuat ia tampak muda. Ia selalu terlihat agak gelisah, seperti berjaga-jaga kalau-kalau ada petugas.

"Kadang saya merasa seperti anak berandalan yang entah bagaimana jadi raja sekolah," sambungnya. "Tapi kami menyalahkan diri sendiri karena ada di situasi itu. Toh kami bisa bilang tidak sebelumnya." Ia berhenti sejenak. "Sejujurnya, saya tak ingat satu pun kata yang saya bilang hari itu."

Dirnt setuju dengan apa pun yang dikatakan Armstrong di atas panggung waktu itu. "Tapi yang tidak bisa saya tolerir adalah menyaksikan kemunduran teman saya," kata pemain bas ini. "Saat itu sudah kebablasan. Dan bahkan ia tidak sadar akan kondisinya sendiri. Saat itu yang terpikir adalah, "Kita sudah selesai. Sadarilah itu. Saya tidak bisa bermain dengan kamu sekarang. Kamu harus sembuh." " Armstrong masuk rehabilitasi, dan Dirnt menuliskan sejumlah surat untuk memberi semangat sembari bersikap realistis. "Kalau kita mau melewati ini dan kembali menjadi band, kita harus bisa lebih kuat atau tidak sama sekali," tulisnya.

Untuk kisah selengkapnya silakan baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 139 November 2016.

Editor's Pick

Add a Comment