Kustomfest 2016: Seratus Juta Tenaga Bebal

Bagaimana kultur kustom otomotif dapat memengaruhi sendi kehidupan masyarakat.

Oleh
"Harley-Darsono" beraksi di Kustomfest 2016, Yogyakarta. Rio Tantomo

"Good guy gone to heaven, bad guy ride everywhere."

Bagi dunia ini, agar dapat melewati setiap kehidupan di dalamnya dan pergi dengan kehormatan, kita hanya perlu satu hal untuk diyakini: integritas di atas segalanya. Teguh dan tertawalah di atas kekalahan dan kesalahan diri masing-masing, niscaya itu akan membuat semuanya jadi lebih mudah. Dan ketika urusan seperti itu datang kepada para pengendara, terserah mau mesin atau kayuh, yang kemudian lahir adalah sebuah karakter dari sikap sebagai wujud identitas.

Secara antagonikal, tidak ada bajingan yang lebih keren dibanding para bajingan yang mengendarai sepeda motor dengan kegagahan dan keagungan para penunggang kuda berkepala sapi di era Babilonia. Lengkap dengan pakaian serba kulit serta sederet gantungan metal dan perangai-perangai kasar yang menghuni dari balik karat baut sekrup, tato besi dan ledakan knalpot. Aura keseganannya mungkin setara dengan elegannya mereka para mafia kasino atau Lemmy Kilmister dan orang rock & roll sejenisnya atau bonek sepakbola macam para pemggemar Persipura saat melakoni laga tandang.

Sedangkan secara protagonikal, sedikit, kecuali kerja keras dan dedikasi yang ditekuni demi terbangunnya identitas tersebut. Paling tidak jika diingat bahwa otomotif bukanlah permainan yang murah, baik dari segi biaya maupun penghargaan proses, sehingga hanya itulah yang mesti dituntut tinggi-tinggi dari setiap pemain yang berkecimpung di arenanya. Entah jika kau hanya ingin mengendarainya atau sampai membangunnya dan mengendarainya dengan semangat kehormatan.

BUILD. RIDE. RESPECT.

Begitu bunyi papan penyambut di muka depan Kustomfest 2016, Yogyakarta beberapa waktu lalu. Festival yang diadakan khusus untuk merayakan ide-ide gila yang keluar jika kita konstan mengonsumsi resin bensin dan terobsesi pada pantat knalpot; montoknya, gelegar cemprengnya atau apapun yang dapat membuat jantung meronta seiring menyingkirnya kecoak-kecoak jalanan ketika raungannya menggeber aspal. Knalpot adalah mahkota tersendiri di kancah otomotif. Bertemu kendaraan build-up manapun pasti kau akan memperhatikan terbakarnya cerobong mesin di bokong mereka.

Kustomfest memiliki budaya seninya tersendiri. Tempat di mana para seniman montir dari bengkel di seluruh penjuru Nusantara berhimpun, saling memuji, mengagumi sambil mempertontonkan tahunan kerja keras imajinasi mereka, menjual impian kepada siapapun yang melihatnya dengan batang hidung sendiri. Karena, tentu saja ada banyak keajaiban di sana. Sepeda dan kereta mesin yang didandani dan dibentuk sesuka hati.

Pintu masuk Kustomfest 2016 di Jogja Expo Center. (Rio Tantomo)

Kau tidak perlu berlebihan heran jika suatu saat melihat seekor macan chopper dengan pelana berbentuk granat tangan bertengger di pinggir jalan. Yang seperti itu berderet-deret tersaji di aula mereka, macam-macam. Ada seribu kreasi oto tampil mengilap di Kustomfest. Nama-nama besar yang diobrak-abrik; Harley Davidson, Triumph, VW, Ford, Dodge, Holden, Mustang, Husqvarna, Chevy, Morris, Norton bahkan M-72,motor buatan Soviet yang digunakan militer Merah Rusia berpelesir sore di Berlin pada Perang Dunia Dua, sampai para garis keras Asia yang terus konsisten ber-Honda atau Kawasaki, Suzuki.

Jadi lupakan sejenak motor otomatis operasional harian kalian di rumah. Ini saatnya mengeluarkan akal dari nalar ketika para builder membawa kita ke dalam fantasi mereka atas kendaraan bermotor. Sebagian besarnya bisa dibilang sinting, kalau kata bagus atau keren sudah terlalu biasa untuk mengungkapkan decak kagum. Dan beberapa di antaranya anggap saja absurd, jika nilai jelek atau buruk adalah tentang tingkatan selera diri masing-masing.

Misalnya sebuah BMW Sahara yang disuntik krom secara berlebihan, coba bayangkan, leher stang berikut kaki lampunya dibentuk sedemikian tajamnya namun pendek dan gempal menyerupai paruh gelatik. Ya seperti itu. Ada lagi Datsun warna biru yang dimodifikasi dengan potongan moncong kapal selam dan lonceng gereja di bagian kap. Semua kemungkinan khayalan bisa dibangun nyata oleh festival ini, kumpulan karya cipta yang akan membuat orang terpana untuk sedetik kemudian tersenyum heran karena menatapinya.

Kustomfest 2016 seperti setiap tahun sebelumnya – kali ini gelaran kelima – tentu saja berkembang kemudian menjadi ajang berkumpulnya budaya perkotaan anak muda, dengan digelarnya juga panggung-panggung untuk para pelaku-penggiat elemen penghubung seperti tato, pierce, apparel, diecast, barber, extreme games, makanan, dansa, seni instalasi, gambar, fashion, serta yang sudah pasti menyedot animo terbesar selain suguhan utama otomotif: musik. Gairah urban dari Yogyakarta, pemikiran alternatif yang coba berasimilasi seimbang atau bahkan sampai mendobrak seruak nilai-nilai tua yang masih layak dan tepat sasaran untuk diperbarui.

Di masa sekarang, tidak ada yang lebih menyenangkan dari melihat masyarakat yang bergeliat menyambut perkembangan zaman seraya tetap mengingat, juga menjaga akar mula darimana mereka berasal. Tidak kebablasan, maksudnya. Juga tidak kacamata kuda. Sejak sub-kultur kustom yang terilhami pemberontakan budaya era '50-an di Amerika Serikat terlahir kembali pada awal '90-an dan terus beranak pinak lestari hingga hari ini, semangat yang diusung adalah independensi diri. Itulah intinya dan sudah sepatutnya seperti itu. Jangan cemarkan semangat kemandiriannya dengan pikiran yang tersetir.

Kreasi, inovasi serta ekspresi para greaser bikers atau mod-rockers generasi komputer ini rasanya harus selalu mengingat jelas hal itu. Tanpanya arena kustom ini akan kosong melompong, termasuk nihil dari calon legenda baru. Wacana yang beriringan dengan tema besar Reborn Legend milik Kustomfest 2016, bahwa di perhelatan tahun ini mereka coba melahirkan kembali para idola masa lalu sebagai cerminan sekaligus ladang inspirasi bagi siapapun yang baru memulai dengan melihat jejak telapak para pendahulu. Bukan saja sebagai penerus, tapi juga penentu, kalau bisa. Lagipula, kebebasan merupakan sesuatu yang binasa kecuali kita melakukannya – begitulah bila semboyan kemenangan diucapkan.

Sehingga, tepat pukul dua belas di bawah langit Jogja Expo Center Hall yang mendung pada akhir minggu itu, Kustomfest hari pertama dimulai oleh hadirnya tiga legenda secara bersamaan dalam orbit mereka. Yang pertama adalah "raja" Yogya sendiri, Sri Sultan Hamengkubuwono X yang berkeliling area sambil manggut-manggut mendengarkan orang di sekelilingnya sibuk berbicara menjelaskan hangat-hangat, memperkenalkan ini itu untuk dimangguti lagi sebelum akhirnya mengeluarkan komentar.

"Dengan kreativitas lokal ini kita harus leading menuju dunia global dengan melanjutkan semangat legenda dalam tantangan jaman sekarang. Kustomfest akan menjadi motor penggerak perubahan di Indonesia," ujar Sri Sultan.

Itulah restu sang baginda. Tidak peduli kalimatnya spontan atau hasil geladi semalaman, semesta telah menerimanya, dan tampaklah di wajah semua orang senyum Jawa yang malu-malu manis ketika mendengarnya. Entahlah, mungkin itu berlebihan. Tapi di luar, awan semakin menghitam seakan berat menahan beban perutnya sendiri minta segera dimuntahkan. Pada detik yang sama gerombolan tua bangka – empat puluh tiga tahun hidup dalam rock & roll, God Bless baru memulai sesi pengecekan suara dari panggung utama Kustomfest yang dilapisi aspal kasar lahan parkir.

Suara Achmad Albar yang tengah mencoba nomor "N.A.T.O" bergetar terasa hingga ke dalam aula eksibisi. Kerumunan orang pun otomatis tersedot ke bibir panggung demi menyaksikan dan mengambil gambar Ian Antono yang sedang menyetel pedal efeknya sambil berkacak pinggang ramah merokok di atas panggung. Ini adalah adegan bebas setengah latihan. Siapa pula yang tidak tertarik mendekati mereka, walaupun hanya melongok sekilas, rasanya tidak ada. Kecuali kau adalah seorang pengendara tunggal yang sedang ditolak masuk melalui pintu belakang karena alpa membawa tanda pengenal festival.

Dan adalah dia legenda yang ketiga. Seorang pria tak dikenal bersepatu bot tanpa helm dan jaket kulit yang menggeber gas seperti memberi perintah agar gerbangnya dibuka segera. Teashade berlensa biru metalik melapisi kedua matanya yang beradu kilap dengan karat pada sekujur tubuh motornya, dari tangki bensin hingga jari-jari rodanya.

Tapi ternyata tidak semudah itu. Penjaganya tetap pada prosedur: tanpa ID menyingkir. Apa yang dilakukan orang itu kemudian adalah turun dari tunggangannya dan mendekati si penjaga. Sambil senyum dia memperlihatkan sesuatu yang ditarik dari kantung jaketnya, entah apa itu, mungkin semacam legitimasi perak yang berfungsi sebagai jimat akses seperti halnya irezumi bagi kelompok Yakuza. Yang jelas ampuh. Tidak lama gerbang dibuka dan engkol kuda karatnya dihentakkan, mesin bergemuruh parau corong knalpot, menggelegar diantara vokal percobaan Albar dan intonasi bijak Sri Sultan dari sisi berseberangan.

Begitu berhasil melalui gerbang, pria itu berhenti tepat di sebelah bangkai yang lebih mirip rumah besi hippie melarat dibandingkan sebuah kamper Kombi. Pemandangannya seperti sang hippie melarat itu sendiri yang sedang memarkir kendaraannya di pekarangan rumah. Satu orang mendekat, menengok-nengok, berjongkok melihat-lihat sambil coba berbincang dengan entah karena rasa penasaran kagum atau geli.

"Ini Harley, El Twin. Masih asli semuanya, ndak ada yang aku ubah. Yah, sehat ndak sehat, sih mesinnya. Mau gimana lagi, kelahiran tahun "36, yang namanya penyakit, pasti ada saja. Kalau bodi, sih memang . . . aku tuh makin kotor makin hobi, jadinya sengaja ndak dirawat atau dicat," pria itu ketawa, matanya cembung tato pisau, plat nomornya AA mati tiga tahun."Kalau mas sendiri, numpak motor opo?"

Ya, mentalitas tersebut. Menjadi legenda adalah sesuatu yang diyakini bukan dibebani. Kepercayaan diri. Keberanian. Kebebasan. Kehangatan. Arogansi pada batasnya sebagai lambang kebanggaan. Mungkin bukan untuk orang lain tapi pasti terhadap diri sendiri.

Tidak lama setelah itu kegiatan luar ruangan Kustomfest 2016 lumpuh sudah. Hujan luluh lantak. Memakan korban di panggung musik. Lima band batal tampil termasuk Prison of Blues, psychobilly Temanggung yang baru pulang dari Inggris. Begitupun aksi BMX dan skateboard di lintasan ramp. Juga para pedagang suku cadang yang terpaksa membubarkan lapaknya sementara. Semua orang pun tak punya pilihan selain berlindung merangsek ke dalam Expo di mana serangkaian acara terus berlangsung tanpa gangguan.

Di antaranya, selain kereta-kereta beroda ajaib yang dipajang adalah Kustom Art Island, yaitu pameran kawin silang antara seni rupa dengan otomotif-otomotifan. Raden Salenesh: Animaci milik Heri Dono salah satunya, sebuah instalasi kereta roda malaikat yang dikusiri oleh Raden Saleh sendiri dengan tujuan dunia kosmopolit masa depan. Peserta lainnya, Pintor Sirait yang menampilkan Brise, berupa prasasti mobil balap F-1 dalam keadaan setengah hancur yang dikaitkan dengan pentingnya sebuah ketepatan waktu.

Raden Salenesh karya Heri Dono yang menampilkan figur Raden Saleh mengendarai kereta mesin animisme. (Rio Tantomo)

Kemudian ada kontes cat dan rajah yang merupakan akar dari kultur kustom itu sendiri. Artis seperti Von Dutch dan Sailor Jerry. Ekspresi mereka lewat gambar dan teknik menghias telah menentukan citra dari suatu budaya, baik itu goresan di atap bagasi atau helm atau spakbor, atau kartun permanen yang menusuk di kulit perut. Dunia kustom tidak bisa dilepaskan dari itu, sebagai fashion sekaligus pernyataan sikap. Bersamaan juga dengan musik. Rock & Roll. Etos berpesta senang-senang yang akan membuat beberapa sloki wiski setelah seharian mengelas knalpot terasa lebih nikmat dibanding bersenggama.

Mereka bilang para pengendara tidak lebih buruk dari berandalan yang menampang dengan kendaraan mentereng dan reputasi tengik sebagai bajingan tukang serobot, seakan jalan raya ini milik kakek moyang mereka. Mungkin benar. Dan jika memang seperti itu adanya, biarkan tetap begitu, para bangsat tulen dan kelakuan amoral yang berkendara dengan jari tengah mengacung di jidat. Sebab di situlah letak perbedaannya antara loser, gangster dan rider. Pada akhirnya mereka akan sama bodohnya dengan orang-orang yang menghakimi bahwa semua pengendara memiliki jiwa persis voorijder sewaan yang songong menyebalkan.

Lima jam berikutnya setelah rintik pertama membasahi Kustomfest, hujan mereda. Aktifitas kembali berjalan normal terutama panggung utama yang langsung mendaulat Down For Life naik pentas. Sementara tidak ada yang paling ditunggu publik Yogya selain penampilan sang pemuncak hari pertama, yang terhormat God Bless. Malam itu sudah sepuluh tahun berlalu sejak kelompok gaek tersebut terakhir kali main di kota ini. Sehingga tidak heran jika ribuan orang – mungkin hampir setengah dari pengunjung festival – berdiri menghadap kehadiran lima terhormat berkah Tuhan tersebut.

Dan sudah disinggung tadi, rock & roll dan kustom adalah bensin yang terbakar. Arus semangat juga inti kejiwaan. Persetan lainnya. Mungkin kasarnya seperti ini: Apa yang akan terjadi dengan motornya jika insinyur pembangunnya lebih suka mendengarkan Prince dibanding Jimi Hendrix – ya, mungkin tetap mampu tercipta sesuatu yang menakjubkan, tapi coba ajak touring, minimal Jakarta-Yogya, mengunjungi Kustomfest lewat jalur darat, bisa jadi dia akan segera tobat, pulang di tengah jalan karena sakit-sakitan. Dengan kata lain, secara subyektif, kalau kau lembek, mudah merengek dan termasuk tipe banci penurut, camkan ini: jangan pernah ikut-ikutan main motor, daripada cuma jadi komoditas gegayaan sok macho saja.

God Bless mengakhiri malam pertama Kustomfest dengan semangat macam itu: hitam sampai ke tulang membaja kebebalan. Sorot mata merah Albar mewakilkannya. Juga bandul kepala kambingnya yang terus berayun di lehernya ketika membawakan nomor panjang "Anak Adam" bersama Antono, Fattah, Soesman dan Fajar Satritama, drummer bantuan dari Edane yang solid membentuk ritem prog-rock penuh jebakan di belakangnya. Lalu beracak "Kehidupan," "Musisi," "Bis Kota," "Menjilat Matahari," "Bla Bla Bla," "Semut Hitam" hingga encore garang "Trauma" dimainkan sebagai penuntas pertunjukan. Tujuh puluh tahun mampu melantang lebih dari 10 lagu, itu gila, angkat topi dan hormat, permanen rock & roll.

God Bless saat tampil di Kustomfest 2016. (Rio Tantomo)

Esok siangnya, enam sepeda motor Royal Enfield sedang dipanaskan di area parkir Expo. Masing-masing tipe Classic, Rumbler, Bullet dan Continental dari spesies cafe racer dengan kisaran kapasitas mesin 350 sampai 500 sentimeter kubik buatan India. Sejak mulai diproduksi pada tahun 1893 riwayat panjang motor ini telah mencakupi dua Perang Dunia dan pendakian-pendakian gunung tertinggi di muka bumi selama lebih satu abad.

"Made Like a Gun", begitu bunyi mottonya. Sepeda motor bergaya perang yang cocok untuk mereka para petualang jalanan, pendaki lembah maupun pengebut trek lurus yang menuntut keseimbangan dan kekokohan tunggangannya. Masih tetap mempertahankan karakter klasiknya, Royal Enfield hanya memiliki satu silinder saja pada mesinnya yang membuat mereka berani berseru sebagai motor paling ringan, paling cepat sekaligus juga yang paling bertenaga. Test ride keliling kota Yogya hingga menanjaki area bukit persawahan daerah Candi Ratu Boko telah membuktikan itu semua. Dideru kebut dia akan stabil, dipacu menanjak mesinnya akan mendengus keras seiring kopling yang diputar rendah terus melaju hingga puncak. Body cukup berat, tapi itu bukan masalah selama kau mampu menjaga keharmonisan reliabilitasnya.

Kemudian khusus beradaptasi dengan budaya kustom ini, Royal Enfield menantang tiga builder nasional untuk bebas menginterpretasi ulang produk mereka. Hasilnya adalah kolaborasi seni rancang bangun yang apik dari Smoked Garage Bali, Thrieve Motorcycle dan Baru Motor Sport sebagai bentuk dukungan juga pengukuhan kehadiran mereka di Indonesia. Sebuah langkah yang cukup penting mengingat status populasi motor negeri ini yang terbesar ketiga di dunia.

Enam peserta city ride Royal Enfield. (Rio Tantomo)

Sementara itu hari kedua festival masih juga terkurung hujan. Setelah menyaksikan aksi stunt riders yang berakrobat meliuk-liuk di atas motor oprekan mereka, konsentrasi massa bertumpuk di dalam aula ketika belasan motor dipanggungkan untuk dinilai oleh para builder kaliber internasional seperti Yaniv Evan, Kaichiroh Kurosu atau Yuichi Yoshizawa dan "Wildman" Ishii. Selengkapnya terdapat 109 kontestan bike show dan 21 mobil hot rod yang saling silau berkilauan menggoda untuk kagum dicemburui.

Antusiasme meningkat pesat pada hari terakhir ini. Terlihat dari lahan parkir pengunjung yang penuh sesak oleh jubelan orang-orang yang sibuk mengerubungi setiap display kustom. Di depan chopper dengan tubuh terlilit tali tambang krom bercorak kulit ular derik bernama Black Mamba. Membungkuk menatapi lukisan Punakawan pada sebuah motor coklat stang datar bermesin Honda. Atau berfoto diri dengan satu yang berotot, gempal dan punya ornamen khas jubah Judge Dredd sekaligus menimbulkan fantasi akan tubuh berminyak Sylvester Stallone di karier bintang pornonya, sangat machismo, walaupun agak menggelikan.

Pemandangan gadis pin-up kemudian menetralkan itu. Menjentik nakal meningkahi permainan surf-rock Beertubes dari panggung yang membuat geliat mereka di atas sadel makin tajam bergairah, seksi menakutkan. Tampak juga beberapa rombongan luar kota baru saja mendarat di area festival setelah menempuh satu-dua hari perjalananyang penuh cobaan batu, angin dan cuaca medan tak beraturan. Seorang pengendara asal Bandung yang sampai ke sini menunggang Binter yang telah dimodifikasi menjadi sebentuk renegade merah menuturkan rintangan kesialan yang harus dilaluinya di jalan.

"Semalam knalpot gua lepas di Purwokerto gara-gara nggak lihat ada pohon pohon tumbang di tengah jalan. Kondisi sudah malam juga, hujan pula, pandangan jadi buram. Sampai kejungkir ketabrak tuh batang yang tiga kali lebih gede dari motor gua," katanya sambil memamerkan sederet luka yang membasahi tulang kering kakinya.

Puas sudah menyelidiki setiap inovasi kustom, termasuk kelompok sepeda kayuh dan lowrider, perhatian lalu ditujukan ke area pameran tidak resmi yang luput dari pengamatan mayoritas orang. Adalah lahan Kustom Bike Parking di luar aula yang justru lebih banyak menyimpan imajinasi liar dari komplotan kultur kustom yang lebih gila, keras dan luar nalar lagi di festival ini. Inilah mereka yang telah mampu bertahan dari hantaman bahaya di sepanjang rute alam aspal yang sebenarnya. Para penunggang sejati yang telah diajarkan banyak hal oleh jalanan itu sendiri.

Black Mamba saat dipajang di Kustomfest 2016. (Rio Tantomo)

Berahi otomotif yang tersajikan pun terasa berbeda, karena selain lebih mentah serta berani, juga yang menarik, tentu saja tumpah ruahnya sejumlah torehan pernyataan sikap pada badan motor mereka yang bau dan kotor berkeringat debu hujan. Inilah wilayah pemberontakan, pemurtad, pezalim, penjudi kehidupan, bedebah jalanan paling brutal dengan kuda buas yang diempan rantai dan kawat sebagai bahan pakan. 666 karat besi, mereka berada di luar lingkaran dari tipe pengendara penyewa pengawalan dalam perjalanan.

Jadi, tetap yakini vibrasi yang kau dapatkan, karena energinya tidak pernah berdusta. Ya. Seperti selalu, kata-kata adalah senjata, instrumen paling mandraguna dalam menyampaikan isi kepala. Senyum mengembang saat akhirnya inspeksi dilakukan, membaca sambil menafsirkan sendiri maksud dari pesan-pesan sublim yang mereka guratkan baik itu di atas helm, stang, tangki bensin, mesin, knalpot, pelek dan sadel. Dalam dunia penuh pengakuan seperti kancah otomotif, berbanggalah ketika kau masih bisa menemukan para disiden untuk satu alasan kebahagiaan dan kebebasan.

Kalimat-kalimat ini merupakan simbol keyakinan dan prinsip kebanggaan seorang yang mengendarai motor sebagai jalan kehidupan. Tidak semua motor yang terparkir adalah yang terawat rajin dipoles, tapi juga yang terbusuk dari yang paling busuk, karatan, cuek penuh noda, rusak, kotor dan patah. Berikut beberapa yang menarik pandangan mata: "Words of Painful Respect!", "Kecerdasan Tanpa Etika Tidaklah Elok", "Old Dog Old Machine With Young Blood", "Drunk For the Brave", "Fuck The Rest", "Rebel For Life", "Stay Classy Till Die", "Ride Eat Sleep", "Life Fast", "Napas Tua Tenaga Muda", "Engine Idiot", "Set Me Free", "Rust In Peace".

Juga identitas diri yang ditunjukan melalui baris seperti "Si Bengal", "Mary Jane Therapy", "Hantu Laut", "Buajingan Malang Kota", "Bromocorah", "Keras Kepala", "Babi Ngeride", "Evil Inside", "Begundal Return", "In Search of Nothingness", "New Person With Same Problem", "Ereksi Otak" dan lain-lain yang membuat kau akan bertanya-tanya seperti apa rupa pengendaranya. Hingga bahasa daerah dan humor yang membuat dahi melipat macam "Aku Kudu Piye?", "Harley Darsono", "From Malang City With Markipat", "Asu", "Bergedel Jayadil", "Leak", "Putus Yoben – Dijak Wolen Begah", "Jogja Ojo Didol Dap", "Rojomolo", "Semi Ngiflir", "Guyup Rukun" atau "Remku Di Tangan Tuhan" dan juga yang spiritual macam "Natas, Nitis, Netes" yang berarti Dari Tuhan kita ada, bersama Tuhan kita hidup, bersatu dengan Tuhan kita kembali. Termasuk satu pernyataan paling tegas yang dihadirkan oleh sebuah Scrambler yang spakbor-nya berbunyi: "Ini Bukan Motor Gede Tapi Motor Tua!!!".

Untuk tahun ini penghargaan Lifetime Achievement diberikan kepada Indro, pelawak Warkop DKI karena aktifitas dan dedikasinya terhadap dunia motor Indonesia. "Bagi kami seniman, bernafas saja adalah sebuah karya,"begitu klisenya. Kustomfest ditutup oleh penampilan The Sleting Down dan Ras Muhamad. Serta yang terakhir dan tak ketinggalan, pengumuman lucky draw sebuah motor kustom chopper bernama Kebo Bule rancangan Retro Classic Cycles untuk seorang pengunjung paling beruntung yang telah membeli tiket masuk acara ini yang hanya seharga Rp 50.000.

Pada akhirnya, apapun yang kau kendarai itu tidaklah penting, tapi bagaimana sikap perilaku dalam membangun, mengendarai dan menghormati sejatinya diri kau sendiri dan lalu menghargai sesama, baik itu pengendara lain maupun pejalan kaki biasa, karena memang dari sanalah semangat Kustomfest itu terjadi, berdiri dan lalu berkembang seperti sekarang ini.

Editor's Pick

Add a Comment