Movie Review: The Beatles: Eight Days a Week - The Touring Years

Oleh
The Beatles saat pertama kali mendarat di New York, AS, pada 7 Februari 1964. United Press International

Perkenalan The Beatles bagi penggemar era millenial

Bagi Beatlemania, film The Beatles: Eight Days a Week menjernihkan banyak hal dan menawarkan beberapa pandangan baru. Sebagai band yang seringkali disebut paling populer di seluruh dunia, sudah terlalu banyak buku ditulis, dokumenter dibuat, dan mitos diluruskan. Para penggemar setia pasti tahu seluk beluk perjalanan The Beatles. Meski beranjak dari banyak hal yang sudah luas diketahui, Ron Howard sebagai sutradara menyelami lagi arsip-arsip lama dan menguatkan kisah The Beatles, terutama di era tur.

Pemilihan penekanan masa-masa tur sekaligus puncak kejayaan sebuah band bisa berakhir jadi kisah membosankan yang sudah terus diulang-ulang. Untungnya yang dibicarakan di sini adalah The Beatles, band pertama yang menimbulkan histeria berlebih. Mempopulerkan sebuah gejala bernama superstar, sesuatu yang tidak eksis di masa sebelumnya. Sehingga walaupun penonton masa kini sudah terbiasa dengan sindrom Beatlemania tetap saja dapat tersedot di dalamnya, seakan hidup di masanya dan ikut terharu mendengar pengakuan para saksi mata.

Di era pemujaan berlebih kepada idola seperti sekarang film ini terasa familiar. Histeria anak gadis yang membuat polisi kerepotan, anak-anak band yang beranjak dewasa di jadwal padat tur, penolakan dari kaum konservatif dan semacamnya adalah makanan bagi tabloid gosip setiap tahunnya. Menarik untuk melihat semuanya berakar pada lagu-lagu pop ringan yang diciptakan The Beatles.

Di luar daya tarik The Beatles yang besar, Ron Howard bisa diampuni karena pilihannya untuk membicarakan kejadian-kejadian lain yang juga terjadi di masa kejayaan The Beatles. Bagaimana kaum kulit hitam Amerika Serikat tetap terhubung dengan empat anak kulit putih kelas pekerja dari daratan nun jauh di sana. Bagaimana sebuah konser The Beatles dapat menghancurkan batasan rasial yang melanda sebuah negara. Hal-hal macam ini membuat film jadi lebih sentimentil dan relevan.

Walau begitu tetap saja menonton The Beatles: Eight Days a Week rasanya lebih seperti menonton kolase buku foto ketimbang dokumenter utuh yang mengungkap hal-hal seru di balik kisah kejayaan The Beatles. Belum lagi waktu yang tergolong singkat untuk membicarakan empat tahun membuat kadang-kadang beberapa hal diceritakan ringkas saja. Bagi yang tertarik kedalaman mungkin akan sulit menemukannya.

Setidaknya penjelasan hal-hal yang mendasar seperti penggambaran betapa suara teriakan para gadis remaja mengalahkan teknologi suara di masanya (dan kemudian merevolusi pertunjukan panggung selamanya), sentuhan kecil tentang rekaman radio pertama di Amerika Serikat yang memutar lagu The Beatles, melihat transformasi John Lennon dan Paul McCartney dari dua sahabat menjadi sosok besar yang punya ego masing-masing. Cerita macam ini cukup membukakan mata, terutama bagi yang selama ini tidak terlalu membaca sejarah The Beatles.

Sebagai penutup, Ron Howard menyajikan penampilan legendaris The Beatles di Shea Stadium, New York selama setengah jam dalam format video 4k. Dari dekat bisa disaksikan betapa gilanya Beatlemania di waktu itu, melihat bagaimana pengeras suara tak lagi berguna karena pada akhirnya The Beatles bukan hanya sebuah band, tapi juga idola yang melebihi apapun.

Pada akhirnya, The Beatles: Eight Days a Week cukup bagus untuk jadi perkenalan bagi Beatlemania era milenial. Silakan bersenandung dan menggoyangkan kepala karena film ini layak dinikmati dengan cara tersebut.

Editor's Pick

Add a Comment