Movie Review: Cado Cado The Movie

Oleh
Salah satu adegan di film 'Cado Cado The Movie'. Facebook/Cado Cado The Movie

Kisah persahabatan dan romansa dibalut latar belakang kehidupan kedokteran

Sebagai film yang mengklaim sebagai film Indonesia pertama yang mengangkat kisah kedokteran, Cado Cado The Movie cukup percaya diri dengan statusnya. Di awal film pembuatnya malah mengambil kesempatan untuk menampilkan bagaimana selama ini penggambaran medis tidak akurat dan tentunya menggiring ke pernyataan kalau film ini akan melakukannya dengan baik. Untungnya dengan materi yang ditulis langsung oleh dokter, Ifa Isfansyah punya dasar realita yang kuat. Tapi di luar hal tersebut, cara Ifa menyuguhkan cerita yang membuat film ini menghibur.

Cado Cado The Movie dimulai sebagai komedi tentang orang-orang aneh, kemudian berlanjut menjadi drama percintaan segitiga dan berakhir sebagai sesuatu yang sama sekali berbeda. Ifa Isfansyah sebagai sutradara bisa mengubah materi yang harusnya jatuh ke sindrom Raditya Dika-isme menjadi sebuah cerita manis yang enak diikuti. Kisah kehidupan calon dokter, masa magang di rumah sakit, persahabatan dengan orang-orang baru dan juga lama, semuanya dikemas sesuai porsinya. Penonton dibawa tertawa dan bersedih bersama para karakternya.

Adipati Dolken dan Tika Bravani bersinar sebagai dua sahabat yang saling memendam perasaan tapi juga bersaing untuk menjadi yang terbaik di angkatannya. Keduanya luwes, tidak berlebihan, dan tahu kapan harus menonjolkan kemampuan berakting drama maupun komedi. Kimiawi keduanya juga cukup menarik, walau tak pernah secara eksplisit ditampilkan, penonton tahu keduanya punya sesuatu yang disimpan. Ali Mensan yang diposisikan sebagai sidekick juga mudah diberi simpati, karakternya lucu dan tidak menyebalkan. Aurelie Moremans yang berperan sebagai penggoda juga punya momen-momen baik yang pantas diingat.

Tentu saja sangat perlu membahas penggambaran praktik kedokteran di film ini. Kalau persahabatan dijadikan landasan untuk komedi dan drama, pergulatan seorang anak manusia memikul tanggung jawab baru menyelamatkan orang menjadi tekanan dramatik yang menarik dieksplorasi. Ifa menghadirkan adegan operasi yang membuat berdebar, memperlihatkan bagaimana tekan yang dialami setiap orang yang menjalaninya dengan sepantasnya, kehidupan rumah sakit yang tak terduga dan problematikanya terlihat natural. Walau pasti sebagian besar penonton awam, setidaknya Ifa secara adil menampilkan kehidupan kedokteran yang manusiawi.

Catatan lain yang perlu disampaikan adalah penggunaan faktor-faktor lain di film yang pantas mendapatkan pujian. Mulai dari musiknya yang mengiringi dengan nyaman, penggunaan lagu Naif yang tepat, lalu kehadiran cameo dari Ikke Nurjanah sampai Torro Margen, belum lagi practical effect yang menyodorkan horor kecil kedokteran. Karena hal-hal kecil tersebut digarap dengan baik, film ini patut mendapat salut.

Buku Catatan Dodol Calon Dokter awalnya beredar di era di mana buku-buku curhat yang ditulis dengan buruk sedang menjadi tren penerbitan. Syukurnya di tangan orang yang tepat, film ini bisa dinikmati sebagai hiburan sekaligus pengamatan sekilas tentang kehidupan kedokteran. Sebuah pengalaman yang menyenangkan dan mendebarkan.

Editor's Pick

Add a Comment