Soundrenaline 2016; Gagasan Bersejarah Kancah Musik Indonesia

Resensi festival dari finalis Rolling Stone Indonesia Writing Competition 2016

Oleh
Scaller saat tampil di Soundrenaline 2016. Adam Muslihat Santika Putra

Banyaknya festival musik yang digelar tidak menggeser prestise Soundrenaline sebagai festival terbesar sekaligus terlama di Indonesia. Mampu menyuguhkan konsep-konsep yang berbeda, membuat penikmat maupun pelaku musik di Indonesia setuju bahwa Soundrenaline merupakan festival yang berhasil bertahan serta konsisten dalam upaya memasyarakatkan musik, khususnya di Indonesia.

Menjadi tahun ke-14, gelaran kali ini mampu memuaskan para penikmat musik yang hadir pada Sabtu (3/9) dan Minggu (4/9) di Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana, Bali. Dengan mengusung tema Louder Than Ever, Soundrenaline 2016 menghadirkan daftar penampil yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Jika biasanya Slank, GIGI, dan Dewa 19 menjadi langganan, pada tahun ini mereka tidak ikut andil. Inilah mengapa Soundrenaline 2016 bisa disebut sebagai hajatan besar yang layak dinikmati oleh semua penikmat musik dari berbagai genre.

Selain menghadirkan musisi mainstream, tahun ini Soundrenaline menghadirkan musisi sidestream dengan jumlah yang cukup banyak. Sebut saja Barasuara, Elephant Kind, Scaller, KimoKal, Kelompok Penerbang Roket, hingga DDHEAR. Dengan segmentasi musik yang semakin beragam, membuat pendengar musik di Indonesia memiliki banyak pilihan atas musik yang ingin mereka dengarkan. Soundrenaline 2016 hadir sebagai medium bagi pendengar tersebut untuk menyaksikan dan merasakan bagaimana atmosfer yang berbeda saat hadir di lokasi pertunjukan untuk menikmati musik-musik pilihan mereka.

Menggunakan Garuda Wisnu Kencana sebagai lokasi pertunjukan, menjadi pilihan tepat yang membuat festival ini terasa lebih eksotis. Dengan tebing-tebing tingginya itu, Garuda Wisnu Kencana menciptakan kesan magis saat lantunan musik dari musisi-musisi yang hadir dimainkan. Dari segi kenyamanan, luasnya Garuda Wisnu Kencana mampu mengakomodir kebutuhan para penonton untuk bisa menyaksikan pertunjukan musik, menikmati makanan yang beragam, dan melakukan kegiatan kreatif yang bermacam-macam. Ini membuat Soundrenaline 2016 terasa sangat lengkap. Para pengunjung disuguhi segala sesuatu yang mereka butuhkan.

Seperti tahun sebelumnya, Soundrenaline kali ini jugadipecah menjadi beberapa titik, antara lain A Stage, Louder Than Ever stage, GoAhead stage, dan Amphitheater stage. Ini bertujuan agar pengunjung bisa terbagi dengan rata sesuai dengan kancah musiknya masing-masing. Diluar aktifitas musik, banyaknya kolektif yang bergerak dibidang kreatif membuat gelaran ini menjadi semakin artistik. Salah satunya yaitu Grafis Huru Hara yang membuat GoAhead stage terlihat lebih berwarna dengan menambahkan seni mural yang digunakan sebagai dekorasi panggung. Selain itu, kolaborasi antara Local Brand dengan Soundrenaline menghadirkan buah tangan yang wajib dimiliki oleh para pengunjung. Dengan stan yang dibuat khusus untuk merchandise resmi, pengunjung bisa mendapatkan oleh-oleh berupa kaos dan jaket dengan harga yang terjangkau.

Penampilan The Hydrant yang mengusung musik rockabilly menjadikan pemanasan yang cukup bagi penonton pada hari pertama di GoAhead stage. Dengan aksi yang enerjik dan atraktif, The Hydrant mampu mencuri atensi bagi siapapun yang menyaksikannya. Menyandang status tuan rumah, mereka cukup membuat bangga masyarakat Bali. Pasalnya, sebagai unit rockabilly, The Hydrant masih eksis dengan jenis musik yang tidak banyak dibawakan bahkan didengarkan di Indonesia.

Selain itu, Zat Kimia yang juga berasal dari Bali, menjadi buah bibir pada hari pertama. Tampil sebagai pembuka di Amphitheater stage, Zat Kimia mampu membius penontonnya dengan suguhan musik-musik rock alternatif yang tetap nyaman untuk dinikmati. Menutup sore dengan single "Dalam Diam," mereka hadir sebagai grup musik yang layak untuk diperhitungkan.

Zat Kimia berhasil membius penonton yang hadir di Amphitheater Stage. (Adam Muslihat S.P.)

Berdiri sebagai panggung utama dan terbesar, AStage menjadi tempat dimana konsentrasi massa berlangsung. Selain area penonton yang lebih luas dari panggung lainnya, AStage dibuat sebagai tempat dimana musisi yang memiliki pendengar yang banyak bermain. NAIF, Maliq & D"Essentials, Sheila on 7, The Temper Trap, bahkan Simple Plan, mampu menyedot pengunjung untuk berkumpul dan memenuhi bibir panggung di wilayah AStage. Seperti NAIF, selalu memukau penontonnya dengan aksi-aksi tidak terduga dari David yang seringkali nyeleneh. Saat membawakan "Dia Adalah Pusaka Sejuta Umat Manusia Yang Ada Di Seluruh Dunia," dengan asal David bernyanyi tanpa kata-kata yang jelas saat lirik yang sama dengan judul lagu tersebut dinyanyikan. Atau saat Jarwo memainkan bagian melodinya pada lagu yang sama, David membuat gitarnya sebagai tunggangan bak kuda balap yang ia kendarai.

Disamping lagu-lagu mereka yang familier, aksi panggung NAIF menjadi bumbu yang membuat mereka selalu layak untuk disaksikan. Sementara itu, di panggung Louder Than Ever, Rolling Stone Indonesia menilai The S.I.G.I.T mengalami banyak kendala pada segi teknis. Seperti suara gitar Rekti yang tiba-tiba terdengar sangat keras lalu menghilang pada bagian melodi lagu "Detourn", atau suara bass Adit yang tidak terlalu terdengar sepanjang permainan mereka berlangsung. Hal ini sangat disayangkan. Padahal, The S.I.G.I.T adalah salah satu penampil yang ditunggu-tunggu oleh pengunjung dengan musik khas mereka yang selalu mengingatkan kita pada era awal Black Sabbath atau Led Zeppelin. Beruntung, permainan synthesizer dari Farri dan gebukan drum Acil membuat penampilan mereka selalu terlihat megah.

Rekti dari The SIGIT. (Adam Muslihat S.P.)

Simple Plan didaulat menjadi penutup hari pertama gelaran Soundrenaline 2016. Dengan basis penggemar yang sangat besar, luasnya area penonton AStage seolah tidak cukup untuk menampung gairah mereka untuk menyaksikan Pierre dkk. Saat "Perfect" dibawakan, semua orang seakan tersihir untuk ikut bernyanyi. Malam itu, Simple Plan membawakan set list yang cukup panjang. Hadirnya mereka menjadi pemicu para penggemarnya untuk hadir memenuhi hari pertama Soundrenaline 2016. Dilihat dari kacamata Rolling Stone Indonesia, pengunjung yang datang saat hari kedua tidak lebih banyak daripada hari sebelumnya. Padahal, jika ditengok dari segi performers, gelaran hari kedua dipenuhi oleh musisi yang lebih beragam dan cukup terkenal di kalangan penikmat musik Indonesia.

Terlepas dari Bloc Party dan The Temper Trap, musisi nasional yang meramaikan hari kedua cukup dinanti-nanti oleh para pengunjung, seperti Efek Rumah Kaca (ERK), Scaller, Kelompok Penerbang Roket, Barasuara, Sheila on 7, Kotak, Seringai, hingga Tulus. Ini membuktikan bahwa Simple Plan mampu menarik perhatian pengunjung untuk beramai-ramai menyaksikan penampilan mereka pada hari pertama.

Saat sore menjelang pada hari kedua, GoAhead stage seolah menjadi titik temu pengunjung. Bagaimana tidak, Efek Rumah Kaca akan memanjakan para penggemarnya yang sudah rindu akan penampilan mereka. Membuka set dengan "Sebelah Mata," membuat penonton kompak bernyanyi bersama. Vokal Adrian Yunan yang memimpin ERK, tidak mengurangi esensi dari kesakralan lagu tersebut. Kejutan datang saat tiba-tiba Cholil naik keatas panggung. Membuat penonton heran akan kehadirannya. Ini menjadi pentas perdananya bersama ERK sejak Cholil terbang menuju Amerika Serikat pada Maret lalu. Dimulai dengan lantunan "Putih" yang membius penonton dengan imajinya tentang kematian serta kehidupan, lalu "Kuning" dan "Biru" yang datang dari album Sinestesia juga turut dibawakan.

Disela-sela penampilannya, Cholil melontarkan sindiran halus terhadap isu mengenai lingkungan yang sedang hangat diperbincangan di Bali, lalu dijelang oleh tembang "Di Udara." "Lagu ini ForBali, supaya terus hidup, nggak mati-mati," ujar Cholil. Menurut Rolling Stone Indonesia, ini adalah langkah cerdas seorang musisi mengungkapkan rasa pedulinya terhadap maraknya penolakan reklamasi teluk Benoa. Setali tiga uang, "Di Udara" seolah menjadi senjata ampuh yang dilancarkan melalui susunan nada-nada yang diciptakan oleh ERK. Sedangkan, "Desember" selalu punya tempat tersendiri di hati para penggemar. Bagai sebuah anthem, "Desember" adalah suatu kewajiban pada setiap konser ERK. Ditutup dengan single terbarunya, "Merdeka," ERK meninggalkan ingatan yang dalam bagi para pengunjung yang menyaksikannya.

Di lain tempat, Kelompok Penerbang Roket dan The Adams mendapatkan jatah untuk mengisi AStage. Ini agak mengherankan, mengingat, menurut Rolling Stone Indonesia, Kelompok Penerbang Roket akan lebih cocok bermain di Louder Than Ever stage. Sedangkan GoAhead stage akan menjadi tempat yang tepat untuk The Adams. Walaupun begitu, penonton tidak terlalu menghiraukan hal tersebut. Penampilan apik mereka tetap mengesankan dan tak luput dari pujian. Sedangkan di Louder Than Ever stage Barasuara selalu tampil dengan kemegahannya tersendiri. Menjadi penampilan perdananya, Barasuara seolah ingin membuktikan bahwa mereka layak untuk unjuk gigi di festival sekaliber Soundrenaline.

Tata panggung dengan visual, sound dan lighting yang mayestik, menambah kemeriahaan penampilan mereka. "Tarintih" menjadi pembuka yang tepat untuk membakar semangat penonton. Disambung dengan "Sendu Melagu", "Hagia", "Bahas Bahasa", dan "Menunggang Badai," mereka selalu berhasil memancarkan energi yang besar kepada setiap pasang mata yang menyaksikannya. Sangat menarik, dimana setelah "Tarintih" dimainkan, terlihat senar gitar Iga Massardi putus! Iamemang selalu berapi-api. Dengan tatapan tajamnya, dia memimpin Barasuara untuk terus menyulut penonton agar tetap menyala.

Iga Massardi dari Barasuara. (Adam Muslihat S.P.)

Membawakan single teranyarnya, Barasuara turut serta membawa additional player untuk brass section. Animo penonton yang besar terhadap mereka, membuat "Samara" sudah familier di telinga pendengar. Menutup malam dengan "Api dan Lentera," Barasuara semakin meledak. Malam itu, menjadi malam paling panas di Louder Than Ever stage."Sebagai anak band, menjadi sebuah mimpi jadi kenyataan saat Anda bermain di Soundrenaline," ucap Iga. Barasuara sukses membara dengan menyuarakan semangat yang lantang di Garuda Wisnu Kencana.

Dari sekian banyak penampilan hebat, Rolling Stone Indonesia menyimpulkan bahwa Soundrenaline 2016 berhasil menjadi festival yang mampu merangkul seluruh musisi dan pendengar dari berbagai genre. Publik yang memadati rangkaian dua hari festival ini setidaknya menjadi bukti bahwa Soundrenaline 2016 merupakan acara yang ditunggu-tunggu oleh khalayak ramai. Meski banyak jadwal yang tidak sesuai dengan susunan acara, namun nampaknya ini bukan suatu masalah yang besar. Penonton dengan sabar menunggu untuk menyaksikan musisi yang mereka nanti-nanti. Selain itu, banyaknya musisi baru yang sedang naik daun dari berbagai kancah musik, sedikit menghilangkan anggapan bahwa Soundrenaline merupakan festival musik rock.

Imaji masyarakat tentang Soundrenaline akan mengalami pergeseran, mengingat gelaran tahun 2016 menjadi titik balik dimana festival ini mampu menjadi tuan rumah bagi berbagai kalangan musik. Rolling Stone Indonesia melihat ini sebagai contoh festival musik yang seharusnya diikuti dari segi misi; memasyarakatkan musik. Pada akhirnya, cerita dari tahun ke tahun tentang Soundrenaline selalu membuahkan ingatan yang manis. Tidak terkecuali tahun ini, sebuah sejarah besar telah tercipta.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Mundur dari Payung Teduh, Is: “Saya Enggak Egois”
  2. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  3. Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak
  4. 10 Destinasi Wisata Musik Legendaris di Inggris
  5. Perpaduan Gairah Musik dan Skateboard di Volcom: Road to Cakrawala

Add a Comment