Raih Tiga Nominasi AMI Awards 2016, Dwiki Dharmawan: "Saya Akan Utamakan Kepentingan AMI"

Ketua Umum Yayasan Anugerah Musik Indonesia yang baru menjawab tantangan yang bakal dihadapi penghargaan musik tertinggi di tanah air

Oleh
Ketua Umum Dwiki Dharmawan dan General Manager Satria 'Aden' Dharma (tengah) berpose dengan para pengurus Yayasan Anugerah Musik Indonesia. Wendi Putranto

Terhitung sejak Mei lalu, salah seorang personel grup jazz legendaris Krakatau, Dwiki Dharmawan, resmi dipilih sebagai Ketua Umum Yayasan AMI untuk periode 2016-2021. Dwiki menggantikan Ketua Umum Yayasan AMI sebelumnya, Tantowi Yahya, yang menjabat selama dua periode pada 2006-2011 dan 2012-2016.

Dalam kepemimpinan Dwiki kepengurusan AMI yang baru mengalami perombakan di mana salah satunya adalah anggota-anggota baru di divisi Board of Directors. AMI juga melakukan adaptasi terhadap teknologi demi memperlancar proses pendaftaran karya ataupun pemungutan suara para nomine.

Selain itu Dwiki pun memiliki keinginan untuk terus melebarkan sayap AMI Awards agar tak selalu berpusat di Ibu Kota. "Setelah saya survei, masyarakat merasa AMI Awards itu hanya acara eksklusif untuk orang-orang di Jakarta. Saya berharap Road to AMI Awards bisa digelar di kota mana pun agar semua masyarakat bisa merasakan demamnya dan memiliki event ini setiap tahunnya," ucap Dwiki saat menjalani jumpa pers di Hard Rock Café, Jakarta, pada Juni lalu.

Berselang lebih kurang tiga bulan setelah Dwiki diangkat menjadi Ketua Yayasan, AMI Awards 2016 sudah siap diselenggarakan pada 28 September mendatang di Ecovention Ancol, Jakarta, dan bakal disiarkan langsung lewat stasiun televisi RCTI. Belum lama ini Rolling Stone Indonesia berkesempatan bertemu dengan Dwiki Dharmawan dan General Manager Yayasan AMI, Satria "Aden" Dharma, untuk membahas berbagai program kerja kepemimpinannya serta kejanggalan-kejanggalan yang terjadi di AMI Awards tahun ini.

Ada beberapa hal baru di bawah kepemimpinan Dwiki Darmawan di Yayasan AMI. Salah satunya adalah musisi dapat mendaftarkan karyanya lewat situs resmi AMI Awards, amiawards.net.

Dwiki Dharmawan [DD]: Betul. Jadi salah satu yang kami benahi di kepengurusan ini memang tentunya sistem. Sistem yang harus lebih mudah diakses dan mudah secara teknologi juga. Salah satunya adalah sistem pendaftaran. Sistem pendaftaran pada kepengurusan ini walaupun hanya berselang [saya baru] diangkat tiga bulan sebelum diadakannya AMI Awards 2016, sudah mulai dipraktekan register online. Sehingga para peserta bisa mendaftarkan karya produksinya melalui online, semua bisa diunggah melalui online di www.amiawards.net. Lalu yang kedua untuk anggota biasa dan anggota suara yang merupakan voting members dari AMI, juga diberi kemudahan untuk vote dengan cara kami berikan link dan memberikan mobile application. Dengan adanya mobile app ini sehingga para voting members, di tengah-tengah kesibukannya, bisa melakukan voting secara mencicil di mana saja dia sedang berada. Karena kami tahu para members ini juga orang-orang sibuk yang sedikit sulit untuk meluangkan waktunya untuk duduk berjam-jam untuk menominasikan sekian banyak sekali peserta yang ada. Dengan adanya register online hasilnya adalah para peserta terutama yang dari indie, hadir lebih banyak lagi. Dari tahun lalu entry AMI Awards itu sekitar 450 karya produksi, konon tahun ini menjadi lebih kurang 770 karya produksi. Di samping itu kami melakukan perbaikan kembali dari segi member di mana ditambahnya voting members baru yang lebih aktif. Artinya beberapa atau banyak voting members belakangan ini yang kurang aktif, kami gantikan dengan yang baru. Sehingga menambah kualitas untuk voting-nya tersebut.

Ada satu lagi hal baru yaitu Road to AMI Awards. Bagaimana prosesnya?

DD: Road to AMI Awards memang kami mencanangkannya baru 2017, karena kalau kemarin dalam hitungan tiga bulan memang impossible dilakukan. Tapi kami sudah dengungkan dari sekarang di mana setelah ini begitu sesudah AMI Awards 2016 tidak lama kemudian kami sudah melakukan Road to AMI Awards 2017. Dan inginnya mencakup di daerah-daerah Indonesia [lainnya], tidak hanya di ibu kota. Jadi ada rasa memiliki dari seluruh masyarakat Indonesia terhadap AMI Awards ini.

Apa saja kegiatan di dalam Road to AMI Awards?

DD: Kegiatannya tentu ada showcase, ada semacam talk show, dan juga ada semacam sosialisasi untuk pengenalan misalnya hak cipta, hak atas kekayaan intelektual, mengenai AMI ataupun mengenai membership AMI-nya sendiri. Tentunya Road to AMI Awards 2017 bakal menghibur masyarakat dengan diisi oleh para pemenang AMI di 2016. Lalu bakal ada pula winner concert. Lalu nanti kalau sudah ada para nominee-nya saat Road to AMI Awards 2017, akan diadakan nominee concert yang diadakan lebih awal dan akan ada roadshow juga untuk para nominee. Kami rencanakan seperti itu sehingga lebih hadir di tengah masyarakat, AMI tidak hanya setahun sekali, tapi sepanjang tahun terdengar dan hadir di tengah masyarakat. Karena pada dasarnya AMI Awards ini bekerja sepanjang tahun.

Ada beberapa kejanggalan dalam kategorisasi tahun ini, misalnya di kategori Produser Album Rekaman Terbaik yang ditulis adalah nama label rekamannya. Apa pertimbangan AMI tidak mencantumkan nama produsernya sendiri?

DD: Sebenarnya itu dari ketidaklengkapan data yang masuk. Tapi bagi yang sudah masuk saya ada koreksi misalnya Anto Hoed. Dia sebagai produser tentu namanya yang ditulis. Nah, biasanya AMI menerima itu tergantung dari kelengkapan data yang kami terima. Mungkin general manager bisa lebih menjelaskan lagi.

Aden: Mungkin juga kalau ada nama labelnya, itu karena misalnya sama seperti kasus saya dulu di mana saya bekerja di Sony Music [Entertainment]. Saya bekerja untuk perusahaan tersebut, dan saya memproduseri album tersebut. Sehingga memang nanti yang ditulis produsernya adalah labelnya. Atau nama saya lalu labelnya. Nah, seringkali kami tuh nggak dapat datanya si perorangannya ini siapa. Sehingga kami cantumkan nama labelnya. Oleh karena itu kami minta untuk mereka yang mendaftarkan karyanya tolong kasih ke kami data yang selengkap-lengkapnya. Untuk menghindari hal-hal seperti ini. Tapi sekali lagi kenapa ada labelnya di situ, karena memang orang A&R-nya di situ yang memproduseri lagu atau album tersebut.

Ada satu lagi kejanggalan di mana band pop punk asal Surabaya, The Flins Tone, ternyata masuk ke dalam kategori Produksi Metal Terbaik.

A: Untuk kategorisasi, sekali lagi kami sebagai [pihak] AMI-nya sendiri tidak turut menentukan. Tapi yang menentukan adalah anggota sidang yang terdiri dari expert-expert musik. Memang ada beberapa kasus misalnya Endank Soekamti, tapi untuk satu particular lagu, mereka itu memang [memainkan] reggae. Sehingga yang dinilai pada saat itu adalah lagu tersebut dan masuk ke dalam kategori reggae. Nah, mungkin kasus yang tadi itu [The Flins Tone], lagu yang dimaksud memang dapat dikategorikan masuk ke dalam metal.

Selain menjadi Ketua Umum Yayasan AMI, Anda juga meraih nominasi untuk tiga kategori penghargaan di AMI Awards 2016. Apakah menurut Anda ini tidak memicu terjadinya konflik kepentingan (conflict of interest)?

A: Mungkin perlu diketahui bahwa mas Dwiki itu baru diangkat tiga bulan yang lalu sebagai ketua umum. Karya-karya yang masuk ke kami itu jauh sebelum mas Dwiki diangkat menjadi ketua umum. Sehingga entry tersebut diproses, sebagaimana layaknya sebuah produk saja, tanpa melihat dia sebagai siapa atau sebagai apa pun di sini. Kemudian kebetulan setelah ditabulasi, itu (karya Dwiki) memang dapat vote yang banyak. Karena tidak bisa dipungkiri karya itu memang cukup unggul di kategorinya. Habis itu tiga bulan lalu diangkat lah mas Dwiki menjadi ketua umum. Sempat ada pembicaraan, "bagaimana nih?" Oke, sekarang kami lihat secara peraturannya dulu. Apakah ada peraturan di mana menyebutkan kalau menjadi ketua umum itu tidak boleh ada karya produksinya yang masuk? Kami lihat tidak ada, karena yang menjadi aturan itu adalah harus warga negara Indonesia, musisi yang berkewarganegaraan Indonesia itu berhak memasukan karyanya pada periode tertentu. Untuk menjelaskan ini ke 120 juta orang memang tidak bisa, bahwa secara aturan tidak ada masalah, secara tabulasi tidak ada campur tangan ketua umum dan lain-lain. Saya memberi tahu kepada Anda seperti ini bisa saja. Tapi khalayak luas, mereka tidak peduli. Mereka Cuma lihat face value saja. Mereka melihat "ketua umum menang", tanpa melihat baru tiga bulan diangkat dan alasan lain. Sehingga memang ini menjadi satu pertimbangan. Kalau misalnya dari mas Dwiki memutuskan untuk mundur, itu merupakan satu tindakan yang sangat legowo. Namun di sisi lain adalah kita mengkebiri karya orang. Ini yang memang menjadi dilema di mana kembali lagi ini harus dibicarakan. Tapi sekali lagi secara peraturan sama sekali tidak melanggar apa pun itu.

DD: Pada dasarnya saya masih aktif berkarya, terutama di dunia jazz dan world music. Di mana saya masih sangat produktif. Sebenarnya album ini merupakan rilisan label luar yaitu MoonJune Records yang dirilis di Indonesia oleh label indie Demajors. Jadi Demajors sudah memasukan album ini jauh-jauh hari sebelum saya menjadi ketua. Tapi saya akan melihat baik buruknya, yang penting segala sesuatu yang baik buat AMI. Saya akan utamakan kepentingan AMI. Tetapi di sisi lain kami juga belajar. Saya menghargai apresiasinya. Tantowi Yahya juga dulu dinominasikan di musik country karena dia aktif di situ. Tapi karena nggak ada lawannya, nggak ada nomine lain, jadi kategori itu dihapus. Kalau jazz ini kan karya produksinya banyak sekali dan cukup menggembirakan. Saya lihat ini satu hal yang unik dan nanti pada waktunya coba kita sikapi seperti apa yang terbaik.

Kini divisi Board of Directors Yayasan AMI dihuni oleh orang-orang baru. Apa pertimbangan Yayasan AMI dalam pemilihan anggota BOD?

DD: Ya, memang dalam sebuah kepengurusan sudah layak dan biasa, mengganti kepengurusannya menjadi lebih baru. Tapi kami juga tetap mengangkat, misalnya BOD yang lama, Tantowi Yahya, kami angkat menjadi board of advisor sekarang. Jadi dewan penasehat. BOD diperlukan dengan mewakili stake holder yang ada di dunia musik Indonesia, terutama adalah para founder. Di mana founder-nya adalah terdiri dari ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia), PAPPRI (Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia), KCI (Karya Cipta Indonesia), dan perseorangan. Kami coba memenuhi unsur itu lengkap ada dari produsernya major label, produsernya indie label, ada dari artis atau pelakunya, seperti Once Mekel sebagai penyanyi, juga dian Hadi Pranowo sebagai penata musik atau produser musik. Ada pula beberapa yang mewakili ASIRI misalnya Toto Widjojo dan Iman Sastrosatomo. Sehingga lengkap menjadi penyeimbang dan aktif memberikan masukan-masukan.

Belakangan ini tidak bisa dipungkiri bahwa banyak orang yang skeptis dengan AMI Awards karena dalam beberapa tahun belakangan selalu terjadi "kesalahan". Apa yang Anda harapkan sebagai ketua Yayasan AMI?

DD: Ya, AMI terus melakukan pembenahan dan sangat terbuka menerima masukan. Seperti tadi sebelumnya kami mengadakan obrol-obrol santai dengan pers atau media. Saya rasa setiap ada kritik itu karena semuanya cinta dengan AMI, karena merasa perlu adanya, "ini loh sebuah lembaga awarding musik di Indonesia." Kalau orang nggak melakukan kritik berarti sudah nggak peduli, kan? Lebih bagus kritik tapi bukan skeptik. Jadi saya rasa itu kritik akan membangun. Salah satu yang kami [fokus] perbaiki adalah kualitias dari members. Artinya kualitas itu ada dua, keaktifan dan kualifikasi keterlibatannya di dalam dunia musik. Apakah dia pengamat, apakah dia akademisi musik, apakah dia orang industri musik, apakah dia penggemar musik atau dia pelaku musik. Kualifikasi member baik biasa maupun suara ini kita rekapitulasi terus, sehingga member yang tidak terlalu aktif kami geser oleh member baru yang lebih berkualifikasi. Karena ini akan menghasilkan vote yang lebih berkualitas.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  2. Narasi Musik Metal Indonesia di Kancah Dunia
  3. Killing Me Inside Kolaborasi dengan Aiu eks-Garasi, Rilis Single Baru “Fractured”
  4. Harry Styles: Superstar Pop Dunia
  5. 10 Film Indonesia Terbaik 2016

Add a Comment