Movie Review: Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1

Oleh
Vino G. Bastian sebagai Kasino, Tora Sudiro sebagai Indro dan Abimana Aryasatya sebagai Dono di film 'Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1.' Falcon Pictures

Penghormatan bagi salah satu grup komedi ternama yang gagal karena usaha untuk melebih-lebihkan peninggalan yang diberikan

Jujur saja, cukup banyak film buruk yang pernah dibuat oleh Warkop DKI dulu. Sebagian besar film Warkop DKI yang generik khususnya dirilis di dekade '90-an. Sulit dipercaya film-film tersebut dibuat oleh orang-orang yang bisa dibilang terpintar di dunia komedi Indonesia. Tapi rasanya lebih menyedihkan lagi melihat Indro sampai harus merendahkan dirinya di Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1. Kepolosan, kenakalan, nasib trio Warkop DKI yang sial tapi berakhir beruntung dan banyak lagi lainnya yang menjadi andalan hilang begitu saja di film ini.

Ada yang bilang komedi adalah persoalan referensi, maka sulit menilai sebuah komedi dapat digolongkan baik atau tidak. Seringkali pembicaraan tentang komedi adalah lucu atau tidak lucu. Sayangnya kelucuan itu relatif dan tak dapat ditakar. Di lain pihak, teknik penyampaian dapat dibahas dan dibedah; maka itulah yang akan dilakukan di sini.

Anggy Umbara, Benedion Rajagukguk, dan Andi Awwe Wijaya adalah orang-orang yang bertanggung jawab untuk film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 sebagai sebuah penghormatan (tribute). Pendekatan yang mereka pilih adalah referensi candaan. Ketika pertama kali trailer-nya beredar, penonton diajak untuk mengingat kembali judul-judul film ikonik yang pernah Warkop DKI buat, seperti Dongkrak Antik, Setan Kredit, sampai Maju Kena Mundur Kena. Sayangnya ketika judul-judul itu diucapkan oleh para pemerannya sekarang terasa seperti dipaksakan. Kesannya menjadi hambar saja.

Begitu film dimulai, wajah Indro ditampilkan sedang membawakan program Berita Dalam Dunia. Kepala Indro terlihat lebih besar dari badannya, mungkin untuk langsung memberikan efek lucu. Ketika diulang terus-menerus, bukannya terasa lucu, yang ada hanya rasa jengah. Di sepanjang film, kehadiran Indro berkostum Katy Perry sampai Minion (untuk memparodikan meme dirinya yang sempat beredar di internet) terasa murahan. Tampilnya Indro di film ini juga malah membebani Tora Sudiro yang harus memerankan dirinya. Alhasil sang aktor susah keluar dari bayang-bayang pemeran aslinya.

Dua aktor lainnya, Vino G. Bastian sebagai Kasino atau Abimana Aryasatya sebagai Dono, berusaha membawa semangat dari pemeran aslinya. Sayangnya Vino tak bisa juga lepas dari kebiasaannya untuk berteriak-teriak, yang seringkali tak diperlukan untuk scene. Di antara ketiganya, Abimana terbilang paling mendekati karakter yang diperankannya, baik itu secara fisik maupun tingkah laku.

Sebagai film komedi, Anggy Umbara yang dikenal kerap melebih-lebihkan sesuatu tidak membiarkan penonton bernapas. Hampir setiap jengkal film diisi dengan candaan; entah itu singkat dan nyaris tak terdengar ("Pokemon ditangkap, koruptor tuh ditangkap," celoteh Kasino) maupun yang terang-terangan (transisi film yang didasarkan dari tulisan di belakang truk maupun spanduk pinggir jalan). Hasilnya adalah beberapa materi yang disia-siakan. Masalahnya adalah Anggy berusaha terlalu keras melucu, menjejalkan semuanya ke penonton sampai melupakan ceritanya. Dan sudahlah, jangan bahas ceritanya. Memang benar film-film Warkop DKI kebanyakan tidak punya cerita, tapi setidaknya masih enak diikuti karena jelas sebab-akibatnya. Sesuatu yang diabaikan oleh film ini.

Masalah lainnya adalah Anggy seakan-akan membuat daftar panjang hal-hal yang harusnya tak dilakukan dalam sebuah film komedi. Film ini seksis dan rasis. Jika di film-film Warkop DKI terdahulu selalu ada hukuman setiap kali anggota Warkop DKI melontarkan candaan yang merendahkan perempuan, di film ini candaan tersebut dirayakan. Misalnya baris kalimat "Wah, gue belum pernah nyoba yang kayak Rihanna gini nih." Susah bahkan untuk membayangkan kalimat tersebut diucapkan oleh Kasino yang asli.

Satu poin lagi yang mesti dibahas: dua penulis naskah utama film ini adalah stand up comedian. Beberapa tahun belakangan banyak pelawak baru berjaya, meskipun sebenarnya mengandalkan teknik yang terlalu bersandar pada formula. Bisa dibilang film ini benar-benar mengandalkan referensi sebagai caranya bercanda. Meski ada juga slapstick, kritik sosial, dan beberapa gaya komedi lainnya, referensi adalah yang utama; mulai dari candaan yang sudah pernah ada di Warkop DKI, candaan yang beredar di media sosial (meme Khong Guan, ibu-ibu naik motor melawan arah), dan lainnya. Akan susah untuk menikmati film ini tanpa mengerti referensi yang mereka maksud. Banyak sekali candaan disodorkan begitu saja sehingga mudah ditebak, nyaris tak ada kejutan. Padahal penting sekali menciptakan percikan ketika bercanda. Kalau kata Remy Sylado, komedi itu logika yang dibengkokkan.

Satu hal sedih lainnya adalah betapa banyaknya adegan bagus yang pernah dibuat Warkop DKI dihancurkan begitu saja. Misalnya lagu "Nyanyian Kode", yang dalam film aslinya (Pintar-Pintar Bodoh) berhasil karena interaksi Kasino dan Dono yang tidak dapat ditebak. Kasino yang terkenal karena celotehannya makin kuat dengan kehadiran Dono dan dua banci yang mengganggunya. Sementara adegan pencarian di bandara di film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1 dipanjang-panjangkan sehingga kehilangan daya kejutnya. Selain itu, vokal Vino G. Bastian ketika menyanyi juga sebaiknya disimpan untuk di ruang karaoke saja.

Daftar "dosa" film ini sebenarnya bisa lebih panjang karena masih banyak lagi kekurangan dari Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1. Pada akhirnya, usaha para pembuatnya yang bingung harus fokus bernostalgia atau memperkenalkan Warkop DKI ke generasi baru dengan penyesuaian zaman berakhir mengecewakan. Kalaupun ada yang harus dipuji, pilihan untuk memasukkan bloopers adalah sangat tepat, setidaknya bagian tersebut terasa apa adanya dan menghibur.

Editor's Pick

Add a Comment