Jakarta Blues Factory, Bersatu Menuju Arus Utama

Bermodalkan album debut bertajuk 'All I Wanna Do' yang rilis beberapa waktu lalu

Oleh
Jakarta Blues Factory: (kiri - kanan) Seffrino Ompy, Fawdy Irianto dan Soebroto Harry. Andri Wardaningtyas

Blues merupakan salah satu genre musik di Indonesia yang kancahnya berkembang melalui komunitas-komunitas yang tersebar di berbagai kota. Tidak banyak artis di dalam komunitas-komunitas tersebut yang memilih untuk memainkan blues sebagai pekerjaan harian, melainkan hanya untuk hobi dan kecintaan. Namun, perkenalkan sebuah trio asal ibu kota bernama Jakarta Blues Factory (JBF) yang memberanikan diri untuk turut terjun mengarusutamakan blues dalam industri musik Indonesia.

Jakarta Blues Factory pada awal terbentuknya sebenarnya untuk memenuhi tantangan mengisi panggung Jakarta International Blues Festival yang digelar pada 2012. Respons baik yang diterima Jakarta Blues Factory—saat itu masih bernama Jazz Blues Funky Trio—setelah tampil pada perhelatan tersebut memotivasi band untuk melanjutkan karier mereka lebih serius lagi.

Setelah mengalami beberapa kali pergantian personel, hingga saat ini JBF terdiri dari Fawdy Irianto (gitaris dan vokalis), Soebroto Harry (bassist), dan Seffrino Ompy (drummer) yang baru resmi bergabung pada awal 2016. Fawdy adalah satu-satunya personel yang tersisa dari formasi awal JBF (mantan bassist Agus kini bermain untuk Alexa dan mantan drummer Ryan bermain untuk Vierratale). Jika meninjau sejarah formasinya, JBF memang tidak terlepas dari industri musik pop tanah air. Pada periode 2007-2008, Fawdy bahkan sempat menjadi gitaris pengiring untuk Anang Hermansyah.

Karier sepanjang empat tahun yang dijalankan JBF telah membuahkan sebuah album perdana bertajuk All I Wanna Do yang dirilis pada Maret silam melalui Demajors. Album tersebut mulai direkam pada 2015, namun Ryan memutuskan untuk hengkang di tengah masa produksinya. Hal tersebut kemudian mengharuskan Fawdy dan Broto untuk merilis All I Wanna Do dengan status sebagai duo. Keduanya menamatkan SMA di sekolah yang sama. "Sebenernya konsep baru, sih, kalau memang kita jadi band blues berdua. Cuma agak geli aja kalo foto berdua melulu," ungkap Fawdy ketika hadir di markas Rolling Stone, disambut tawa personel lainnya.

Bicara soal kancah blues Indonesia dan komunitas-komunitas yang menyokongnya, JBF tumbuh di dalam salah satu komunitas blues di Jakarta yang menanungi artis-artis blues terkemuka lainnya seperti Gugun Blues Shelter (GBS) dan Adrian Adioetomo. JBF bahkan sempat beberapa kali menjadi band pembuka untuk konser-konser Gugun Blues Shelter. Keputusan untuk membuat karya sendiri datang dari dorongan yang diberikan oleh Gugun kepada JBF. "Jangan bawain lagu orang terus, elo harus punya karya," kenang Fawdy tentang nasihat yang ia terima dari sang pentolan Gugun Blues Shelter tersebut.

Jika Anda belum pernah mengenal JBF sebelumnya, band ini telah meraih beberapa prestasi yang patut mereka banggakan. Pada 2014, JBF menjadi juara satu pada penyelenggaraan Jakarta Indie Music Festival. Di tahun berikutnya, mereka menduduki peringkat ketiga pada kompetisi Asia International Blues Challenge. Prestasi-prestasi tersebut terus meyakinkan JBF bahwa musik blues memiliki tempat dalam pasar musik lokal. "Ternyata blues didengar juga, nih. Padahal saat itu yang ikut [kompetisi] dari berbagai genre," jelas Fawdy terkait kemenangan yang diraih JBF pada Jakarta Indie Music Festival 2014.

All I Wanna Do merupakan sebuah mimpi yang menjadi kenyataan bagi JBF, khususnya bagi Fawdy karena album tersebut merupakan hasil dari kebebasan dalam bermusik yang didapatkannya setelah sempat terkekang dalam berkarya dulu. "Dulu gua punya band pop, main di label mainstream. Itu gua nggak bisa ngapa-ngapain. Maksudnya, rekaman diatur sana-sini. Di All I Wanna Do ini, gua mau lakuin apa yang mau gua lakuin. Mau gua main gitar tiap hari, kek. Mau gua main gitarnya kayak gini, gua mau ikutin aransemen yang gua mau. Dan ternyata di sini gua bebas. Kemudian enaknya gua dapet manajer dan manajemen yang membebaskan kami untuk ngapain aja," ungkap Fawdy lagi.

Visi JBF dalam mengarusutamakan blues tertlihat dari hasil keputusannya bersama manajemen dalam menunjuk nomor "Let Me Go" yang cenderung bertempo lambat sebagai single. Namun, bassist Soebroto yang biasa dipanggil Broto menekankan agar pendengar tidak meghakimi JBF hanya dari single tersebut. Broto juga menjelaskan bahwa sekalipun "Let Me Go" ditunjuk sebagai single utama, dalam beberapa kesempatan orang-orang menyatakan kepadanya bahwa mereka lebih menikmati "All I Wanna Do". Hal ini tercermin jika melihat "All I Wanna Do" telah didengar sekitar 30.000 kali di Spotify hingga tulisan ini diturunkan. "Let Me Go" yang didaulat sebagai single utama justru baru didengar sekitar 1.000 kali dalam layanan streaming tersebut.

JBF senantiasa berhati-hati dalam memberikan klaim pada musik yang mereka mainkan. Mereka sepenuhnya sadar bahwa musik yang mereka mainkan bukannlah musik yang paling digemari oleh penggemar blues puritan. JBF lebih memprioritaskan visi untuk mengarusutamakan blues ketimbang mendengar komentar orang banyak bahwa mereka adalah grup blues sejati atau bukan. "Sebenernya di Indonesia banyak banget band blues yang bagus banget, dan menurut kami lebih blues daripada kami. Blues kan nggak perlu susah, nggak perlu ribet, not yang mereka pakai enak. Tetapi, setelah kami ngobrol, mereka memang bermain blues hanya untuk hobi karena belum berani untuk terjun langsung," jelas Fawdy.

"Masalah laku atau nggak laku, menurut gua selama kita bermain musik dengan jujur, ada-ada aja [rezekinya]. Sekarang juga pasar Indonesia udah lebih pintar. Coba lihat GBS atau Experience Brothers deh, mereka sering main. Sebenarnya juga bagaimana manajemen menempatkan band untuk dijual kemana. Yang saat ini kami lakukan adalah masuk ke pasar pop juga sih. Kami bukan mau bilang bahwa apa yang kami lakukan adalah sesuatu yang berbeda atau baru, tapi walaupun kami memainkan musik pop, kami tidak pernah menghilangkan ciri khas blues. Not yang dipakai masih not-not [skala] pentatonik," lanjut Fawdy.

Salah satu upaya yang dilakukan oleh JBF dalam mengarusutamakan blues adalah mengemas band sedemikian rupa agar tidak terkesan "tua" layaknya pandangan orang banyak tentang musik blues, setidaknya demikian menurut Fawdy dan kawan-kawannya. "Di JBF ini, kami mencoba mengemas segala sesuatu hingga terlihat kekinian agar tidak kembali membawa kesan bahwa blues adalah musik yang tua. Jadi, blues bisa dibawa dengan gaya lain. Mungkin kami bisa dibilang modern blues, kalau bisa disebut demikian. Karena jika dilihat ke akarnya, blues adalah musik yang bisa dikembangkan dengan beragam cara," jelas Seffrino yang lebih akrab dipanggil Epi.

"Kami main blues karena di Indonesia belum ada band blues yang berani mengeksplorasi ranah mainstream setelah Gugun [Blues Shelter], dan Gugun [Blues Shelter] ternyata laku, kan. Kami bermain blues, tapi untuk main blues tradisional kami nggak bisa. Untuk main Delta blues kayak Adrian Adioetomo gua nggak bisa karena kebetulan gua tumbuh di industri pop," jelas Fawdy apa adanya.

Pasca rilis album perdananya, JBF akan menggencarkan tur untuk mempromosikan All I Wanna Do. Bersama dengan manajemen, kini band tengah menyusun jadwal tur yang diperkirakan akan mencapai kota Malang, Surabaya, Bandung, Bali, hingga Lombok. Fawdy memperkirakan bahwa Bali dan Lombok merupakan pasar strategis untuk ditelusuri JBF.

"Masih banyak banget hal yang mau kami raih, kami mau menyampaikan bahwa blues ada di Indonesia, dan blues tidak harus terdengar tua. Maksudnya, musik yang kami mainkan bukan musik yang sulit, pada dasarnya adalah blues. Tetapi paling tidak kami sudah berani main blues dan membawanya ke industri arus utama," tutup Fawdy.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Robin Thicke, Jonas Blue, Isyana Sarasvati Siap Meriahkan Pesta Ulang Tahun NET.
  2. Damon Albarn Bicara tentang Album Terbaru Gorillaz yang Penuh Bintang dan Masa Depan Blur
  3. Movie Review: Guardians of the Galaxy Vol. 2
  4. Disney Mengumumkan Tanggal Rilis ‘Star Wars’ dan ‘Frozen 2’
  5. Spotify: “The Chainsmokers Paling Didengarkan oleh Pelajar Indonesia”

Add a Comment