7 Film Indonesia Era 2000-an Berbicara Tentang Jakarta

Daftar ini dibuat dalam rangka merayakan ulang tahun ibu kota ke-489

Oleh

Daerah Khusus Ibu kota Jakarta tahun ini memasuki usia ke-489. Hubungan ibu kota negara Republik Indonesia ini dengan penduduk di dalamnya seperti hubungan suami-istri atau antar pacar; membuat bahagia di suatu waktu, membuat jengkel di saat lainnya.

Tapi mengutip Sapardi Djoko Damono, "Jakarta itu cinta yang tak hapus oleh hujan tak lekang oleh panas. Jakarta itu kasih sayang." Kota ini memiliki magnet cinta yang tidak bisa digambarkan. Ia terkadang memberi inspirasi bagi manusia di dalamnya untuk berkreasi, berkesenian, atau mengkritik. Salah satu sisi yang mendapatkan inspirasi tersebut adalah para sineas yang menjadikan Jakarta sebagai inti cerita dalam film garapannya.

Rolling Stone turut merayakan ulang tahun Jakarta yang jatuh pada Rabu (22/6) kemarin dengan membuat daftar tujuh film Indonesia produksi 2000-an tentang Jakarta. Ketujuh film ini bisa menggambarkan ibu kota dengan keunikannya masing-masing: dokumenter menyentil, rasa cinta yang berlebihan terhadap tim sepak bola, hingga kisah para minoritas.

Selamat ulang tahun, Jakarta!

'Eliana Eliana' (2002)

Film terbaik yang pernah dibuat oleh Riri Riza ini berkisah tentang perjalanan seorang anak perempuan dan seorang ibu di suatu malam yang tenang di kota Jakarta. Pencarian keduanya kepada seorang teman si anak perempuan membawa mereka ke penemuan rasa perih yang selama ini saling dipendam. Penampilan intens disajikan oleh Rachel Maryam dan Jajang C. Noer di film yang terasa personal ini. (Ivan Makhsara)

'Tragedi Jakarta 1998 (Gerakan Mahasiswa di Indonesia)' (2002)

Tragedi Jakarta 1998 (Gerakan Mahasiswa di Indonesia) adalah sebuah film dokumenter yang dibesut oleh Tino Saroengallo. Sesuai dengan judulnya, film dokumenter yang dirilis pada 2002 silam ini menjadi arsip atas tragedi tragis yang menimpa Indonesia khususnya mahasiswa. Tragedi Jakarta 1998 (Gerakan Mahasiswa di Indonesia) menggambarkan suasana mencekam ibu kota ketika ratusan hingga ribuan tentara dan mahasiswa tumpah ruah dan bentrok di jalanan utama Jakarta; periode Mei 1998 hingga Desember 1998. Film dokumenter ini meraih beberapa penghargaan seperti Film Pendek Terbaik di Asia Pacific Film Festival ke-47 di Seoul, Korea Selatan (2002) serta Film Dokumenter Terbaik dalam Festival Film Indonesia (2004). (Pramedya Nataprawira)

'The Jak' (2007)

Siapa sebenarnya pendukung Persija ketika Jakarta sebetulnya dihuni oleh penduduk dari berbagai macam latar belakang? Dokumenter The Jak besutan sutradara Andibachtiar Yusuf mengisahkan kehidupan sosial serta alasan utama mengapa The Jakmania (sebutan penggemar Persija) mengerahkan segalanya dalam mendukung tim Macan Kemayoran. Ferry Tauhid Indrasjarief, seorang kordinator senior Jakmania, menjadi narasumber utama dalam film dokumenter ini. "Sepakbola membuat hidup mereka (Jakmania) bermakna. Serta memberikan harapan. Daripada mabuk lebih baik ditabung buat membeli tiket menonton Persija," ujarnya. (Pramedya Nataprawira)

'Jalanan' (2010)

Jalanan adalah film dokumenter yang bertitik pusat pada lika-liku hidup tiga pengamen Jakarta: Titi, Boni, dan Ho. Dirilis pada April 2014, film ini disutradarai dan diproduser oleh Daniel Ziv. Ia menghabiskan waktu hampir lima tahun mengekor Titi, Boni, dan Ho yang berjibaku di jalanan-jalanan Jakarta. Jalanan berhasil mengikuti ketiganya secara intim dan mengangkat keseharian mereka yang terpinggirkan dari hiruk-pikuk Ibukota, tanpa rekayasa. Tidak hanya menceritakan kisah Titi, Boni, Ho melalui dokumenter ke khalayak luas, Daniel Ziv juga telah memulai kampanye urun dana alias crowdfunding yang berhasil mencapai target. Bulan November 2015 lalu menyimpan peristiwa bersejarah karena ambisi membeli rumah untuk Titi, Boni, dan Ho tercapai. Daniel mengungkapkan bahwa terpenuhinya mimpi membelikan rumah sederhana bagi ketiga tokoh utama Jalanan menutup siklus penting baginya. Sebagai teman dekat merangkap pembuat film, ia telah membangun jembatan kecil bagi Titi, Boni, dan Ho untuk melanjutkan episode perjalanan hidup mereka sendiri. (Decky Arrizal)

'Lovely Man' (2011)

Seorang anak perempuan yang dibesarkan ibunya dengan norma muslim datang dari sebuah kampung di Jawa Tengah untuk mencari ayahnya di Jakarta. Ibu kota digambarkan keras, penuh adrenalin, dan selalu mengejutkan. Si ayah yang kini jadi crossdresser (diperankan dengan gemilang oleh Donny Damara) tak lagi menerima anaknya, tapi tahu menjadi ayah adalah kewajibannya, bukan sesuatu yang bisa ia tolak begitu saja. Jakarta saat malam terasa lebih kelam di film arahan Teddy Soeriaatmadja ini. (Ivan Makhsara)

'Selamat Pagi, Malam' (2014)

Seperti kota metropolitan lainnya, Jakarta adalah kota yang tidak pernah tidur. Ketika sebagian penduduknya terlelap di malam hari, sebagian lainnya baru berangkat melakukan aktivitas. Selamat Pagi, Malam menceritakan tentang tiga perempuan yang hidupnya berubah melalui pertemuan-pertemuan tak terencana di suatu malam melankolis di Jakarta. Disutradarai oleh Lucky Kuswandi, film ini juga menghadirkan sekaligus menyentil gaya hidup di Jakarta. Mulai dari mendadak populer dan mendadak tenggelamnya, aneka kue berwarna pelangi, hingga terpakunya mata terhadap telepon genggam. (Decky Arrizal)

'Emak dari Jambi' (2015)

Kisah tentang ibu yang harus menghadapi kenyataan kalau anak laki-lakinya bertransformasi menjadi seorang wanita ini mengantarkan penonton ke sudut Jakarta yang selama ini tak terbicarakan: hidup sebagai minoritas. Di satu momen yang menggetarkan, Emak--tokoh utama film dokumenter ini--yang baru datang dari Jambi berkumpul dengan teman-teman transgender anaknya di Taman Lawang. Ia mendengarkan bagaimana jalan hidup mereka sehari-hari yang selama ini dianggap rendah oleh orang banyak. Seorang ibu konservatif yang baru datang dari kampung mau tak mau menanggalkan semua prasangkanya dan menerima takdir anaknya. Meskipun secara premis film Emak dari Jambi bisa mendayu-dayu, Anggun Pradesha selaku anak dari Emak sekaligus sutradara menghadirkan sebuah film dokumenter yang kocak, tulus, sekaligus getir. Setelah menonton ini dijamin Jakarta tidak akan sama lagi di mata anda. (Ivan Makhsara)



Related

Most Viewed

  1. Free Download: Future Collective - "Molposnovis (feat. Anindita Saryuf)"
  2. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  3. Sonic Fair 2017 Resmi Pindah ke Lokasi yang Lebih Luas
  4. Menyemai Inspirasi di Archipelago Festival 2017
  5. 17 Lagu Indonesia Bertema Kebangsaan Terbaik

Editor's Pick

Add a Comment