Menapaki Instalasi Seni Dermaga Terapung Menawan di Italia

'The Floating Piers' hasil karya seniman berusia 80 tahun, Christo Vladimirov Yavachev

Oleh
Instalasi seni The Floating Piers saat diabadikan dari udara. Wolfgang Volz / © 2016 Christo

Seorang seniman kelahiran Bulgaria, Christo Vladimirov Yavachev berhasil membuat sebuah proyek seni memukau bernama The Floating Piers. Instalasi seni ini dilakukan dengan menghubungkan kota Sulzano ke Monte Isola dan pulau kecil San Paolo di danau Iseo, Italia. Christo membuat jalan sepanjang tiga kilometer dengan lebar 16 meter ini menggunakan 220.000 kubus berbahan plastik polietilena yang dibalut kain berwarna kuning.

Christo menjelaskan warna kuning pada kain akan menimbulkan warna merah dan keemasan yang indah di bawah sinar matahari. Ia juga mengatakan sensasi yang dirasakan ketika berjalan di atas jalan apung ini layaknya berjalan di atas punggung paus.

Instalasi seni The Floating Piers saat diabadikan dari udara. (Wolfgang Volz / © 2016 Christo)

 

The Floating Piers telah direncanakan pria 80 tahun ini sejak 2014 lalu. Ia memilih danau yang berjarak 100 km dari Milan ini karena gelombang airnya yang cukup tenang. Jalanan yang mengapung di atas danau itu pun akhirnya berhasil Christo dan timnya kerjakan, dan telah dibuka untuk umum selama 16 hari.

"Untuk pertama kalinya selama 16 hari, dari 18 Juni hingga 3 Juli, mereka (warga Monte Isola) akan berjalan di atas air," tutur Christo seperti dikutip dari The Guardian, menyebut 2.000 warga Monte Isola, yang biasanya hanya bisa mengandalkan perahu sebagai sarana transportasi mereka.

Dalam perhelatannya, sejumlah 150 relawan telah dikerahkan untuk mengamankan para pengunjung. Untuk proyek ini, Christo telah menghabiskan dana sebesar 15 juta euro (Rp 227 miliar). Meski begitu, para pengunjung yang hadir untuk merasakan jalan terapung ini tidak dipungut biaya sepeser pun.

Para pengunjung saat berjalan di atas The Floating Piers yang menghampar di Danau Iseo, Italia. (Wolfgang Volz/© 2016 Christo)

 

“Tidak ada tiket, tidak ada pembukaan, tidak ada pemesanan, dan tidak ada pemilik. The Floating Piers hanyalah perpanjangan jalan dan milik semua orang,” ujar Christo dalam situs resmi The Floating Piers.

Sejak dibuka, proyek jalan terapung ini telah mengundang antusiasme besar para turis. Proyek ini diprediksikan akan mengundang perhatian sebanyak 500 ribu pengunjung hingga ditutup. Sementara itu, jumlah pengunjung yang datang justru telah mencapai angka 270 ribu selama kurang dari lima hari.

Seperti dilansir The Guardian, untuk menghindari hal yang tidak diinginkan atas meledaknya pengunjung, aparat setempat mulai menutup akses jalan pada waktu tertentu. Jembatan yang berjarak 100 kilometer di sebelah timur Milan pun ditutup mulai dari tengah malam hingga pukul enam pagi. Kebijakan ini akan berlaku hingga 3 Juli atau hari di mana perhelatan seni itu selesai.

Editor's Pick

Add a Comment