11 Lagu Indonesia Berbicara tentang Sepak Bola

Mulai dari penyemangat tim idola hingga cuplikan nyata kondisi dunia sepak bola di tanah air

Oleh
Pramedya Nataprawira

Musik dan sepak bola memiliki ikatan yang baik. Sering kali ketika sebuah kejuaraan akbar diselenggarkan terdapat musisi-musisi yang ditunjuk untuk menggarap sebuah karya khusus, demi meramaikan indahnya pesta intensitas serta sportivitas dalam pertandingan sepak bola.

Tak hanya untuk para penikmat, penggemar, dan penonton sepak bola, musik pun kerap berfungsi baik untuk para pemainnya dalam membangun semangat bertanding. Sebagai contoh adalah pemain Inggris, Rio Ferdinand, saat dirinya masih menjadi pemain jangkar Manchester United. Ketika mereka sedang bersiap menghadapi sebuah pertandingan, Ferdinand sering menjadi DJ langganan dalam ruang ganti United dengan memutar lagu-lagu seperti Daft Punk, Empire of the Sun, hingga Robin Thicke.

Namun dari semua fungsi musik yang berperan dalam dunia sepak bola, fungsi yang paling puncak adalah ketika musik tercipta dari nyanyian semangat ribuan penggemar yang menggema dingin di dalam stadion. Mereka para penggemar paling sering mengumandangkan potongan-potongan lagu tradisional maupun populer yang diubah liriknya demi memberi semangat bagi tim idola, atau mencemooh tim lawan.

Nyanyian-nyanyian penonton yang menyelimuti sudut-sudut stadion sepak bola, kadang berperan sangat magis hingga dapat mengubah hasil pertandingan. Salah satunya adalah nomor "You"ll Never Walk Alone" yang sering dinyanyikan oleh penggemar dari Liverpool FC. Lagu ini merupakan adaptasi dari karya musikal Rodgers and Hammerstein pada 1945 silam yang dibawakan kembali oleh Gerry and the Pacemakers pada 1963.

Di final liga Champions 2005, Liverpool harus menghadapi AC Milan di Stadion Ataturk, Istanbul, Turki. Dalam 45 menit pertama Liverpool sudah harus menelan ketertinggalan besar dengan skor 0-3. Namun bagai suntikan energi, "You"ll Never Walk Alone" terus dinyanyikan oleh sekitar 40 ribu penggemar Liverpool yang membantu para pemainnya tampil penuh semangat di babak kedua sehingga mereka dapat menyamakan skor menjadi 3-3. Pertandingan pun diselesaikan dengan adu penalti dengan menghasilkan Liverpool sebagai juaranya. Malam final itu kini dicap sebagai sejarah Liverpool dengan diberi nama Istanbul Miracle.

Juni 2016 menjadi bulan sepak bola bagi pecintanya di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia yang disuguhkan tiga kompetisi akbar yaitu Euro 2016, Copa America 2016, serta Indonesia Soccer Championship 2016. Untuk turut serta meramaikannya tim Rolling Stone Indonesia menggarap listicle "11 Lagu Indonesia Berbicara tentang Sepak Bola", di mana terdapat lagu-lagu yang bersifat sebagai penyemangat tim idola hingga cuplikan nyata kondisi dunia sepak bola di tanah air. Simak daftarnya di bawah ini:

11) Frigi Frigi - "Aku ingin ke Anfield Road"

Proyek kolaboratif Henry Foundation (Goodnight Electric) dan Frigidanto Agung, seorang kurator seni menghasilkan salah satu lagu sepak bola paling menyenangkan. Bercerita tentang impian pergi ke Anfield Road, kandang Liverpool FC. Cukup dengan gitar dan cara menyanyi anthemic, lagu ini menorehkan senyum. Liriknya juga simpel saja tapi mengena, "Aku ingin ke Anfield Road, tapi tabunganku belum cukup". Videonya juga menarik, Frigidanto ditampilkan sedang berada di stadion bersama para penggemar Liverpool lainnya. (Ivan Makhsara)

10) Jeruji - "Wasit Goblog!"

Di atas lapang hijau tempat dua puluh dua pemain sepak bola saling berhadapan terdapat satu orang yang memiliki otoritas tertinggi. Dia adalah wasit yang setiap keputusannya memiliki dampak cukup besar akan hasil akhir pertandingan. Di samping adanya kesalahan mengambil keputusan-keputusan yang sebenarnya lumrah sebagai manusia biasa, terkadang wasit berlaku tak adil karena adanya sogokan dana dari pihak-pihak berkepentingan. Di sini lah salah satu band punk rock veteran asal Bandung, Jeruji, bersuara. Mereka menciptakan sebuah karya yang jujur dan menusuk berjudul "Wasit Goblog!". Lagu ini merupakan bagian dari album kompilasi Viking Persib Club yang rilis 2002 lalu dan menampilkan pula Koil, PAS Band, PHB, Noin Bullet di album ini. "Wasit Goblog!" diciptakan dengan formula cepat dan padat ala grindcore. Di tengah lagunya terdapat reka ulang komentantor sepak bola melaporkan sebuah pertandingan yang disusul dengan sautan masal penuh amarah berteriak "Wasit Goblog!". Dan pada kenyataannya teriakan ini masih sering dilontarkan oleh para penggemar klub sepak bola Indonesia karena sang pemimpin pertandingan tak kunjung berlaku jujur, bersih dan adil. (Pramedya Nataprawira)

9) DOM 65 - "Fortuna"

Persatuan Sepak Bola Indonesia Mataram (PSIM) asal Yogyakarta menjadi inspirasi utama unit punk rock lawas, DOM 65, dalam menggarap lagu "Fortuna". Melalui lagu tersebut, band yang dibentuk pada 1997 silam ini berteriak lantang menyemangati tim sepak bola kebanggan warga Kota Gudeg. Salah satu bagian terbaiknya terdapat dalam potongan lirik: "Stadion meledak membakar jiwa/Emosi mendidih melumerkan otak/Pahlawan beraksi membabi buta/Menggonggong menerkam mengencingi mental/O yeah, PSIM!". Langsung, tepat sasaran, dan berapi-api. (Decky Arrizal)

8) I Wayan Sadra - "Bola Telah Lama Menggelinding"

Kolaborasi musik kontemporer dan hip hop yang ditujukan untuk Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) atas kegagalan sistem kompetisi yang menyebabkan penurunan prestasi tim sepak bola Indonesia. Penulisan lirik yang literal dibawakan dengan teknik rapping patah patah yang digabungkan dengan musik yang terasa "kacau". Eksperimentasi yang menarik. (Ivan Makhsara)

7) Mocca - "Mars Persib"

Hubungan istimewa nan erat antara warga Kota Bandung dengan kelab sepak bola kebanggaannya, Persib, sudah tidak diragukan lagi. Rasa cinta warga Bandung terhadap Persib berhasil melintasi usia, gender, stasus sosial, ekonomi, dan pekerjaan. Bukti nyatanya adalah telah diluncurkannya dua album kompilasi yang ditujukan terhadap tim dengan kostum berwarna biru tersebut, hasil kreasi dari para seniman dan musisi asal Kota Kembang. Salah satu lagu yang memiliki warna yang unik dalam Viking Persib jilid 2 adalah "Mars Persib" milik grup indie pop, Mocca. Selain terdapat brass section, lagu tersebut memiliki keistimewaan tersendiri, yaitu bagian refrain yang dinyanyikan sendiri oleh pelatih dan tiga pemain yang memperkuat Persib era 2004: Juan Paez, Andres Angelo, Claudio Lizama dan Adrian Colombo. (Decky Arrizal)

6) Silampukau - "Bola Raya"

Jika Iwan Fals punya "Mereka Ada di Jalan" untuk menceritakan tentang bocah-bocah yang bersemangat bermain sepak bola seakan tidak ada hari esok, Silampukau memiliki "Bola Raya". Duo yang diisi Kharis Junandharu dan Eki Tresnowening ini dengan sederhana dan apik menggambarkan bocah-bocah yang kehilangan lahan untuk bermain sepak bola dan terpaksa menjadikan jalan raya sebagai pengganti lapangan hijau. Duo folk asal Surabaya tersebut bersenandung dengan tenang tapi lantang: "Kami rindu lapangan yang hijau/Harus sewa dengan harga tak terjangkau/Tanah lapang kami berganti gedung/Mereka ambil untung, kami yang buntung." (Decky Arrizal)

5) P Project - "Lagunya Lagu Bola"

Grup vokal komedi, P Project, dikenal karena candaan mereka yang selalu tepat sasaran, tapi jarang sekali politis. "Lagunya Lagu Bola" dirilis pada 1998, bertepatan dengan dua momen besar yaitu piala dunia dan krisis moneter. Dua hal yang kontradiktif ini direkam dalam parodi dari lagu "La Copa de la Vida". Dengan cerdasnya, P Project merayakan pesta bola terbesar lalu menggabungkannya dengan kritik sosial yang dibicarakan dengan halus. "Rencananya Indonesia/Kan menuju pentas dunia/Bagaimana itu bisa/Liga saja tidak ada," nyanyi Denny Chandra. Kondisi negara yang semrawut, sistem kompetisi yang tidak beres, dan impian kandas tentang jayanya sepak bola Indonesia dibawakan dengan nada gembira, seakan-akan semua akan baik-baik saja. (Ivan Makhsara)

4) C'mon Lennon - "Aku Cinta J.A.K.A.R.T.A."

Walau bandnya telah bubar, lagu "Aku Cinta J.A.K.A.R.T.A." milik C"mon Lennon dirasa akan tetap abadi. Memiliki riff dan refrain yang kuat, menjadikan lagu ini mudah untuk disenandungkan dan diingat. Tetapi keunikan lagu milik band yang diperkuat vokalis Bin Harlan Boer, gitaris Andi Sabaruddin dan Angga, bassist Sulung Koesuma, keyboardist Noor Ikhwan, serta penggebuk drum Pugar Restu Julian ini terletak pada liriknya, yaitu tentang mendukung kelab kebanggaan Ibu Kota, Persija, secara langsung di stadion. Nyanyikan refrain lagu ini ketika Persija tengah bermain, niscaya menambah syahdu isi stadion yang dipenuhi warna oranye. (Decky Arrizal)

3) Rasela - "Pemain Bola"

Lagu Indonesia berbicara tentang sepak bola pun merambat ke dalam album kompilasi psikedelika eksentrik berjudul Those Shocking Shaking Days (2011). Album kompillasi ini memuat dua puluh musisi legendaris Indonesia dengan materi-materinya yang rilis dalam periode 1970 hingga 1978. Salah satu di antaranya adalah "Pemain Bola" karya psychedelic funk milik Rasela – akronim Rajawali Selatan. Kesederhanaan vokal dan liriknya acap diselimuti dengan jalur bass yang liar. Belum lagi adanya suara efek melodi gitar yang memabukkan serta isian keyboard yang mengawang. "Bola ditendang penjaga gawang jatuh terjungkang, gol." Dengan aransemen seperti ini, "Pemain Bola" dari Rasela menjadi lagu Indonesia berbicara tentang sepak bola yang terdengar paling teler. (Pramedya Nataprawira)

2) Iwan Fals - "Mereka Ada di Jalan"

Salah satu karunia terhebat yang dimiliki Iwan Fals sebagai musisi adalah gaya penulisan liriknya yang dapat dinyanyikan mengalir apa adanya tanpa terdengar murahan. Sering kali sudut pandang dirinya tentang politik, sosial, hingga kasih sayang berhasil dituangkan dengan sederhana namun tepat sasaran ke dalam lagu-lagunya. Salah satu di antara yang menarik untuk disimak adalah "Mereka Ada di Jalan" dari album Belum Ada Judul (1992). Seperti biasanya lagu ini dipersenjatai sebuah kritikan demi menggambarkan bobroknya sistem yang berlaku tak adil. Di dalam lagu ini dengan cerdasnya Iwan menyampaikan itu semua lewat sudut pandang yang tidak biasa yaitu sepak bola. Lirik "Mereka Ada di Jalan" dimulai dengan yang sederhana seperti "pukul tiga sore hari di jalan yang belum jadi, aku melihat anak-anak kecil telanjang dada telanjang kaki asik mengejar bola", hingga dengan jeniusnya tiba-tiba terdapat kritik tajam seperti, "tiang gawang puing puing, sisa bangunan yang tergusur. Tanah lapang hanya tinggal cerita yang nampak mata hanya para pembual saja." Kembali lagi Iwan berhasil menggambarkan kinerja keruh para bandit politik lewat liriknya, yang sayangnya kemudian berdampak buruk terbukti dengan mandeknya karier bibit-bibit pesepak bola Indonesia. (Pramedya Nataprawira)

1) Benyamin Sueb - "Sepak Bola Lawak"

Paguyuban pelawak bermain bola melawan tim Brazilia. Pertandingan imajiner ini bisa terjadi berkat imajinasi Benyamin Sueb. Secara jenaka Benyamin menarasikan jalannya pertandingan dengan lucunya, dari Eddy Sud yang terkentut-kentut sebab iganya disikut sampai wasit yang ngaso karena memakan kacang. Musiknya pun mendukung nuansa senang, pop '80-an yang mengajak bergoyang. Sebagai pecinta sepak bola, Benyamin S memang dikenal berdedikasi, bahkan di dunia nyata para pelawak yang disebut di lagu memang pernah bermain bersama dengan nama tim nasional pelawak. Benyamin S wafat pada 5 September 1995 setelah terbaring koma selama beberapa hari di rumah sakit pasca terkena serangan jantung seusai bermain sepak bola. (Ivan Makhsara)



Related

Most Viewed

  1. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  2. Free Download: Future Collective - "Molposnovis (feat. Anindita Saryuf)"
  3. Dunia, Menuju Kebangkitan Metal Progresif
  4. 17 Lagu Indonesia Bertema Kebangsaan Terbaik
  5. Joey Pasti Menang di Grammy?

Editor's Pick

Add a Comment