The Stocker, Berdansa di Tengah Reruntuhan

Membicarakan keresahan atas kota Jakarta dengan semangat untuk berdansa

Oleh
The Stocker: Wikskiw, Edwin, Jaws Reaksi. Shinta Wulandari

Jakarta bagian timur dikenal salah duanya karena kancah metal dan punk rock yang konsisten berkarya dalam rentang waktu puluhan tahun. The Stocker adalah satu nama yang eksis dari sana dan kini kembali dengan album terbaru. Pada Agustus 2015 album mini bertajuk Dansapokalips berisi enam lagu telah dirilis dalam bentuk kaset sementara di ajang Record Store Day 2016 berlanjut dengan dirilisnya versi CD album tersebut.

The Stocker adalah Jaws Reaksi (vokalis/gitaris), Edwin (bass), dan Wikskiw (drums). Trio ini pertama kali terbentuk di akhir 2005 terpengaruh oleh musik Brit Punk '70-an seperti The Clash, The Jam dan The Boys yang dicampur dengan hard rock dari Led Zeppelin dan Deep Purple. Meski sudah didirikan sejak lama, grup ini baru merilis dua album mini, Pathetic (2013) dan Dansapokalips (2015).

"The Stocker berasal dari satu scene di daerah Cijantung, Jakarta Timur. Disitu berkumpul anak-anak skinhead maupun punk. Awal ketertarikan bikin karena kedekatan emosional. Seorang bernama Udin, bikin project untuk tugas akhirnya tentang sebuah label mandiri dimana bandnya berurusan dengan semuanya, dari rekaman sampai promosinya. Ia pun mengajak saya dan Erik untuk membantunya," kenang Jaws. The Stocker kemudian dibentuk sebagai sebuah percobaan yang berlanjut lama.

Setelah bermain di banyak acara-acara kecil (gigs), pada 2008 The Stocker memutuskan untuk vakum. 2012 ketika hendak dihidupkan kembali, Udin memutuskan keluar. Edwin, seorang teman lama Jaws masuk menggantikannya. Pada 2013, Hitam Putih Records merilis album mini pertama The Stocker yang bertajuk Pathetic dalam format kaset sebanyak 100 buah. "Album Pathetic sebenarnya sudah selesai pada 2008, tapi ketika itu baru diedarkan ke teman-teman saja," ujar Jaws. Setelah setahun perilisan, band ini menjalankan tur kecil ke Jawa Tengah. Dari situ, label lain bernama Apocalypse tertaik untuk merilis ulang.

Pada 2015, The Stocker kembali ditinggal personelnya. Kali ini giliran Erik, sang drummer yang memutuskan keluar dari band. Wikskiw dipilih sebagai drummer baru. "Dari situ berubah total musiknya. Kalau awalnya bernafaskan 70's punk, sekarang ditambah unsur lain dengan pengaruh Thin Lizzy, Led Zeppelin sampai Arctic Monkeys."

Album Dansapokalips mulai dikerjakan sejak Januari hingga Juli 2015. Rekaman dilakukan di RMI Records Studio, Serpong. Kebanyakan lagu dikerjakan dalam masa rekaman. Jaws Reaksi dan Wikskiw yang sering melakukan jamming untuk mengaransemen lagu. Tema keresahan kota Jakarta menjadi fokus penulisan lirik Jaws.

"Jakarta udah mulai runtuh. Semuanya udah runtuh, runtuhnya sistem, runtuhnya ruang publik, keadaan semrawut. Dari sisi personal saya, pekerjaan nggak sesuai dengan harapan. Begitu banyaknya problematika di kota ini, dari bangun pagi sampai tidur lagi. Ya sudah, semuanya dituangkan ke dalam lirik. Paling nggak dari semua kegilaan ini, saya bisa berdansa di tengah reruntuhan," jelas Jaws panjang lebar.

Seusai merilis album Dansapokalips, mereka menggelar tur mini bertajuk Dansa Kilat untuk mempromosikan albumnya pada awal Mei silam. Tiga kota yang disambangi adalah Malang (4 Mei), Surabaya (6 Mei), dan Denpasar (8 Mei). Jaws bercerita, "Konsep Dansa Kilat adalah sebuah tur yang digelar dengan memikirkan kalau ketiga personel adalah para pekerja yang tidak bisa (berada) lama di jalan. Makanya dansanya yang cepat saja, nggak perlu kelamaan entar bisa nggak balik."

Tur konser yang gelar secara gerilya dan bekerja sama dengan komunitas di masing-masing kota ini berlangsung sukses. Malah The Stocker sudah merencanakan melakukan tur lagi, kali ini ke Jawa Barat yaitu Bandung dan Sukabumi.

Ke depannya The Stocker berencana terus melanjutkan proyek ini. Edwin menyampaikan harapannya, "Kalau bisa The Stocker jangan putus di tengah jalan. Optimisme tanpa halusinasi."

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Afgan Dipaksa Turun Panggung di Prambanan Jazz Festival 2017
  2. Bos Prambanan Jazz Menjelaskan Insiden yang Menimpa Afgan
  3. Live Review: Efek Rumah Kaca: Semarang Bisa Dikonserkan
  4. Semarang Bisa Dikonserkan oleh Efek Rumah Kaca
  5. Saksikan Trailer Film ‘Pengabdi Setan’ Garapan Ulang Joko Anwar

Add a Comment