Upaya Penyelamatan Harta Karun Musik Nasional

Badan Ekonomi Kreatif resmi bekerja sama dengan Irama Nusantara guna mewujudkan misi tersebut

Oleh
Suasana temu wicara antara Irama Nusantara, BEKRAF, label dengan para musisi. Shinta Wulandari

Irama Nusantara dan Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) telah resmi mengumumkan kerja sama untuk program "Pengarsipan dan Pendataan Hasil Industri Rekaman di Indonesia" sebagai upaya dokumentasi modern arsip musik populer Indonesia. Pengarsipan dan pendataan ini didukung oleh berbagai musisi dan penyanyi serta stasiun-stasiun siaran radio di Indonesia. Hasil kerja dokumentasi ini akan dapat dengan mudah dinikmati melalui situs Irama Nusantara.

Secara garis besar ada dua program yang akan dijalankan oleh Irama Nusantara dan BEKRAF. Pertama, digitalisasi piringan hitam shellac 78 RPM dan kedua, pendataan ke seluruh Radio Republik Indonesia (RRI). Melalui kedua program tersebut, Irama Nusantara diharapkan dapat menambah arsip musik sejumlah 1.500 rilisan dari era 1920-an hingga 1950-an. Saat ini situs Irama Nusantara memiliki pengarsipan bentuk digital untuk sedikitnya 1.000 rilisan fisik musik Indonesia. Nantinya bukan hanya musik, tapi literatur yang berhubungan dengan musik turut diarsipkan.

Gerakan 78 menjadi nama untuk upaya pengarsipan dan pendataan materi piringan hitam berbahahan shellac 78 RPM. Irama Nusantara berencana memindahkan rekaman shellac koleksi Haryadi Suadi ke dalam bentuk rekaman digital. Arsip fisik ini merupakan rekaman fisik musik populer Indonesia paling tua yang berasal dari era 1920-an hingga 1950-an.

Sedangkan, pendataan ke RRI akan berbentuk survey materi rekaman musik Indonesia. RRI adalah radio pemerintah tertua yang disinyalir banyak memiliki rekaman dan materi mengenai musik Indonesia yang sangat berguna untuk upaya pengarsipan. Rencananya Irama Nusantara akan menyambangi RRI di sekitar pulau Jawa. Dengan Surabaya sebagai kota pertama yang didatangi.

Setelah penandatanganan perjanjian kerja sama antar kepala BEKRAF Triawan Munaf dan perwakilan Irama Nusantara Christophorus Priyonugroho, acara dilanjutkan oleh temu wicara dengan judul Arsip sebagai Dasar Perkembangan Industri Musik di Indonesia. Menjadi moderator adalah Wendi Putranto (Rolling Stone Indonesia) dengan pembicara David Tarigan (Irama Nusantara), Triawan Munaf (Kepala BEKRAF), Arie Legowo (A&R Warner Music), Bob Tutopoly (Legenda musik Indonesia), Glenn Fredly (Penyanyi/Aktivis Musik Indonesia), dan Imam Haryanto (Komisioner Lembaga Manajemen Kolektif Nasional).

Temu wicara dibuka dengan penjelasan David Tarigan dari Irama Nusantara tentang harta karun musik Indonesia populer yang selama ini belum dibahas lebih dalam, "Sejarah musik populer Indonesia yang terekam sudah ada sejak 1920-an, bahkan sebelum negara ini merdeka. Semuanya berusaha kita arsipkan. Maka proyek pertama kita bersama BEKRAF adalah memprioritaskan rekaman shellac 78 RPM yang merekam musik dari zaman tersebut," lebih lanjut ia menceritakan tentang musik macam apa yang dipunyai Indonesia pada masa itu, "Dari zaman dulu musik Indonesia sudah eklektik, ada musik Barat, musik tradisional, dan unsur pendatang lainnya seperti Tionghoa, Arab atau Portugis. Semua itu tercermin dari musik populer Indonesia yang terekam," sayangnya sejak dulu musik Indonesia memang tidak pernah diarsipkan dengan baik, malah rekaman yang kans selamatnya lebih tinggi adalah rekaman yang diekspor ke luar negeri. Kemudian rekaman ini dicetak ulang dalam berbagai bentuk seperti contohnya album Those Shocking Shaking Days yang diedarkan oleh penerbit Amerika Serikat. Irama Nusantara kini berusaha memetakan kembali musik Indonesia dan kemudian diarsipkan secara digital.

Triawan Munaf, sebaga kepala BEKRAF menjelaskan potensi ekonomi kreatif dari musik Indonesia di era lampau dan memberikan dukungan kepada Irama Nusantara, "Setiap karya cipta harus memberikan kesejahteraan kepada penciptanya. Tapi bagaimana orang bisa bertransaksi atau memonetisasi kalau tidak ada datanya? Tentunya data ini dibutuhkan untuk membuka pintu kesejahteraan bagi para penciptanya."

Bob Tutopoly, sebagai seorang penyanyi yang telah memulai karir sejak 1950-an menceritakan bagaimana musisi dibayar pada masa tersebut, "Pada masa saya menyanyi tidak ada musik pop, yang ada waktu itu lagu keroncong atau seriosa. Waktu itu sebagai anak muda, kita tidak lagi memikirkan berapa duit, yang penting masuk rekaman. Paling sedikit saya punya bukti bahwa saya pernah menyanyi." Maka dari itu Bob Tutopoly menyambut baik gagasan untuk mengarsipkan musik Indonesia, "Saya berterima kasih dan bersyukur bahwa masih ada orang seperti pak Triawan Munaf yang ingin membantu rekan-rekannya yang dulu. Saya merasa bahwa harus ada komersialisasi yang transparan untuk musik Indonesia."

Glenn Fredly, musisi yang juga peduli dengan sejarah musik Indonesia ini sebelumnya pernah mendukung Lokananta agar tetap berdiri dan melakukan berbagai aktivitas untuk menyelamatkannya, "Saya nggak punya kepentingan apapun pada saat itu, saya cuma membayangkan orang seperti Bob Tutopoly, Bing Slamet, Waljinah, Gesang. Senang banget sekarang begitu banyak aktivitas yang terjadi di Lokananta." mengenai Irama Nusantara Ia menyatakan kekagumannya, "Dari awal ketemu David, saya bilang ini orang-orang yang inspired banget. Ternyata masih banyak orang gila yang stay waras dan apa yang mereka lakukan menginspirasi."

Imam Haryanto dari Lembaga Manajemen Kolektif mengatakan kesulitannya selama ini mengumpulkan royalti, "Di Malaysia, lagu Sam Bimbo banyak diakui oleh penyanyi atau komposer Malaysia. Saya tahu ini lagu Sam Bimbo, tapi nggak bisa saya klaim karena nggak ada buktinya. Saya berharap dengan adanya Irama Nusantara bisa menjadi sebagai database untuk membenarkan dan mengkoleksi melalui data selengkap-lengkapnya, saya bersama LMKN berusaha verifikasi agar benar pengarangnya dan ahli warisnya yang pantas mendapatkannya. Dokumentasi Irama Nusantara sangat diperlukan, nanti akan kita pakai dan kita bayar. Saya berterima kasih kepada pak David dan mbak Dian, data yang dikumpulkan Irama Nusantara akan digunakan demi kemajuan musik Indonesia."

Arie Legowo, sebagai perwakilan label besar juga memberikan gambaran tentang keadaan tentang pendataan musik Indonesia saat ini, "Lima tahun terakhir ini kita sudah mendigitalkan semua koleksi. Bahkan yang nggak ada masternya, dari pita maupun kaset kita selamatkan. Kalau ketemu produsernya masih gampang, tapi kalau nggak jadi tantangan tertentu, tapi ya mesti dilakukan." Ia juga menjelaskan kalau sekarang sudah ada prosedur yang lebih rapi, "Sekarang setelah merilis album dikirim ke ASIRI (Asosiasi Industri Rekaman Indonesia)."

Temu wicara berlangsung selama sejam lebih dengan berbagai obrolan mengenai keadaan musik Indonesia. Bukan hanya pendataan, tapi pembicaraan soal valuasi musik Indonesia maupun pentingnya pencatatan sejarah. Untuk mengikuti diskusi lebih lengkap, bisa menonton di Facebook Rolling Stone Indonesia.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. 17 Lagu Indonesia Bertema Kebangsaan Terbaik
  2. Lagu "Rock Da Mic" dari Shaggydog Digubah Ulang Menjadi Empat Versi Berbeda
  3. Rich Chigga Siap Tur Konser Keliling Amerika Serikat Kedua Kalinya
  4. Iko Uwais Melawan Alien di Candi Prambanan dalam Trailer 'Beyond Skyline'
  5. Kahitna, Slank, hingga Superman Is Dead Siap Ramaikan Synchronize Fest 2017

Add a Comment