Petaka, Deras Energi Hardcore Punk Menuju Dedikasi

Enggan mengendurkan semangat meski karier dibuka dengan sungkawa

Oleh
Petaka (ki-ka): Wahyu Kurniawan, Danang Prihantoro, Yoga Pratama. Decky Arrizal

Sebelum terbentuk pada awal 2015 dan kemudian menggunakan nama Petaka sebagai identitas band, empat kawanan berdomisili di Jakarta yaitu Rully Annash, Danang Prihantoro, Wahyu Kurniawan, dan Yoga Pratama bukan lagi nama-nama yang asing bagi kancah musik berdikari Ibu Kota. Tercatat Petaka bukan band pertama bagi masing-masing personel. Namun demi melahirkan band ini keempatnya tetap mengantongi energi tinggi nan segar demi menyuguhkan hardcore punk bertempo cepat serta padat.

"Jadi awalnya gue pernah mau bikin band hardcore punk yang cepat gitu. Sudah sempat jalan sama Rio Tantomo, Surya Adi, dan Medhina Purwhadi. Namanya Panik. Sempat latihan tapi udah nggak jalan lagi bandnya," kata Danang yang lebih akrab dipanggil Unbound. Setelah band itu gagal meraih produktivitas, Unbound akhirnya bertemu dengan Wahyu atau biasa disapa Wawan juga vokalis Deadsquad Daniel Mardhany. Niat awal ingin melanjutkan Panik dengan nama dan konsep baru, akan tetapi ujung cerita malah berakhir serupa.

Setengah personel Petaka lainnya bertemu saat Rully membantu sebagai additional drummer di band Yoga bernama The Aftermiles yang belakangan berubah menjadi Zootemple. "Nah pas di backstage gue ngobrol-ngobrol sama Rully, ternyata selera musiknya sama ke arah hardcore punk," kenang Yoga. Lalu di suatu saat Yoga mendapat ajakan nge-band dari Rully lewat sambungan telepon. Di ajakan tersebut Rully mengaku sudah membuka omongan kepada Unbound untuk membentuk sebuah band hardcore punk. Tanpa pikir panjang Yoga mengiyakan dan mereka bertiga bertemu di Pasar Santa. "Di situ Danang mengajukan nama untuk pemain basnya, "seru nih orangnya. Namanya Wawan"," kata Yoga. "Ternyata enggak seru!," sela Danang yang disambut tawa personel lainnya.

Di tengah wacana membentuk Petaka status keempatnya memang sedang tidak terlalu aktif sebagai musisi. Unbound bersama Speedkill dan Yoga bersama Zootemple sedang menjalani proses rekaman yang tak kunjung usai. Rully bersama BRNDLS (dibaca: The Brandals) sedang memasuki masa vakum. Sedangkan Wawan yang baru bermain band lagi setelah terakhir delapan tahun lalu, ketika itu sedang terlibat di dalam manajemen band hardcore punk ternama asal Depok yaitu Thinking Straight.

Setelah merasa sudah diperkuat dengan formasi yang lengkap, Petaka pun tak buang waktu lantas memulai latihan dan membuat tiga materi baru. "Gue awalnya berekspektasi kalau band ini bakal dibikin kayak thrash hardcore gitu. Tapi dengan latar belakang musik Yoga, Rully, dan Unbound yang macam-macam, jadi begini hasilnya," ungkap Wawan. Unbound pun menimpal, "kalau gue mikirnya awalnya mau dibikin kayak Powerviolence gitu. Tapi ditengah-tengah jalan ternyata enak juga kalau dicampur dengan unsur ini itu." Hasilnya Petaka menetapkan paham hardcore punk cepat dengan ketukan d-beat konservatif, riff gitar sarat eksplorasi, suara bas menjurus mentah, serta lirik lagu yang memuat isu sosial.

Petaka. (Decky Arrizal)

Memasuki Oktober 2015 Petaka pun memutuskan untuk merekam materi-materi mereka agar dikumpulkan menjadi sebuah album penuh. "Waktu pertama kita mau rekaman, konsep awalnya adalah rekaman format live. Cuma pas dijalani dan diperhitungkan kelebihan dan kekurangannya, akhirnya kami memutuskan menggunakan format tracking," jelas Yoga. Ide menggunakan format tracking juga disetujui oleh vokalis Seringai yaitu Arian13, yang dianggap Unbound sebagai mentor perjalanan awal karier Petaka. Mereka kemudian memilih untuk melakukan rekaman di Venom muSICK Studio, Jakarta. Proses rekaman yang hanya menelan waktu dua puluh satu jam tersebut menghasilkan empat belas lagu dengan total durasi enam belas menit.

"Konsep awalnya mau, "Nih kemunculan Petaka!" Karena awalnya mau rilis di 2015 jadi judul albumnya Destroy 2015. Terus ternyata jadwalnya mundur makanya jadi Destroy 2016," ungkap Unbound. Lalu pada Kamis malam (26/11/2015), grup chat Whatsapp Petaka tengah sibuk membicarakan konsep foto band mereka. Ide pun sudah tersaring dengan resmi memilih Ade Branuza (manajer BRNDLS) sebagai fotografernya, kantor Ade Branuza sebagai lokasi fotonya, serta Sabtu (28/11/2015) sebagai jadwal fotonya. Namun berita duka ternyata lebih dulu menghampiri Petaka. Jumat (27/11/2015), penggebuk drum mereka, Rully Annash, meninggal dunia.

Rully wafat pada usia 38 tahun diduga akibat serangan jantung. Menurut Ade, Rully tutup usia ketika dalam perjalanan ke rumah sakit. Sebelumnya ia sempat mengeluh sesak napas kepada rekannya. Berita duka ini pertama kali diumumkan oleh sang kakak kandung sekaligus vokalis BRNDLS, Eka Annash, lewat akun Facebook miliknya. Jenazah Rully akhirnya dimakamkan di TPU Pondok Kopi, Jakarta Timur. Saat di rumah duka dan pemakaman ketiga personel Petaka hadir bersama rekan-rekan band seperti Seringai, Superglad, The Upstairs, Suri, Sore, Fable hingga Efek Rumah Kaca.

Unbound, Wawan, dan Yoga berkumpul di pemakaman tak hanya mengantarkan doa. Mereka saat itu juga mengekalkan keyakinan bersama untuk meneruskan cita-cita, ambisi, dan warisan terakhir Rully sebagai seorang musisi dengan tetap merilis album debut Petaka. Ketiganya enggan mengendurkan semangat meski menempuh pembukaan karier dengan sungkawa. Deras arus energi yang sudah tertuang ke dalam materi dan konsep sebelumnya, kini Petaka teguhkan atas nama dedikasi.

Petaka mengubah judul album debutnya menjadi Sebuah Dedikasi dengan diselimuti persembahan dari orang-orang terdekat Rully. Sampulnya terpampang foto hitam putih tampak belakang Rully mengenakan kaos hitam serta pork pie hat, sedang beraksi di hadapan set drumnya. Foto tersebut merupakan hasil tangkap manajer Petaka, Sofyan Refliyandi, dengan ilustrasi sampul oleh mantan calon istri Rully sendiri, Ifni Isauria. Dibalik sampulnya tertera album notes dengan cerita cukup dalam dari Eka sebagai seorang kakak kandung. Sedangkan di sebelah sampul depan terdapat foto ketiga personel Petaka yang berpose mengelilingi sebuah set drum. Cukup untuk memberi simbol bahwa album debut ini dibuat oleh Petaka yang memang diperkuat oleh empat personel.

Sebuah Dedikasi sebagai "amanat" Rully kini sudah Petaka teruskan. Posisi drum mereka ketika di atas panggung belakangan diisi oleh beberapa kawan, misalnya seperti manajer mereka sendiri Refli, drummer Taring, Gebeg, dan yang terbaru adalah Firman Zaenudin dari Teenage Death Star. "Biar Refli konsen sama urusan di balik layar saja. Sementara Firman sudah lumayan klik sih. Cuma belum tahu kedepannya apakah kami bakal menetapkan Firman sebagai personel tetap. Yang pasti karena dulunya Firman main sama band hardcore Blind to See, jadi gue rasa dia udah biasa nih main tipikal musik seperti ini," terang Unbound perihal pemilihan personel pengganti almarhum Rully.

Petaka sendiri tak ingin terburu-buru dalam urusan peluncuran album Sebuah Dedikasi ini. Secara pribadi Unbound tak ingin empat belas karya kebut Petaka menjadi seperti hanya numpang lewat saja. "Karena ini kan baru berjarak satu bulan sama perilisannya. Gue nggak mau ketika diadakan acaranya nanti orang-orang masih belum hapal sama lagu-lagunya," ungkapnya lagi.

Apalagi dengan fakta bahwa Sebuah Dedikasi adalah warisan terakhir Rully Annash sebagai musisi, tepat rasanya jika Eka mengatakan lewat album notes, "rentetan lagu yang mungkin tidak terlalu panjang, tapi jadi ledakan momentum yang kita tahu tidak akan terulang lagi karena Rully sudah benar-benar bebas sekarang. Dengan mendengarkan album ini saya harap bisa menginspirasi kita semua untuk melakukan apa saja yang diinginkan seperti Rully. With fun and freedom."

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Superman is Dead Tolak Permintaan Presiden Jokowi untuk Memakai Lagu Mereka
  2. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  3. Shaggydog, FSTVLST, Jalu TP Siap Tampil di RadioShow Yogyakarta
  4. Book Review: 'Tipe-X: 1999, Ketika Pecundang Jadi Pemenang'
  5. Komentar Jujur Efek Rumah Kaca tentang Kepemimpinan Presiden Jokowi

Add a Comment