Angga Dwimas Sasongko

Sutradara muda dengan ambisi komersial yang tetap mengedepankan kualitas

Oleh
Angga Sasongko. Bayu Adhitya

Di ajang penghargaan Festival Film Indonesia 2014, seorang sutradara muda naik ke atas panggung untuk mengambil piala yang didapatkan dari filmnya, umurnya belum lagi memasuki kepala tiga, tapi film yang dibuat olehnya sudah mengalahkan film-film lain yang dibuat para seniornya. Uniknya, ia malah tak mendapatkan nominasi untuk kategori Sutradara Terbaik. Pria itu adalah Angga Dwimas Sasongko.

Sepuluh tahun perjalanan kariernya dirangkum oleh sebuah penghargaan tertinggi bagi perfilman tanah air. Tidak begitu buruk. Sebagai seseorang yang memulai perjalanan di dunia film dari umur yang sangat muda, 21 tahun, pencapaian Angga bukanlah sesuatu yang instan didapatkan. Dedikasinya terhadap film pantas mendapatkan ganjaran sebuah penghargaan. Malah dengan usia yang tergolong muda, masa depan masih melintang gemilang di hadapannya.

Baru-baru ini, setelah wawancara selesai beberapa minggu sebelumnya, film Angga lainnya memenangkan penghargaan. Surat dari Praha, sebuah film tentang eksil Indonesia yang terasing di negeri seberang karena negara tak mengizinkannya pulang. Film kecil yang menyentuh dan bisa memberikan komentar mengenai keadaan negeri tanpa perlu memakai cara nyelekit memenangkan penghargaan film terbaik di Usmar Ismail Award, sebuah penghargaan yang pemenangnya dipilih oleh para wartawan film.

Apa sebenarnya yang ada di pikiran Angga Dwimas Sasongko? Bagaimana ia melihat perjalanan kariernya? Siapa sosok muda yang rajin berkarya ini? Rolling Stone Indonesia berbicara kepadanya di suatu sore di Filosofi Kopi, kafe yang awalnya dibuat olehnya dalam rangka promosi film tersebut dan sampai kini masih berjalan.

Anda memulai karier di dunia film cukup muda, 21 tahun. Film Foto, Kotak, dan Jendela jadi film pertama. Apa yang membuat Anda merasa yakin terjun di usia yang terbilang belia?

Waktu itu saya masih kuliah di Universitas Indonesia. Lupa sebenarnya bagaimana sampai bisa bikin film, intinya waktu itu cuma punya keinginan untuk membuat film panjang. Awalnya dari ngobrol bersama Aris (Salman Aristo) dan Gina (Gina S. Noer), bikin skrip, bikin cerita bareng-bareng, terus ternyata Aris ngomong sama pak Leo Sutanto (Sinemart), lalu dikasih duit Rp 400 juta, makanya sampai sekarang film itu yang punya Sinemart, bukan Visinema (rumah produksi milik Angga).

Sebelumnya udah bikin film pendek, bikin iklan, bikin video kecil-kecilan, udah jadi Asisten Sutradara untuk Catatan Akhir Sekolah, sampai akhirnya ada skrip ini, nyoba sih, belagak gila aja. Saya selalu merasa bisa tahu kegagalan karena nyoba dulu. Saya agak gesrek sama rasa takut ya, itu bawaan dari dulu, walaupun setelah punya anak nyali udah rada turun. Emang pada saat itu punya ambisi saja, saya agak lupa akhirnya bikin itu, lupa detailnya.

Sejak SMA tapi Anda sudah membuat film? Apa yang menjadi pemantik utama untuk berkarya? Ada pembuat film yang membuat karena memang cinta film, ada juga yang karena punya kesempatan. Anda termasuk yang mana?

Saya dari dulu memang suka nonton dan dulu kan memang ngetren bikin film karena ada Konfiden dan segala macem. Kakak saya dan teman-temannya kebetulan bikin film juga di rumah, memakai kamera handycam, wah lucu juga ya, ternyata bikin film bisa memakai handycam doang. Saya coba bikin film, ngedit di Mangga Dua, di tempat editing kawinan. Bikin film sok-sokan thriller.

Dulu itu menariknya karena banyak kine klub. Saya termasuk sering nongkrong di Kine Klub 28, Kemang. Di situ bertemu Echa Latjuba, dari dia saya belajar pembuatan film lebih detail, karena memang dia sudah nulis skrip dan sutradara film pendek juga. Dari dia saya belajar banyak, akhirnya film-film berikutnya saya ngedit di rumah dia. Keterusan.

Mungkin dulu saya itu merasa bukan anak yang spesial, saya berkali-kali nyaris nggak naik kelas, nggak ada yang bisa dibanggain, paling suka sama pelajaran Sejarah, ilmu-ilmu sosial gak penting gitu. Di film tuh tiba-tiba menang kompetisi film pendek antar pelajar, sesuatu yang kemudian ada acknowledgement dari orang, akhirnya diseriusin. Waktu lulus SMA, film pendek kedua menang kompetisi. Erwin Arnada, produser Rexinema saat itu ngajakin magang di produksinya dia, akhirnya saya jadi asisten sutradara di film Catatan Akhir Sekolah. Mulai terjun ke industri, mulai cari kerjaan sendiri.

Saya tumbuh dari keluarga entrepreneur. Ketika memutuskan terjun ke dunia film pun, saya mengembangkan cara itu, sampai sekarang yang saya lakukan adalah membuat project lalu melihat bagaimana project itu bisa dibangun. Bisa dibilang mungkin pada saat itu kemudaan, karena kemudaan itu saya sempat vakum syuting dari 2008 sampai 2014, karena saya belajar dari beberapa kesalahan. Saya mengakui mengambil beberapa keputusan yang salah, yang akhirnya membuat saya tiarap dulu.

Setelah membuat Foto, Kotak, dan Jendela, Anda membuat film Jelangkung 3

Di Jelangkung 3, saya work for hire. Foto, Kotak, dan Jendela lumayan merugi, rugi karena ditipu sama line producer saya. Akhirnya nggak ada duit lagi, saya terpaksa bayar hutang dengan kerja, menerima kerjaan di Rexinema bikin Jelangkung 3. Di situ saya pertama kali merasa jadi direktur profesional, budget lebih besar tapi juga terbatas, sebagai sutradara baru, masih muda, ada di PH besar, pasti ada tekanan, banyak koridornya.

Setelah itu saya merasa kalau ingin lebih bebas, saya harus bikin film sendiri. Kemudian saya bikin perusahaan, ke notaris bayar Rp 15 juta modalnya, sewa kantor di garasi rumah teman saya di Jatipadang bayar Rp 1 juta sebulan, bapak saya cuma modalin dua meja, yang sampai sekarang masih saya pakai untuk editing. Itu doang sama kursi lipat. Dari situ, bikin FTV, sisa duit dari FTV dipakai untuk beli alat-alat.

Beberapa kali bikin FTV, lalu akhirnya bisa pindah ke kantor yang lebih besar, berkat deal project Hari Untuk Amanda. Saya punya skrip, kemudian dikasih ke MNC Pictures, mereka suka, terus levelnya naik, dari yang work for hire jadi production service.

Syuting film Hari Untuk Amanda dilakukan tahun 2008, tapi baru bisa dirilis 2010. Ada pergantian eksekutif yang akhirnya membuat film terhambat. Proyeknya sempat nggak jelas, padahal film udah jadi. Pada saat itu saya mikir, film ini bisa jadi nafas baru bagi saya, bisa nunjukin ini Angga nih. Ada dua tahun vakum yang menyakitkan ya, karena menunggu untuk proyek ini keluar. Setelah film Hari Untuk Amanda rilis, disitu saya bilang ke teman-teman dan diri saya sendiri bahwa nasib harus ditentukan sendiri, nggak bisa kayak gini lagi. Dari film itu, saya nggak mau perusahaan saya jadi production service, tapi harus jadi production company.

Dari 2010, mulai nyiapin Cahaya Dari Timur. Sampai akhirnya film itu bisa dirilis di tahun 2014. Sepanjang empat tahun itu nyari duit dari bikin video klip, bikin iklan.

Hari Untuk Amanda mendapatkan sambutan yang bagus, Anda akhirnya menjadi sebuah nama yang orang yang bisa percaya.

Film itu dapat delapan nominasi di Piala Citra. Waktu itu setelah Hari Untuk Amanda, saya dapat banyak tawaran. Tapi saya cuma mau bikin film saya sendiri, ada lima skrip yang saya tolak saat itu. Saya tidak mau work for hire atau production service. Pilihan yang kemudian dibayar dengan penuh perjuangan.

Saya melihat tiga film awal Anda adalah proses belajar, tiga film berikutnya terasa lebih personal dari Anda.

Apa yang tidak saya dapat di tiga film awal, saya keluarkan di Cahaya dari Timur. Waktu itu saya bilang, kalau mengerjakan film lagi, saya ingin film yang besar, film yang bisa menunjukkan Angga itu siapa, Angga bisa bikin apa. Dari semua cerita yang ada, saya merasa Cahaya dari Timur yang paling cocok untuk dibuat.

Cahaya dari Timur adalah sebuah karya yang ambisius.

Ketika Anda memulai sesuatu, Anda punya dua pilihan. Mau dari yang kecil atau langsung yang besar. Dengan risikonya setengah mati, harus dikerjain. Syutingnya satu setengah bulan, lama di riset dan pencarian dana. Saya ketemu Sani (tokoh yang kemudian dijadikan karakter utama) pada 2007, pada saat pembuatan dokumenter Garuda Muda.

Film Cahaya dari Timur terasa besar karena tema politisnya, syutingnya di daerah yang tidak umum dan durasinya yang panjang tapi sebenarnya punya kisah yang sederhana. Tentang orang biasa yang menembus batasan-batasan yang tak terbayangkan.

Saya merasa ini film material banget. Saya selalu suka sama film-film kayak Remember the Titans dan kisah ini punya elemen seperti itu, tapi ngomongin hal yang substansial. Semuanya ada di cerita ini, ada isu politis, ada dramanya, secara produksi kelihatan mewah. Saya memilih mengerjakan film ini walaupun Filosofi Kopi juga idenya sudah ada sejak 2011.

Apakah pertemuan dengan Chicco Jericho cukup membantu? Sebelumnya dia praktis bukan nama favorit untuk memerankan tokoh utama di layar lebar.

Chicco menurut saya salah satu kekuatan utama di Cahaya dari Timur. Salah satu keputusan terbaik dari kehidupan saya adalah memilih Chicco Jericho sebagai Sani Tawainella. Ia itu orang yang rendah diri, orang yang terbuka, selalu ingin belajar. Dan yang pasti pada saat itu, Chicco mau memberi waktu kepada saya untuk mengembangkan film ini jadi sesuatu. Dia mengorbankan semua sinetron stripping untuk mendalami karakter Sani selama tujuh bulan.

Film itu kemudian menjadi Film Terbaik di Festival Film Indonesia 2014, tapi Anda tidak mendapatkan nominasi untuk Sutradara Terbaik.

Kalau kata Garin Nugroho, mungkin sutradaranya lagi tidur. Saya sebenarnya nggak punya ekspektasi, apalagi ada film Soekarno yang lebih menjanjikan karena nasionalisme dan segala tetek bengeknya. Tapi nggak tahu ya, tiba-tiba dapat, saya senang. Pas naik podium berasa lucu, filmnya menang film terbaik, tapi sutradaranya nggak dapat nominasi.

Apakah jadi patokan bagi Anda untuk melampaui pencapaian memenangkan film terbaik?

Patokan dari Piala Citra nggak ada sama sekali sih. Saya tidak punya tendensi bikin film untuk memenangkan penghargaan. Tapi setelah membuat Cahaya Dari Timur dan Filosofi Kopi, saya jadi lebih memilih tawaran yang masuk. Nggak bisa bikin film asal-asalan. Saya ingin membangun filmografi yang berdasarkan integritas dan reputasi.

Akhirnya Anda memilih komersil dengan cara Anda sendiri.

Kalau Anda lihat film-film saya nggak ada yang benar-benar arthouse ataupun idealistik. Saya tetap memikirkan sisi komersil, bahwa film saya harus ada dimensi hiburannya. Saya merasa selalu membuat dengan formula yang belum banyak dipakai oleh pembuat film Indonesia. Misalnya, membicarakan konflik agama lewat pertandingan sepak bola, membicarakan kopi Indonesia dan persoalan pertanian lewat kedai kopi hipster dan dua cowok keren, membicarakan eksil 65 lewat kisah cinta.

Saya ingin membuat film yang bisa diakses banyak orang, saya bukan cuma membuat film yang akan ditonton sama orang yang ingat tragedi 1965. Saya ingin film saya ditonton sebanyak-banyaknya.

Kalau saya harus membuat film dengan satu juta penonton tapi saya nggak suka atau tidak menggambarkan saya, mendingan saya jualan kopi saja.

Filosofi Kopi adalah terobosan yang menarik, karena Anda bukan hanya membuat film, tapi juga memikirkan model bisnis yang bisa memperpanjang nafas dari film yang Anda buat.

Waktu pertama kali idenya muncul, saya memang ingin punya content yang integrated, punya 360 Strategy. Lewat Filosofi Kopi, hal-hal semacam itu bisa terjadi. Daripada saya nyewa lokasi, mendingan saya bikin set sendiri mulai dari nol. Satu konsep yang memang dipikirkan dari awal, memang semua film tidak bisa diperlakukan seperti ini, kalau bikin satu film nambah satu perusahaan, susah juga.

Anda juga cukup luwes dalam penempatan sponsor di Filosofi Kopi. Beberapa kali terlihat merek-merek terkemuka sebagai latar film.

Saya paham bahwa film-film saya tidak terlalu marketable. Dalam artian bukan film-film yang bisa ditonton oleh satu juta penonton. Nggak tahu kalau suatu hari bisa, tapi untuk sekarang saya nggak yakin. Tidak ada juga formula untuk mendapatkan satu juta penonton. Sehingga salah satu business model yang dilakukan adalah melakukan kerja sama dengan partner lain.

Saya ingin ralat, deh. Bukan soal film saya tidak bisa ditonton banyak orang, tapi business model semakin hari mesti semakin banyak. Film tak lagi merupakan content yang hanya ditonton orang di bioskop, tapi bisa berkembang ke hal-hal lain, digital dan lainnya. Banyak business model yang bisa dikembangkan.

Salah satu yang menurut saya bisa dijual, film kepada brand. Ini yang saya coba. Saya melihat bahwa brand butuh content, sebagai pembuat film saya butuh promosi, brand punya media, itu dua hal yang saya gabungkan. Apa fungsi Torabika di Filosofi Kopi? Dia membayar promo film, kalau nggak saya harus keluar duit satu sampai dua miliar, terlalu banyak risiko jika saya harus menghabiskan duit segitu banyak. Jadi ini sebenarnya simbiosis mutualisme.

Film terakhir Anda adalah Surat Dari Praha. Film tentang eksil Indonesia dan nasib buruk yang harus dihadapinya. Sekali lagi Anda membuat film bernuansa politis. Kenapa Anda merasa penting membuat Surat Dari Praha?

Bikin film kayak jihad kali ya (Tertawa).

Menurut saya penting bagi seorang sutradara untuk mempunyai pernyataan di film-filmnya. Menurut saya penting untuk karya itu menggambarkan apa yang dipikirkan kreatornya. Misinya apa, visinya apa.

Topik ini sepertinya sudah lama Anda pikirkan untuk buat. Apa yang menggugah hingga Anda memutuskan untuk membuatnya?

Karena menurut saya 1965 itu test of our of generation. Pembicaraan ini mau dibawa itu penting banget. Kalau misalnya rekonsiliasi tidak bisa terjadi di generasi saya, paling tidak generasi kita ini punya catatan yang cukup untuk generasi berikutnya membangun rekonsiliasi masa lalu. Saya ingin jadi bagian dari itu, untuk mencatat peristiwa di masa lampau.

Apakah Anda merasa berhasil menyampaikannya?

Kalau saya lihat respons di media sosial, saya cukup bahagia, banyak anak muda yang jadi tergerak untuk mencari tahu. Jadi film Surat Dari Praha cukup jadi trigger saja.

Bagaimana Anda menanggapi kontroversi terkait film Surat Dari Praha? Dari mulai penuntutan terhadap kesamaan judul sampai dianggap plagiat kepada karya tertentu.

Setiap orang bebas berpendapat, tapi kalau mau menuduh, ya buktikan. Sekarang kalau ada yang bilang film saya mirip karya Leila S. Chudori? Apa yang boleh ngomong tentang 1965 hanya dia? Kalau hanya satu orang yang berhak bicara soal eksil, berarti cuma satu orang yang boleh membahas kuntilanak. Kan caranya tidak seperti itu. Eksil kan bagian dari sejarah kita. Leila bicara tentang orang-orang di Paris, saya bicara tentang orang-orang Indonesia di Praha.

Terus kalau misalnya Yusri (Yusri Fajar, penulis buku Surat Dari Praha) bilang, film ini plagiat. Kasih tahu saya titik plagiatnya dimana. Oh judulnya sama. Judul buku Anda juga mirip dengan dua judul lain di dunia ini. Buku sama buku malah, kalau ini kan buku sama film. Secara hak cipta tidak bersinggungan. Dua-duanya dilindungi undang-undang. Yang punya trademark filmnya ya saya, karena saya daftar. Pas saya daftar sih tidak ada masalah, karena tidak ada yang mendaftarkan mereknya juga. Kalau ada yang udah pegang, saya tidak akan ambil.

Kalau Anda menonton film saya, pasti langsung mengerti, judul yang paling cocok apa. Secara hukum saya udah memastikan kalau aman-aman saja, saya memakai judul tersebut.

Ke depannya apa lagi yang Anda buat? Belakangan film-film anda lingkupnya makin kecil. Tentang tim sepak bola, tentang warung kopi, tentang eksil di Praha.

Kalau di Surat Dari Praha saya bicara tentang Indonesia yang besar lewat tempat yang jauh. Film terbaru saya, akan saya kerjakan di Mei ini, Bukaan 8 akan membahas sesuatu yang kelihatan besar dari luar tapi lewat tempat yang kecil, sebuah rumah sakit.

Film Bukaan 8 bercerita tentang pasangan muda menghadapi kelahiran anak pertama, disitu mereka baru belajar jadi orang tua, filmnya bakal dimulai dari bukaan satu sampai bukaan delapan. Film kecil, syutingnya selama tujuh hari, Chicco Jericho bakal jadi suaminya. Suami istri ini akan menghadapi banyak hal seperti ribut sama keluarga, masalah administrasi dan lain-lain. Kayak awalnya mereka menyiapkan duit tujuh setengah juta sebagai DP karena rumah sakit sedang merayakan ulang tahun, jadi ada diskonan. Tapi begitu mereka masuk, hari sudah berganti dan diskonnya tidak ada lagi. Kisahnya bakal seputar itu.

Menurut saya ini tantangan storytelling yang menarik, pasti ngarahinnya seru. Saya ingin setiap film saya ada tantangan baru bagi saya. Menurut saya Surat Dari Praha masih terlalu lebar, saya ingin lebih sempit lagi membicarakan Indonesia. Melalui hal-hal kecil saja.

Menurut saya terlalu muluk bagi Indonesia untuk membuat sesuatu seperti Batman Begins atau The Avengers. Terlalu besar bagi kita. Membuat film dengan budget triliunan, tidak mungkin. Tapi saya yakin kita punya cerita-cerita kecil yang unik, yang bisa punya karakter kita sendiri kayak Iran, Korea Selatan, Jepang.

Ada sutradara yang memengaruhi anda dalam berkarya?

Hirozaku Koreeda, Cameron Crowe, beberapa nama yang jadi kiblat untuk film-film saya. Koreeda bisa membahas sesuatu yang sederhana seperti keluarga yang tertukar. Sementara Crowe, kesamaan saya dengannya adalah film-film saya punya ketergantungan sama musik. Setiap saya baca skrip, sebelum saya ketemu visualnya, saya cari lagunya dulu, dari situ baru saya bisa membayangkan. Filosofi Kopi 2 lagu pembukanya sudah ada, padahal skripnya belum ada. Lagunya dikerjakan Robi Navicula (Ia memperdengarkan lagu bernuansa optimis). Lagu itu kalau didengarkan ini lagu komersil, tapi tidak cemen kan? Maksudnya punya kelas. Film-film saya pun inginnya begitu, nggak berarti barang jualan itu harus jadi murahan. Ada cara lain.

Editor's Pick

Add a Comment