#NyalaUntukYuyun di Tengah Racun Testosteron yang Sok Suci

"Kita hidup dalam dominasi patriarkal yang selalu merasa dirinya lebih berkehendak atas dunia dibandingkan para wanita"

Oleh
Pixabay

Baru-baru ini, kita dikagetkan dengan sebuah kasus tragis meninggalnya Yuyun, seorang remaja perempuan berusia 14 tahun asal Bengkulu yang dibunuh dan dibuang ke jurang setelah diperkosa beramai-ramai oleh 14 orang pria.

Cukup mudah untuk melihat kasus ini sebagai salah satu contoh lain dari kebiadaban manusia. Tak sulit juga untuk menyatakan kasus ini sebagai pengaruh buruk alkohol. Tapi apa kedua hal ini cukup? Apakah semuanya hanya perkara kebiadaban individu dan minuman, terlepas dari gemblengan budaya dan pola pikir maskulin yang memungkinkan kasus semacam ini terjadi?

Mungkin di antara Anda sekalian ada yang ingat masa-masa awal era internet di Indonesia dulu, sebelum Google masuk mempraktekkan kewenangannya dalam memilah dan menyensor frasa-frasa pencarian. Saat itu, jika kita memasukkan kata "Cewek SMP," salah satu frasa yang tersarankan secara otomatis adalah "Cewek SMP Bugil" dan frasa-frasa lain yang lebih vulgar.

Inilah wajah pengguna internet Indonesia yang sesungguhnya, sejujur-jujurnya sesuai algoritma mesin pencari tanpa penyensoran.

Hal ini menjadi penting karena dua hal. Pertama, tak ada yang membicarakan hal ini di kalangan aktivis anti-pornografi. Semua pornografi dianggap buruk, titik. Tak ada bedanya apakah yang di layar merupakan wanita dewasa yang telah setuju dan berkehendak tanpa paksaan, atau bocah di bawah umur yang berada dalam pengaruh obat-obatan.

Dalam wacana ini, gagasan "persetujuan" sama sekali kita lupakan. Kita terlalu sibuk dengan menyalahkan kodrat tubuh wanita yang selalu menggoda pria, sehingga kita sama sekali lupa bahwa wanita adalah makhluk yang punya kehendak bebas dan hak untuk mengatur jalan hidup mereka sendiri.

Kedua, tak ada yang membicarakan hal ini di sekolah. Semua pendidikan seks dilakukan dengan canggung dan cepat-cepat, jangan pernah bicarakan dan jangan pernah lakukan. Para remaja putri digembleng untuk melihat tubuh mereka sebagai barang kotor yang memicu segala dosa dan tragedi, sementara para remaja putra digembleng untuk melihat tubuh lawan jenisnya sebagai hal terlarang yang harus diinginkan dengan mulut penuh air liur.

Kita terlalu sibuk menilai wanita dari seberapa jauh mereka memicu hasrat pria, sehingga saat kasus pemerkosaan terjadi, kata-kata yang sama selalu muncul. Khilaf. Busana minim. Alkohol. Terlihat menggiurkan. Lokus kesalahan selalu terletak pada faktor eksternal—godaan dari sang korban, keadaan mabuk, dan sejenisnya.

Dari media hingga pengadilan, tak pernah ada yang menyebutkan kurangnya pendidikan seks usia remaja, kurangnya penanaman rasa hormat pada tubuh dan otoritas wanita, serta seksisme dan obyektivikasi wanita yang begitu mengakar dalam budaya kita sebagai faktor-faktor penyebab tingginya angka pemerkosaan dan kekerasan seksual terhadap remaja.

Hal ini menjadi lebih penting lagi saat kita melihat serangkaian kasus yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir. Di awal bulan April lalu, sebuah festival kreatif dari dan untuk wanita di Jogja, LadyFast, dibubarkan secara paksa oleh ormas Islam dan kepolisian. Ormas tersebut berteriak-teriak bahwa wanita tidak seharusnya berlaku seperti itu, dan bahwa mereka hendaknya berhenti merusak moral bangsa dan segera bertaubat.

Beberapa minggu kemudian, Kemal Palevi, seorang komedian ternama Indonesia, berpikir bahwa menanyakan ukuran bra para remaja wanita yang sedang berjalan-jalan di mal dan mengunggahnya ke YouTube adalah suatu tindakan yang lucu. Ingat bahwa ini dilakukan secara spontan dan tanpa persetujuan resmi dari anak-anak maupun orangtuanya, oleh seorang selebriti dengan hampir setengah juta pengikut.

Sekilas, mungkin kedua kasus ini justru berkebalikan: Yang satu polisi moral konservatif yang mudah terusik, yang satu komedian progresif yang tak berpikir dua kali sebelum berbuat tidak senonoh dalam aksi-aksinya. Namun kita harus tahu bahwa kedua aksi tersebut adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama: obyektivikasi wanita. Keduanya memandang wanita tak lebih sebagai obyek: Yang pertama untuk didisiplinkan, yang kedua untuk dieksploitasi di muka umum.

Memang, banyak faktor pemicu yang berujung pada tragedi kasus Yuyun. Tapi jangan lupa, berbagai faktor pemicu tersebut bisa ada dan memicu reaksi sedemikian rupa hanya dalam konteks budaya dan pola pikir tertentu.

Pola pikir ini nyata dan dominan. Serangkaian kasus lain di mana wanita ditempatkan pada posisi lemah merupakan bukti yang tak terelakkan. Kita hidup dalam sebuah dominasi patriarkal yang selalu merasa dirinya lebih berkehendak atas dunia dibandingkan para wanita, sebuah racun testosteron yang menganggap dirinya lebih suci dari semua yang lainnya.

(Foto: Pixabay)

#NyalaUntukYuyun—sebuah kampanye daring untuk menunjukkan kepedulian dan keprihatinan masyarakat untuk sang korban—hingga kini masih berlangsung. Kampanye ini ditujukan untuk memberi tekanan pada sistem hukum agar benar-benar memproses kasus ini secara tuntas dan obyektif, tidak terbawa sikap mempersalahkan korban seperti yang, sayangnya, sangat terlalu biasa terjadi.

Maka, adanya #NyalaUntukYuyun membuktikan bahwa kita semua sudah paham potensi bias patriarkis dari sistem hukum di Indonesia yang kacau. Ini sebuah kesadaran yang bagus dan amat patut kita lanjutkan.


Dan marilah kita lanjutkan tanpa tanggung-tanggung. Biarkan kasus Yuyun menjadi pemicu bagi kita untuk mulai mempertanyakan pertanyaan-pertanyaan besar tentang bagaimana pria dan wanita berikut hasrat dan kehendak mereka didudukkan dalam konteks hukum dan budaya di negeri ini.

Kita semua sudah tahu bahwa negeri kita sarat dengan sikap-sikap sok suci yang destruktif. Dan kita juga mulai melihat bahwa sikap-sikap ini terjalin erat dengan seksisme dan bias-bias maskulinitas yang merusak. Inilah yang harus mulai kita gaungkan. Negeri kita sudah terlalu penuh dengan racun testosteron yang sok suci dan memuakkan.

Tak akan ada emansipasi sosial yang sesungguhnya tanpa emansipasi wanita. Percuma berpura-pura menjadi bangsa yang setara dan berdaulat jika masih banyak remaja yang menjadi korban pemerkosaan dan pelecehan seksual. Kasus Yuyun adalah ujung gunung es raksasa yang melibatkan kita semua.

Editor's Pick

Add a Comment