Zealspeaks, Trio Pembangkit Brit-rock

Awal Februari lalu merilis album debut berjudul sama dengan nama band, 'Zealspeaks'

Oleh
Dimas Arditya (drum), Danny Maretta (vokal/gitar), Toba Manurung (gitar). Decky Arrizal

Ada kalanya ketika musik rock Inggris (Brit-rock) mendominasi selera pemuda-pemudi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia pada dekade '90-an. Akan tetapi setelah lebih kurang dua dekade berselang, produktivitas kancah musik Inggris dalam menelurkan band-band segar terkesan terus mengendur. Nomor-nomor super populer macam kepunyaan Oasis, Blur, ataupun Radiohead kini acap kali menjadi daftar lagu wajib oleh band-band Top 40 di kebanyakan café ataupun bar malam.

"Itu artinya apa? Berarti (musik) British masih bertahan sampai sekarang. Walaupun kalau kami melihat dari segi band-band baru yang muncul tuh sangat jarang. Bahkan mungkin nggak ada malah," ucap Dimas Arditya, drummer dari trio yang terpengaruh Brit-rock asal Bandung bernama Zealspeaks. Band tersebut beranggotakan pula Danny Maretta (vokal/gitar) dan Toba Manurung (gitar), bagai menjadi pemberi nafas tambahan demi musik Brit-rock tetap hidup dan sehat di tanah air.

Zealspeaks berdiri sejak 2012 silam. Ini merupakan ide dari Danny dan Toba yang merupakan teman semasa sekolah. Jika ingin ditarik mundur pertemuan masa muda ketiga personel Zealspeaks dengan musik tidak langsung berkenalan dengan lagu bernuansa Brit-rock. Danny yang sempat menempuh pendidikan musik untuk kelas gitar klasik, justru jatuh hati terlebih dahulu dengan dunia musik ketika pertama kali menemukan punk rock.

"Jadi bokap gue udah susah-susah membiayai les gitar klasik, ternyata musik punk cuma dua senar doang," ucap Danny sambil tertawa. Sedangkan bagi Dimas yang belajar drum secara autodidak sejak duduk di bangku sekolah dasar, awalnya malah mendengarkan band-band rock/punk Amerika yang besar di era '90-an seperti Guns N" Roses, Green Day, Extreme, hingga Mr. Big.

Sama halnya dengan kedua personel Zealspeaks, Toba pun menjalani pendidikan musik – ia belajar piano – juga menikmati karya-karya asli Amerika terlebih dahulu. "Saat orang-orang mulai mendengarkan grunge, abang gue tiba-tiba muterin Oasis," kenang Toba. "pas gue dengerin, "wah band apaan nih?" Ternyata ini dari Inggris. Dari situ gue mulai mencari band-band Inggris yang lain seperti Blur, Suede, The Cure," tambahnya. Pengalaman itu lah yang diingat Toba sebagai titik awal kecintaan dirinya akan musik Inggris. Dan bagi Danny dan Dimas, pengalaman Toba tersebut juga dianggap menjadi salah satu alasan mengapa Zealspeaks memiliki warna musik seperti sekarang ini.

"Sebenarnya kalau dibilang British rock itu lebih ke arah sound-nya," kata Danny menggambarkan musik Zealspeaks. "Kami sound-nya lebih banyak menggunakan referensi musik-musik Inggris seperti distorsinya yang kotor. Cuma kalau warna musiknya sendiri ada macam-macam. Nggak terpaku harus rock semua," tambahnya. Dan setelah berjalan selama lebih kurang empat tahun dalam meramu musik mereka, Zealspeaks akhirnya merilis album penuh pertama di 2016 yang juga bertitel sama dengan nama band, Zealspeaks.

Penggarapan album tersebut terbilang cukup cepat dikerjakan oleh mereka. Dijalani saat Ramadhan 2015, Zealspeaks memiliki tenggang waktu yang tidak biasa. Bukan karena tuntutan pihak label atau menjadwalkan target sendiri yang maha-ketat, namun tenggat waktu muncul dikarenakan studio tempat mereka melakukan rekaman bernama Massive Studio, Bandung, harus gulung tikar.

"Tadinya kami mau rekaman bulan September, pokoknya abis lebaran. Tapi ternyata kami dikabari kalau studionya mau tutup. Ya, sudah jadi kami percepat saja. Zealspeaks menjadi band terakhir yang rekaman di sana," jelas Toba. Hasilnya adalah sepuluh lagu British rock yang segar dengan nomor "SplitMind" – diadopsi dari album pendek The First Solitude – sebagai single perdananya.

Perihal departemen lirik di karya-karya Zealspeaks, Danny menjadi penanggung jawabnya. Menurut Danny, lirik-lirik Zealspeaks yang memiliki pesan-pesan positif di dalamnya, didasari latar belakang beragam dari pengalaman pribadi, teman, hingga buku sebagai referensi. Seperti contohnya lagu "Televisi Mimpi" yang datang dari pembicaraan malam hari antara Danny bersama Toba. ""Televisi Mimpi" itu tentang pencapaian kami. Jika ingin dibandingkan dengan mimpi kami, pencapaiannya ini sudah sampai di mana. Ternyata masih jauh, jadi gue ngerasanya saat itu kami sudah terlalu lama bermimpi," kata Danny. Sedangkan di nomor "Split Mind" Danny mengaku inspirasinya datang dari cerita temannya tentang gangguan kejiwaan schizophrenia. "Pada intinya lirik Zealspeaks 10% yang ditulis adalah kebohongan atau omong kosong, 90% sisanya adalah kejujuran," lanjutnya.

Meski terdapat jadwal kerja di luar bermusik, kini kiprah dan kerja keras Zealspeaks dalam bermusik makin menumbuhkan hasil. Penyanyi pop solo ternama, Marcell Siahaan, mengaku menggemari karya mereka. Bahkan Marcell memiliki peran secara tak langsung dalam kelanjutan karier Zealspeaks. Toba menceritakan, "waktu itu Marcell bilang ke gue, "Ba, gue suka lagu yang tadi. "Pelangi Senja". Itu enak banget, British '90-an banget." Kami melihat Marcell sebagai orang yang menjalani kancah musik indie maupun mainstream. Jadi kami memperhitungkan masukan dari dia." Dan kini "Pelangi Senja" yang bercerita tentang perjuangan ketiga personel Zealspeaks, telah resmi menjadi single ketiga mereka dari album Zealspeaks.

Saat ditanya apa pencapaian tertinggi dari seorang musisi, Dimas menggambarkan pengalaman dengan Marcell adalah salah satu contohnya. "Ya, karya kami bisa dihargai. Masterpiece kami kan ya karyanya itu sendiri. Ketika musik kami dikenal dan dihargai, as personal juga bisa lebih banyak teman," kata Dimas. Sedangkan Danny menganggap, "pencapaian tertinggi seorang seniman, nggak terpaku pada seorang musisi saja ya, ketika karyanya bisa menjadi inspirasi banyak orang. Itu saja," katanya. Toba pun memiliki jawaban satu suara dengan personel lainnya. "Kalau sekarang ditanya influence kami siapa, gue jawab Oasis, Danny jawab John Lennon dan The Beatles, Dimas jawab band-band metal. Gue sih sangat menunggu ada band yang ditanya influence-nya siapa, mereka menjawab Zealspeaks."

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Robin Thicke, Jonas Blue, Isyana Sarasvati Siap Meriahkan Pesta Ulang Tahun NET.
  2. Damon Albarn Bicara tentang Album Terbaru Gorillaz yang Penuh Bintang dan Masa Depan Blur
  3. Movie Review: Guardians of the Galaxy Vol. 2
  4. Disney Mengumumkan Tanggal Rilis ‘Star Wars’ dan ‘Frozen 2’
  5. Spotify: “The Chainsmokers Paling Didengarkan oleh Pelajar Indonesia”

Add a Comment