DDHEAR: Dokumentasi Persahabatan Endah N Rhesa dan Dialog Dini Hari

Dua grup folk bertemu dalam satu proyek kolaborasi penuh cinta

Oleh
DDHEAR (kiri - kanan): Denny, Rhesa, Endah, Brozio, Dadang. Bayu Adhitya

2016 dipenuhi banyak kejutan menyenangkan. Salah satunya datang dari dua grup folk yang selalu menarik diikuti perkembangannya, Endah N Rhesa dan Dialog Dini Hari. Keduanya kini berkolaborasi di bawah satu nama DDHEAR. Bukan cuma sekadar penampilan di satu festival, tapi berlanjut pula ke pembuatan album mini dan konser.

Endah N Rhesa dan Dialog Dini Hari jelas bukan nama remeh di kancah musik independen Indonesia. Keduanya telah menyumbangkan sumbangsih penting dengan mempopulerkan musik folk yang sempat lama hilang dari peredaran. Maka ketika keduanya memilih bergabung dalam satu nama DDHEAR, perhatian lebih pantas ditujukan kepada mereka. Bagaimana jika keduanya bermain dalam satu unit band?

Satu ketika kedua grup ini dijadwalkan tampil sepanggung di sebuah acara kampus, salah seorang penyelenggara Sanur Village Festival kebetulan melihatnya dan terpikir untuk menggabungkan keduanya dalam satu kolaborasi spesial untuk festival tersebut. Ide ini disambut baik oleh keduanya, yang berujung pada penampilan bersejarah di Sanur Village Festival 2015. Belum ada nama DDHEAR, tapi keduanya berbagi kesenangan yang sama.

Di Sanur Village Festival 2015 mereka membawakan dua lagu yang kemudian menjadi jembatan bagi penampilan masing masing. Karena memang tidak dirancang untuk sebuah proyek jangka panjang, kolaborasi awal hanya membawakan repertoar yang sudah ada. Persiapannya pun tergolong minim, latihan baru bisa dilakukan di hari H, bahkan secara sederhana. "Rencananya sih latihan bareng, tapi karena pesawat kita delay, jadilah ketemunya sama mas Dadang (vokalis/Gitaris Dialog Dini Hari) saja, cari spot yang agak jauh dari panggung untuk latihan," jelas Rhesa. "Ketemu sama Deny (Drummer Dialog Dini Hari) dan Brozio (Bassis Dialog Dini Hari) ya di atas panggung jadi kayak "Haiii"," imbuh Endah, "Konsepnya juga jamming. Bawain lagu yang ada aja."

Dari penampilan tersebut, Endah mengaku senang tapi tak memikirkan apakah proyek kecil ini bakal terus berlanjut. Guswib, fotografer Dialog Dini Hari yang kemudian bekerja sama dengan Endah N Rhesa berusaha menjodohkannya kembali. Pembicaraan pun berlanjut ke niat untuk membuat sebuah lagu. Endah pun merunut kronologi penciptaannya, "Dua minggu setelah main di Sanur, kami kebetulan ada manggung lagi di Bali. Jadi memang berusaha menyempatkan untuk merekam video membawakan lagu baru." Lagu pertama, "Jangan Berhenti Engkau Bernyanyi" dibuat, Dadang menciptakan draft yang dikirim melalui pesan elektronik. Ketika akhirnya bertemu untuk membuat video, di situ juga lah mereka merekam live lagunya dan mengaransemen bersama lagu, menyesuaikan dua idealisme band dalam sesi yang singkat.

Karena merasa ada kecocokan, ide menyatukan kedua grup ini makin terasa kuat, kebetulan setelahnya mereka punya jadwal main bersama di Malang. Di tempat tersebut, mereka mengadakan rapat kecil membahas masa depan proyek ini, "Mau diapain ya materi ini? Karena bagus dan asik gitu. Kalau cuma dibiarin, sayang," ujar Rhesa.

Obrolan baru ini berlanjut ke pembuatan lagu kedua "Terang, Berpijar Harapan." Kali ini Endah N Rhesa yang memulai ide awal lagunya, kemudian Dialog Dini Hari mengisi bagian mereka dan melengkapinya menjadi satu keutuhan. "Selang dua bulan, kami balik lagi ke Bali untuk menggarap lagu yang kami bikin. Itu juga sama kejadian kayak gitu juga, via WhatsApp, datang, garap, rekam," ujar Endah. Ketika Endah sedang asik bercerita, tiba-tiba drummer Deny menanggapi, "Kirain nggak jadi, baru dua hari sebelumnya kami tahu bakal datang." Ternyata Deny dan Brozio sempat tak tahu bahwa lagu ini tetap akan dibuat. Endah yang baru sadar fakta ini membalasnya sambil tawa, "Oh kalian pikir nggak jadi? Kok gitu?" Dadang buru-buru meluruskan, "Jadi waktu itu saya lagi hectic banget, cuma komunikasi sama Endah dan Rhesa. Karena sibuk banget baru ngasih tahu anak-anak dua hari sebelumnya."

Setelah dua lagu yang disiapkan secara spontan. Rhesa kemudian melontarkan ide untuk meneruskan dua lagu yang sudah digarap ke dalam satu format album mini. Selain dua lagu baru yang sudah ada, dua lagu lainnya direkam belakangan, kali ini masing-masing bertukar lagu atau saling meng-cover lagu satu sama lain. Jadilah Endah N Rhesa menyanyikan lagu "Temui Diri" dari album Tentang Rumahku (2014) dan Dialog Dini Hari memilih "Wish You Were Here" dari album Look What We"ve Found (2010).

Lagu "Wish You Here" dipilih oleh Danang, "Waktu itu saya lagi di Eropa, terus kepikiran satu lagu Endah N Rhesa, udah pernah nonton tapi lupa judulnya, akhirnya setelah mencari, ketemu sama lagu yang ini. Lagunya paling gampang untuk dimasukkan sama gayanya Dialog Dini Hari, kalau lagu yang lain kan susah. saya coba nyanyiin dengan caraku dan cocok."

Untuk lagu "Temui Diri" Rhesa yang kebagian menjelaskan, "Sebelumnya saya sudah sempat bermain sama Dialog Dini Hari, main bass menggantikan Brozio, secara nggak langsung udah punya referensi lagu-lagu mereka. Dari semua lagu, saya rasa album ini butuh sesuatu yang upbeat, lagunya gampang, chord sederhana."

Membuat band adalah sebuah tantangan tersendiri, karena banyak ego yang mesti dipersatukan. Tentunya ketika dua band bersatu, dengan mudah diprediksi bakal terjadi friksi, ternyata hal itu tidak berlaku bagi mereka. "Saya pribadi, awalnya melihat secara personal," tutur Dadang. "Dari dulu udah kenal, ketemu di Sanur, jamming di belakang panggung, ngobrol sama mereka asik. Saya tutup mata untuk segala macam teknik musikal mereka, cukup berkenalan. Dari situ berpikir itu bekal yang bagus seandainya ada sesuatu di depan. Ketika akhirnya terjadi, saya sudah nggak kaget, saya berani berhadapan dengan mereka karena udah tahu mereka kayak gimana," imbuh Dadang lagi.

Endah pun menyimpan kekaguman yang sama, terutama karena Dialog Dini Hari masing-masing pribadinya sudah malang melintang lebih dulu di dunia musik. "Saya sih segan ya awalnya, karena kalau saya mencoba mengenal musisi lewat musik dan karyanya, mencari tahu latar belakangnya ngapain saja, ternyata tokoh-tokoh banget yang disegani di scene. Karena saya berhadapan dengan orang yang bekalnya banyak banget," ujar Endah.

"Cuma ya ternyata nyaman banget, karena banyak bekalnya mereka jadi sangat mengayomi. Sama sekali nggak ada ego. Mereka sendiri seperti kakak," Rhesa pun menambahkan. "Lebih santai. Bikin sebuah grup itu sama kayak berteman, komunikasi harus lancar, ketika mau kolaborasi, komunikasi harus jadi yang paling utama, mau mainnya kayak apa, kalau komunikasinya nggak nyambung, jadi nggak seru. Dari pertama, secara musikal udah nyambung," imbuhnya lagi.

Album mini Parahita telah dirilis sejak 5 Maret 2016. Pertama kali dirilis secara digital berbarengan dengan penampilan di Java Jazz Festival 2016. Kecocokan ini pun berlanjut bukan hanya ke rekaman dan penampilan khusus, tapi juga konser. Konser Parahita digelar pada 7 April lalu di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta. Di konser ini mereka tampil sangat menghibur, penuh guyonan dan santai selama lebih kurang satu setengah jam.

Kata Parahita yang dijadikan judul album dan konser ini diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti "memperhatikan kesejahteraan orang lain." Dadang yang menemukan kata ini kemudian berharap, "Filosofinya adalah kolaborasi ini saling membahagiakan, saling menguntungkan, saling bermanfaat." Endah melihat kolaborasi ini sebagai, "Dokumentasi persahabatan. Indah sekali sih ini. Saya menikmati proses pembuatan, rekaman dan lainnya. Saya juga belajar tentang scene Bali yang bagus banget dan sangat potensial. Jadi ada ikatan yang tidak bisa didapat kalau kolaborasi ini tidak terjadi."

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Robin Thicke, Jonas Blue, Isyana Sarasvati Siap Meriahkan Pesta Ulang Tahun NET.
  2. Damon Albarn Bicara tentang Album Terbaru Gorillaz yang Penuh Bintang dan Masa Depan Blur
  3. Movie Review: Guardians of the Galaxy Vol. 2
  4. Disney Mengumumkan Tanggal Rilis ‘Star Wars’ dan ‘Frozen 2’
  5. Spotify: “The Chainsmokers Paling Didengarkan oleh Pelajar Indonesia”

Add a Comment