Max Havelaar, Modern Rock Puitis

Band asal Jakarta ini telah merilis album debut yang ditunggu-tunggu

Oleh
Max Havelaar: Dedidude, Teddy, Timur Asra, David (ki-ka). Dok. Max Havelaar

"[Hal yang nggak gue suka di Indonesia] sudah pasti orang-orang yang menggunakan agama untuk memperjuangkan kepentingan mereka. Kedua, korupsi; kok bisa orang sebegitu serakahnya sampai yang dikorupsi itu [nggak habis] untuk tujuh keturunan. Kalau kedua hal itu bisa dikikis, kita akan lebih beradab dan maju," ungkap Muhammad Asranur, keyboardist grup modern rock asal Jakarta, Max Havelaar.

Hal-hal yang diungkapkan Asra di atas, bersama vokalis sekaligus gitaris Dedidude, gitaris David Q Lintang, drummer Timur Segara, dan pemain bass Teddy Satrio, menjadi salah satu inspirasi mereka dalam melahirkan album debut berjudul sama dengan nama band, Max Havelaar. Mencampurkan ragam musik post-rock dan shoegaze secara modern, mereka kemudian membalutnya dengan lirik bahasa Indonesia yang puitis; membahas tentang politik, ketidakadilan, apresiasi, hingga asmara.

Dibentuk pada 2010, Max Havelaar dimulai oleh pertemuan di dunia maya antara Dedi dengan Asra–keduanya berprofesi sebagai fotografer–dan saling mengapresiasi karya satu sama lain.

"Selain saling melihat karya masing-masing, kami juga ngobrolin musik. Nyambungnya saat membicarakan post-rock. Kalau gue sendiri, dari kecil, sudah dicekokin dengan progressive rock. Jadi ketika makin ke sini, ragam musik semakin banyak, gue bisa lebih luas [mencari tahu]. Gue masih suka prog-rock, tapi juga suka jazz, post rock, dan lainnya," ungkap Dedi.

Tidak ingin hanya menjadi wacana, mereka segera mengajak David dan Teddy untuk bermusik bersama dan merekam materi-materi baru di studio. Di era awal Max Havelaar dibentuk, mereka sempat dibantu oleh drummer Akbar Bagus dari Efek Rumah Kaca.

Sempat menyebar single "Suara Kita Suara Tuhan" secara gratis melalui kanal Free Download rollingstone.co.id pada 2012, gaung Max Havelaar pun tidak terdengar kembali. Membutuhkan waktu empat tahun agar mereka bisa merilis album debut yang ditunggu-tunggu.

"[Kenapa rilisnya lama], pertama, klise, karena kesibukan para personel. Sebenarnya bisa kami atasi. Gue juga sempat ada masalah pribadi juga, yang sebenarnya gue tinggal menyisakan take vokal enam lagu saja tapi membutuhkan waktu satu tahun," kenang Dedi.

Tidak hanya segi aransemen musik yang menjadi fokus utama Max Havelaar di album pertama mereka, tetapi ada dua hal lainnya: artwork dan lirik. Dalam album berisi sembilan lagu dan berdurasi 51 menit ini, Max Havelaar mengajak sembilan ilustrator Indonesia (Saleh Husein, Monica Hapsari, Spencer Jeremiah, Rere, Ayu Dilamar, Lala Bohang, Dmaz Brodjonegoro, Indro Moektiono dan Dedi) untuk berkolaborasi membuat sembilan sampul album yang mewakili masing-masing lagu.

Sementara itu bahasa Indonesia dipilih Max Havelaar untuk mengungkapkan segala kegelisahan di pikiran dan jiwa dalam bentuk lirik. Bahasa Indonesia menurut Dedi, sebagai penulis lirik utama di Max Havelaar, selain merupakan bahasa Ibu juga diharapkan bisa lebih mudah menjangkau pendengar yang luas.

"Kalau lirik menurut gue itu sebagai komunikasi di level terakhir sebuah lagu. Kalau gue walaupun penggunaan bahasa di dalam lirik lagu Max Havelaar lebih seperti lambang atau sedikit puitis, tapi gue mau pesannya itu bisa diterima oleh pendengar," kata Dedi.

Sebagai tindak lanjut perkenalan lagu "Suara Kita Suara Tuhan" pada 2012 silam, Max Havelaar memilih lagu "Tumaritis" sebagai senjata andalan. Dalam menggarap lagu tersebut, Max Havelaar dibantu oleh Akbar dan Ria Septiani, vokalis dari AreYouAlone yang memperkaya lagu dengan suara langgam.

Memiliki arti sebagai tempat idaman di mana semua kebaikan dan keburukan hidup berdampingan secara harmonis, lirik lagu "Tumaritis" juga merupakan pertanyaan dan kegundahan bagaimana konsep kehidupan yang sering diterima seringkali berseberangan dengan kondisi yang dihadapi.

""Tumaritis" menceritakan kalau hidup berseberangan itu sebenarnya nggak harus bunuh-bunuhan. Gue mendapat inspirasi setelah gue menonton orang-orang Ahmadiyah dipukulin dan dibakar. Nyawa-nyawa orang dibikin gitu atas dasar agama, menurut gue nggak banget," tutup Dedi.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Dunkirk
  2. 12 Lagu Esensial Linkin Park
  3. Tonton Video Musik Single Terbaru Yacko, "Hands Off"
  4. Iko Uwais Bertarung Bersama Tony Jaa dan Tiger Chen di Film Terbaru, 'Triple Threat'
  5. Linkin Park Batalkan Tur Setelah Kematian Chester Bennington

Add a Comment