Endank Soekamti

Trio pop punk Indonesia paling kreatif membahas panjang lebar berbagai inovasi album terbaru, 'Soekamti Day'

Oleh
Endank Soekamti: Dory, Erix, dan Ari (ki-ka). Decky Arrizal

Pada Februari lalu, grup pop punk asal Yogyakarta, Endank Soekamti, telah merilis album ketujuh dengan tajuk Soekamti Day. Album tersebut mereka rekam di pulau Gili Sudak, Lombok, Nusa Tenggara Barat, selama satu bulan penuh.

Setelah selesai semua proses di dapur rekaman, band yang diperkuat oleh vokalis sekaligus bassist Erix Soekamti, gitaris Dory, dan penggebuk drum Ari ini merilisnya juga dalam bentuk tidak biasa yaitu boxset. Untuk mempromosikan album terbaru tersebut, Endank Soekamti pun melakukan berbagai cara yang tidak konvensional, mulai dari membuat video lirik, video diary, hingga melibatkan penggemar militan mereka: Kamtis Family.

Simak wawancara Rolling Stone dengan band yang telah menghasilkan enam album, Kelas 1 (2003), Pejantan Tambun (2004), Sssttt…!!! (2007), Soekamti.com (2010), Angka 8 (2012), dan Kolaborasoe (2014), ini.

Untuk album terbaru kalian menggarapnya di Pulau Sudak, Gili. Apakah sebelum berangkat sudah memiliki materi-materi lagu atau berangkat tanpa persiapan materi?

Erix: Dari dulu setiap kami ingin membuat album, kami selalu nggak pernah menyiapkan bank lagu atau demo yang dikumpulkan. Nggak ada, semua pure di lokasi. Maka dari itu kami selalu menggunakan teknik karantina, semuanya fokus di situ: makan, tidur, dan bangun untuk proses berkarya. Dan itu kami lakukan di bulan puasa, kenapa? Karena di bulan tersebut Endank Soekamti kan nggak laku. Nggak ada yang ngundang [tertawa]. Itu kesempatan kami untuk fokus berkarya. Jadi semuanya yang terlahir dari album kami selalu situasi dan kondisi hati yang dirasakan saat itu. Untuk itu gimana kalau teknik yang sama kami aplikasikan di luar studio.

Berarti Endank Soekamti bukan tipe musisi yang mendapat inspirasi membuat lagu saat menjalani tur atau sedang melakukan kegiatan lainnya?

Erix: Justru kalau sedang tur konser, kami fokus ke tur konser saja. Jadi kami tidak pernah menabung lagu. Kami fokus di 30 hari itu, kami maksimalkan berapa pun dapatnya, ya sudah. Jadi nggak ada lagu lama di album itu.

Jadi sudah mencanangkan 30 hari sebagai target sejak awal?

Erix: Iya, karena sudah dibelikan tiket pulang untuk lebaran. Kalau diperhatikan, setiap bulan puasa itu pasti Endank Soekamti bikin sesuatu. Entah itu film atau musik. Waktu terproduktif Endank Soekamti adalah pada bulan puasa, karena nganggur.

Dalam 30 hari akhirnya berhasil tercipta 17 lagu...

Erix: Karena surprise-nya banyak. Metode cara membuat lagu kami itu semuanya jamming setelah itu baru cari liriknya. Lirik itu selalu dibuat pada minggu-minggu akhir, jadi kami fokus ke musiknya dulu. Semuanya fokus ke musik supaya dapat mood liriknya nanti seperti apa. Karena kami dapat hikmah banyak banget, contoh pada minggu pertama itu kami sudah mulai "klik" satu sama lain dan suasananya sedang liburan, akhirnya buat lagu tentang liburan. Karena suasana hatinya sedang liburan, nggak akan bohong lirik dan taste-nya. Masalahnya tinggal tema liburan ini dikasih aransemen lagu yang mana. Berarti kan musik dan lagunya sudah ada bayangan, sudah jadi.

Kendalanya?

Ari: Sebenarnya nggak ada kendala sama sekali.

Erix: Urusan teknis hampir semuanya sudah kami persiapkan. Kami juga melakukan tes sebelumnya, memprediksikan kendala-kendala apa yang mungkin akan terjadi. Itu sebenarnya sudah kami minimalisir semuanya. Yang surprise malah hal-hal di luar teknis. Contohnya makanan, untuk belanja itu kami harus menempuh perjalanan yang jauh dan harus naik kapal ke kota. Terus surprise kedua, kami baru tahu ternyata di situ hidup dengan air payau. Itu surprise banget, bajingan. Nggak kepikiran satu itu. Anak-anak sampai shock semuanya, sabunan saja nggak keluar busanya [tertawa].

Kembali ke Yogyakarta, post-production baru dilakukan?

Erix: Karena saat rekaman itu tekniknya semuanya tidak ditodong. Jadi kami bikin work flow baru, kami menggunakan teknik re-amp. Di mana channel-channel tertentu kami ciptakan di post-production. Ketika mixing, yang tadinya direct semua–karena takut angin–agar bisa rekaman di mana saja, di-playback. Output-nya dibuang ke ampli, amplinya ditodong. Sebenarnya nggak ada bedanya. Kami tetap mendapatkan channel todong.

Pemilihan lagi Stephan Santoso sebagai sosok yang melakukan mastering?

Erix: Stephan itu sudah pernah melakukan mastering album kami sebelumnya, untuk album ketiga. Selama ini kan sama mas Indra terus. Akhirnya kami ingin mencoba kembali Stephan, untuk melihat perkembangannya dan pasti dia sudah banyak mengulik juga. Tahun ini kebetulan kami memang jodohnya dengan dia. Begitu kami kirim ke dia, memang tidak ada revisi. Jadi memang pas dan lancar banget.

Kenapa di album ini kalian kembali merilis dalam format boxset?

Erix: Apa yang kami kerjakan sebelumnya, sekarang sudah kelihatan hasilnya. Kalau hasilnya bagus, kenapa tidak melakukannya lagi dan mengembangkannya? Biar itu juga bisa jadi role mode buat band-band lain juga, bahwa kita masih bisa lho jualan album fisik. Makanya kami juga membuat portal sendiri namanya belialbumfisik.com. Aku tidak ingin hanya sekadar ngomong, jadi aku buktikan dulu di Endank Soekamti melalui apa yang kami bikin dan orang-orang bisa lihat. Setelah itu blueprint ini pengen aku salurkan ke band-band lain juga dengan segala macam bentuk buktinya, kalau ini semua bisa berjalan.

Untuk distribusi album ini, apakah kalian juga menggunakan metode yang berbeda dari biasanya?

Erix: Kami bikin agen sendiri, namanya Independent Reseller. Kami berdayakan dan libatkan Kamtis Family, agar mereka tidak hanya membeli tapi juga bisa melakukan bisnis. Jadi kami buat Euforia Music Ecosystem, cita-cita aku bisa membuat ekosistem [bisnis musik] yang benar-benar bisa merevolusi musik Indonesia. Memang sedikit muluk, tapi aku yakin itu bisa jika kita melakukannya bersama-sama. Untuk itu aku mulai dari Endank Soekamti dulu agar bisa memberikan contoh. Sampai detik ini kami memiliki 60 toko yang dilahirkan dari Kamtis Family. Entah mereka sebenarnya nggak punya toko, tapi mereka bisa menjadi reseller album kami di daerah lain. Jadi kami bikin karya apa pun sebenarnya nggak perlu pusing lagi, sudah pasti ada yang beli. Sebenarnya hal itu bisa dilakukan oleh musisi-musisi lain juga. Tahun ini juga kami menggandeng banyak band-band untuk bareng-bareng membuat music ecosystem.

Siapa saja yang sudah bergabung?

Erix: Sekarang ini yang sudah jelas kami rangkul itu Slank. Role model dan pemetaannya kan hampir sama. Jadi nanti mungkin blueprint itu akan bisa ditularkan ke band-band lain juga; [contohnya] untuk service community. Nanti energinya bisa dikonversi menjadi distributor atau apa pun yang bisa mendukung karya musisi terus menerus, jadi bisa lebih merdeka. Dan tidak tergantung dengan pemerintah atau fasilitas yang lain seperti KFC dan lain sebagainya.

Kalian melakukan promosi dalam berbagai bentuk yang tidak konvensional, seperti video, karaoke, dan lainnya. Apa tujuan besarnya?

Erix: Sebagus-bagusnya karya kalau kita tidak mempromosikannnya tidak akan sampai [ke pendengar]. Dalam hal promosi, kami juga menggunakan dua teknik. Teknik yang pertama adalah konvensional, sama seperti yang label-label rekaman lain lakukan; media tour, mengunjungi Rolling Stone atau stasiun televisi. Tapi kami juga memilih media mana yang cocok untuk kerja bareng kami. Contohnya televisi, kami nggak akan masuk ke programnya yang nantinya Endank Soekamti tampil lip sync. Kalau kami diundang untuk tampil di situ, berarti harus tampil live, minimal tiga lagu, harus menyediakan biaya produksi karena kami juga membayar kru, dan tidak hanya manggung tapi juga bisa presentasi. Di jalur kedua, kami juga menyiapkan hal yang tidak konvensional dan sudah dilakukan melalui media digital yang kami punya; entah itu YouTube atau social media lainnya.

Apa salah satu efek terbesar yang kalian dapat setelah melakukan berbagai promosi modern ini?

Erix: Salah satu yang terbesar adalah kami bisa membuat DOES University. Itu cerminan apa yang kami lakukan itu tidak terukur dengan nominal, bahkan value-nya tidak bisa dihitung. Kalau kita jual tahu dengan mematok suatu harga, kita bisa prediksi keuntungannya. Tapi dengan konteks seperti ini, ini adalah intellectual property yang tidak bisa kita prediksi seperti jualan tahu. Kadang-kadang efeknya lebih besar. Sampai kami ingin buat sekolah, mereka [peserta DOES University] bisa bergotong royong membantu. Itu hal yang paling besar saya rasakan karena itu manfaatnya besar sekali untuk orang lain. Bahkan itu bisa menjadi kontribusi besar terhadap industri animasi, dari hanya membuat video harian.

Dalam bentuk vlog (video blog).

Erix: Aku menyebutnya bukan vlog, tapi video diary. Aku ingin membedakan saja bahwa aku tetap musisi, bukan vlogger. Aku nggak cari duit dari bikin vlog. Karena memang ada profesi YouTubers, orang mencari duitnya di situ. Kalau aku nggak, aku bikin video untuk optimalisasi apa yang akan kami lakukan. Karena aku musisi, ini senjata aku. Salah satunya, tapi bukan satu-satunya.

Sejauh apa para peserta DOES University akan dilibatkan dengan sekolahnya dan Endank Soekamti?

Erix: Mimpinya, kami akan membuat konten dan perusahaan yang bisa mereka kelola sendiri. Karena ini memang gotong royong, kami tidak menganggap itu milik kita. Sejauh ini kemampuan kami baru bisa membiayai sebelas murid dengan segala fasilitasnya, karena sistemnya karantina kayak pondok pesantren. Tapi target aku, sebelas orang ini akan dikontrak selama enam bulan untuk belajar dan lulus. Itu paling cepat karena sekolah animasi lainnya butuh tiga tahun, tapi ini kan karantina, ketemu tiap hari, dan nggak belajar yang lain. Dalam enam bulan ini mereka tidak membayar dengan uang tapi dengan pendidikan juga. Mereka harus mengajar generasi kedua pada enam bulan berikutnya dan itu juga merupakan proses belajar. Saat ini kondisinya satu dosen megang sebelas murid, nantinya mereka semua akan menjadi dosen dan satu orangnya mengajar sepuluh murid. Jadi di generasi kedua, kami bisa menyedot 110 calon animator.

Kalian membuat perusahaan baru bernama Euforia dengan berbagai lini; label rekaman, audio visual, percetakan, dan lainnya. Ada rencana menambah divisi baru dari Euforia?

Erix: Euforia ID. Ini adalah music ecosystem yang sudah aku singgung sedikit di awal. Membuat infrastruktur yang nanti akan digunakan tidak hanya oleh Endank Soekamti, tapi juga musisi lainnya juga tanpa kontrak eksklusif. Jadi terserah mau buat apa saja, bahkan bisa buat label rekaman sendiri. Justru itu impian kami, memicu teman-teman musisi lainnya untuk merdeka membuat label rekaman sendiri. Infrastruktur yang ada ini bisa kita pakai tanpa harus kontrak dengan kita. Euforia.id sudah bisa dilihat dan kita bisa mendaftarkan diri sebagai volunteer sesuai dengan kategori yang sudah kami tata berdasarkan blueprint yang sudah Endank Soekamti bikin. Jadi nanti kami nggak akan menjelaskan bertele-tele lagi karena semua sudah terjadi. Apa yang dilakukan oleh Endank Soekamti bisa di-copy ke band lainnya.

Rencana besar apa lagi yang sedang Endank Soekamti siapkan?

Erix: Kami sedang mengembangkan yang namanya music open source, karena menurut aku itu belum dilakukan di seluruh dunia. Music open source itu membuka data kita untuk digunakan orang lain dengan tujuan membangun. Jadi kita bergotong royong membangun akun Soekamti Day untuk berkembang lagi, caranya kalian bisa merevisi, memodifikasi, dan mengevaluasi album kami dengan aksi. Jadi data itu kami buka. Sudah bisa dilihat di soekamtikaraoke.com. Kalau ada yang merasa album ini kurang coco dibawakan dengan cara kami dan lebih cocok dengan dangdut, kalian bisa bikin. Syaratnya cuma satu: kalian harus sharing lagi ke teman-teman lainnya. At least, album ini akan membuat banyak orang untuk lebih terpicu kreatifitasnya dalam berkarya. Orang-orang bisa sangat mudah berkolaborasi dengan Endank Soekamti. Orang-orang lebih merasa memiliki album ini.

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. SORE Merekam Ulang Lagu Grup Fariz RM dan Erwin Gutawa
  2. Narasi Musik Metal Indonesia di Kancah Dunia
  3. Killing Me Inside Kolaborasi dengan Aiu eks-Garasi, Rilis Single Baru “Fractured”
  4. Saksikan Foo Fighters Memainkan Lagu Baru, "Lah Di Da"
  5. 10 Film Indonesia Terbaik 2016

Add a Comment