Blog: Regenerasi Rockstar

Dibutuhkan konsistensi munculnya aksi baru yang segar

Oleh
Kelompok Penerbang Roket Decky Arrizal

Ini berawal dari sebuah diskusi di markas besar Rolling Stone Indonesia. Para editor seperti Hasief Ardiasyah, Wening Gitomartoyo, Reno Nismara, dan saya sedang membicarakan band-band lokal Indonesia sembari menyusun Album Indonesia Terbaik 2015. Hal yang menarik perhatian kami saat itu adalah beberapa album terbaik 2015 kemarin datang dari band-band debutan seperti Kelompok Penerbang Roket, Barasuara, Polka Wars, dan beberapa lainnya. Menarik karena ini terjadi di tengah regenerasi yang terasa tersendat di cakrawala musisi independen lokal.

Benarkah memang proses regenerasi itu tersendat? Band baru tentu banyak yang muncul dalam lima tahun terakhir, namun radar kami hanya menangkap beberapa nama segar yang benar-benar mampu mencengangkan berdasarkan kualitas album maupun pertunjukan live-nya. Di dalam sebuah negara berprestasi musik segudang—yang menurut saya nyaris seberkualitas negara semacam Jepang—ini adalah kelambatan yang sedikit menjengkelkan ketika banyak band keren yang merasa hanya butuh Soundcloud untuk menunjukkan eksistensi mereka. Atau misalnya menunjukkan betapa canggih selera mereka dengan merilis satu album kemudian tak pernah terdengar lagi namanya.

Saya sungguh berharap adanya Burgerkill, Koil, atau Superman Is Dead berikutnya di masa depan, sehingga dalam puluhan tahun ke depan nama-nama besar di musik rock Indonesia bukanlah nama-nama lama yang uzur. Beberapa asumsi sempat merebak ketika saya berbincang dengan banyak mahasiswa dan pelajar SMA di berbagai tempat. Saya mendapati bahwa kemajuan zaman di era sekarang juga ditandai dengan anak muda yang memiliki determinasi besar dan telah matang merencanakan langkah menuju kesuksesan masa depan. Sebuah masa depan yang diimingi janji hidup nyaman dan keuangan aman. Berbicara tentang ini tentu saja karier musik seolah bukan menjadi yang paling seksi. Apakah ini salah satu penyebab lambatnya regenerasi band? Ketika para pemuda ingin menjadi keren dengan memiliki band beraliran tertentu lalu hanya menjadi sejarah, karena saat realitas mulai menggigit kemudian kerah putih maupun biru dikenakan.

Saya sadar ini perlu riset yang mendalam untuk bisa menjadi jawaban yang teruji secara empiris. Namun saya punya beberapa asumsi pribadi. Ini saya dapatkan setelah berbicara dengan John Paul Patton dari Kelompok Penerbang Roket, Iga Massardi dari Barasuara, Gebeg dari Taring, dan para personel Burgerkill. Orang-orang ini memiliki benang merah yang sama. Musik adalah karier utama mereka. “Make or Break” atau “Now or Never” adalah istilah yang cukup tepat menggambarkan kondisi mereka. Punya modal kemahiran instrumentasi musik, selera yang baik, mengerti segala aspek dari bisnis musik, dan yang paling penting: nyali dan pantang menyerah. Semua ini digabungkan menjadi satu fondasi kuat untuk maju ke depan. Hasrat menggebu menjadi bensin mereka, dan ‘keamanan finansial’ menjadi pertaruhan mereka. Dan saat ini mereka mulai menang banyak.

Namun saya pikir rasanya tak adil dan mungkin kurang tepat bila musisi menjadi satu-satunya pihak yang dianggap bertanggung jawab akan lambatnya regenerasi band. Saya pikir lingkungan dan infrastruktur dalam kancah musik juga memiliki pengaruh terhadap kondisi band-band yang relatif baru, seperti venue musik yang tak terlalu banyak dan memadai. Sungguh berbeda bila melihat banyaknya klub musik di luar negeri yang memang membuka slot waktu bagi band-band baru supaya bisa tampil dan mengumpulkan penontonnya sendiri.  

Vokalis Nuclear Assault John Connelly, band thrash New York, pernah mengatakan di video majalah Hard N’ Heavy bahwa hal yang membuat ia terjun ke dunia musik adalah keinginan menjadi rockstar. Ini jauh mengalahkan keinginannya menjadi guru SMA. Bisa dimengerti, karena rasanya tak bisa dipungkiri bahwa menjadi musisi yang dielu-elukan banyak orang, impresif dalam berkarya, dan memiliki penghasilan besar sungguh menarik dan layak dijadikan mimpi. Namun entah mengapa saya punya firasat bahwa kita sungguh lugu bila hari ini masih memaknai terminologi ‘rockstar’ secara tradisional: musisi terkenal, digilai lawan jenis, gemar hedonisme, angkuh. Saya pikir di era seperti sekarang rockstar sudah memiliki makna baru yang jauh lebih luas.

Terlalu prematur bahwa bila seorang yang memiliki mimpi menjadi rockstar saat kemudian membentuk sebuah band, merilis satu album, dan tak mendapat respons atau albumnya tak disukai orang lalu putus asa dan menganggap, “Dunia musik memang bukan untuk saya.” Padahal bagi saya menjadi rockstar saat ini bukan melulu menjadi musisi di atas panggung atau di depan layar. Seseorang mampu memberikan berbagai kontribusi dari berbagai karier non-musisi tapi masih berhubungan dengan hasrat musiknya. Seorang anak muda pemilik event organizer yang berhasil menciptakan konser bagus memuaskan banyak orang adalah seorang rockstar. Seorang mahasiswa yang punya hobi membuat situs musik dan akhirnya berhasil mengumpulkan banyak pageviews, dia juga adalah rockstar. Bahkan juga Basuki Tjahaja Purnama, yang berhasil menurunkan biaya sewa venue-venue penting di Jakarta seperti Teater Jakarta, Gedung Kesenian Jakarta, atau Graha Bhakti Budaya hingga bisa disewa oleh band-band semacam Efek Rumah Kaca, atau bahkan Sigmun yang relatif baru, untuk melakukan konser tunggal. Ahok bagi saya adalah seorang rockstar. Ia berhasil melakukan hal-hal impresif, berkontribusi untuk cakrawala musik, dan akhirnya dikagumi banyak orang. Mungkin sudah saatnya istilah rockstar yang dimaknai secara tradisional kini sirna bersama dengan mangkatnya rockstar senior Lemmy Kilmister dari Motorhead tak lama lalu. Bila infrastruktur kancah musik semakin berkembang pesat, regenerasi pun saya pikir bisa konsisten terjadi. Karena saya percaya kita akan selalu butuh musik. Dan sebaliknya, musik pun membutuhkan kita.

Editor's Pick

Add a Comment