Acara Lady Fast di Yogyakarta Dibubarkan Secara Paksa oleh Ormas

Polisi mendukung pembubaran tersebut dengan dalih acara tidak berizin

Oleh
Suasana ketika polisi dan ormas menyerang acara Lady Fast di Yogyakarta awal April lalu. Facebook/Betina Kolektif

Pembubaran acara aktivisme sosial kembali dilakukan oleh organisasi masyarakat (ormas) dan polisi secara sewenang-wenang. Masih hangat peristiwa hampir batalnya monolog teater Tan Malaka Saya Rusa Berbulu Merah di Bandung dan gagalnya pemutaran perdana film dokumenter Pulau Buru Tanah Air Beta di Goethe Haus, Jakarta. Yang terbaru adalah upaya pembubaran paksa acara Lady Fast di Yogyakarta pada Sabtu (2/4) lalu yang kemudian berujung pembatalan acara hari kedua. Lady Fast, sebuah acara kolektif yang digagas oleh Kolektif Betina merupakan ajang silaturahmi sekelomp0ok perempuan dengan latar belakang berbeda guna saling membangun jejaring dan memberdayakan teman-teman perempuan melalui berbagai macam medium seni dan literatur.

Acara yang direncanakan selama dua hari, 2 dan 3 April 2016, diisi oleh berbagai kegiatan seperti loka karya, diskusi, sharing session, pameran karya, lapak kerajinan tangan, dan sebagainya. Pemutaran perdana film dokumenter Ini Scene Kami Juga yang berkisah tentang perempuan di kancah musik bawah tanah juga merupakan bagian dari acara ini. Menurut kronologi yang dipublikasikan oleh pihak Kolektif Betina di akun Facebook, acara berjalan lancar sejak dimulai pukul 13.00 sampai 22.00 WIB, pembukaan, acara loka karya, sharing session sampai ke acara musik punberlangsung tertib.

Sekitar pukul 22.00 WIB, lebih kurang 15 orang yang tidak mengidentifikasi dari kelompok mana datang dan membubarkan acara tersebut. Setelah berusaha menjelaskan baik baik, kelompok yang berlawanan membalas dengan makian dan kata-kata yang mengintimidasi. Polisi yang hadir di lokasi sempat memuntahkan satu tembakan senjata api ke udara ketika suasana semakin panas.

Dialog yang dimulai oleh penyelenggara Lady Fast tidak ditanggapi dengan baik dan semakin dibalas dengan hinaan bahkan menjurus ke pengancaman yang mengarah pada kekerasan fisik. Kemudian acara sepakat untuk dihentikan dan panitia mengumumkan pengunjung agar membubarkan diri secara tertib. Belum selesai sampai disitu, kelompok organisasi masyarakat yang tidak bisa diidentifikasi dari mana tersebut kemudian memaksa masuk ke halaman rumah, merekam video, mengambil gambar tanpa izin, mengobrak-abrik tempat sampah, kemudian memaksa masuk ke dalam rumah yang sudah ditutup dan dikunci.

Kelompok organisasi masyarakat beserta polisi kemudian masuk ke dalam rumah dan mengambil video tanpa seizin empunya rumah, mengambil gambar wajah orang-orang, di dalam rumah ada 10 orang yang terdiri dari tiga laki-laki, lima perempuan dan dua anak yang terkunci dari luar. Ketika salah seorang perempuan meminta agar tidak ada pengambilan gambar karena anak-anak ketakutan, salah seorang dari organisasi masyarakat yang menyerang lalu mengatakan, "Mbak, kamu mau adu argumen atau debat? Kamu maunya apa? Kamu ini perempuan loh, gampang aku tonjok," dengan posisi tangan orang tersebut sudah berada di depan wajah si perempuan.

Pemilik rumah dan tiga orang lainnya kemudian dibawa oleh polisi ke Polsek Kasihan – Bantul dengan alasan untuk diamankan dan dimintai keterangan soal acara, dan menanyakan tentang buku berlogo LGBT. Buku tersebut menurut Kolektif Betina adalah properti pribadi dari pengunjung yang datang dan bukan bagian dari lapak acara yang sudah diinventarisasi. Sekitar pukul 01:33 WIB beberapa orang yang diamankan di Polsek telah selesai dimintai keterangan oleh LBH Yogyakarta.

Acara Lady Fast 2016 diadakan di SURVIVE! Garage, sebuah ruang komunitas seni berwujud rumah dengan alamat Jl. Bugisan Selatan 11, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul, Yogyakarta. Tahun ini adalah tahun pertama dari acara tersebut. Turut menyemarakkan acara adalah loka karya dari Ika Vantiani, Lidya Adventa, dan beberapa nama lainnya. Selain itu ada pula penampilan musik dari Oath, Chick and Soup, Leftyfish, Kartika Jahja dan banyak lagi band-band lainnya.

Sebelum dibubarkan Lady Fast menjalani aktivitas sesuai jadwal. Beberapa merupakan sesi berbagi Gender Based Violence dari Kartika Jahja dan Shera Rindra serta loka karya "Kata Untuk Perempuan" dari Ika Vantiani.

Setelah aksi pembubaran, wacana yang kemudian beredar adalah masalah perizinan. Kapolsek Kasihan, Kompol Suwandi membeberkan alasan acara Lady Fast 2016 dibubarkan adalah karena tidak memiliki izin, dan menganggu kenyamanan masyarakat, "Tidak pernah izin, dia main musik, mengekspresikan seninya dan tidak pernah melakukan izin." Acara tersebut kemudian dibubarkan oleh Polres Bantul, Forum Umat Islam (FUI) dan Front Jihad Islam.

Melalui akun Facebook penyelenggara Lady Fast menjelaskan, "Perihal perizinan, berhubung #LadyFast memiliki konsep acara gathering dengan target pengunjung 50 orang, kami sudah mengantongi izin lisan dari pihak RT/RW setempat dan tidak ke kepolisian. Surat izin acara ke kepolisian akan dibutuhkan jika pengunjung mencapai setidaknya 300 orang, seperti tercantum dalam juklap Kapolri no pol 02/XII/95 tentang Perizinan dan Pemberitahuan Kegiatan Masyarakat"

Selain permasalahan perizinan, beberapa pihak mempermasalahkan konsep acara dan konten visual poster acara Kolektif Betina yang beredar sebelum dan selama berlangsungnya acara Lady Fast 2016. Menjawab pertanyaan yang beredar, Lidya Adventa sebagai bagian dari tim desain acara menjawab beberapa poin-poin yang dipermasalahkan dan dirasa meresahkan pihak-pihak tersebut. "Logo resmi Lady Fast berupa kombinasi mesin tik, buku, dan berbagai peralatan penunjang produktivitas dan kreativitas. Buku sebagai salah satu sumber pengetahuan- dalam konteks literasi positif, mesin tik sebagai simbol penulisan sejarah- pembangunan ruang aman bersama oleh, bagi, dan untuk kami; perempuan. Sisanya adalah tipografi dari tulisan "Lady Fast.""

Lalu ia melanjutkan, "Poster bergambar dua perempuan telanjang simetris merupakan karya personal saya dari lukisan berjudul Lqqqilith oleh John Collier, merupakan bagian dari intrepretasi bebas dari acara LadyFast. Adapun karakter mitologis Lilith saya rasa mewakili imaji perempuan independen- dan pilihan pemakaian karakter tersebut saya pikir adalah bagian dari kebebasan berekspresi, hak asasi saya," ujar Lidya lagi. Mengenai tuduhan pengumbaran aurat, "Masalah pengumbaran aurat yang diasumsikan oleh beberapa pihak saya rasa perlu ditilik kembali. Apabila di sini ilustrasi puting dirasa mengancam atau membangkitkan libido atau kurang sopan, mari kita sikapi dari perspektif berbeda: puting adalah organ reproduksi wanita- pemberi nutrisi pertama pada bayi ketika keluar dari kandungan. Saya rasa perkara puting ini tidak harus terus berakhir pada urusan ranjang apabila pikiran kita memang tidak melulu ada di soalan itu."

Dalam salah satu video yang diunggah oleh akun Facebook Herbanu Setiawan terlihat bagaimana situasi ketika anggota-anggota organisasi masyarakat melakukan sweeping terhadap barang barang yang ada di tempat acara. Salah seorang anggota ormas tersebut menemukan minuman keras juga satu zine yang melalui tuduhan mereka merupakan bagian dari upaya radikalisme yang telah mengakar.

Pihak penyelenggara Lady Fast 2016 pada Senin (4/4) lalu mengadakan konferensi pers didampingi oleh Lembaga Bantuan Hukum Yogyakarta untuk menyampaikan beberapa poin penting yaitu satu, telah terjadi tindakan pidana, cacian atau ujaran kebencian. Ini sesuai Surat Edaran Kapolri tentang Ujaran Kebencian atau Hate Speech. Kedua, telah terjadi pelanggaran HAM, sesuai Kovenan HAM Internasional yang telah diratifikasi Indonesia, mereka menyoal penghentian kegiatan dengan kekerasan, melanggar Hak Sipil dan Politik. Ketiga, pihak tertuduh sedang dalam pertimbangan untuk membuat pengaduan ke KOMNAS HAM.

Rolling Stone kemudian menghubungi Andina Septia selaku juru bicara Kolektif Betina yang menganggap aparat negara terutama Polisi dianggap lalai dan terkesan membiarkan pembubaran yang dilakukan oleh ormas tersebut. "Aparat negara gagal melindungi kebebasan ekspresi dari warga negara dan polisi memfasilitasi pembubaran tersebut," tegasnya.

Kolektif Betina belum mengambil langkah untuk memperpanjang kasus ini ke ranah hukum, meskipun sudah ada pembicaraan menyoal itu, "Kita ada bukti-buktinya, teman merekam video kejadian," tetapi kini mereka lebih memilih memfokuskan diri pada pemulihan fasilitas dan nama baik SURVIVE! Garage yang telah menyediakan tempat untuk acara Lady Fast.

Andina menjelaskan kalau di tempat tersebut sebenarnya sudah sering diadakan kegiatan berkesenian, bahkan acara musik sampai tengah malam. Kolektif Betina pun telah mengantisipasi dengan memastikan acara selesai sebelum terlalu larut. "Sebelum dibubarkan, hanya ada satu grup akustik Dendang Kampungan, yang memang dipersiapkan untuk mengiringi kami membereskan acara. Di situlah kemudian organisasi masyarakat datang," ujarnya lagi.

Ormas yang disinyalir merupakan gabungan dari beberapa organisasi keagamaan ini awalnya sempat memberikan ancaman dengan cara mondar mandir di sekeliling lokasi acara sambil menghidupkan suara motor keras-keras. Begitu masuk pukul sepuluh malam, sesuai kronologi yang telah disampaikan, mereka pun mulai membubarkan acara. Setelah beberapa orang yang dianggap bertanggung jawab dibawa ke kantor polisi, ormas tersebut kemudian menghilang begitu saja.

Setelah kericuhan tersebut, SURVIVE! Garage telah dipastikan akan dapat beroperasi seperti semula. Baik dari pihak RT maupun warga sekitar tetap mendukung eksistensi tempat tersebut dan kegiatan semacamnya untuk diadakan.

Editor's Pick

Add a Comment