Ada Apa dengan Cinta 2: Roman Kedua & Cerita Geng Cinta

Dian Sastrowardoyo, Titi Kamal, Adinia Wirasti, dan Sissy Prescillia bicara soal karakter-karakter yang membuat mereka tenar sejak remaja; dan perasaan memerankannya kembali ketika di usia kepala tiga

Oleh
Sampul majalah Rolling Stone Indonesia edisi 132 April 2016.

Ada Apa dengan Cinta bertanggung jawab dalam memperkenalkan enam nama yang relatif baru ke muka publik: Nicholas Saputra yang memerankan Rangga, Dian Sastro berakting menjadi Cinta, Titi Kamal sebagai Maura, Ladya Cheryl memainkan Alya, Adinia Wirasti jadi Karmen, dan Sissy Prescillia melakoni Milly. Seperti film remaja Dazed and Confused (1993) yang sukses mengangkat nama Ben Affleck, Matthew McConaughey, hingga Parker Posey, AADC adalah roket yang melontarkan para pemerannya ke kawasan kepopuleran yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya.

Bertemu dengan para pemeran anggota Geng Cinta—begitu Cinta dan empat sahabatnya kolektif disebut—dalam kehidupan nyata, minus Ladya Cheryl yang sedang menjalankan studi di New York, adalah pengalaman yang heboh. Mereka tidak jauh dari apa yang ditampilkan dalam film: akrab dan ramai, jika bukan ceriwis. Mereka mendukung satu sama lain, bahkan sampai tahap berlomba-lomba memuji satu sama lain.

Ada yang bilang, bila dua atau lebih orang pertama kali berkenalan pada suatu usia, perilaku mereka akan kembali seperti pada usia tersebut saat berjumpa lagi. Maka dalam kasus Geng Cinta yang kini semuanya sudah berusia kepala tiga, mereka balik ke tingkah laku remaja.

Dian, Titi, Asti, dan Sissy—sejak dulu, mereka menyapa satu sama lain dengan nama karakter AADC? yang diperankan—seperti clique yang didambakan banyak orang untuk bisa bergabung. Namun tidak seperti clique kebanyakan, Geng Cinta adalah tipe yang tak peduli dengan citra mereka di mata publik; apa adanya tanpa pura-pura. Ini terlihat dari sesi wawancara yang terlaksana di salah satu kamar Hotel Indonesia Kempinski, Thamrin, Jakarta pada pertengahan Maret lalu, di mana mereka bicara jujur dan terkadang pedas, sesuai dengan apa yang ada di dalam pikiran. Mereka menertawakan apa yang mau ditertawakan, mengkritik apa yang mau dikritik, dan merekam apa yang mau diunggah ke Snapchat selaku media sosial yang tengah mereka gandrungi.

Dulu ketika berperan dalam AADC pertama, kalian relatif belum dikenal oleh khalayak ramai. Tapi sekarang untuk AADC2, kalian sudah populer secara meluas dan bahkan mayoritas berkeluarga. Bagaimana rasanya kembali memerankan karakter masing-masing dengan kondisi kalian yang sudah jauh berubah ini?
Dian Sastro (D):
Rasanya muda kembali [tertawa].
Titi Kamal (T): Iya, benar. Kalau bareng berempat begini, berasa seperti dulu lagi; balik ke zaman SMA.
Adinia Wirasti (A): Dan karena syutingnya di Yogyakarta, kami semua dikumpulkan di tempat yang sama, jadi seperti di asrama. Pulang kerja, ketemunya mereka-mereka lagi. Kuliner bareng, sharing di kamar bareng.

Sebelum AADC2, kalian sering bertemu satu sama lain?
D:
Jarang, karena kami sibuk dengan kehidupan masing-masing juga. Tapi ketika dipertemukan kembali, ternyata kami masih sangat nyambung kayak sering ketemu.
Sissy Prescillia (S): Chemistry-nya masih berada di situ.
A: Mungkin kangennya juga selalu ada, jadi sebenarnya bukan masalah.

Bisa diceritakan, chemistry seperti apa yang kalian rasakan, yang hanya muncul ketika kalian berempat bertemu?
A:
[Tertawa] Bisa dilihat sendiri kan dari tadi kami seperti apa. You gotta experience it.
D: Gue nggak tahu gimana cara meredusirnya ke dalam rangkaian kata-kata yang pasti nggak akan sanggup mewakili chemistry ini. Cuma kalau teman-teman ada di sini juga ketika kami ketawa-ketawa tadi, itu betulan, nggak akting, that's real. Dan gue nggak tahu bagaimana cara menggambarkan itu ke kata-kata supaya pembaca bisa merasakan apa yang kami rasakan. Kami tuh bisa banget cuma lihat-lihatan, terus tiba-tiba ketawa geli terhadap hal yang sama tanpa harus mengucapkan hal itu apa. That"s how close we are.
A: Apa yang akan ada dalam film nanti baru tip of the iceberg.
D: Gue senangnya begini lho: kami sudah berteman dari dulu, zaman masih gadis-gadis; sekarang lebih dari satu dekade berlalu, mayoritas kami sudah berkeluarga. Masing-masing dari kami pun memiliki dimensi yang semakin banyak dalam kehidupan: punya keluarga, menghadapi suami, menghadapi anak, menghadapi mantan pacar yang aneh-aneh. Jadi hal-hal yang sekarang bisa kami bicarakan lebih banyak dan lebih berwarna. Kalau dulu, kami cuma bisa bahas pacar, orang tua, dan sekolah. Sekarang, kami punya karier, keluarga, suami, mertua, anak. We feel like we know each other more dibanding empat belas tahun lalu.
T: Dan lebih lepas ngomongnya. Sudah menikah, sudah segala macam, jadi bisa ngobrol tentang apa saja. Sudah nggak ada remnya, sis [tertawa].
S: Maura sering tiba-tiba "keluar" begitu nih.
T: Elo juga suka nggak jelas, Mil. Akui sajalah…
A: Nah, Maura dan Milly sering begini nih, love hate relationship. Tom and Jerry.
T: M2M!
D: Jadi pada faktanya, AADC sekarang sudah dewasa. Jokes-nya juga dewasa, karena orang-orangnya memang sudah dewasa. Menurut gue sih karakter-karakternya lebih menarik, karena jadi bisa nyeleneh. Kalau dulu kan kami masih anak SMA baik-baik [semua tertawa].
A: Kok kesannya sekarang bandel banget ya? [semua tertawa]
D: Kebayang nggak? AADC dewasa. Karena konteksnya kami sudah dewasa dan married women, jadi bukan masalah bandel atau nggak. Memang sudah begini saja, ngomong apa adanya.

Dari tadi, kalian memanggil satu sama lain dengan nama karakter yang diperankan dalam AADC dan bukan nama asli.
T:
Memang begitu, sudah kebiasaan. Malah aneh kalau manggil mereka Asti, Dian, Sissy.

Waktu pertama kali AADC2 dinyatakan resmi bakal dibuat, mungkin bermula dari film pendek produksi Line, bagaimana perasaan kalian?
S:
Mau muntah sih rasanya.

Untuk kisah selengkapnya silakan baca majalah Rolling Stone Indonesia edisi 132 April 2016.

Editor's Pick

Add a Comment