Rollfast, Komplotan Rock Memabukkan Pulau Dewata

Beramunisikan 'psychedelic rock' dan menolak reklamasi Teluk Benoa

Oleh
Rollfast (kiri - kanan) Ayrton, Bayu, Gungwah, Aan, dan Agha. Bayu Adhitya.

Perangai Rollfast, kuintet rock asal Bali, bisa diibaratkan seperti koin yang memiliki dua sisi: pendiam di sisi pertama serta beringas dan berapi-api di sisi lainnya. Pendiam muncul ketika band yang diperkuat vokalis Agha Paraditya, gitaris Gungwah Brahmantia dan Bayu Krisna, bassist Aan Triandana, serta drummer Ayrton Maurits Willem ini melakukan sesi wawancara bersama Rolling Stone. Sementara beringas dan berapi-api tampak dalam setiap personel ketika mereka beraksi di atas panggung atau membicarakan isu yang tengah hangat di Bali: reklamasi berkedok revitalisasi Teluk Benoa.

"Kami sangat mendukung gerakan [Bali Tolak Reklamasi] itu. Ada mungkin sisi positifnya [dari reklamasi], tapi pasti sedikit sekali–cenderung tidak ada. Karena dulu juga pernah ada [reklamasi] seperti itu, Sanur sampai Karangasem sudah hilang semua. Dan sekarang lebih luas yang direklamasi, pasti lebih parah akibatnya," ujar Aan yang juga menceritakan bahwa ia dan rekan-rekan bandnya juga ikut turun ke jalan untuk berdemo bersama gerakan tersebut.

Dibentuk pada 2011 silam, beberapa personel Rollfast sudah bersahabat sejak mereka duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama. Memutuskan untuk menyembah Led Zeppelin, Black Sabbath, hingga Swans sebagai dewa bermusik, mereka telah merilis album debut yang bertajuk Lanes Oil, Dream Is Pry pada 2015 lalu.

Berkeinginan merekam materi-materi mereka dengan metode live, pada 2014 lalu Rollfast memilih terbang ke Jakarta untuk bisa merealisasikan mimpi mereka di Studio Art Sound, Jakarta. Alasan memilih studio tersebut pun sederhana: mereka melihat nama Art Sound di dalam sleeve album Gemuruh Musik Pertiwi milik salah satu band panutan mereka, Komunal.

Hasilnya adalah sebuah album rock yang membius, memabukkan, dan berasap. Dirilis oleh label rekaman Trill/Cult Records, Lanes Oil, Dream Is Pry seperti angin segar rock dari Bali yang lama didominasi oleh ragam musik metal dan punk rock.

"Judul Lanes Oil, Dream Is Pry itu merupakan anagram dari "i misread personally"; salah persepsi. Benang merah album ini tentang keseharian, dari pengalaman pribadi. Itu bercerita tentang sudut pandang saya, tapi ternyata salah mempersepsikan," cerita Agha.

Memperkenalkan ragam musik rock yang disuntikkan psychedelic dan blues di Bali diakui Rollfast sebagai langkah yang sedikit sulit. Tidak banyak band-band yang mengusung ragam musik sejenis membuat telinga para penikmat musik di Pulau Dewata masih merasa asing.

"Tapi tetap seru kok karena ada peluang kami untuk mempromosikan musik seperti ini yang berbeda dengan lainnya," kata Agha dengan bersemangat.

Target mereka pun meluas tidak hanya di Bali, tetapi juga seluruh dunia. Salah satu langkah pertama yang telah mereka lakukan adalah melakukan tur konser di Jepang pada September 2014 lalu. Total mereka melakukan empat penampilan yang masing-masing terjadi pada 12 September di Ruby Room, Tokyo; 13 September di Sengoku Daitouryo, Osaka; 14 September di Sonset Strip, Nagoya; dan 15 September di WARP, Tokyo. Pada tur tersebut, Rollfast berbagi panggung dengan Dreamtime asal Australia, Scattered Purgatory dari Taiwan serta beberapa band Jepang antara lain Kikagaku Moyo.

Rollfast. (Ray Aloysius Tamboto)

Menaburkan banyak unsur psychedelic ke dalam musik, artwork, dan citra band, ternyata para personel Rollfast sepakat bahwa substansi-substansi tambahan tidak begitu penting dan berpengaruh dalam menciptakan karya atau beraksi di atas panggung. Tetapi tidak mencapai satu menit sejak jawaban tersebut dilayangkan, Aan menyambar dengan cepat: "Tapi kalau ada, boleh lah," segera diikuti tawa dari personel lainnya.

FREE DOWNLOAD MP3: "Electric Illuminators" - Rollfast

Editor's Pick

Related

Most Viewed

  1. Afgan Dipaksa Turun Panggung di Prambanan Jazz Festival 2017
  2. Bos Prambanan Jazz Menjelaskan Insiden yang Menimpa Afgan
  3. Live Review: Efek Rumah Kaca: Semarang Bisa Dikonserkan
  4. Semarang Bisa Dikonserkan oleh Efek Rumah Kaca
  5. Saksikan Trailer Film ‘Pengabdi Setan’ Garapan Ulang Joko Anwar

Add a Comment