Blog: Intan Permata Igor Tamerlan

Tentang “Gusti Ayu”, mahakarya terpendam dari awal ’90-an

Oleh
Igor Tamerlan Soundcloud/Igor Tamerlan

Beberapa hari sebelum mengerjakan tulisan ini, saya melihat sebuah foto yang mencuri perhatian pada situs Facebook. Gambarnya: lelaki usia senior kurus berkaus belel dan celana panjang batik yang sedang duduk di atas kasur. Di belakangnya terdapat kabinet yang sesak dengan keyboard, mikrofon, dan jajaran empat monitor komputer. Dapat disimpulkan kalau ia adalah seorang pemusik. Namun sebagai teks foto dibubuhkan tulisan: "What I do best, but doesn"t pay the bills."

Hal yang membuat pilu adalah lelaki dalam foto itu memiliki nama Igor Tamerlan, dan foto tersebut diunggah sendiri olehnya. Igor merupakan salah satu visioner musik yang dimiliki Indonesia. Ia dikabarkan mempelopori musik reggae di sini lewat tiga lagu pada album Langkah Pertama (1981, tahun kematian Bob Marley. Semacam penghormatan, mungkin?). Satu dekade kemudian, ia bertanggung jawab atas lagu rap pertama di Indonesia melalui "Bali Vanilli"—mendahului album perdana Iwa K yang baru keluar pada 1993.

Pada saat itulah Igor mencapai puncak karier bermusik, paling tidak secara komersial. "Bali Vanilli" merajai sejumlah tangga lagu nasional dan video musiknya kerap diputar di stasiun televisi. Secara konten pun istimewa; selain memuat pengaruh rap dalam berceloteh, lagu tersebut berbicara soal eksploitasi Bali ketika masih sangat sedikit seniman yang membicarakan hal itu.

Tetapi entah mengapa namanya kemudian menghilang begitu saja dari peredaran. Publik pun melupakannya. Kini hanya ada segelintir orang yang masih memutar dan menyebarkan musiknya. Padahal Igor giat berkarya setelah fenomena "Bali Vanilli"; bereksperimen dengan teknologi demi bisa menawarkan musik gaya baru. Bahkan, menurut Alfred Pasifico dalam tulisan "Igor Tamerlan: Antara Bali kembali dan eksploitasi" (2011), Igor sempat mengembangkan alat musik teknogong—kolintang elektrik, setengah synthesizer—namun berhenti di tengah jalan.

Perjumpaan dengan foto Facebook Igor mengingatkan kepada momen pertama saya tak sengaja menemui harta karun berjudul "Gusti Ayu", lagu ciptaan Igor dari awal"90-an yang belum pernah dirilis secara resmi. Untungnya, Igor adalah pribadi yang melek internet sehingga ia dapat mengunggahnya ke YouTube pada 2014 silam. Langkah ini secara otomatis membuka kemungkinan baru terhadap penemuan musik-musiknya bagi orang banyak, termasuk saya.

"Gusti Ayu" ditulis di Sanur, Bali, dengan bantuan tiga musisi: Riwin Dacuba (gitar elektrik), Ardiansyah Badrun (saksofon alto), dan Gito Rollies (vokal). Selain menjadi pencipta lagu, Igor berkreasi dengan program MIDI; menjadi bukti lebih lanjut mengenai kecenderungannya membaurkan teknologi dengan musik.

Aransemennya mengalir santai. Bayangkan irama Balearic yang lambat ditambah pengaruh musik new age. Sementara itu, vokal Gito yang lembut menambahkan kesan nyaman dari lagu ini. Namun meski dapat dikategorikan sebagai lagu cinta, "Gusti Ayu" menyimpan lirik yang bukan sekadar romansa standar; meninggalkan jauh lagu-lagu sejenis pada eranya.

"Saya menyukai lagu cinta asalkan memuat jiwa dan pesan. Saya tidak menyukai lagu cinta rongsokan yang ditulis tak hanya untuk meraup uang tetapi juga agar orang-orang mengasihani diri mereka sendiri," tulis Igor dalam pembuka videonya yang lain pada YouTube, "Jenuh Cinta Itu".

Dalam deskripsi video "Gusti Ayu" yang anehnya baru ditonton 280 kali saat artikel ini ditulis, Igor menyatakan bahwa lagu ini "bukan tentang hedonisme atau sifat posesif seperti lagu cinta Indonesia kebanyakan, tapi justru membicarakan perkembangan dan pembebasan".

Singkatnya, lagu ini menunjukkan kepedulian Igor terhadap emansipasi perempuan. Ia sudah mendukung feminisme lebih dari dua puluh tahun sebelum jilid terbaru Mad Max dan Star Wars—kedua film tersebut menonjolkan protagonis perempuan yang tangguh—dibuat. Relevansinya kuat sampai sekarang.

"Karena pendidikan yang kurang meluas, terbatas pengertian/Karena budaya yang terlalu manunggal, terkurung pemikiran/Karena kenyataan tak pernah berubah, terpendam khayalan/Oh Gusti Ayu, kembangkanlah dirimu/Oh Gusti Ayu, bebaskanlah hidupmu," begitu lantun Gito, berdasarkan lirik yang ditulis Igor.

Nama Bali Gusti Ayu dipakai oleh Igor sebagai perwakilan kaum perempuan secara umum. Sementara itu, video animasi yang digarapnya sendiri—melayangkan pikiran ke era PlayStation pertama berjaya—menampilkan perempuan berbusana kebaya Bali di pinggir pantai. Ini dipengaruhi oleh faktor kedekatannya dengan provinsi tersebut.

Igor lama menetap di Bali setelah ikut ayahnya, seorang diplomat yang tinggal di Prancis selama tiga puluh dua tahun. Kini ia berada di Yogyakarta, diselimuti keasingan meski telah menghasilkan karya-karya padat visi yang melampaui zaman.

Begitu Anda selesai membaca tulisan ini, coba ketik "Igor Tamerlan Gusti Ayu" pada YouTube. Dengar lagunya, tonton videonya, rasakan talenta pembuatnya, sebar ke kawan-kawan. Visioner macam Igor Tamerlan sudah seharusnya mendapat apresiasi lebih besar dibanding sekarang.

Editor's Pick

Add a Comment