Menolak Reklamasi Teluk Benoa, Sineas New York Garap Film Dokumenter “The Reclamation”

Menghadirkan Jerinx dan Angga Nosstress yang menolak proses reklamasi

Oleh

Ketika pahlawan bertopeng berusaha menyelamatkan kota dari serangan monster dengan kekuatan supernya, seorang sineas muda asal New York, Gary Bencheghib, berusaha menyelamatkan Pulau Bali yang akan direklamasi dengan membuat film dokumenter. Bencheghib, yang berusia 21 tahun, membuat film bertajuk The Reclamation sebagai bentuk penolakannya atas proyek pulau buatan yang memakan wilayah konservasi laut di Teluk Benoa, demikian menurut rilis pers yang diterima Rolling Stone.

Film berdurasi 40 menit tersebut akan dirilis dalam tiga bagian. Bagian pertama yang telah dirilis, menceritakan tentang bagaimana para penduduk lokal menolak terang-terangan rumahnya dijadikan tempat wisata. Terlebih lagi, bagi mereka, proyek reklamasi tersebut akan menenggelamkan kebudayaan dan tradisi lokal yang selama ini telah dijaga turun temurun. Sementara itu, bagian selanjutnya akan dirilis dua bulan yang akan datang.

Bagi Bencheghib yang telah tinggal di Bali sejak berusia 9 tahun, Bali terasa seperti rumahnya sendiri. Pria kelahiran Prancis tersebut menyaksikan sendiri bagaimana perubahan drastis Pulau Bali, dari "surga tropis menjadi taman bermain para elit ekonomi."

"Meski berada 12 ribu mil jauhnya, ada hal kecil yang bisa saya lakukan untuk memprotes reklamasi. Saya harap film ini menunjukkan bahwa perjuangan ini bersifat universal," ujarnya dalam rilis pers."Kita sedang berjuang dalam sebuah perang dalam pemeliharaan budaya, kita tidak bisa kehilangan identitas asli Bali."

Musisi sekaligus aktivis lingkungan dari band Superman Is Dead, Jerinx, turut berpartisipasi dalam film dokumenter tersebut. Dalam video tersebut, musisi asal Pulau Dewata tersebut mengungkapkan pendapatnya dalam Bahasa Inggris, "Bali memiliki kecantikan dari dalam. Saya tidak bisa menjelaskannya, seperti kecantikan tempat dan orang-orangnya," demikian terjemahan dari komentar Jerinx.

"Apa yang Anda rasakan ketika Anda merasa di rumah, kemudian uang datang dan menghancurkan segalanya," tutur Jerinx. "Ada batas yang tidak bisa dilanggar. Budaya ini sudah ada sebelum nenek buyut Anda ada, sehingga kami menghargainya."

Selain Jerinx, Man Angga dari unit musik akustik folk Nosstress, juga berbagi pendapat dalam video berdurasi 3 menit 12 detik tersebut. "Saya merasakan kekeluargaan di Bali yang sangat ramah, begitu hangat. Sekarang, hal itu sudah hilang," akunya.

Proyek yang dinamakan "Proyek Reklamasi Benoa" ini diumumkan oleh PT WBI pada Agustus 2013 lalu sebagai salah satu bentuk pembangunan pulau buatan di Teluk Benoa. Rencananya, di atas pulau tersebut akan dibangun berbagai fasilitas yang akan menunjang industri pariwisata, seperti villa, pusat perbelanjaan, hotel, apartemen, kantor, dan taman.

"Ada sebuah pulau di Teluk Benoa yang semakin mengecil, dan mereka memanfaatkannya sebagai alasan untuk membuat sebuah pulau baru," ujar DJ sekaligus aktivis Soundbwoy Dodix.

Proyek jutaan dollar tersebut ditanggapi juga oleh Gendo Suardana, penggagas gerakan Tolak Reklamasi. "Ini adalah perjuangan manusia melawan kerakusan," ungkapnya.

"Bali adalah pulau kecil sebagai tambang budaya dan tambang seni. Harus tetap diwariskan generasi ke generasi," ujar Ida Pedanda Gede Made Gunung, seorang imam Bali. "Tambang Bali sebenarnya kalau sudah dipelihara dengan baik dan tidak dihancurkan, tidak akan habis-habis."

Editor's Pick

Add a Comment