Joey Pasti Menang di Grammy?

Mengukur prestasi luar biasa sang pianis jazz belia

Oleh
Joey Alexander. Rebecca Meek

Jazz cat belia piawai asal Bali, Joey Alexander, di usianya yang baru mencapai 12 tahun saja prestasinya sudah bertumpuk dan sangat "mengerikan."

Yang terakhir dan baru diumumkan beberapa hari lalu, Joey bakal tampil di malam puncak Grammy Awards 2016 pada Senin (15/1) malam -- Selasa (16/1) pagi sekitar pukul 09:00 WIB -- di STAPLES Center dan akan berbagi panggung dengan nama-nama besar di industri musik internasional seperti Adele, Taylor Swift, Rihanna, Lady Gaga, Justin Bieber, John Legend, Skrillex, Pitbull, Kendrick Lamar dan sebagainya.

Hebatnya, Joey bahkan tak hanya tampil sekali saja di Grammy, melainkan dua kali. Sebelumnya, pada siang harinya ia akan tampil pula di pesta pembukaan Grammy Awards 2016 yang akan digelar di Microsoft Theater, Los Angeles.

Hingga kini dalam sejarahnya, belum pernah ada artis Indonesia yang pernah menerima dua nominasi Grammy, tampil dua kali, apalagi dipilih untuk tampil di malam puncak Grammy, hanya Joey Alexander. Bahkan artis-artis sekaliber The Strokes, Spice Girls, The Kinks, Velvet Underground, hingga Talking Heads - terlepas dari status legendaris tiga band yang disebut terakhir - hingga saat ini belum pernah sekalipun menerima nominasi dari Grammy Awards. Jelas prestasi yang diraih Joey sangat membanggakan dan sepertinya bakal sulit ditandingi.

Selain itu, bisa terpilih untuk tampil live di Grammy adalah salah satu "mimpi basah" sebagian besar artis di dunia yang memainkan musik populer mengingat reputasi dan masifnya publikasi Grammy itu sendiri bagi kemajuan karier sang artis di kemudian hari.

Sederhananya, mereka yang pernah tampil atau memenangkan trofi Grammy selain menerima pemberitaan yang gencar dari media massa, dipastikan honor manggungnya akan meningkat berlipat ganda pula dari sebelumnya.

Belum lagi penawaran tur konser ke berbagai venue di seluruh dunia, ya, seluruh dunia. Pencapaian di Grammy memang secara otomatis membuka gerbang ke level selanjutnya: Artis internasional dengan pasar musik di mancanegara.

Dari segudang retorika dan wacana go international yang pernah kita dengar sejak puluhan tahun lalu dari artis-artis musik tanah air yang pernah mencobanya dan kemudian gagal atau biasa-biasa saja, maka apa yang telah dicapai Joey Alexander ini tergolong luar biasa.

Saya pertama kali ngeh dengan kehadiran Joey Alexander ketika pada 2012 mendiang jurnalis musik berpengaruh Denny Sakrie mengirimkan naskah tulisannya yang berjudul "Joey Alexander Sila: Sihir Jazz Pianis Cilik Indonesia" untuk kanal blog miliknya di RollingStone.co.id. Di sana Denny Sakrie bercerita dengan antusiasnya tentang sosok Joey yang baru saja menjadi juara pertama di kompetisi Grand Prix 1st International Festival – Contest of Jazz Improvisation Skill di Odessa, Ukraina. Joey berhasil menyingkirkan 43 finalis lainnya yang berasal dari 15 negara.

Sambil menyunting tulisan tersebut saya menyimak satu per satu video kompetisi Joey di sana via YouTube, sebagai awam jazz saya hanya bisa melongok dengan takjub menyaksikan jari jemarinya yang kecil memperdaya tuts-tuts grand piano dengan piawainya. Edan, ini anak pilihan Tuhan!

Pertemuan pertama dengan Joey terjadi pada Agustus 2014 di program acara Jazz Spot milik bassist jazz andal, Indro Hardjodikoro yang dulu rutin digelar saban Senin malam di Rolling Stone Café. Joey saat itu datang bersama kedua orang tuanya, ayahnya Denny Sila dan ibunya Farah Leonora Urbach. Ketika diperkenalkan, sosoknya persis dengan apa yang kita lihat di CNN belum lama ini, ramah, kalem dan kerap tersenyum. Saat itu pula saya diceritakan oleh Indro bahwa beberapa hari kemudian Joey dan orang tuanya akan segera terbang ke New York City untuk memulai karier musik internasionalnya di sana.

Tak seperti kebanyakan artis/band arus utama Indonesia yang banyak diliput media massa ketika akan manggung di luar negeri (walaupun para penontonnya sebenarnya WNI juga), tiada ada satu pun media apalagi infotainment yang memberitakan keberangkatan Joey Alexander yang amat bersejarah ini ke Amerika. Seluruh awak infotainment saat itu sepertinya sedang sibuk membombardir publik dengan rencana pernikahan kolosal sepasang pesohor tercinta.

Joey baru membuat "gempa kecil" di tanah air ketika ia merilis album debut internasionalnya, My Favorite Things, pada Mei 2015 dan tak lama kemudian tampil di headline surat kabar terbesar di Amerika Serikat, New York Times dengan dipuji sebagai "A thoughtful musician as well as a natural one, with a sophisticated harmonic palette and a dynamic sensitivity."

Joey juga sempat tampil di acara berita dan bincang-bincang pagi tertua dan paling berpengaruh di AS, The Today Show di NBC. Lester Holt, salah seorang anchor tenar NBC sekaligus pemain bass andal sempat melakukan jam session dengan Joey di acara tersebut dan bahkan memujinya setinggi langit.

"(Joey) on his way to becoming one of the greatest jazz artists of our time," ujar Holt tanpa basa-basi.

Sementara di kancah jazz sendiri, majalah berpengaruh, Down Beat, yang terbit sejak 1934 juga memujinya dengan menulis, "If the word 'genius' still means anything, it applies to this prodigy."

Setelah menerima dua nominasi Grammy Awards untuk kategori jazz yang bersaing di antaranya dengan John Scofield dan Robert Glasper & The Robert Glasper Trio, belakangan ia mencetak sejarah lagi dengan menjadi artis Indonesia pertama yang albumnya masuk di tangga album Billboard 200 (bertengger di posisi No.59).

Secara bersamaan, untuk kategori chart Billboard Jazz, album My Favorite Things miliknya juga berhasil mendarat di posisi tertinggi, No.1. Di bawah Joey ada siapa saja? Biasa saja sih, cuma "seseorang" bernama Frank Sinatra, dan duet Tonny Bennett & Lady Gaga. Edan!

Album "My Favorite Things" bertengger di posisi teratas tangga album Billboard Jazz. (Billboard.com)

Saya sendiri cukup yakin, pada 15 Februari nanti di malam puncak Grammy Awards 2016, Joey Alexander, untuk kesekian kalinya akan mencetak sejarah kembali, kali ini dalam tinta emas tebal, dengan menjadi orang Indonesia pertama yang berhasil membawa pulang setidaknya satu trofi Grammy Award, bersyukur sekali jika bisa dua-duanya.

Mengapa yakin? Diluar kedigdayaan permainan piano Joey, setidaknya ada dua hal.

Pertama, melihat begitu antusiasnya publik Amerika Serikat dan juga media massa di sana dengan kemunculan sosok Joey Alexander sendiri yang hingga dilabeli sebagai "jazz prodigy" (Joey dengan rendah hati selalu menolak status ini dan hanya ingin disebut sebagai musisi jazz saja).

Bahkan beberapa groupies Joey adalah tokoh masyarakat paling berpengaruh di sana seperti Presiden AS ke-42, Bill Clinton, komedian/aktor Billy Crystal, legenda jazz Herbie Hancock, hingga Wynton Marsallis, peniup terompet ulung sekaligus direktur artistik Jazz at Lincoln Center.

Joey juga menerima publikasi yang masif dari New York Times, Billboard, The Today Show, LA Times, CNN, 60 Minutes, BBC News, Vanity Fair hingga Wall Street Journal. Rasanya belum pernah sebelumnya ada musisi Indonesia yang menerima publikasi sedahsyat ini di luar negeri sana.

Kedua, Amerika Serikat membutuhkan Joey Alexander!

Sebagai negara yang melahirkan jazz, menurut pemain terompet dan multi-instrumentalis jazz terkemuka sekaligus pemenang Grammy asal New Orleans, Nicholas Payton, musik jazz di sana dianggap sudah tidak cool lagi, bahkan parahnya sudah mati sejak 1959. "The Golden Age of Jazz is gone," tulis Payton dalam manifestonya.

Jika terlalu lebay untuk menyebutkan Joey Alexander menyelamatkan masa depan jazz Amerika, setidaknya Joey Alexander dibutuhkan untuk menginspirasi generasi muda Amerika Serikat untuk kembali menekuni jazz yang mungkin selama ini ditinggalkan karena sosok pengajarnya semengerikan Terence Fletcher dalam Whiplash?

Dengan dua asumsi tersebut di atas, maka agaknya akan menjadi sebuah blunder terbesar jika para juri National Academy of Arts and Sciences (NARAS) - yang menentukan siapa saja para pemenang Grammy Awards setiap tahunnya - untuk mengabaikan begitu saja sosok Joey Alexander.

Memang sebenarnya sampai sekarang masih sangat sulit dipercaya kalau Joey adalah seorang anak Indonesia asli yang berhasil mengangkangi musisi jazz dunia di tanah kelahiran jazz itu sendiri hanya dengan sesederhana menjadi dirinya sendiri. Coba bandingkan dengan si... Ah, sudahlah.

Akhirnya, prestasi yang epik dan bahkan terbilang fenomenal dari Joey Alexander ini mungkin bagaikan sebanding dengan Timnas sepak bola Indonesia yang berhasil meraih tiket ke Piala Dunia. Eh, tunggu, itu mimpi, belum kejadian, entah kapan. Sepak bola kita selalu kalah, di musik yang minim dukungan pemerintah justru musisi kita malah kerap kali berjaya. Ya, begitulah...

All in all, that"s giant steps for Joey Alexander, and one quantum leap for Indonesia.

#GrammyForJoey

Diperbarui! [Selasa, 16 Februari 2016, 14:26 WIB]: Joey Alexander akhirnya mungkin harus menunggu beberapa tahun lagi untuk trofi Grammy pertamanya setelah di dua kategori yang dinominasikan pemenangnya jatuh kepada John Scofield (Best Jazz Instrumental Album) dan Christian McBride (Best Improvised Jazz Solo). Namun kedua penampilan Joey Alexander di pesta pembukaan dan malam puncak Grammy Awards 2016 berhasil memukau para penonton yang kemudian dengan penuh sukacita memberikan respons dan apresiasi yang dahsyat: Standing ovation! Jalan masih panjang, Joey, tetap semangat! Kami sangat bangga padamu!

Editor's Pick

Add a Comment