Blog: Percaya

Menaruh harapan pada film-film Indonesia

Oleh
Salah satu adegan dari film 'Negeri Van Oranje' Falcon Pictures

Menjelang pergantian tahun lalu ada banyak film Indonesia yang tayang dalam waktu berdekatan di bioskop. Karena bersamaan dengan liburan panjang, di setiap film yang saya tonton teater hampir penuh dengan penonton. Namun setelah senang melihat orang berduyun-duyun pergi ke bioskop, begitu selesai menonton saya malah merasa dibuat gemas oleh logika di kebanyakan film.

Di Bulan Terbelah di Langit Amerika, demonstrasi di Ground Zero, New York, yang didatangi tokoh Hanum berakhir ricuh. Suaminya, Rangga, yang juga berada di New York mendapat kabar itu dan khawatir akan Hanum sehingga memutuskan untuk menyusul ke lokasi. Adegan berikutnya tampak Rangga dengan wajah kalut keluar dari stasiun subway di Times Square. Ada jarak sekitar enam kilometer dari Ground Zero ke Times Square. Kalau kericuhan di Ground Zero, mengapa Rangga memutuskan mencari istrinya begitu jauh dari lokasi? Tapi kemudian secara menakjubkan Hanum tampak melintasi Times Square walau mereka tak bisa saling menghubungi sejak kekacauan terjadi. Saya semakin melorot di kursi saat Rangga yang tadinya tampak begitu khawatir dan tak juga menemukan istrinya kemudian malah duduk-duduk santai minum kopi bersama teman.

Di Negeri Van Oranje, ada seorang gadis (Lintang) yang diperebutkan pria-pria kawannya hanya karena ia cantik. Kenapa saya bisa berasumsi begitu, karena di sepanjang film tak pernah sekali pun saya "diberi tahu" kelebihan gadis ini. Selain relatif enak dilihat, ia hanya sebuah karakter yang putih dan membosankan. Lucu tidak, pintar juga tidak (ini juga menggemaskan: film ini adalah tentang lima mahasiswa yang tidak pernah terlihat belajar), menyenangkan sebagai sahabat juga biasa-biasa saja. Saya juga keki saat Lintang tampak sangat patah hati ketika diputuskan pacarnya, berlinang air mata dan bersikap seperti hidup segan mati tak mau. Padahal interaksinya dengan sang pacar selalu terlihat kaku, dan tak pernah ada adegan yang menunjukkan mereka menikmati kebersamaan satu sama lain.

Di film Her (2013), sutradara Spike Jonze memilih setting puluhan tahun di masa depan dan segalanya di film itu masih masuk di akal. Peranti elektronik, pakaian, maupun kebiasaan orang berakar dari kehidupan zaman ini sekaligus mutakhir. Semuanya terasa dipikirkan sampai tuntas, dari penokohan, model rambut, sampai tingkah laku. Serial televisi Jane The Virgin berangkat dari konsep telenovela. Ada karakter karikatural atau segala twist yang membuat penonton terperanjat. Tapi serial ini selalu berdasar pada logika dan mengikuti koridor kekonyolan yang sudah mereka tentukan. Dengan penokohan dan akting kuat dari para aktornya, semuanya terasa logis-logis saja.

Ada pembahasan tentang ini dalam Buku Nonton Film Nonton Indonesia (2004) di tulisan "Film Indonesia dan Akal Sehat", yang menyatakan bahwa kelemahan film Indonesia ini bukanlah hal baru. Pengamat Salim Said menyebutnya "dosa asal" film Indonesia. Tentang logika, kritikus film JB Kristanto menulis begini: " "Logika dalam" ini datang saat sang pencipta mengawali ciptaannya dalam bentuk apapun. Ia bisa berimajinasi tentang karakter tokohnya, plot cerita... Begitu awalan ini ditetapkan, maka tercipta pulalah suatu logika tertentu, yang secara teori tetap berpatokan pada ilmu logika umum." (Halaman 204) Tentang film Indonesia: "Rasanya, cara berpikir yang lebih menekankan sisi imajinasi dan tidak terlalu peduli dengan logika inilah yang terwariskan. Rasanya, cara berpikir inilah yang membuat banyak hal tidak masuk akal, asal campur, tidak tuntas, bahkan rancu seperti yang tercermin dalam film Indonesia." (Halaman 212)

Saya senang pergi ke bioskop dan menonton film (Indonesia). Tapi perasaan senang itu sering tidak berlanjut karena logika yang bolong-bolong. Saya tak menyangkal ada film-film Indonesia bagus di sepanjang 2015, namun saya ingat lebih sering ada perasaan dongkol dan gemas begitu kelar menonton.

Saya tidak mau cuma dihibur dengan pemandangan Eropa, yang semua orang juga tahu indah. Saya tidak suka bahwa pembuat film merasa fakta bisa dibelokkan semau mereka, sekaligus saya sadar ini adalah masalah klasik dan tidak bisa dipecahkan dengan instan. Saya dengan sukarela akan menceburkan diri ke dalam cerita dari pembuat film, asal saya memang bisa dibuat percaya. Adele pernah berkata kepada Rolling Stone AS, "Saya tak peduli kalau cuma ada 10 orang yang membeli album saya, asalkan 10 orang itu memercayai saya. Itu yang paling penting bagi saya: dipercaya."

Rasa percaya saya tidak susah didapatkan. Saya tidak meminta cerita yang terlalu pelik, lokasi di negara maju, apalagi pesan moral . Saya cuma ingin bahwa yang saya tonton bisa menggerakkan sesuatu di dalam diri saya, bisa memancing keluarnya berbagai perasaan dan pikiran, dan saya ingin bisa percaya pada apa pun yang terjadi di layar.

Editor's Pick

Add a Comment