Blog: Apa Arti Sebuah Nama?

Setelah Netral mengganti nama menjadi NTRL, kini mantan anggotanya membentuk Netralbaru. Jadi siapa yang sesungguhnya berhak atas nama Netral?

Oleh
Bayu Adhitya / Instagram

Saat band yang selama 23 tahun terakhir dikenal sebagai Netral tiba-tiba memutuskan untuk mengganti nama menjadi NTRL, banyak yang heran karena rasanya tak ada alasan untuk melakukannya. Tak ada perubahan dalam keanggotaan band itu, yang masih terdiri dari vokalis-bassist Bagus Dhanar Dhana, drummer Eno Gitara Ryanto, dan gitaris Christopher "Coki" Bollemeyer. Sesuai judulnya, 11/12 pun tidak terdengar jauh berbeda dari album-album yang telah dihasilkan oleh formasi Netral ini sejak Coki bergabung pada 2003, menyusul Eno yang sudah lebih dulu masuk empat tahun sebelumnya.

Lalu pada awal Desember, terungkaplah alasan sesungguhnya: hak cipta merek nama Netral telah didaftar dan dipegang oleh Gabriel Bimo Sulaksono, drummer yang mendirikan band itu bersama Bagus dan Ricy "Miten" Dayandani, gitaris yang wafat pada 2012. Menurut Bimo, jika Bagus, Eno, dan Coki ingin terus beroperasi dengan nama Netral, mereka harus membayar royalti, dan royalti tersebut akan dibayarkan kepada keluarga Miten sebagai ahli warisnya. Dengan adanya pergantian nama ke NTRL, berarti Bagus dan kawan-kawan tidak setuju dengan permintaan Bimo. Lalu Bimo melakukan tindakan mengejutkan: dia mengumumkan telah membentuk trio bernama Netralbaru dan akan segera mengeluarkan album juga.

Walau agak ganjil bahwa hal itu terjadi belakangan ini padahal sudah lebih dari satu dekade meninggalkan bandnya, mungkin tidak ada yang terlalu mempersoalkan kepemilikan Bimo atas nama Netral kalau prosedurnya benar. Kalau memang tujuan utama nama Netral diambil alih adalah demi membantu menafkahi keluarga Miten, nama Bagus akan terlihat kurang bagus karena enggan memberi uluran tangan kepada famili almarhum temannya. Sementara itu Bimo dapat tampak heroik karena memperjuangkan hak atas nama band yang didirikannya itu demi kepentingan yang mulia.

Tapi Bimo membuat kesalahan besar dengan memakai nama Netral untuk dirinya sendiri. Tak dapat dipungkiri bahwa dia menghasilkan tiga album klasik bersama formasi awal Netral di pertengahan hingga akhir "90-an, tapi juga tak dapat dipungkiri bahwa formasi awal itu tidak relevan bagi penggemar formasi sekarang yang sudah berdiri lebih lama dan mencapai sukses lebih besar. Penggemar formasi awal Netral tidak berbondong-bondong kembali saat Bimo, Bagus, dan Miten berkumpul lagi di Brutal pada 2012, jadi agak delusional jika mengharapkan mereka akan antusias untuk menyimak Netralbaru yang diusung Bimo bersama dua orang lain yang bukan Bagus dan Miten. Belum lagi jika ternyata musik yang dihasilkan Netralbaru ini mengecewakan, sehingga merusak keharuman nama Bimo di Netral. Selain itu, jika pendapatan Netralbaru tidak diberikan kepada keluarga almarhum Miten, maka niat mulia Bimo pun akan diragukan.

Di sisi lain, adanya Netralbaru membuat Bagus, Eno, dan Coki terlihat sebagai pihak yang dizalimi karena tak bisa lagi memakai nama yang telah mereka sukseskan bersama selama 12 tahun terakhir. Walau harus ganti nama, tawaran tampil masih banyak, yang masih setia menggemari mereka masih banyak, dan lagu-lagu hit oleh formasi ini juga banyak. Dengan adanya "Garuda Di Dadaku", "Terbang Tenggelam", "Pertempuran Hati" dan masih banyak lagi, mereka tak perlu lagi membawakan lagu-lagu dari era formasi awal. Singkatnya, tak lagi bernama Netral tidak membuat penggemar menganggap mereka sudah bukan Netral, seperti halnya Peterpan tetap digemari setelah menjadi Noah.

Entah sampai kapan sengketa ini akan berlangsung. Jika dilihat dari rekam jejak karier Bimo yang telah membentuk dan meninggalkan berbagai band setelah mengundurkan diri dari Netral (termasuk Romeo, TBK, Juliette, Bonus dan Brutal, serta sempat ikut proyek Ahmad Band milik Dhani Ahmad dan bergabung sejenak di Dewa 19), kemungkinan besar Netralbaru tidak akan bertahan terlalu lama.

Kalau Netralbaru bubar, rasanya akan berlebihan jika berharap Bimo akan mengembalikan nama Netral kepada Bagus, Eno, dan Coki dengan semudah itu. Bagus, Eno, dan Coki pun bisa jadi takkan terlalu ambil pusing jika nama itu tak bisa didapatkan lagi, selama mereka masih bisa hidup dengan layak dari musik yang mereka ciptakan dan mainkan, dan tidak kehilangan penghasilan akibat ada yang salah menyewa band. Tapi siapakah Netral yang sesungguhnya? Apakah band dengan vokalis yang telah mengusung nama itu selama puluhan tahun? Atau drummer yang mendirikannya dan berupaya memiliki nama itu lagi belasan tahun setelah hengkang? Entah apa yang akan dikatakan Miten andai bisa melihat perseteruan dua kawannya ini, tapi rasanya takkan jauh berbeda dari judul salah satu lagu NTRL: sakit jiwa.

Editor's Pick

Add a Comment