Op-Ed: Menertawakan Terorisme, Menyembunyikan Cacat Wacana

Kecurigaan tagar #KamiTidakTakut dan olok-olok terhadap teroris menjadi jalan keluar yang mudah dibandingkan berpikir kritis tentang fenomenanya

Oleh
Suasana ketika bom meledak di depan Starbucks Thamrin, Jakarta, Kamis (14/1/2015). YouTube

Beberapa jam setelah serangan bom Jakarta tanggal 14 Januari kemarin, kita mulai mendengar satu teriakan. Teriakan ini kini sudah cukup akrab di telinga kita, karena selalu kita serukan setelah setiap insiden terorisme di Indonesia sejak beberapa waktu lalu: Kami Tidak Takut.

Tagar #KamiTidakTakut cepat menjadi tren, menggantikan #StaySafeJakarta dan #PrayForJakarta. Kali ini, beberapa sosok pedagang asongan menjadi ikon keberanian Jakarta: terorisme berjalan, jualan juga tetap jalan. Seolah perut kenyang lebih penting daripada badan utuh. Keberanian kita bersalut humor: Jakarta nggak ada matinya.

Sejujurnya, saya tidak yakin bahwa rasa tidak takut merupakan suatu wujud keberanian. Terlepas dari perspektif yang diambil banyak media dan institusi—duka cita, jaga-jaga, peringatan agar tetap di rumah saja—rasa takut merupakan sesuatu yang agak susah dirasakan secara personal.

Kaget, iya. Khawatir, mungkin. Tapi takut? Saya mendapat kesan bahwa kebanyakan rasa takut kemarin sekadar merupakan emosi yang terlembagakan—kantor dan sekolah meliburkan diri, perusahaan taksi menawarkan angkutan gratis. Dalam tataran personal, saya tak henti-hentinya mendengar gurauan. Satpam yang berjaga-jaga, pedagang kaki lima yang berkeliling, masyarakat sipil lainnya yang berkegiatan seperti biasa, semua mampu menemukan unsur kelucuan dalam hari yang tidak biasa itu.

Kita mulai tertawa. Para teroris menjadi bulan-bulanan. Betapa tidak kompetennya mereka, hanya mampu bunuh diri tapi korban masyarakat sipil amat minim! Orang-orang bodoh itu!


Saya jadi berpikir: Apa sebetulnya yang kita banggakan dengan tawa kita, dengan teriakan kita bahwa kita tidak takut? Tak dapat dipungkiri bahwa ada sensasi heroisme tertentu dalam seruan-seruan itu. Seolah kita benar-benar sedang berperang melawan para teroris, dan kegagalan mereka untuk membuat kita tak berkutik adalah kemenangan kita pribadi.

Tapi, sejauh pengamatan saya, bagi kebanyakan orang, komedi dan ketidaktakutan bukanlah merupakan reaksi yang harus diperjuangkan dengan menekan emosi rasa takut. Justru komedi dan ketidaktakutan merupakan reaksi spontan setelah keterkejutan awal, sebelum lembaga atau agen moralitas lainnya mengingatkan kita untuk berkabung dan berhati-hati.

"Gila, teroris lagi! Hahahaha... Tapi ini serius, lho, ngawur kamu!"

Yang jadi masalah bagi saya adalah minimnya pengetahuan kita tentang terorisme. Dari seruan-seruan masyarakat dan media kemarin, terangkum beberapa hal yang kita pahami tentang terorisme:

1) Terorisme merupakan sesuatu yang terjadi begitu saja, alami-semu (pseudo-natural); "Indonesia rawan terorisme" merupakan fakta yang hampir senada dengan "Indonesia rawan bencana alam."
2) Orang-orang yang mau dirasuki pemikiran jahat semacam ini adalah orang-orang bodoh yang layak ditertawakan.
3) Kehendak para teroris adalah untuk menyebarluaskan rasa takut; oleh karena itu, penting bagi kita untuk menunjukkan bahwa kita tidak takut.

Intinya: kita sedang berhadapan dengan hawa jahat yang merasuki orang-orang bodoh dan membuat mereka begitu ingin menyebarluaskan rasa takut pada orang banyak. Seperti di kartun-kartun saja. Mungkin itu juga sebabnya kita tertawa.

Saya meragukan seluruh paparan di atas. Bukan hanya meragukan bahwa paparan itu kurang tepat, namun juga mempertanyakan apakah ketidaktepatan semacam itu tidak akan justru menjadi bumerang bagi kita ke depannya.

Mungkin tujuan akhir mereka memang membuat membuat kita takut. Mungkin mereka memang kurang pandai. Tapi masyarakat macam apa yang bisa melahirkan orang-orang semacam itu? Benarkah pikiran jahat itu terjadi begitu saja di kepala orang?

Kita terlalu terbiasa hidup dalam jaman yang dibayangi oleh momok; seluruh identitas peradaban kita bergantung pada identifikasi kita melawannya. Dalam dekade lalu, momoknya adalah korupsi. Belum kelar kita berdansa dengannya, sudah mulai terdengar senandung momok baru: terorisme.

Dan satu kebiasaan buruk kita: Setiap kali dihadapkan dengan momok, kita selalu menganggapnya masalah moral, masalah budaya. Ingin orang-orang jahat hilang? Dididik kebaikan saja sedari kecil. Bangun karakter mereka. Tak usah menyelidiki nilai dasar dan sistem kita.

Tak pernah jera kita beranggapan demikian, terlepas dari fakta bahwa hampir semua orang menganggap diri mereka melakukan kebaikan. Koruptor di kantor amat sayang dengan anak dan cucunya—"ini cara bertahan hidup jaman sekarang, bung!"—dan hanya ingin menjadi kepala keluarga yang baik. Teroris di jalanan berdoa agar perjuangan mereka menyingkirkan kejahatan di muka bumi, membasmi para koruptor dan para kafir, diberkati oleh Tuhan. Mereka adalah pahlawan di mata mereka sendiri.

Tak pernah terbayang oleh kita bahwa mungkin kita sendirilah momoknya selama ini. Kita sendiri yang mengukur kehormatan orang dari uangnya. Kita sendiri yang membeda-bedakan kodrat dengan ras dan agama. Namun, saat bentuk-bentuk ekstremnya muncul, kita perolok mereka dan menuntut otoritas pendidik membekali anak-anak dengan "karakter" yang benar.

Bukan menyelidiki kembali nilai-nilai yang kita pegang. Bukan menyelidiki kembali sistem masyarakat yang kita jalani. Olok saja teroris, sambil berteriak betapa kita tidak takut oleh mereka. Gampang, bukan? Tak perlu bersakit-sakit mempertanyakan keabsahan sistem keyakinan sendiri.

Orang bilang "Kami Tidak Takut." Tapi saya takut. Saya takut keadaan akan terus berjalan seperti ini jika kita tak mulai berubah. Saya takut keadaan hanya akan berulang dan berputar kembali, kita akan bergerak dalam masyarakat di mana terorisme merupakan hal yang rutin dan biasa, memang sudah demikian adanya.

Bom meledak, tagar #StaySafe, tagar #PrayFor, lalu tagar #KamiTidakTakut sambil mengolok terorisme, atau agama dan bentuk keyakinan tertentu. Kembali dalam kehidupan sehari-hari hingga bom berikutnya meledak. Bilas dan ulangi dari awal.

Saya takut. Bukan pada terorisnya, namun pada minimnya pemahaman kita akan mereka. Pada minimnya aksi pencegahan kita, baik terhadap bom maupun terhadap penyebaran gagasan-gagasan radikalisme di kalangan masyarakat. Pada minimnya usaha sistemik ke arah sana, karena kita telah memilih jalur "pendidikan moral" yang nyaman dalam kehitamputihannya. Karena kita lebih memilih tertawa dan bermain tagar dibandingkan berpikir kritis.

Tawa kita akan "kebodohan" para teroris adalah selimut. Selimut yang menyembunyikan ketidakmampuan kita untuk memahami dunia penuh kekejian yang sedang kita tinggali. Selimut yang kita rajut bersama untuk menutupi cacatnya wacana kemanusiaan kita.

Penulis adalah seorang komikus dan penulis lepas. Komik bulanannya, Not My Hero, bisa dibaca di majalah Kosmik.

Editor's Pick

Add a Comment